Christmas eve
4 min read

Christmas eve

Kalender menunjukkan tanggal 24 Desember 2020, gue secara tidak merayakan malam natal karena selain tidak mengetahui bagaimana teknisnya, juga karena tidak ada teman yang mengajak gue untuk merayakannya.

Malam ini gue menghabiskan waktu di Starbucks Dipatiukur. Meskipun mungkin bagi beberapa orang membawa laptop dan menikmati kopi sendiri pada malam ini adalah hal yang sedikit kurang lumrah, bagi gue ini adalah pemandangan biasa sekalipun angka di kalender berwarna merah.

Gue lupa pastinya apa yang gue lakukan pada hari ini, khususnya apa yang gue lakukan dengan laptop dan kopi yang ada di sekitar gue. Yang gue inget, gue masih terhanyut dalam kesedihan dan kesendirian gue setelah mengakhiri hubungan dengan seseorang yang terasa seperti baru kemarin.

Starbucks bukanlah tempat favorit gue. Gue menyukai tempat yang sepi dan tenang, dan tentu Starbucks seharusnya bukanlah tempatnya. Namun di lain sisi, gue tidak menyukai tempat yang sepi dan tenang. Ya, sedikit membingungkan menjadi diri gue tapi mari kita sederhanakan: anggap gue hanya membenci tempat yang sepi dan tenang ketika gue sedang menginginkan keramaian.

Malam ini pengunjung tampak lebih sepi dari biasanya, dan ini dapat dimengerti. Tidak ada yang gue kenal disini dan setiap orang sibuk dengan pikiran & urusannya masing-masing. Ponsel gue terlihat tenang tanpa notifikasi karena tidak ada yang gue kontak pada malam ini, berbeda dengan hari-hari biasanya yang ada saja hal acak yang dibagikan sekalipun hanya — skip.

Hidup gue seperti hilang arah, bahkan gue masih tidak tahu untuk apa gue terus berjalan maju. Bagaimanapun malam ini cukup tenang, dikelilingi suara obrolan, suara mesin kopi, dan suara lagu dari speaker yang disimpan di tembok. Di kejauhan ada seseorang yang membuat pandangan gue tidak fokus. Semakin lama gue menghiraukannya, justru malah membuat pikiran gue yang menambah tidak fokus.

Seseorang tersebut berada lumayan jauh dari tempat gue duduk, namun sosoknya terlihat dari jendela tempat gue berada sekarang.

Gue tidak terlalu memusingkan.

Dia adalah barista di tempat tersebut, atau yang biasa disebut dengan partner. Meskipun gue jarang banget ke Starbucks, tapi gue yakin gue jarang melihat kehadiran orang tersebut. Apakah dia baru? Apakah dia sedang dipindahkan sementara disini? Atau apakah ternyata dia sudah lama disini dan memang gue nya aja tidak memperhatikan?

Atau jangan-jangan baru kali ini aja gue memperhatikan orang tersebut?

Sekali lagi, gue tidak terlalu memusingkan.

Jam menunjukkan waktu pulang dan gue kembali ke kosan dengan berjalan kaki seperti biasa.

Ketika sedang mencoba untuk tidur, gue membayangkan kembali ke tempat gue duduk sambil mengingat-ngingat sesuatu.

"Kenapa dia memperhatikan gue juga?".

Gue tahu itu hanya asumsi but come on, ekor mata kita akan merasakan sesuatu ketika ada yang diam-diam memperhatikan kita.

Tapi sekali lagi, gue tidak terlalu memusingkan.

Namun hanya sedikit bingung.

Ya, kenapa dia memperhatikan gue juga?


Gue tidak memiliki agenda apapun baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Pada tanggal 25 Desember ini gue memilih pergi ke Starbucks karena entah kenapa pikiran gue menginginkan untuk pergi kesana sekalipun gue tidak memiliki urusan khususnya yang berkaitan dengan tempat tersebut.

Seseorang yang kemarin tidak terlalu gue pusingkan tersebut hadir lagi pada hari ini. Sekarang gue tahu bahwa seseorang tersebut bernama Karina, dan gue rasa orang tuanya memberikan nama yang tepat untuknya. Singkat cerita, asumsi gue terkait "Kenapa dia memperhatikan gue juga?" terjawab meskipun gue belum mengetahui alasan "Kenapa" nya, setidaknya gue sekarang yakin bahwa dia memperhatikan gue juga.

Entah kenapa pada waktu itu gue memesan minuman lagi untuk dibawa pulang ketika hendak kembali ke kosan. Oke gue bohong, alasannya gue ingin memperhatikan Karina lebih dekat, dan memesan untuk dibawa pulang gue rasa adalah alasan yang pas untuk berdiri menunggu di pickup bar.

Ketika minuman selesai terbuat, entah kenapa terasa berat untuk meninggalkan tempat ini. Seperti ada yang menahan untuk tidak pulang meskipun gue tidak yakin apa yang menahan tersebut, namun bagaimanapun gue harus pulang.

Di jalan menuju pintu keluar, gue disapa oleh partner lainnya yang mengucapkan "thank you kak" sebagai salam perpisahan yang biasa terjadi di tempat ini. Gue membuka pintu perlahan, lalu menutupnya pelan-pelan sambil berbalik badan dan mengharapkan ada sebuah mata yang sedang memperhatikan gue meninggalkan pintu keluar.

Kabar buruknya, apa yang gue harapkan tersebut terjadi.

Karina pada malam ini berhasil memenuhi pikiran gue ditambah dengan adanya tulisan yang lumayan panjang yang tertulis di cup kopi gue.


Hari ini 25 Desember 2021, tahun kedua gue menikmati cuti natal dari kantor tempat gue bekerja sekarang.

Tidak banyak yang berubah, gue masih di tinggal di Bandung; masih menjadi seorang pemrogram, dan masih berada di depan laptop sekalipun tidak ada pekerjaan penting yang harus gue kerjakan.

Sudah 1 tahun sejak kali pertama di pikiran gue ada seseorang yang gue pikirkan yang mana adalah seseorang bernama Karina ini. Sekarang gue dan Karina bukanlah orang asing lagi, bahkan sekarang kamar gue hampir dipenuhi oleh hal-hal yang berkaitan dengan Karina dari tumbler dan botol berlogo ikan duyung hijau putih; cetakan foto polaroid, sleep mask elmo berwarna merah dan biru, sprei nanas, nametag bertuliskan "Karina", sampai ke informasi "total 691 photos, 109 videos" di sebuah aplikasi bernama Photos yang 98% isinya nya adalah sosok Karina.

Banyak hal yang terjadi selama 1 tahun sejak kali pertama saling tatap tersebut, banyak cerita yang mungkin bisa gue jadikan sebuah novel sequel 3 part jika gue tuliskan semuanya, dan yang pasti banyak pelajaran yang sebelumnya belum gue ketahui dan mengerti.

Karina adalah orang pertama yang literally gue kenal secara random, bukan dari aplikasi apalagi kenalan teman. Jika gue dulu tidak nekat menyapa, mungkin hari ini khususnya diri gue pada hari ini akan terasa berbeda, sangat berbeda.

Gue yakin ketika gue dan Karina dipertemukan pada waktu itu adalah sebuah takdir, and it happened for a reason.

Hari ini gue bertemu dengan Karina lagi di Starbucks walaupun hanya relatif sebentar. Hari ini tidak ada saling curi pandang karena sosok tersebut berada didepan kursi tempat gue duduk, dan sudah tidak lagi bersembunyi dibalik jendela. Hari ini tidak ada saling tatap ketika menutup pintu keluar, karena gue yakin sekarang gue bisa menatap matanya yang sangat gue sukai kapanpun.

Dan sekarang kalender sudah menunjukkan 26 Desember 2021, dan gue sedang duduk sendiri mengetik tulisan ini. Tanpa lagu, tanpa suara tv, tanpa bunyi notifikasi.

Bagian menariknya, gue tidak berpacaran dengan Karina. Oke technically gue sempat berpacaran dengan Karina tapi itu beda cerita. Siapapun yang melihat mungkin akan menganggap kita pacaran karena pertama jika gue ditanya siapa pacar gue maka gue akan menyebutkan nama Karina dan yang kedua kita seperti dua remaja yang memiliki hubungan bernama pacaran ini.

The reality is we're not, more or less, not yet. But we're together.

I don't know if that's enough or maybe too much.

Or even less.

But anyway, thank you for being the best christmas present this year, and before, and later.

I love you, and you know it.

Can't wait for the next christmas eve!


This post must be published at 1460.rizaldy.club, but I don't know, I will just put it here.