Blameless culture

Menangkan peperangan, bukan hanya pertarungan

Blameless culture

Setiap entitas pasti memiliki tujuan masing-masing, dan pastinya, tujuan dibuat untuk direalisasikan, benar?

Dalam membuat tujuan, tentunya kita tidak sembarangan membuat.

Ada berbagai pertimbangan, alasan, keadaan, dan terkadang pengorbanan yang harus diambil.

Mari kita ambil contoh sederhana untuk konteks kerja sama tim, sebagai contoh, kita ingin membuat tim yang solid, bergerak cepat agile, dan dapat memenuhi kebutuhan bisnis yang diharapkan.

Dari tujuan tersebut, kita bisa membuat/mendapatkan beberapa faktor kunci yang menandakan bahwa tujuan tersebut tercapai, seperti:

  • Minimnya kejadian hands-off yang mengindikasikan ke-solid-an tim
  • Minimnya keterlamabatan delivery yang mengindikasikan produktivitas tim
  • Terpenuhnya kebutuhan non-function requirements terkait produk

Sekarang, misal kita menemukan beberapa kasus, seperti:

  • Si Fariz kerjanya yang penting kelar mulu
  • Si Budi ngubah warna satu tombol dari biru ke hijau aja ngabisin waktu seminggu
  • Si Joko bikin sistem register tapi kagak bikin sistem delete account nya

Jika kita lihat 3 poin diatas, ada satu yang paling kontras: Subjektif.

Sedangkan dari faktor kunci yang sudah dibuat, tidak ada satu baris pun yang mengarah terhadap ke 'siapa yang mengerjakan apa' .

Melainkan ke arah objektif, apa yang ingin dicapai, terlepas siapa yang mengerjakan.

Sekarang, bagaimana jika:

  • Membuat tim agar tidak bekerja 'yang penting kelar' melainkan menanamkan juga rasa kepemilikan?
  • Membuat tim agar memberitahu & membantu yang memiliki masalah yang membuat pekerjaannya menjadi terhambat?
  • Membuat tim memahami kebutuhan bisnis dan bukan hanya berbagai hal yang hanya terkait tentang teknis?

Setelah menjawab 3 pertanyaan diatas, mungkin kita bisa menyelesaikan masalah-masalah sebelumnya yang sepertinya kesalahannya adalah ada pada siapa yang mengerjakan, bukan apa yang sedang dikerjakan.

Karena, bagaimanapun, pada akhirnya, hasil dari tujuan yang dibuat tersebut akan menjadi hasil kerja tim, bukan hasil kerja Fariz; Budi, dan Joko.

Keluh-kesah

Sekarang sedang masa susah, dunia berada dalam status pandemi karena kehadiran virus tolol yang singkatnya disebut corona atau SARS-CoV-2 bila ingin terlihat seperti nama package npm.

Termasuk di Indonesia, kita sedang kesulitan dan berjuang untuk memenangkan peperangan dengan corona yang bahkan kita belum mengetahui persisnya bagaimana musuh kita tersebut dan kapan akan berakhirnya.

Terlebih, sedang berada dilema dalam mem-prioritas-kan memperjuangkan antara ekonomi atau kesehatan.

Yang mana itu diluar keahlian gue, karena rakyat sipil biasa seperti gue hanya bisa dengar dan lakukan™.

Lalu beberapa orang ada yang kabur dalam melihat masalah utama yang ingin diselesaikan, alih-alih melihatnya secara objetif, lagi-lagi melihat sesuatu tersebut secara subjektif.

Siapa yang mengerjakan.

Persetan mahfudzat yang berbunyi undzuur maa qala wa laa tandzur man qala, kalau salah ya salah karena Si Jack yang mengambil keputusan & tindakan.

Bagaimanapun itu semua kesalahan si Jack, bukan orang-orang yang berada dalam lingkungan kerja si Jack.

Lalu dilanjutkan dengan penyalahan terhadap orang-orang yang mempercayai si Jack, dan biasanya diakhiri dengan kalimat kekecewaan seperti 'Rasain tuh apa yang dilakukan sama junjungan lo, koder'.

Meskipun gue belum pernah mengatur organisasi yang total anggotanya ~250jt tapi gue bisa merasakan bagaimana sulitnya berada pada skala tersebut, terlebih ditambah adanya bencana yang datang tak dijemput pulang tak diantar.

Yang gue sesalkan adalah, bagaimana 'budaya menyalahkan' masih digunakan oleh beberapa orang tersebut.

Karena dalam 'budaya menyalahkan', lo hanya memenangkan pertarungan.

Tapi tidak untuk kesuluruhan perang nya.

Memberdayakan Blameless Culture

Terlepas kamu seorang yang kapitalis ataupun sosialis, budaya ini tidak mengenal ideologi.

Orang-orang ini adalah yang goal-oriented, value-driven, dan yang peduli terhadap outcome, bukan yang hanya output.

Tentu saja akan sulit, karena bukankah lebih mudah menyalahkan gaji yang kecil daripada mendisiplikan diri untuk ber-pola hidup hemat?

Tapi segala sesuatu pasti ada polanya.

Ada benang merah nya.

Dan tahukah kamu hal yang mendasar untuk bisa menghindari aktivitas penyalahan ini?

Adalah dengan menurunkan ego.

Karena sekalipun kamu mempelajari tentang Stoisisme, jika ego mu masih tinggi, maka keputusan akan dibuat berdasarkan pemahaman parsial; keyakinan, dan pastinya memenuhi kepentingan pribadi.

Karena itu, hal yang dapat dilakukan adalah dengan menurunkan ego terlebih dahulu.

Lalu bisa dilanjutkan dengan meningkatkan rasa ke-tanggung-jawaban, menyadari bahwa bukan hanya kamu yang terlibat apalagi yang paling menderita dan beda.

Berlanjut ke keterbukaan, karena buta mata; hati dan pikiran adalah penyakit yang berbahaya, yang sayangnya tidak hanya merugikan diri sendiri saja.

Berangkat dari 3 hal diatas, yang paling utama adalah menurunkan ego.

Jika ego mu rendah, kamu seharusnya tidak berpikiran seperti 'itu bukan urusan saya' secara objektif.

Jika ego mu rendah, kamu akan melihat apa yang orang lain kerjakan dan mendengar apa yang orang lain katakan.

Jika ego mu rendah, kamu akan menyadari bahwa kemenangan utama adalah memenangi peperangan, bukan memenangi pertarungan.

Menanamkan Blameless Culture

Guru kencing berdiri murid kencing berlari adalah sebuah pepatah yang sebenarnya udah bosen gue mendengarnya.

Manusia pada dasarnya cenderung ikut-ikutan, sebuah efek kereta musik.

Dan untuk ikut-ikutan, manusia melihat siapa yang ingin dia ikuti.

Tujuannya relatif sama: Bila bukan karena wajib diikuti, berarti ingin seperti orang tersebut.

Yang tentu saja bandwagon effect tersebut hanya berlaku bila kamu melihat seseorang karena 'siapa' bukan karena 'apa'.

...memang siapa sih yang berpikiran mau menjadi pemulung daripada mengikuti apa yang dilakukannya seperti menempatkan sampah pada tempatnya?

Kembali ke pembahasan, intinya, siapapun bisa menjadi contoh dan pantas untuk diikuti.

Termasuk kamu, sekalipun bukan siapa-siapa apalagi seorang pemimpin.

Kembali ke inti, bukan?

Menyalahkan sesuatu adalah hak semua orang, begitupula memilih untuk tidak menyalahkan sama sekali.

Kamu menyalahkan orang tua mu karena terlahir dengan keadaan miskin? Silahkan.

Kamu tidak menyalahkan orang tua mu karena terlahir dengan keadaan miskin dan ingin berjuang untuk mengubah keadaan tersebut? Silahkan.

Dari dua pertanyaan sederhana diatas, kamu sudah bisa membedakan mana yang 'blameful' dan 'blameless'.

Mana pertarungan dan mana perang.

Sebagai penutup, gue cuma ingin berbagi tentang bagaimana untuk sedikit menurunkan ego berikut dengan dampaknya.

Tentu saja hidup tidak sesederhana dan seindah apa yang ada di tulisan ini.

Dan tulisan disini menggunakan sudut pandang yang subjektif, berdasarkan pengalaman pribadi.

Karena situs ini bukanlah situs academia apalagi arxiv.

Thank you for coming to my ted talk.