Dampak "show off"

Pamer, support, dan tentang bandwagon effect.

Dampak "show off"

Gue gak langsung menggunakan kata pamer karena konotasinya sedikit terlihat negatif, tapi literally arti show off adalah pamer.

Sosial media dipenuhi dengan "show off" sejujurnya, baik di Facebook; Twitter, Instagram, LinkedIn, bahkan Tinder. Semuanya sama, tentang memamerkan sesuatu. Tapi yang membedakan adalah: Sesuatu yang dipamerkan.

Gue gak berbicara tentang platform-specific content yang sudah menjadi stereotripe, tapi kalau penasaran, singkatnya: Facebook tempat hoax, Twitter tempat orang-orang santuy, Instagram tempat orang-orang yang punya life goals bagus, LinkedIn tempat budak korporat yang punya tangga karir cakep, dan Tinder tempat..., gitu deh.

Gue cuma pakai Twitter (oke, Tinder juga, tapi mau gue uninstall. serius.), Twitter adalah tempat yang cocok untuk membagikan "What's Happening?" meskipun sudah hampir kehilangan tagline nya tersebut (I'm looking at you fucking financial advisor™), tapi Twitter tetap menjadi tempat yang asik, setidaknya untuk gue.

Di Senin pagi yang cerah ini, izinkan gue bercerita tentang sebuah "kepameran" yang sengaja gue kasih tanda kutip.

Why people hate people who show off?

Sederhana, karena kita memiliki response "apaan sih" terhadap apa yang dipamerkan tersebut. Lo pamer makan di tempat mahal, liburan ke luar negeri tiap bulan, loncat-loncat tiap minggu. Sebagian orang mungkin ada yang response positif, dan seperti biasa, sebagian orang juga ada yang response negatif.

Penyebabnya sederhana: Entah karena iri, bosan, atau muak.

Dan karena pada dasarnya pun, sebenarnya nih, apa yang dia pamerkan kan bukan hanya buat lo. Solusinya sederhana, "unfollow" atau gak yaa terima kenyataan. Gue suka bingung sama yang gak terima kenyataan tapi malah tetap nge-follow.

Yang intinya, yaaa itu. Sosial media pada dasarnya tempat untuk membagikan "apa yang terjadi" terhadap "kita". Dan kembali lagi, apa yang kita bagikan tersebut sekiranya cocok untuk di konsumsi publik atau enggak, dengan catatan, lo peduli dengan itu.

Persetan personal branding di sosial media, kalau lo emang ingin ngebangun personal branding di internet, tempat yang cocok menurut gue adalah yaa kalau gak di blog (menulis), di YouTube-equivalent platform (membuat video), atau di dribbble-equivalent platform (membuat visual).

Kecuali, yang mau lo jual adalah tentang kehidupan lo.

Why people love people who show off?

Well, not actually.

Tapi kita bisa membuat "mereka senang" dari alam bahwa sadar.

Singkatnya, pamerkan apa yang mereka inginkan (meskipun belum tentu butuh ya).

Lo punya iPhone X, lo pamerin ke sosial media. Apa kira-kira respon dari yang ngeliatnya? Pasti beragam, harusnya mostly "apaan sih". Beda cerita kalau lo kemas ke-pamer-an tersebut misal via Unboxing. Atau via review. Atau yang lebih laku lagi: via giveaway.

Kasus paling utama, lo secara sadar tidak sadar, tujuannya untuk "ngasih tau" kalau lo punya iPhone X. Untuk orang-orang yang ingin dengan info tersebut (teman, keluarga, dll) tentu bisa diterima dong, mungkin karena mereka sudah tau bahwa lo udah lama pengen itu, dan berusaha keras untuk mencapai itu.

Kasus setelahnya, sedikit netral. Audiens nya sedikit lebih luas. Info tersebut lo kasih tunjukkan untuk orang-orang yang penasaran dengan iPhone X, pengen tau apa yang bisa dilakukan dengan itu, dan yang terakhir: pengen itu dengan cuma-cuma.

Semuanya tentang cara pengemasan, dalam konteks ini membagikan informasi.

Kalau lo emang peduli dan menjadikan "followers" ataupun masyarakat internet sebagai tuhan lo—yang mana lo harus mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya—just do it.

Konteks

Gue developer, selain dibayar untuk menulis kode, juga membagikan apa yang gue pelajari ke internet secara cuma-cuma. Tujuannya sederhana: Dokumentasi pribadi. Persetan menuruti keinginan orang lain, emang lo semua siapa ada hak buat nuntut-nuntut gue?

Begitu kira-kira jawaban sombong gue, tapi aslinya gue baik kok hahaha.

Lanjut, beruntungnya, ada beberapa orang yang ternyata senang dengan dokumentasi pribadi gue. Kenapa dokumentasi pribadi gue bersifat publik? Yaa karena why not. Haha enggak deng, jadi, yaa setidaknya (mungkin) yang bisa tau bukan gue aja gitu.

Gue abis belajar tentang k8s misal, terus gue dokumentasikan dengan menulis di blog, dengan gaya yang bisa gue pahami sampai kapanpun itu. Terus ada yang nyasar entah dari SE, sosmed, atau dari manapun itu. Dan ternyata suka dengan apa yang ditulis, yaa oke, terima kasih. Semoga bermanfaat untuk kamu juga.

Maksudnya, gue cuma pengen bercerita bahwa hey kalau kamu mau membagikan sesuatu, khususnya tentang apa yang telah kamu pelajari, yaa bagikan saja. Gak usah pusingin "bakal ada yang baca gak ya", "kira-kira yang baca blablabla gak ya", dan lain-lain, karena itukan untukmu sendiri.

Beda cerita kalau emang, apa yang lo buat khusus untuk orang lain. Khusus untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Lo mau gak mau dituntut untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka tersebut, dengan jaminan win-to-win yang sudah dibuat.

Dampak show off

Gue sering pamer, untuk level gue. Gue kalau abis nulis sesuatu, gue bagikan ke sosmed. Kalau abis baca sesuatu, gue bagikan juga. Dan masih banyak lagi.

Tujuan nya sederhana: Yang gue harapkan, at least tertarik ngelakuin apa yang gue lakuin juga.

Jadi pengen nulis blog juga, jadi pengen baca sesuatu juga, dsb.

Disamping itu, gue juga sedikit membantu orang-orang yang memang ngelakuin hal serupa yang gue lakuin juga. Dengan, yaa, sederhananya membagikan (dan membagikan) ulang apa yang mereka bagikan.

Kalau orang tersebut membuka kesempatan untuk bisa support mereka (like what I did), gue sebisa mungkin akan support juga.

Dan akan gue pamerin kalau gue support mereka ke orang-orang.

Tujuan nya sederhana, seperti yang sudah dibahas tadi: Yang gue harapkan, at least tertarik ngelakuin apa yang gue lakuin juga.

Udah psikologi dasar manusia kalau kita suka ikut-ikutan, bukan? (Bandwagon effect).

Penutup

Semua ini tentang konten, konten apa yang kita bagikan. Setiap orang memiliki tujuan masing-masing tentang konten yang mereka distribusikan, tentang cerita yang mereka bagikan, dan tentang alasan mengapa mereka melakukan itu.

Gue senang dengan mendukung para pembuat konten yang independen, alias tidak terikat dengan kepentingan stakeholder. Gue yakin semua (konten) yang dibagikan pasti bermanfaat (untuk beberapa orang), kecuali konten tersebut adalah hoax & menyinggung SARA.

Kalau kamu membuat sesuatu juga, kasih tau ke dunia. Dunia gak akan automagically ngasih tau ke semua orang kalau kamu habis membuat sebuah tulisan/video/podcast, dunia gak berjalan seperti itu walau kita semua tau apa itu SEO.

Intinya, sebarkan. Pamerkan kalau kamu habis membuat sesuatu. Jika butuh dukungan, kasih tau. Jika butuh feedback, kasih tau. Jangan diem aja ya, kalau ada apa-apa itu ngomong, bukan ngejawab auk.


potong disini


Iklan

Wakakakaka anjir ada iklan nya dong.

Aku via evilfactorylabs mencari orang-orang yang tertarik dengan menulis, khususnya hal-hal teknis. Entah tulisan itu untuk pemula atau expert, kita terbuka untuk siapapun (tapi harus cari cara buat join nya hahaha, contohnya seperti lewat tulisan ini).

Tujuannya, sederhana. Biar orang terbiasa untuk senang berbagi apa yang sudah mereka pelajari. Tujuan selanjutnya, itu urusan kamu. Contoh, seperti apa yang kamu harapkan dari kegiatanmu tersebut (menulis).

Kita orang nya baik-baik kok, yang sombong cuma gue. Intinya, kalau tertarik join, bisa kontak aku disini. Syaratnya sederhana, cuma disuruh sebutkan pancasila. Kalau proses selanjutnya itu masalah nanti.

Selain untuk yang suka menulis, kalau kamu suka bermain-main, kita juga ada divisi r&d. Tertarik bikin game dengan cara radikal via wasm contohnya? Butuh server buat eksperimen? Butuh akun playstore buat coba deploy aplikasi native? Butuh pacar untuk tempat bercerita? Akan kita sediakan!

Intinya, ya gitu. Yaudah deh, mau lanjut nganggur dulu nih mumpung lagi produktif buat nganggur. Semoga section ini gak di block sama uBlock origin ya, terima kasih telah nyasar kesini.