"Apa yang ingin saya pelajari?"

Tentang belajar cara belajar

"Apa yang ingin saya pelajari?"

Pernah merasa hilang arah ingin mempelajari apa? Atau, merasa bingung karena ada pertanyaan "apakah saya harus mempelajari ini?" ketika ingin mempelajari sesuatu. Jika iya, tenang, kamu tidak sendiri.

Tulisan ini berawal setelah ngobrol dengan seorang teman (di Telegram) yang sedang memiliki kondisi diatas. Sebelum kita bahas ke topik utama, mari kita sedikit flashback ke masa SMA & Perkuliahan.

Pelajaran

Ketika kita SMA, kita mempelajari Fisika; Biologi, Matematika, TIK, Kimia, dll. Ya, kita dituntut untuk mempelajari itu semua, IMO, demi alasan "mencari jati diri".

Lalu setelah masuk ke dunia perkuliahan, yang kita pelajari sudah lumayan sedikit terarah. Jika kita tertarik dengan TIK, kemungkinan kita akan mengambil jurusan Teknik Komputer; Teknik Informatika, Ilmu Komputer, dll yang intinya tentang Komputer.

Tapi tidak sesederhana itu, kita ambil contoh Teknik Informatika. Teknik Informatika pun masih belum terarah, kamu dituntut untuk mempelajari dari Algoritma sampai Struktur Data, Arsitektur Komputer, (spesifik) bahasa program, sampai ke yang lebih advance seperti AI/ML secara konsep.

Singkatnya, kita tau apa yang harus dipelajari karena tuntutan ketika masa SMA & Perkuliahan. Suka atau tidak, kita harus mempelajari itu. Atau kita tidak bisa naik kelas atau lulus mata perkuliahan jika mendapatkan nilai yang tidak sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan.

Sederhananya, kita belajar karena tuntutuan. That's it.

Jika masa SMA/Perkuliahan pelajaran dipilih berdasarkan Kurikulum yang sudah disusun, bagaimana dengan sekarang yang cara kita belajar sudah tidak berdasarkan kurikulum?

Industri

Bagaimanapun, setuju atau tidak, kita belajar untuk bekerja.

Kita tidak akan menggunakan definisi Industri secara harfiah, karena kita sedang tidak berada di kelas perkuliahan Ekonomi. Intinya, untuk bekerja, kita membutuhkan pengetahuan; Keterampilan, pengalaman, dsb.

Jika kamu bekerja di salah satu industri IT (E-commerce misalnya), pengetahuan; keterampilan, pengalaman terkait membuat & mengembangkan "sebuah" E-commerce tentu diperlukan untuk memenuhi kebetuhan perusahaan.

Bagaimana kita tau bahwa kita"memenuhi" kebutuhan mereka? Sederhana: Job Requirements. Disitu akan dituliskan keterampilan dasar & lama pengalaman yang sesuai dengan pekerjaan yang ingin kamu ambil.

Yang intinya juga: Berdasarkan tuntutan. Ingin kerja di E-commerce X sebagai Software Engineer nya? Pelajari tentang React, Vue, Webpack, Saas, Kubernetes, Traefik, Istio, Microsoft Excel, AWS, Zsh, Metasploit, Affinity, dll yang mana mengarah ke yang dicantumkan di requirements nya.

Tell me fundamentally, not the practical one.

Oke, terima kasih sudah bertanya.

Mari kita bahas ini secara fundamental berdasarkan kapabilitas gue.

Begini, kalau kamu sudah punya jawaban "Untuk apa saya belajar?", sekarang jawab pertanyaan "Untuk apa saya belajar X?". Silahkan ganti X dengan subjek yang sedang kamu pelajari.

Jika tidak bisa menjawab, jangan heran jika kamu merasa bingung ataupun tersesat.

Ketika kita sudah merasa "memiliki" interest terhadap sesuatu, kita seakan-akan tau apa yang kita pilih terhadap interest tersebut. Contoh, kamu mempelajari tentang Svelte misalnya karena, well, kamu tertarik dengan (atau adalah) seorang Frontend Developer.

Pertanyaan nya (secara praktis), kenapa kamu mempelajari Svelte? Kenapa bukan Ember misalnya?

Ada beragam (kemungkinan) jawaban disini, entah karena it's hype (Konformitas) atau karena kamu memang seorang "decision maker" yang sudah tau 0-1 nya Svelte itu apa berikut dengan "kelebihannya" bila dibandingkan dengan yang lain.

Balik lagi ke pembahasan, jika kamu memiliki pertanyaan "tentang belajar" tersebut secara fundamental, kamu pun harus bisa menjawabnya secara fundamental.

Jika tidak? Sederhana saja, ambil jalur praktikal.

On become "Junior" Developer

Karena mayoritas pembaca tulisanku adalah seorang Developer, mari kita spesifikan ke kehidupan sebagai seorang developer.

Terdapat alasan mengapa ada title "Junior" dan "Senior" ataupun yang lain. Yang mana, title tersebut mengarah ke arti literally dari Industri tersebut.

Ya, tentang keterampilan dan pengalaman.

Selain itu, keterampilan & pengalaman diatas biasanya tidak selalu mengarah ke hard skills. Melainkan soft skills, yang salah satunya adalah mentoring. Ya, itulah salah satu pembeda junior dan senior: Senior memiliki wewenang dalam mentoring.

Memiliki (dan menjadi) Senior Developer yang baik salah satunya adalah bisa melakukan mentoring yang baik terhadap junior. Sehingga junior (salah satunya) bisa terlepas dari masalah yang sedang dibahas ini.

Karena sederhana, di industri tidak ada kurikulum.

Yang berarti, segala "ketentutuan" (baca: tuntutan) bukan berasal dari kurikulum, melainkan seorang decision maker. Decision maker mungkin bisa dari Team Lead, Tech Lead, Manager, dll berdasarkan "urutan" secara vertikal dari atas kebawah.

Artinya, ya, sama seperti Guru/Dosen (di dunia pendidikan), di organisasi pun ada seorang guru yang baik & kurang baik. Kita bisa saja bertindak sebagai yang "kurang baik" seperti: Lu pelajari tentang GraphQL, minggu depan kita mulai dikit-dikit migrasi kesitu.

Yang kurang-lebih tidak beda dengan Silahkan pelajari tentang sejarah Indonesia, karena minggu depan kita ujian. Ngasih tau seadanya, tapi dituntut sepenuhnya.

Sebenarnya kita tidak masalah dengan "tuntutan", kita hanya bermasalah dengan "alasan" dibalik kenapa kita harus setuju dengan yang dituntut tersebut. Seperti, beberapa orang ada yang setuju Netflix dituntut haram (WKWKWKWK), dan beberapa ada yang tidak. Karena mereka punya alasan masing-masing.

Ya, tentang alasan bukan?

Dan dari 2 contoh kasus diatas, alasan nya adalah tentang "cara". Bagaimana cara anggota organisasi dan murid-murid bisa "sukses" dalam penentuan yang sudah ditentukan tersebut?

Bukankah jika itu gagal artinya itu adalah kesalahan kita, sebagai pengambil keputusan? Sebagai pemimpin? Sebagai guru? Intinya, lihat bagaimana "cara" kita setelah memberi keputusan tersebut.

Penutup

Harusnya sudah menemukan benang merahnya ya tentang judul dari tulisan ini.

Singkatnya, pelajarilah apa yang dituntut.

Kamu dituntut untuk mempelajari Fisika Biologi, Kimia, agar kamu naik kelas.

Kamu dituntut untuk mempelajari Algoritma, Struktur Data, dan Arsitektur Komputer, agar kamu berhasil melewati semester 3.

Kamu dituntut untuk mempelajari Node.js, agar kamu memenuhi standar mereka sebagai seorang Backend Engineer.

Jika kita lihat 3 argumen diatas, semuanya adalah tentang memenuhi standar.

Kenapa? Sederhana, hukum I/O. Output dari pelajaran adalah "cap" lulus/tidak dan input dari industri adalah produk yang dihasilkan.

Untuk bisa mendapatkan output yang diharapkan, inputnya pun harus sesuai yang diharapkan juga (standar mereka). Tapi, ada bagian sihirnya disini: Proses.

Dan untuk konteks proses diatas, yang paling berpengaruh adalah seorang decision maker. Entah itu guru, pemimpin, dsb.

"Bagaimana bila saya seorang yang self-driven, sedangkan saya memiliki masalah ini juga (bingung harus belajar apa)?"

Harusnya kamu gak bakal bingung sih, karena kamu seorang penentu arah.

Intinya, pelajari apa yang dituntut.

Seperti, misalnya kamu akan tau kenapa harus mempelajari (dan menggunakan) NoSQL database ketika struktur kolom bukanlah hal yang sangat penting, dan kamu menggunakan layanan cloud serta kamu menginginkan proses pengembangan yang cepat.

Bukankah itu sebuah tuntutan?

Bagaimana jika kamu mempelajari sesuatu karena faktor "konformitas"? Balik lagi, mengapa kamu dituntut untuk mempelajari itu? Jika tidak punya jawaban, mengapa bisa kamu harus mempelajari itu?

Sekarang, mari kita ganti judulnya, gimana kalau menjadi "Apa yang harus saya pelajari?" aja agar lebih relevan?

Terima kasih.