Bagaimana teknologi mengaturmu?

Attention was became the new currency, so take back yours and never give it for free.

Bagaimana teknologi mengaturmu?

Sebagian orang mungkin sudah mengetahui tentang bagaimana kita mengatur teknologi, dan sebagian mungkin belum mengetahui tentang bagaimana kita diatur oleh teknologi.

Teknologi ini umum, bisa platform; Aplikasi, layanan, apapun itu. Singkatnya dari tulisan ini adalah: Untuk bisa mengatur teknologi–bukan sebaliknya diatur oleh teknologi–adalah dengan tidak memberikan mereka kekuatan. Untuk perjelasan panjangnya, silahkan lanjutkan membaca tulisan ini. Ambil kopimu, mari kita habiskan malam minggu ini dengan membahas ini.

Current state

Kita tidak bisa lepas dari teknologi, dari yang paling umum tentang bagaimana kita melakukan hubungan dengan orang lain, sampai yang paling spesifik seperti bagaimana kita menggunakan teknologi demi alasan produktifitas.

Gue yakin di perangkat kalian pasti memasang aplikasi untuk melakukan perpesanan, baik untuk kebutuhan pribadi ataupun kantor seperti WhatsApp, Telegram, Slack, apapun itu.

Lalu ada aplikasi-aplikasi lain untuk hiburan seperti Twitter, Instagram, Reddit, dsb.

Hei, Spotify & Netflix jangan lupa!

Oh iya, Facebook juga.

Hmm, Snapchat?

Aplikasi-aplikasi tersebut sudah dirancang seakan-seakan kita membutuhkan mereka, dan itu terbukti dengan sebagaimana kita sangat bergantung dengan aplikasi tersebut.

Pernah ditanya sama teman seperti ini: "Di hp lu gak ada instagram terus klo lu 'gabut' lu buka aplikasi apa?", yang gue jawab dengan "serius lu nanya gitu?"

Yang seakan-akan, aktifitas gue sebagai manusia harus selalu bergantung dan di-stir oleh aplikasi. Meskipun memang sudah dirancang oleh mereka seperti itu :)

Dan seakan-akan setiap orang harus memiliki aplikasi yang setiap orang lain gunakan juga, atau nantinya akan "ketinggalan zaman", "terasingkan", dan "terkucilkan".

And I did it.

By design

Kamu harusnya enggak perlu heran kenapa kamu bisa menghabiskan beberapa jam didepan layar handphone kamu, terkait dengan aplikasi yang kamu gunakan. Memang sudah dirancang seperti itu.

Dan ya, mengapa kamu bisa memeriksa handphone sekian menit/detik meskipun mungkin tidak ada apa-apa disana? Sekali lagi, memang sudah dirancang seperti itu.

Mengapa Instagram memiliki tab explore, Twitter memiliki Trending Topic, Facebook memiliki "infinity" feed, dan sebagainya? Agar kamu betah lama-lama disana. Fikiran-fikiran seperti "Kayaknya gue belum liat ini deh?", "Wih X lagi trending nih, ikutin ah", dan "Hmm banyak juga yang ngucapin ultah ke si Y, liat ah siapa aja" itu sudah dirancang oleh mereka.

Dan untuk kamu yang bisa "tidak bisa ber-lama lama" di sosial media, alternatifnya adalah dengan membuat kamu sesering mungkin memeriksa handphone kamu. Push notification seperti "X membuat cerita baru, lihat sekarang!", "Z sedang trending di Indonesia, ikuti beritanya" dan lain-lain adalah salah satu usaha mereka.

Kamu sering berlama-lama di sosial media sekaligus sering memeriksa handphone kamu juga?

Selamat, kamu adalah pengguna favorit mereka.

Mereka enggak iseng dalam membuat sesuatu (aplikasi/layanan), mereka membangun perusahaan for-profit, yang tujuannya... Yaaa untuk profit.

Dari mana mereka mendapat profit? Yaa dari kamu-kamu ini yang menjadi favorit mereka. Aplikasi/layanan mereka tidak dipungut biaya, namun memakan biaya besar untuk operasionalnya. Kamu pikir mereka bayar biaya operasional tersebut menggunakan apa, memangnya?

Enggak ada yang gratis didunia ini, kecuali untuk misi sosial.

Lalu, bagaimana mereka mendapat profit sedangkan:

  • Layanan mereka gratis?
  • Pengguna enggak membayar sepeserpun?
  • Pengguna tidak rugi sepeserpun?

Jika penasaran, silahkan lanjutkan membaca. Nanti kita akan bahas inti dari judul tulisan ini.

Iklan

Hampir setiap hari dimanapun kita melihat iklan. Iklan sedekah di masjid, iklan diskon 25% di starbucks, iklan jasa sedot wc di tiang listrik, dimanapun itu selagi ada bangunan.

Mengapa mereka mengiklan? Agar usaha mereka dikenal. Siapa target dari iklan mereka? Setiap orang yang melihat iklan tersebut.

Karena setiap orang, ini tidak terukur. Kita tidak tau ROI dari iklan tersebut, siapa yang melakukan action setelah melihat iklan tersebut, dsb. Apakah efisien? Mungkin, namun kurang efektif. Ya karena tidak terukur, toh?

Bagaimana agar terukur? Kita harus memberikan iklan tersebut ke orang yang tepat. Ter-target. Berdarkan minat. Yang mengarah ke spesifik, bukan umum.

And its you.

Dari mana mereka tau jika itu kamu? Thanks to yourself, you all giving it to them for free.

Bagaimana bisa kamu memberikannya kepada mereka? Karena itu sudah didesain oleh mereka. Gue akan sebisa mungkin menggunakan bahasa yang mudah dipaham oleh orang awam, semoga semuanya jelas.

Profiling

Kamu ingin dikenal oleh orang lain. Kamu ingin ngasih tau ke orang-orang bahwa kamu pecinta kopi, seseorang yang tinggal di Bandung, mahasiswa semester 4 universitas negeri, dan seorang sosialita. Kamu melakukannya dengan cara mengikuti akun-akun yang sesuai dengan kondisi diatas, menyukai postingan-postingan yang sesuai dengan kondisi diatas, serta memberikan postingan yang sesuai dengan kondisi diatas.

Make sense, right?

Apa pentingnya data-data tersebut? Tidak ada.

Sampai orang-orang membuat data tersebut penting.

Gue punya baru bikin kedai kopi di Bandung, gue ingin orang-orang tau brand gue; Ngasih tau kalau kedai gue ada di Bandung, dan ngasih tau kalo tempatnya tuh instagrammable parah. Biar lancar, gue kasih cashback 50% dari yang harganya 20rb jadi 10rb dalam bentuk promo.

Gue minta deh bantuan Instagram–via "Promosi"–untuk kondisi yang sesuai dengan kebutuhan gue tersebut. Lalu membayar sekian rupiah ke mereka, lalu enjoy the show.

Siapa yang dirugikan? Tidak ada, bukan? Bukankah kita justru untung mendapatkan cashback 50%?

Kagak ladies and gentleman, lo bukan untung 10rb, melainkan sudah mengeluarkan 10rb untuk sesuatu yang mungkin enggak butuh-butuh amat. Mereka menggunakan teknologi untuk membuat lo konsumtif, untuk membuat lo menghabiskan waktu & uang lo untuk sesuatu yang sepertinya enggak penting-penting amat.

Dan disitu mereka mendapatkan profit, dengan mengambil waktu lo. Perhatian lo. Data-data lo. Mereka tajir dari situ, ya kamu?

Mereka mendapatkan "seseorang" yang sesuai target mereka, iklan bisa diukur karena hanya sampai ke orang yang "tepat". Bagaimana bisa tepat? Karena mereka memiliki data.

Yang secara sukarela kamu berikan kepada mereka.

you all get it?

Jika belum, izinkan gue sedikit bercerita lagi tentang bagaimana teknologi mengatur kamu. Singkatnya, hal yang harus di-eksploitasi adalah atensi kamu. Perhatian kamu. Waktu kamu.

Dari situ mereka akan membangun kebiasaan, akan membuat kamu harus bergantung dengan layanan/aplikasi mereka. Akan membuat bahwa kamu tidak bisa hidup tanpa mereka.

Jika sudah sampai situ, yaa sederhananya, mereka berarti sudah... Mengendalikan kamu, toh?

Mereka bisa mengendalikan emosi kamu dari postingan yang kamu lihat, mereka bisa mengendalikan uangmu dari promo yang kamu lihat, mereka bisa mengendalikan perhatian kamu dari pemberitahuan yang kamu dapat.

Dan itu sudah dirancang, silahkan tanya kerabatmu yang bekerja sebagai perancang pengalaman pengguna. Mereka mati-matian untuk membuat pengalaman kamu sebaik mungkin, sehingga kamu bisa nyaman menggunakan layanan & aplikasi mereka. Dari nyaman, lalu sayang. Lalu tidak bisa hidup tanpa nya, dan rela mati demi dia.

Gue enggak bermaksud untuk menganggu rezeki orang, dan gue yakin setiap orang pasti memiliki prinsip terhadap sesuatu & dirinya. So here I am.

Don't give them power

Mereka bisa mengaturmu karena mereka memiliki kekuatan untuk itu. Aplikasi yang terpasang di perangkat kamu memberikan kekuatan kepada mereka agar kamu bisa terus membuka aplikasi mereka. Push notification dari perangkat kamu bisa memberikan kekuatan untuk mereka agar mereka mendapatkan perhatian dari kamu, meskipun kamu sedang tidak membutuhkan aplikasi tersebut.

Dan juga, layanan gratis; singkronisasi, dan sebagainya adalah kekuatan untuk mereka. Dan kamu, pasti tidak bisa menolaknya.

Karena, bukankah gak ada ruginya juga, toh?

Jika kamu tidak membayar dalam bentuk uang, berarti kamu membayarnya dalam bentuk waktu. Hey, anyone here remember that time is money?

Singkatnya, buat mereka lemah. Jangan beri mereka kekuatan. Jangan beri mereka sesuatu yang tidak diminta. Serius, siapa yang peduli lo lagi di Paris dengan memberikan location kalau itu di Paris? Temen lo? Keluarga lo? Enggak, pengiklan yang peduli. Teman lo pasti tau kalo itu di Paris, dan pasti bakal nanya klo emang gak tau.

Dan lo punya hak untuk menjawab/tidak menjawab pertanyaan mereka, bukan?

Yang mana, mereka tersebut bukanlah "orang-orang" yang lo harapkan untuk melihat konten lo.

Penutup

Semoga "dapet" hal-hal yang terkait dengan judul ini. Membuat perangkat gue menjadi boring, yaa boring. But it seriously fucking worth at least for me. For myself, for my mental health, for my wealth, for my time.

Temen-temen lo pada main game yang sama, meng-"update" story yang sama, dsb sedangkan lo gak bisa. Rugi enggak? Kalo rugi, please tell me, which ones?

Bersosial tidak selalu berada di dunia maya, silahkan coba buka aplikasi Telegram lo yang boring itu (atau aplikasi SMS lo)–karena cuma buat chatting gak ada story ataupun feed–dan ajak temen lo nongkrong.

Silahkan lakukan hal-hal yang mungkin biasa lo lakukan di chatting. Gak bakal ada pertanyaan-pertanyaan seperti "lagi ngapain?", "lagi santai, gak?", atau "ngobrol yuk, bisa gak?" karena lo sedang di satu tempat dengan mereka, dan melihat kondisi mereka. Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut, hanya berlaku diaplikasi chatting.

Lo bisa ngobrol hal-hal yang lebih panjang, yang lebih urgent, yang lebih berarti, karena lo enggak sedang ngobrol via keyboard.

Dan waktu lo, enggak akan terbuang sia-sia hanya untuk memuaskan nafsu si teknologi. Sedangkan untuk manusia lain, sebagai sesama manusia.

Attention was became the new currency, so take back yours and never give it for free. Technology should help make our life better, as a human-being. Don't make them to control you, you control them. In short, don't give them power.

Terima kasih sudah mampir.

Diskusi disini atau disini.