Berdamai dengan masa lalu

Karena setiap orang memiliki masa lalu

Berdamai dengan masa lalu

Setiap orang memiliki masa lalu, terlepas masa lalu itu menyenangkan ataupun sebaliknya. Meskipun gue kurang suka menonton film, jadi teringat salah satu episode nya Black Mirror di Season 1 episode sekian tentang The Entire History of You.

Yang intinya, disitu dijelaskan ketika kita bisa melihat "history" yang terjadi pada kehidupan kita, dan memilih untuk menyimpannya atau membuangnya.

Singkatnya, rumah tangga mereka hancur karena si A mengingat-ngingat masa lalu si B, yang meskipun si A melakukannya bukan karena tanpa alasan. Jika diambil pelajaran dari episode tersebut, mungkin, kehancuran rumah tangga mereka tidak akan terjadi bila si B tidak menyimpan memori tersebut.

Memori tersebut adalah having sex dengan seseorang ketika si A sedang tidak bersama si B (ada "dinas" kerja). Jika tidak membahas benar-salah, andaikan si B tidak menyimpan memori nya ketika having sex dengan seseorang tersebut, pasti rumah tangga mereka masih utuh.

Meskipun, itu sesuatu yang naif.

Tentu si B memiliki alasan mengapa menyimpan memori tersebut, dan pastinya salah juga kenapa dia harus bermain belakang.

Begitu kira-kira cerita di episode tadi, mari kita lanjut ke pembahasan.

Berdamai dengan masa lalu diri sendiri

Kita memiliki rencana, memiliki mimpi, cita-cita, apapun itu. Terkadang kita lupa bahwa, mungkin kita bisa melakukan apapun, tapi kita tidak bisa melakukan semuanya.

Cita-cita dari yang sesederhana lulus kuliah 4 tahun sampai ke yang lumayan berat seperti mempunyai rumah di umur 30 adalah sebuah rencana, yang mana bisa saja gagal bisa saja berhasil.

Kita percaya dengan kekuatan usaha, doa, semesta mendukung, apapun. Tapi terkadang kita lupa dengan takdir. Seperti menulis tulisan ini, apakah sudah takdir?

Ya, sudah takdir tuhan.

Jika berbicara tentang takdir, tidak menulis ini pun adalah takdir tuhan.

Biasanya kita menyeimbangkan doa dengan usaha. Pertanyaan-pertanyaan seperti "apakah usaha gue kurang keras?", "apakah gue terlalu malas?" dsb kerap kali menyelimuti pikiran kita, ketika apa yang ingin kita capai mungkin tidak belum tercapai.

PR nya disini adalah bagaimana kita memaafkan diri sendiri, ketika kita belum mendapatkan kesempatan kita. Karena menurut gue—menurut gue aja ini—kita seperti sombong.

Misal, di umur 30 gue harus punya rumah.

Seakan-akan gue tau kalau di umur gue yang 22 ini sampai umur 30 akan berjalan sebagaimana yang gue harapkan. Oke mungkin gue optimis sehingga gue bisa menetapkan sebuah angka, tapi who knows, kan?

Gue pernah menyinggung sedikit tentang ini di tulisan Tentang Survivorship Bias, yang sederhananya, kalau semua bersikeras untuk menjadi ranking 1 (dan mengerahkan usaha yang sama), terus siapa nanti nya yang akan menjadi ranking 1?

Oke kita tidak membahas tentang sekeras apa usaha yang sudah dikerahkan, mending kita bahas tentang cara berdamai dengan diri sendiri. Pembahasan sedikit diatas sengaja di bawa buat membantu kita bisa menjadi lebih mudah memaafkan diri sendiri.

Menurut gue, cara memaafkan diri sendiri yang paling pertama adalah mengenal diri kita sendiri.

Mengenal kapabilitas kita.

Gue bisa aja optimis menjadi dokter, dengan berbagai usaha yang gue kerahkan. Tapi ternyata gagal, lalu membandingkan dengan orang lain yang jadi dokter padahal sama kayak kita dan usahanya pun sama dengan apa yang sudah kita kerahkan.

Pertanyaan nya, mengapa kita gagal menjadi dokter? Hmm, mungkin dia dari keluarga dokter? Mungkin dia punya orang dalam?

Gak ada yang tau, kan?

Dia yakin bisa menjadi dokter (misalnya) karena mereka dari keluarga dokter. Itu salah satu kapabilitas dia, yang mana kapabilitas tersebut berbentuk privilege.

Tapi ada juga kok yang kondisi, usaha, dan kapabilitasnya sama persis kayak gue, tapi dia bisa menjadi dokter!

Mungkin dia memang sudah ditakdirkan menjadi dokter.

Ini hal kedua yang harus dilakukan (menurut gue) untuk bisa memaafkan diri sendiri: Tidak membanding-bandingkan dengan orang lain.

Kita tidak tau usaha & doa yang dilakukan orang lain. Bahkan kita sendiri pun tidak mengetahui takdir kita, yang singkatnya, bagaimana juga kita bisa tau takdir orang lain, kan?

Yang ketiga, berkenalan dengan waktu.

Waktu bukan hanya sekedar angka, apalagi sekedar jarum jam yang berjalan. Waktu adalah tentang persiapan, perencanaan, mengambil peluang, dan siap menerima dampak yang ada.

Jika melihat sejarah singkat tentang kemerdekaan di Indonesia versi Wikipedia, di bagian peristiwa Rengasdengklok di paragraf sekian dijelaskan bahwa:

Achmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan.

Lihat, kita tidak tau apa yang terjadi bila 'para pemuda' terburu-buru. Mungkin Indonesia merdeka pada tahun 1950? Mungkin kita tidak akan pernah merdeka? Tidak ada yang tau, bukan?

Lalu Achmad Soebardjo meyakinkan untuk tidak terburu-buru. Dan pastinya, banyak probabilitas juga yang bisa saja terjadi. Bagaimana kalau ternyata "tidak terburu-buru" menjadi terlambat? Bagaimana malah menjadi kesalahan yang fatal?

Tidak ada yang tau, tapi beruntungnya Achmad Soebardjo & para pemuda berhasil meyakini & meyakinkan.

Dan terjadilah 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia.

17/08/1945 adalah angka, bukan? Tapi disitu ada persiapan, perencanaan, mengambil peluang dan yang pastinya: Siap menerima dampak yang ada.

Apakah sudah takdir? Ya. Bahkan jika misalnya mereka terburu-buru untuk memproklamasikan kemerdekaan pun itu sudah takdir, bila kita berbicara takdir.

Coba pertanyakan mengapa pencapaian kita harus memiliki rumah di umur 30? Mengapa tidak umur 33? Mengapa tidak tok hanya sekedar memiliki rumah, tanpa hitungan umur?

Bagaimanapun, terlepas dari impian yang kamu miliki, kita harus kenali waktu dengan baik. Kita bisa belajar dari cerita rakyat tentang Rara Jonggrang, yang paling terkenal adalah tentang membuat 1000 candi dalam satu malam.

Meskipun Bandung Bondowoso menyanggupi sesuatu yang terlihat mustahil tersebut, tapi dia berhasil memenuhi syarat pertama. Dan untuk syarat kedua—yakni membuat 1000 candi—dia dipaksa untuk tidak menyanggupinya. Candi hanya berjumlah 999, karena kecurangan Rara Jonggrang. Lalu Bandung Bondowoso pun mengutuk Rara menjadi batu, yang mana menggenapkan candi tersebut menjadi 1000.

Kita bisa ambil perumpamaan dari cerita diatas tentang persiapan, perencanaan, mengambil peluang, dan siap menerima dampak yang ada. Bandung Bondowoso telah menyanggupi 3 hal, namun tidak siap menerima dampak yang ada. Seseorang nya yang seharusnya dia dijadikan sebagai istri, kini berubah menjadi batu terlepas dia kecewa atau tidak.

Dan kita tidak akan pernah tau apa yang terjadi bila dia tidak mengubah orang yang dia sukai tersebut menjadi batu, bukan?

Intinya, kenali diri sendiri & kapabilitas kita. Jangan bandingkan diri kita dengan orang lain. Dan kenali waktu dengan baik.

Jika kita bisa melakukan 3 hal, upaya untuk memaafkan diri sendiri harusnya menjadi lebih mudah.

Berdamai dengan masa lalu orang lain

Ini yang lumayan sulit, karena ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita kontrol.

Masa lalu orang lain ini beragam, misal orang tua. Pertanyaan-pertanyaan seperti Mengapa saya dilahirkan dari keluarga yang miskin? Mengapa saya dilahirkan beragama Islam? Adalah contoh yang tidak jarang orang lain miliki.

Dan itu adalah tentang masa lalu orang lain. Pastinya, bukan tanpa sebab mengapa keluarga kita miskin ataupun beragama Islam, bukan?

Gue ada temen, disini ada dua orang yang mau gue ceritakan. Dia ini berhubungan sama temen gue juga, namun tidak berakhir dengan bahagia. Kenapa? Karena temen gue yang satu ini (cowok), terjebak di masa lalu. Dia mencari sosok yang "seperti" seseorang yang dia harapkan.

Masalahnya ada di temen gue yang satu lagi (cewek), dia terkena dampaknya. Dia tidak akan pernah menjadi sosok yang temen gue (cowok) ini inginkan, dan juga (sepertinya) tidak mau menjadi dia, karena dia adalah dia, bukan orang lain.

Bayangkan bila hubungan tersebut dilanjutkan: Si cowok masih terjebak di masa lalu dan mencari sosok dia, dan si cewek harus menghadapi itu. Meskipun banyak probabilitas yang terjadi—seperti si cowok berhasil move on ataupun si cewek menjadi orang lain yang diharapkan tersebut—tapi hubungan mereka berakhir dengan putus.

Dan itu adalah keputusan terbaik yang mereka berdua pilih, meskipun menurut gue si cewek masih belum bisa menerima keputusan & kenyataan tersebut.

Yang mau gue maksud dari cerita diatas adalah: Tentang si cewek berhadapan dengan masa lalu si cowok. Disini gue gak bisa berpihak ke siapa-siapa, karena si cewek adalah sodara gue & si cowok adalah temen deket gue banget.

Kondisi yang dialami oleh si cowok, tidak bisa dikontrol oleh si cewek. Bagaimanapun, dia hanya bisa menerima kenyataan tersebut. Yang berarti, kunci nya disini adalah si cowok: Seseorang yang mungkin bisa mengontrol.

Jika dia bisa move on, mungkin putus bukanlah jalan keluarnya. Dan si cewek pun bisa saja misal lebih bersabar dalam menghadapi kondisi yang si cowok ini miliki, yang mungkin putus tidak menjadi keputusan terbaik nya.

Yang intinya, semua berperan. Tapi yang paling berperan adalah seseorang yang memiliki kontrol. Si cewek bisa saja membantu si cowok, tapi kalau si cowoknya tidak mau/belum siap, ya mau gimana? (true story btw haha).

Si keluarga bisa saja tidak menjadi miskin karena usaha anak nya, tapi kalau si keluarganya tidak mau/tidak mendukung, ya mau gimana?

Menurut gue, disitu kunci nya: Semua berperan, namun yang paling berperan adalah yang memiliki kontrol atas masa lalu tersebut.

Mengapa memaafkan masa lalu? Karena kita tidak bisa memaafkan hari ini dan hari esok. Sederhana, bukan?

Mengapa 'harus' berdamai?

Karena hal tersebut sudah terjadi, jadi biarlah berlalu.

Sayangnya, membiarkannya berlalu bukanlah hal yang mudah.

Bahkan sampai hari ini temen gue tersebut (cowok) masih tidak bisa membiarkan berlalu kisah bersama si cewek nya yang tersebut. Dia yakin masih ada harapan untuk dia, meskipun si cewek tidak pernah tau karena memang si cowok tidak pernah bilang secara eksplisit kepada si cewek kalau dia masih mengharapkan dia.

Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan masa lalu selain 2 hal: Mengikhlaskan ataupun Mengabadikan. Beberapa ada yang mengabadikan masa lalu nya, yang paling populer adalah dengan menjadikannya sebuah citra dan tetap menyimpannya di tempat penyimpanan dimanapun itu.

Beberapa ada yang mengikhlaskan, dengan menghapus citra-citra tersebut dari penyimpanan dimanapun itu, misalnya.

Ya, kita hanya bisa memilih satu dari pilihan mengenangnya atau melupakannya.

Yang perlu di garis bawahi disini adalah: Entah kamu mengenang atau melupakan, kamu hidup di hari ini dan untuk hari esok, bukan untuk masa lalu.

Untuk kondisi yang ada saat ini atau esok, untuk seseorang yang ada saat ini atau esok. Bukan untuk yang sudah terjadi, bahkan sebagai upaya "balas dendam" sekalipun, tidak akan pernah bisa merubah masa lalu. Hanya hari ini, dan hari esok.

Meskipun kita bisa saja mengulang masa lalu yang sudah terjadi, pasti tidak akan sama. Sesederhana bermain petak umpet hari ini dan 10 tahun yang lalu pun pasti sensasinya berbeda, meskipun dilakukan dengan orang yang sama; Tempat yang sama, dan permainan yang sama.

Penutup

Bukan hal yang mudah untuk memaafkan diri sendiri, ataupun orang lain untuk sesuatu yang sudah terjadi terhadap diri kita ataupun orang lain.

Kita harus bekerja sama dengan diri sendiri.

Dan dengan orang lain.

Dan dengan tuhan bila kamu percaya dengan kehadiran-Nya.

Sebagai pengingat, kita (pengontrol) lah yang merencakan apakah kita ingin melupakan ataupun mengikhlaskan yang sudah berlalu, di masa lalu. Kita lah yang merencanakan akan bagaimana hari ini dan hari esok.

Bagaimanapun, tidak mengenal diri sendiri; Membandingkan dengan orang lain, dan tidak mengenal waktu dengan baik adalah perkara yang fatal untuk bisa memaafkan. Bila memaafkan diri saja tidak bisa, bagaimana bisa kita memaafkan orang lain?

Setiap pilihan pasti memiliki dampak, maka, buatlah keputusan yang bijak. Kita hanya bisa merencakan.

Dan biarkan tuhan yang menentukan, bila kamu percaya dengan keberadaan-Nya.

Thank you for coming to my TED Talk.