Bagaimana bila itu adalah kamu?

Cancel culture, bijak dalam bersosmed, dan sebuah mindset

Bagaimana bila itu adalah kamu?

Gue termasuk orang yang menganggap peran agama dalam kehidupan, dan ketika mempercayai sesuatu, bila sesuatu tersebut tidak termasuk dalam rukun iman, by default gue tidak percaya.

Dalam perihal iman (percaya-mempercayai), seingat gue, ada 3 tingkatan:

  • Ilmul yaqin
  • Ainul yaqin
  • Haqqul yaqin

Dalam permisalan, misal ketika gue bilang "kopi itu pahit". Lo percaya kalau apa yang gue bilang itu benar, dengan catatan lo tidak meragukan "kejujuran" gue.

Itu ilmul yaqin.

Lalu gue perlihatkan kopi tersebut ke lo. Lo melihat kopi tersebut berwarna hitam pekat, dan lo makin percaya karena lo melihatnya sendiri.

Itu ainul yaqin.

Lalu lo merasakan sendiri kopi tersebut, dan menyimpulkan apakah kopi tersebut benar pahit atau tidak.

Itu haqqul yaqin.

Ilustrasi diatas hanyalah contoh sederhana, dan semoga relevan dan tidak ada kesalahpahaman.

Membahas sedikit tentang agama, gue percaya konsep hari akhir. Kenapa? Karena ada di dalam Rukun Iman, pilar-pilar yang harus dipercaya oleh seorang muslim.

Itu adalah ilmul yaqin, karena gue tidak meragukan 'sumber' nya tersebut.

Dan gue akan lebih percaya, ketika gue melihatnya (hari akhir) sendiri dan juga ketika gue merasakannya sendiri.

Landasan

Ada 2 landasan yang bisa diambil dalam mempercayai dan atau melakukan sesuatu dalam Islam. Landasan tersebut antara lain dalil naqli (bersumber dari Al-Quran, Al-Hadits, & ijma/kesepakatan para ulama) dan dalil aqli (bersumber dari akal pikiran manusia).

Misal, perintah untuk melaksanakan Shalat.

Dalil naqli nya, perintah tersebut tersirat di Al-Quran dan Al-Hadits.

Dalil aqli nya—seingat akan apa yang gue pelajari dulu—adalah dengan mengingat Allah (shalat), kita akan terhindar dari maksiat, sehingga hati akan tentram dan hidup pun akan tenang.

Jadi, make sense tentang mengapa kita (sebagai umat muslim) harus solat, berdasarkan landasan yang diambil dari Al-Quran dan As-sunnah (hadist) serta landasan yang diambil berdasarkan akal pikiran manusia.

Konteks

Akhir-akhir ini, lini masa dipenuhi dengan argumen terkait Anjir, Jering, dkk berikut dengan yang kontra dengan mereka.

Gue gak memihak siapapun, tapi yang gue tau: Mereka (kedua-belah pihak) meyakini sesuatu yang mereka yakini.

Sekarang (Agustus 2020) kita sedang berada di masa yang sulit, berada dalam pandemi berkepanjangan yang tidak tau akhirnya kapan, dan dihantui oleh ketakutan dan ketidak-aman-an dimanapun dan kapanpun.

Di era informasi saat ini, penyebaran informasi (khususnya pada saat ini) sangat sensitif, karena menurut beberapa pihak, ini tentang hidup & mati.

Contoh: Mengambil langkah yang kurang tepat dikarenakan informasi yang dikonsumsi nya, menentukan hidup-mati nya nyawa banyak orang.

Hasilnya, orang-orang berlomba-lomba menentukan siapa yang salah dan benar; menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, serta merekomendasikan untuk 'diam' daripada menyebarkan sesuatu yang diyakini oleh beberapa orang itu salah.

Ya, diam adalah emas.

Silence is gold.

Man kaana yu'minu billaahi wal yaumil aakhiri, fal yaqul khairaa aw liyasmut.

Sayangnya, segala sesuatu yang bisa diukur itu bersifat relatif. Baik-buruk, benar-salah, apapun.

Gue tidak sedang berbicara tentang topik khusus yang dibahas oleh orang-orang yang tadi gue sebut diatas (dengan sedikit penyamaran), melainkan tentang ke hal yang lebih umum.

Yang mana adalah tentang 'berbicara'.

Kebenaran

Kebenaran adalah sesuatu yang bisa diukur, berarti bersifat relatif.

Maksud relatif disini kebanyakan adalah tentang waktu.

Tapi mungkin bisa di konteks lain, seperti, beberapa agama percaya bila tuhan itu 1 dan beberapa percaya bila bukan 1.

Bagimu agamamu dan bagiku agamaku aja lah ya.

Tapi disini mari kita berbicara tentang kebenaran yang relatif terhadap waktu.

Seperti, ingat kasus bintang kemon kemarin-kemarin yang 'fakta' nya menggunakan barang terlarang?

Pada saat itu, menjadi fakta. Beberapa ada yang percaya berdasarkan apa yang mereka yakini: Redaksi, gambar yang 'dijadikan' barang bukti, dsb.

Namun fakta tersebut berubah ketika bintang kemon melakukan uji dan dinyatakan negatif menggunakan barang-barang tersebut.

Atau, tentang seorang anak bernama angular yang 'fakta' nya menjadi korban bully oleh teman-teman nya.

Lini masa Twitter ramai dengan retweet terkait kasus tersebut.

Sampai pada suatu ketika fakta tersebut berubah karena kenyataan di dunia maya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan dunia nyata.

Se-antreo pengguna Twitter di Indonesia seperti tertipu oleh satu orang yang katanya korban per-bully-an tersebut.

Yang maksudnya, ya, fakta/kebenaran terkadang relatif terhadap waktu.

Bukankah arti fakta adalah sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi?

Bagaimana bila itu adalah kamu?

Kamu sedang di posisi seperti bintang kemon, atau siapapun itu.

Kasus yang umum adalah 'penyelundupan' barbuk barang terlarang, yang sekalipun lo gak pernah memakai ataupun membelinya sama sekali.

Bukan dongeng ketika nantinya kamu disuruh mengaku bahwa itu milikmu—karena barang/bukti nya 'ada'—dan tidak ada kesempatan sekalipun untukmu untuk melakukan pengujian sebagaimana yang dilakukan oleh bintang kemon.

Apapun kasusnya, yang ingin digaris-bawahi oleh gue adalah tentang memperjuangkan apa yang kita yakini.

Yang gue takutkan adalah ketika gue sedang memperjuangkan apa yang gue yakini itu benar, ternyata dianggap salah oleh banyak orang, karena tidak selaras dengan 'fakta' yang ada di lapangan.

Suara gue dibungkam.

Gue tidak memiliki hak untuk bersuara.

Cancel culture.

Dan ya, sejarah, ditulis oleh mereka yang menang.

Tidak terbayang.

Mungkin sekarang terlihat lucu, tunggu sampai kita yang menjadi targetnya.

Penutup

Maksud dan tujuan gue disini adalah cuma ingin berbagi tentang apa yang gue resahkan selama ini. Lihat tab trending Twitter, dan gue gak kebayang ketika misalnya gue yang sedang ramai diperbincangkan oleh banyak orang.

Dan menolak seluruh apa yang gue utarakan.

Dan orang beramai-ramai menghancurkan diri gue luar-dalam, membungkam suara gue, membunuh gue secara perlahan dimulai dari karakter & mental.

Kita tidak tau apa yang orang lain pikirkan, rasakan, dan yakini.

Menyebar informasi negatif apalagi bohong tentu sesuatu yang salah.

Jika kita terus berada dalam kondisi seperti ini: Hanya mencegah peredaran informasi negatif/bohong, menurut gue itu bukanlah jalan yang terbaik.

Yang harus kita bangun adalah pola pikir, tentang bagaimana cara mengetahui apakah informasi tersebut salah/benar. Tentang bagaimana bertindak ketika mendapatkan informasi tersebut. Tentang bagaimana cara melakukan kroscek, menggali lebih dalam suatu informasi.

Karena, menurut gue, apa bedanya dengan tindakan yang sudah dilakukan saat ini seperti melakukan blokir terhadap situs-situs yang sepertinya pantas untuk diblokir disamping melakukan edukasi?

Edukasi tentang sex, daripada terus melakukan pemblokiran situs-situs porno.

Edukasi tentang moral, daripada terus melakukan pemblokiran situs-situs judi.

Edukasi tentang hak cipta, daripada terus melakukan pemblokiran situs-situs streaming ilegal.

Menomor satu kan edukasi, lalu tindakan preventif.

Ya, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Dan akan lebih baik lagi, ketika pencegahan tersebut berada di lapisan yang paling dasar: Manusia nya itu sendiri.

Tentu saja beberapa orang akan bilang bahwa tindakan ini buang-buang waktu, 'percuma', dan tidak efektif.

Karena edukasi bukanlah hal yang sederhana & singkat, bahkan 12 tahun sekolah pun tidak cukup untuk mempelajari banyak ilmu.

Sebagai penutup, intinya, come on.

Coba kamu bayangkan ketika kamu yang berada di posisi mereka.

Tentu mereka melakukan tindakan-tindakan tersebut bukan tanpa tujuan, sekalipun tujuan nya hanya karena uang, misalnya.

Maksud gue, kita tidak tau apa yang sebenarnya orang-orang pikirkan; rasakan, dan yakini.

Ya, perbuatan salah itu salah.

Tapi benar-salah itu relatif.

Serta bukankah kita setuju bahwa main hakimi sendiri adalah hal yang kurang bijak?

Dan ya, apa bedanya cancel culture dengan main hakim sendiri?

Melihat kondisi sekarang, orang yang gue maksud, dibunuh karakternya. Dihancurkan karirnya. Dikacaukan kondisi keluarganya.

Mengapa para kriminal hanya dihukum dan tidak langsung dibunuh?

Atau ternyata, apakah orang tersebut setingkat dengan seorang bandar narkoba dan atau terdakwa teroris yang sudah mengambil banyak nyawa karena ledakan bom yang dia buat?

Terserah apapun yang kamu pikirkan, tindakan yang kamu ambil.

Persetan bijak dalam bersosmed, sejak kapan tidak bijak di internet menjadi dosa dan membunuh karakter orang hadiahnya adalah neraka?

Kita bisa melakukan apapun di internet, termasuk menghakimi orang lain & mengajak orang banyak untuk melakukannya.

Tapi masa iya hanya itu saja yang terbaik yang bisa kita lakukan?

Terima kasih sudah mampir, waktunya kembali membuat dapur kita agar tetap ngebul!