Bagaimana gambaran melamar kerja di perusahaan IT?

Spoiler: Sama aja kayak ngelamar di perusahaan non IT.

Bagaimana gambaran melamar kerja di perusahaan IT?

Oke jadi gue mau share tentang pengalaman gue ngelamar kerja ke perusahaan IT, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Semoga bermanfaat ya.

Untuk kamu yang mungkin "takut" atau "minder", tenang. Bahkan gue berbagi kegagalan gue disini. Gue pernah beberapa kali melamar ke perusahaan berbeda, banyaknya gagal. Kalo udah keterima (posisi fulltime), gue pasti loyal banget orangnya. Bukan sayang sama kerjaan, cuma males apply sana sini lagi aja haha.

Oke, jadi biasanya orang-orang menganggap kegagalan adalah hal yang tabu. Merasa kegagalan adalah sebuah aib, dsb. Gue enggak, justru kegagalan gue jadikan sebagaimana pepatah bijak biasa mengatakan: Pelajaran. Jadikan kegagalan sebagai pelajaran, biar enggak mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Dan gue orangnya pada dasarnya gak suka kalo "pembelajaran" tersebut cuma gue aja yang dapet, gue pengennya berbagi ke orang lain juga. Hati gue kadang suka gelisah kalo habis mempelajari sesuatu tapi enggak membagikan apa yang telah gue pelajari tersebut.

Sorry sorry banyak basa-basi, ya? Oke, kita mulai. Gue cuma pernah ngelamar ke 6 perusahaan:

  • KelasKita
  • Bukalapak (Referred)
  • Kumparan (Referred)
  • Fly.io
  • Status.im
  • GitHub

Selainnya, masuk lewat orang dalem (diajak sama level C/V), cuma kontrak (NDA), dan freelance. Dari 6 daftar diatas, yang keterima cuma 1, yakni KelasKita. Sebagai Frontend Developer sampai jadi Lead.

Sebenarnya total ada 7 perusahaan, tapi yang satu masih abu-abu. Tunggu kabar nanti hari Senin, ya!

Gue akan berbagi tentang kenapa gue bisa apply ke perusahaan tersebut, gimana caranya gue bisa apply, dan apa aja yang gue dapet ketika apply.

KelasKita

Gue apply ke KelasKita ketika udah bosen dengan freelance, di Upwork. Gue merasa kesepian dan kayaknya kerja di kantoran seru juga, rame. Pikir gue waktu itu.

Terlebih, lagi jenuh dengan dunia Fullstack. Karena kebetulan KelasKita sedang mencari Frontend Developers, gue beranikan diri apply. Gue dapet lowongannya dari akun kampus non-official-tapi-gede-juga, karena kebetulan cofounder nya juga alumni dari kampus tersebut.

Bekal portfolio murni dari hasil kerjaan gue di Upwork, beberapa "toy project" yang gue share di GitHub, dan beberapa tulisan gue di blog. Cover letter gue tulis menggunakan bahasa Inggris, karena job postingnya ditulis menggunakan bahasa Inggris juga.

Setelah itu, dikontak oleh Cofounder nya via LinkedIn buat dateng ke kantor, wawancara non-formal biasa, dan langsung ditanya bisa masuk kapan. Setelah itu, gue langsung masuk seperti kantor-kantor lainnya, masih probation. Udah lumayan setahun kerja disana, naik gaji beberapa kali dan naik posisi, baru gue memutuskan untuk cabut dari situ diajak oleh seseorang yang berjasa dalam hidup gue :))

Posisi waktu gue ngelamar masih kuliah, semester 3! Awalnya mungkin mereka meragukan gue, tapi karena cofounder nya pernah ngambil kerjaan dari Upwork juga (waktu masih oLance), mungkin karena itu mereka percaya dengan gue, mahasiswa semester 3 yang enggak pernah kerja fulltime. Dan juga karena beberapa kode yang gue publish ke GitHub, dan beberapa tulisan yang gue publish di Blog.

Intinya, mulai aja dulu (Tokopedia should pay me!). Tapi jangan coba-coba, takut jatuhnya cuma disangka bercanda :))

Bukalapak

Gue di refer oleh teman gue yang kerja di Bukalapak untuk menjadi UI Engineer nya disana. Proses referring nya kurang transparan, dan sampai hari ini gue enggak dapet kabar apakah diterima atau tidak.

Kita semua benci penolakan, tapi gue yakin semua orang pasti setuju klo "ketidak pastian" adalah sesuatu yang lebih kita benci.

Karena itu, gue blacklist Bukalapak dari list "place to work" gue. Mungkin enggak ada dampaknya juga buat mereka ketika gue mem-blacklist mereka, tapi enggak tau kalau besok-besok :))

Gue udah nulis cover letter, nyisipin resume, update portfolio, dsb. Ternyata balasannya gini. Setidaknya kalau memang ditolak, kasih kabar. Lebih bagus kalau dikasih alasannya juga, buat pembelajaran. Ini ngasih kabar kagak, ngasih alasan kagak, didiemin weh sampai sekarang.

Iya, doi perusahaan gede & sibuk. Tapi come on, seriously, mereka hiring karena butuh tenaga kerja, kan? Sejujurnya gue enggak butuh kerjaan dari mereka, tapi karena di refer, ya mau gimana lagi? Masa rezeki ditolak?

Masih banyak perusahaan disini, lowongan pekerjaan ada dimana-mana. Semenjak kejadian ini, gue mempelajari sesuatu dari sudut pandang "HRD". Dan klo emang suatu saat nanti gue punya perusahaan, gue enggak bakal pernah ngelakuin hal seperti itu. Karena gue tau rasanya bagaimana.

Hingga saat ini.

Kumparan

Sama, di refer juga oleh teman. Sebagai Frontend developer. Asiknya, Kumparan lebih transparan. Gue bahkan dikasih tau gue di refer oleh siapa, dan apa yang harus gue lakukan.

Setelah mengirim resume, portfolio, dsb, gue dapet balasan dari mereka bahwa gue enggak keterima.

Meskipun di email enggak dijelasin alasannya, tapi di situs Smart Recruiters nya dikasih tau. Katanya, portfolio gue masih kurang. Kalo lo tipe orang mudah menyerah (misal lo udah ngerasa klo ternyata portfolio lo udah banyak, tapi kok masih dianggap belum cukup?), lo pasti down. Menyalahkan keadaan, dsb.

Klo gue enggak. Gue mikirnya mungkin portfolio gue udah banyak itu di mata gue, bukan di mata orang lain. Jadi, yang harus gue lakukan adalah menambah lebih banyak lagi portfolio! Thanks Kumparan, lo gak masuk blacklist gue!

Fly.io

Ini iseng-iseng ingin beralih karir, ke Developer Advocate. Gue sadar portfolio gue masih minim untuk posisi ini (malah gak ada pengalaman profesional sama sekali tentang ini), tapi perusahaan ini sangat baik. Mereka welcome everyone, selagi punya portfolio yang sekiranya "terkait" dengan pekerjaan gue.

Gue disuruh membuat "demo artikel" yang terkait dengan kapabilitas gue dan layanan mereka. Sayangnya, gue nya aja males. Entah kenapa gue lagi gak ada semangat buat nulis artikel, jadi gue abaikan aja itu email :))

Maaf yah HRD nya Fly.io klo lo baca ini dan ngerti bahasa gue.

Setiap company punya cara beda-beda dalam hiring, dan di konteks ini mereka menggunakan pendekatan "work focused". Maksudnya mungkin klo lo apply ke perusahaan fintech, lo dikasih kerjaan yang seputar fintech tersebut (demonstrate e2e encryption, fraud detection, etc) bukan disuruh bikin binary tree di whiteboard ataupun disuruh bikin pohon cemara pakai looping.

Ini enggak gue tulis di bagian failures gue, karena kesalahan ini murni dari kemalasan gue. Ini namanya nolak rezeki, dan setiap orang pasti sudah tau kalo nolak rezeki itu sesuatu yang "pamali".

Status.im

Gue dapet pekerjaan ini dari remote job vacancy, sama kayak yang fly.io. Kebetulan gue tau Status.im karena pada waktu itu gue lagi seneng-senengnya sama teknologi blockchain.

Posisi yang gue lamar masih sama kayak Fly.io, Developer advocate. Kalo gak salah ini 1 periode sama fly.io sih waktu apply. Gue udah ngetik cover letter ke mereka, nyisipin portfolio, dsb. Sayangnya, enggak dapet kabar balik dari mereka.

Sama kek si BL itu.

Bedanya, setelah gue cek, mereka udah enggak hire posisi itu. Jadi, menurut gue, kan gue dapet job post itu dari platform buat ngumpulin job vacancy khusus remote gitu kan, nah mungkin mereka udah dapet seseorang buat ngisi posisi itu, jadilah mereka menandakan klo job itu udah unavailable di website mereka.

Tapi di platform yang gue pakai itu, enggak/belum ke-update. Salah gue juga sih enggak crosscheck dua kali, karena gue mikirnya ah mungkin sinkron kali ya. Tapi beruntungnya setelah gue melakukan crosscheck (walau telat), gue mendapatkan jawaban gue.

Mereka udah enggak menerima posisi itu. Logikanya, lo ngapain nawarin orang buat beli pulpen, klo orang itu udah punya pulpen.

Clear?

Gue enggak tau untuk ini siapa yang salah. Karena gue juga enggak mau disalahkan ternyata untuk kasus ini hahaha.

GitHub

Ini perusahaan gede pertama (dan internasional) yang pernah gue apply, meskipun sebagai intern. Karena tujuan gue dulu ingin mencari pengalaman (dan menambah portfolio) untuk posisi Developer Advocate. GitHub adalah brand yang sudah dikenal khalayak banyak, dan kala itu belum dibeli oleh Microsoft.

Gue ngelamar sebagai intern karena sadar diri. Belum ada pengalaman di dunia Developer Advocate (apalagi internasional!) tapi pengen sok-sokan jadi advocate disana.

Dan juga gue nekat, walaupun bukan "remote" position, gue tetep aja apply. Mungkin mereka akan mentolerir lokasi gue, kata asumsi gue. Karena mengingat GitHub juga termasuk company yang remote friendly, yaudah deh gue apply. Dan ini alasan mereka.

Ya, mereka enggak mencari kandidat yang berasal dari Indonesia. Secara tidak langsung, mau enggak mau gue harus "pindah negara", sedangkan gue belum berani karena khawatir di negara lain enggak ada yang jualan nasi goreng.

Yaudahlah ya gue jadikan pelajaran, dan gue seneng juga mereka ngasih alasan penolakan sekaligus kabarnya. Untuk saat ini belum tertarik lagi apply ke perusahaan internasional, tapi yang udah masuk list gue adalah Cloudflare.

<Future>

Gue apply ke suatu startup di Jakarta Selatan. Alasannya, karena perusahaan tersebut aktif mendukung komunitas Open Source dan komunitas developer di Indonesia.

Seperti biasa, posisi yang gue apply adalah Software Engineer, Frontend. Karena belum ada posisi sebagai Developer Advocate/Relation haha.

Prosesnya relatif cepat, mungkin karena mereka sedang gencar-gencarnya hiring. Prosesnya relatif sama, nulis cover letter, sisip portfolio, dan resume. Sekian hari kemudian gue dikasih "technical test". Test nya enggak sesuai dengan "perusahaan apa mereka", tapi sesuai dengan tech stacks yang mereka gunakan.

Gue dikasih deadline sekian, requirements sekian, dan poin-poin penting yang harus tercapai. Juga, gue tipe orang yang "enggak bisa biasa-biasa aja". Maksudnya, misal klo lo disuruh cuma bikin A, B, C, gue bakal bikin sampai D, E, F nya.

Contoh realistisnya, klo test lo cuma disuruh tentang bikin aplikasi ecommerce dengan kode yang rapih dan abstraksi yang bersih, yaudah lo cuma bikin tentang itu aja. Kalo gue, gue tambahkan nilai plus nya.

Misal, disisi UX seperti bundle size, optimistic UI, dsb. Terus, Code Coverage > 90%, dsb. Tentunya gue harus kasih tau tentang itu (alias "sounding"), karena yang ngereview gue yakin enggak bakal sedetail yang kita harapkan.

Deadline 3 hari, gue kelarin 2 hari. Dikasih pilihan deploy ke platform/infra sendiri, gue pilih infra sendiri. Dsb. Setelah ngasih tau mereka URL demo nya (plus repo nya), dalam beberapa hari gue di kontak lagi kalau mereka minta nomor telepon gue.

Terus gue kasih, dan diajak onsite interview. Yang mana interview terakhir, seperti waktu di KelasKita dulu. Biasanya di tahap ini, kita ditanya kerjaan sebelumnya, visi misi (wew), apa yang ingin ditingkatkan, dan.... Range gaji. Serta, kapan lo bisa siap untuk kerja klo memang ok.

Ajakan interview nya kira-kira begini:

Ya ini formal banget, beda sama KelasKita karena foundernya juga gaul dan gue di interview aja beliau pakai celana pendek dong (kek boxer gitu lah). Biasanya ketika inteview kita ketemu dengan stakeholders yang bersangkutan (dan biasanya sama team lead, manager, vp, atau cofounder tergantung besarnya suatu perusahaan).

Udah masuk sesi ini belum tentu keterima juga, tapi 60% bakal keterima. Kemungkinan enggak keterimanya biasanya adalah karena gaji yang kurang sesuai dengan mereka atau gak karena kebutuhan yang lo inginkan kurang pas dengan mereka. Selainnya biasanya adalah alasan unik per-perusahaan.

Kesimpulan

Kenapa gue menulis tentang ini? Jadi, kemarin-kemarin gue di DM tentang gimana sih kang gambaran ngelamar di perusahaan IT? Dia follower gue di IG, baru sarjana (beda 2 tahun sama gue secara pendidikan).

Permasalahan yang dia miliki adalah "ketidak-percayaan diri" terhadap kapabilitas yang dia miliki. Dia kek selalu berfikir "kayaknya gue belum pas deh untuk kerja diperusahaan ini", yang mana itu adalah salah satu perusahaan impian dia.

Masalahnya, dia cuma berasumsi. Belum pernah berani mencoba. Mungkin karena kurang berani, atau karena takut kecewa, dsb. Maka dari itu gue berbagi pengalaman gue seputar per-apply-an baik disudut pandang gagal (kebanyakan haha) ataupun berhasil.

Sayangnya, di KelasKita arsip emailnya udah ilang. Sayang banget, padahal pekerjaan itu adalah pekerjaan fulltime pertama gue. Oh iya, yang disini gue bahas cuma yang sifatnya fulltime sebagai karyawan tetap ya, bukan sebagai kontraktor (dapet "privilege" job dari orang yang berpengaruh di internal), masuk lewat orang dalem (sama seperti kontrak, bedanya job nya general. Enggak spesifik), ataupun freelance (the "Kang lagi sibuk gak? Klo misalnya lagi santai tertarik buat bantu team untuk handle ini gak? Soalnya tim lagi fokus ke domain (bisnis) baru)".

Kontrak biasanya per-project, pastinya punya deadline. Duit lebih gede dari kerja biasa, but you can imagine finishing X in Y days by 1 people was extremely... Amazing). Gue rela kerja serabutan demi cepet dapet duit hahaha.

Tapi itu, gue enggak fokus di freelance karena masalah "kesepian" itu. Enggak tau nanti ya klo udah berkeluarga.

Oke balik lagi ke topik, intinya, ngelamar pekerjaan enggak seseram yang lo bayangkan. Gue analogikan dengan percintaan deh, karena rata-rata pembaca gue adalah orang-orang yang belum berkeluarga dan relatif masih pada muda.

Gini, untuk dapetin cewek, lo harus punya sesuatu yang bisa dijual. Bener? Entah rupa, harta, tahta, apapun, yang sekiranya, bisa bikin cewek yang lo incer tertarik sama lo. Daaan... Lo harus memiliki "nilai plus" biar lo beda dengan orang-orang yang pernah/sedang ngincer dia juga, ataupun yang pernah pacaran sama dia juga.

Lo harus mempersiapkan apapun itu biar cewek tersebut tertarik sama lo. Klo gebetan lo hedon, lo harus siap ngeluarin duit untuk mengikuti gaya hidupnya. Sebentar, jangan bilang bucin dulu. Nanti gue jelasin tentang ini.

Klo cewek lo suka nonton film, lo harus siapin materi-materi seputar per-film-an, kan? Begitupula klo dia suka baca buku, lo cari buku apa yang lagi dia baca ataupun buku apa yang menjadi favorit dia. Biar apa? Biar dia merasa klo lo "klop" dengan dia.

Klo dari awal dia udah enggak pernah tertarik sama lo, mundur aja bro. Gak usah dipaksa, mungkin lo belum/enggak masuk ke standar/kriteria dia. Pilihannya, lo move on atau terus berkembang biar mengikuti standar dia.

Lanjut, setelah doi udah merasa "klop" sama lo, lo harus buat dia nyaman. Ini masih lampu kuning, jadi lo harus hati-hati. Atau yang ada, lo bakal dapet jawaban sebaliknya. Ini adalah ketika lo udah masuk tahap test. Nyaman belum tentu sayang, klo sayang, udah pasti nyaman.

Enggak percaya? Bayangkan ketika lo udah merasa cocok sama dia, ternyata lo gak jadi sama dia. Dia malah memilih yang lain, dan menganggap lo hanya sebatas sahabat ataupun sodara.

Klo doi enggak merasa klop, paling lo disuruh mundur alon-alon. Entah enggak mendapatkan response (setelah sebelumnya dapet, walau automated message).

Jika sudah merasa klop, lanjut.

Btw gak usah dibawa ke hati klo lo merasa dengan ilustrasi di paragraf diatas, tos dulu kita. Lanjut, ketika dia udah nyaman; Buat dia sayang. Buat dia takut kehilangan lo. Buat dia merasa bahwa lo lah orang yang tepat untuk dia.

Dibagian ini termasuk unik, tapi kita bisa mengikuti pola. Biasanya, ada di kelebihan; Pembeda dari yang lain, apa yang bisa membuat lo unggul dari yang lain.

Yang ngincer dia bukan lo aja, yang masuk karakteristik dia juga bukan cuma lo. Tapi kenapa dia harus memilih lo? Karena lo terkenal? Karena lo pinter banget gak ada obat? Karena lo selalu ada? Karena lo sholeh? Dsb.

Klo lo sama aja kayak orang lain, yaa, kenapa dia harus milih lo?

Bayangkan klo dia sayang sama lo karena lo itu orangnya perhatian tapi enggak sensitif? Bayangkan dia takut kehilangan lo karena lo itu orangnya pinter banget dan bisa bikin dia berkembang? Bayangkan dia menganggap lo adalah orang yang tepat untuk dia, karena lo bener-bener masuk ke kriteria dia dan bahkan menambah membuat kriteria dia bertambah karena sifat lo (Jadi kek wah setidaknya klo dia mati, gue harus nemuin orang yang sifatnya kayak dia)?

Lo fikirin sendiri caranya gimana, gue cuma bisa ngasih pola. Berdasarkan pengalaman.

Tahap terakhir adalah lampu hijau, lo nembak & keterima. Cuma jadi pacar, oke? Kalo keinginan lo cuma pengen sampai jadi pacar dia aja, terserah. Itu balik lagi ke lo. Disini, lo bisa berfikir lebih lanjut klo lo mau. Misal, pacaran pasti gak selamanya. Ada masa ketika dia bosan, atau bahkan lo sendiri yang bosan. Balik lagi ke lo ingin mempertahankan atau menyudahkan. Tapi ingat, lo pernah berjuang untuk dia.

Daaan... Lo pasti gak selamanya pacaran, kan? Klo lo emang udah merasa klop banget, sayang banget, merasa cocok banget, lo bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih jauh. Ke level yang lebih atas. Semoga lo ngerti maksud gue, sebagai spoiler: Naik jabatan, naik gaji, naikin nilai perusahaan, dsb.

Gitu bro/sist. Untuk kalian, yang sudah disuruh mundur sebelum berjuang, tenang. Jangan menjadi pecundang, cewek enggak cuma satu didunia ini. Banyakin gebetan, tapi klo udah dapet, setia sama satu. Kalo setidaknya 1 gak dapet, lo masih punya pilihan lain. Dan klo lo udah dapet, setidaknya lo harus menghargai keputusan diri lo tentang mengapa lo memperjuangkan itu.

Dan seperti yang sudah kita ketahui untuk mereka yang menyia-nyiakanmu, buat mereka menyesal. Membuat seseorang menyesal karena telah menyia-nyiakanmu dengan cara terus mengembangkan dirimu sendiri adalah balas dendam yang paling manis. Dan yang paling bijak, daripada hanya sekedar menyesali.

Terima kasih telah membaca, silahkan diskusi disini.