Dunning-kruger Effect: keyakinan palsu selain Impostor Syndrome

Berfikir merupakan hal yang lumayan sulit, salah satu contohnya adalah tentang Bagaimana kita tau bahwa kita benar?

Dunning-kruger Effect: keyakinan palsu selain Impostor Syndrome

Berfikir merupakan hal yang lumayan sulit, salah satu contohnya adalah tentang Bagaimana kita tau bahwa kita benar? Bias atau prasangka adalah yang sering ditemui ketika berfikir, bahkan ingatkah dengan perspektif 9v6[^1] yang mana benar disisi lain belum tentu benar juga disisi lain, karena perbedaan dari sudut pandang?

Perlunya melihat sesuatu dari sudut pandang lain (plus memahami apa yang orang lain pandang) adalah hal yang bijak, bukankah kita sering mendengar tentang menerima perbedaan, bukan?

Baik, mari kita ke pembahasan.

Dulu pernah membahas tentang impostor syndrome di Instagram–sadly I don't know anymore what Instagram is–tentang bagaimana salah satu bias kognitif ini menyerang kita ketika kita merasa chaos, everything is not okay.

Pencapaian-pencapaian yang didapat hanyalah kebetulan belaka, hanya keberuntungan, karena kita merasa not deserve for that, because you know, look at me now.

Impostor syndrome bukanlah sebatas dongeng, dia berada disekitar kita, including yours truly. Tapi ada satu hal yang lebih mengerikan dari Impostor syndrome: Dunning-kruger Effect.

Bila impostor syndrome adalah tentang bagaimana pemikiran kita ditipu yang alurnya dari orang lain ke kita, Dunning-kruger effect sebaliknya. Alurnya, dari kita ke orang lain.

Sebenarnya alur yang lebih tepat adalah "dari dunning-kruger effect lalu ke impostor syndrome", tapi kita sudah biasa dengan hal-hal yang bersifat konkurensi, so here we go.

What I know vs What others know?

Masalah klasik dari impostor syndrome adalah kita merasa orang lain lebih tau banyak dibanding kita. Kamu berkumpul dengan orang-orang hebat & terkenal, melihat pengetahuan & pengalaman mereka, lalu kamu merasa kurang pantas berada di situ, karena, well, memangnya kamu siapa?

Sedangkan, bukan tanpa alasan mengapa kamu bisa disana. Mungkin puluhan orang lain–yang menurutmu "lebih" berpengalaman & berwawasan darimu–tidak "dipilih" untuk berada disana, pertanyaannya, kenapa kamu yang bisa ada disana, bukan orang lain?

Kenapa kamu yang terpilih?

Mungkin karena kamu mengetahui sesuatu yang belum diketahui oleh orang lain, kamu berpengalaman dalam sesuatu yang belum dialami oleh orang lain. Ingat tentang perspektif 6v9, kan?

Mengapa orang-orang (khususnya orang luar) sering meng-agung-agungkan diversity? Salah satunya, untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Kembali ke konteks, ini bagan[^2] yang biasa digunakan seputar topik impostor syndrome (berikut dengan "counter" nya dibagian kanan):

Disisi kiri, kamu merasa orang lain sebenarnya lebih tau banyak dari apa yang kamu ketahui. Disisi kanan, apa yang menurutmu orang lain tersebut tau banyak dari apa yang kamu ketahui, pada dasarnya hanyalah sebagian %. Yang artinya, begitupula dengan apa yang diketahui orang lain, terhadap apa yang kamu ketahui.

Sebagai contoh: Mungkin aku tau sedikit tentang Programming, seputar JavaScript. Kamu merasa aku "jago" dalam programming karena sedikit handal menulis kode di JavaScript, itu yang aku tau.

Sedangkan kamu, misal menulis kode C# ataupun PH... Ehm, Perl. Mungkin kamu belum terlalu jago dalam JavaScript, tau sedikit seputar CGI, namun kamu tau cara melakukan threading di C#. Mungkin aku tau 0-1 nya dunia web, tapi kamu tau 0-1 nya lingkungan Windows.

I'm good enough, right?

Kita mulai ke topik inti, tentang dunning-kruger effect. Tentang bagaimana kita merasa lebih tau, lebih kompeten, lebih berpengalaman dari yang lain.

Ingat kisah freshgrad dari universitas ternama? Yang tidak ingin digaji sekian juga di perusahaan lokal, karena, come on I'm graduated from this fucking university you knowww. Lalu apa yang dia rasakan? Marah? Kecewa? Gak terima?

...hanya karena dia lulusan dari kampus terkenal freshgrad sana gak pantas mendapatkan gaji 8jt?

Itu posisi dia di "menolak perusahaan", coba bayangkan ketika dia apply ke perusahaan LN misalnya, lalu ditolak? Meskipun dia lulusan dari universtas terkenal sekalipun. Apa yang dia rasakan? Marah? Kecewa? Gak terima? Di kasus kedua, dia di posisi "perusahaan menolak".

Yang maksudnya, "universitas ternama" menjadi bias dia. Bayangin dong kalau diperusahaan tersebut misalnya ada orang yang lulus dari universitas yang lebih ternama dari dia, tapi dulunya menerima tawaran yang sebanding dengan tawaran dia sekarang namun sekarang sudah berada (dihampir) "puncak" karirnya.

Gimana?

Biar keliatan pinter, mari kita lihat bagan[^3] tentang dunning-kruger effect dibawah:

Confidence adalah tentang "keyakinan kamu" dan Experience adalah tentang "kompetensi kamu". Jika kamu merasa "sangat yakin" dengan kompetensi kamu "yang sekarang", kamu harusnya sudah tau kamu berada di titik mana :))

Untuk menghindari dunning-kruger effect, sederhananya: Jangan terlalu yakin. Eit, tapi jangan terlalu gak yakin juga sama diri kamu (jika berbanding dengan pengalaman kamu), atau kamu akan terkena impostor syndrome[^4].

Rumit, bukan?

The escape

Untuk mengatasi dunning-kruger effect dan impostor syndrome, izinkan saya beropini berdasarkan sudut pandang saya.

Never stop learning

Yap, bahkan banyak yang menyatakan dirinya sebagai seorang "life-long learner". Bill Gates yang sudah tajir melintir, sangat jenius, dan sudah lumayan berumur pun bahkan sampai hari ini masih belajar salah satunya via membaca buku.

Bill seorang programmer, dulu mungkin dia hanya peduli tentang programming & belum tau apa-apa tentang sains; emisi karbon, ataupun tentang kapitalisme. Dan apa yang bisa dilakukan untuk mengetahui sesuatu selain dari belajar?

Menerima

Adalah hal yang sangat sulit diberbagai skala. Its okay kamu mengetahui banyak dari sedikit hal, dan its okay kamu mengetahui sedikit dari banyak hal. The generalist x specialist things, right?

Kamu harus bisa menempatkan kapan waktu yang tepat untuk itu, dan dimana.

Seringkali kita sulit untuk menerima hal-hal yang bersifat negatif, namun tidak jarang kita sulit menerima hal-hal yang bersifat positif pula. Tergantung dari sudut pandang masing-masing.

You know, kita tahu merokok & ngopi itu tidak baik. Tapi mengapa kita–sebagai perokok ataupun peminum kopi–sulit untuk menerima kenyataan tersebut, kan?

Tapi tetap, harus ada timbal balik dari penerimaan tersebut. Kamu menerima kalau kamu bodoh ataupun berdosa, dan tidak ada energi untuk belajar ataupun berbuat baik yaaa go to hell aja.

Intinya, perubahan. Jika kamu muslim, ada sebuah hadist–tidak dhaif tapi tidak juga shahih–yang berbunyi: "Barangsiapa yang dua harinya (hari ini dan kemarin) sama maka ia  telah merugi, barangsiapa yang harinya lebih jelek dari hari sebelumnya,  maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat".

Yang intinya, perubahan. Berubah. Terima kenyataan, dan jadilah lebih baik.

Membuka diri

Cobalah ber-muhasabah, dan membuka diri. Kamu bisa "menguji" kompetensimu dengan membuka diri, salah satunya adalah dengan membagikan apa yang kamu ketahui.

Dari situ, kamu akan banyak belajar. Banyak mengetahui apa yang mungkin sebelumnya belum kamu ketahui. Dan bila ada yang memberikan umpan balik–entah kritik ataupun saran–berterima kasihlah kepada dia.

Bukankah bersikap "bodo amat" bukan berarti mengabaikan sesuatu yang peduli dengan kita, bukan?

Cara mudah untuk membuka diri–khususnya di era informasi ini–adalah dengan menulis blog, like this :))

Banyak yang gue pelajari dari menulis blog, entah teknis seputar karir maupun fundamental seputar kehidupan. Feedback-feedback yang masuk membuat gue bisa mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang tersebut.

Sayangnya, belum ada feedback yang sekiranya "tell me I'm wrong", karena rata-rata pada setuju. Serius, gue justru menunggu feedback yang memang apa yang gue bagikan itu salah (atau ada yang salah), meskipun sebatas "salah menurut dia".

Kembali ke konteks, cobalah membuka diri. Gue senang membaca blog–khususnya orang Indonesia–untuk mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang dia. Dari situ orang lain (dan kamu) salah satunya bisa melihat kompetensi terhadap diri kita. Walau hanya sekilas.

Berprinsip

Karena apa lagi yang bisa dipercaya ketika hilang arah selain prinsip?

Penutup

Hidup mah santai aja, tapi banyakin retrospektif. Kita harus tau (dan menerima) tentang Knowledge Gap, tentang Perbedaan, dan tentang diri kita sendiri. Terus berkembang, jangan mudah puas dengan pencapaian yang ada. Jangan mau ditipu oleh ilusi mencapai garis finish, yang sebenarnya baru berada ditengah perjalanan.

Satu lagi, manusia tidak akan pernah puas. Apa lagi yang bisa menjadi pedoman selain prinsip?

Terima kasih telah mampir, nikmati hari Selasa mu.