Ekosistem Internet

Karena lingkungan sederhananya adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita yang mana mempengaruhi perkembangkan kehidupan kita.

Ekosistem Internet

Hal yang paling menantang dalam membuat sesuatu di dunia internet adalah ekosistem, salah satunya adalah tentang membangun komunitas.

Semua orang sudah tau bahwa tujuan internet adalah untuk membuat hubungan.

Internet pada dasarnya adalah sebuah komputer yang saling terhubung. Mungkin menggunakan kata 'komputer' sudah tidak relevan lagi mengingat di zaman sekarang kita sudah memiliki ponsel pintar & perangkat lainnya yang memiliki kata pintar.

Kita ke (mungkin) yang paling tua terlebih dahulu: Halaman web. Protokol yang digunakan dalam jaringan internet ini adalah HTTP, yang mana sebuah komputer terhubung ke komputer lain ke port 80 nya.

Di port 80 ini paket yang ditukar adalah dalam bentuk TCP, tapi yang menarik untuk difokuskan adalah salah satu paket yang dikirim, yang mana berjenis dokumen. Seperti halaman yang sedang kamu lihat sekarang ini.

Bayangkan, gue punya ide untuk membuat mobil listrik. Lalu, gue tulis ide tersebut di sebuah dokumen. Bagaimana agar ide gue tersebut bisa dilihat oleh orang lain? Sederhana, datang ke orang lain, minta apakah mereka tertarik dengan ide gue tersebut. Atau, bisa juga dengan mencetak dokumen gue tersebut, dan menempelkannya di ruang publik yang pasti gak mungkin banget mengingat dokumen tersebut berbentuk semi rahasia.

Tapi gambaran diatas kurang relevan dengan kondisi sekarang. Seperti tulisan ini, gue ada pemikiran yang mana gue beri judul "Ekosistem internet". Pemikiran gue ini kalau mau gue bagikan ke orang lain, gue bisa ajak temen gue ngobrol buat bahas ini. Kalau gue mau membagikan pemikiran gue ini ke 100 orang, gue tinggal ajak ngobrol 100 orang tersebut tentang pemikiran gue ini.

Atau gue bisa aja buat "seminar" atau "workshop" untuk mengumpulkan 100 orang tersebut.

Yang pastinya tidak efektif untuk dilakukan, yang kalau bahasa sunda nya mah teu nanaon sih tapi nanaonan.

Dan sekarang, pemikiran gue bisa dibagikan ke banyak orang, dan sangat efektif.

Pertama, gue gak perlu mengumpulkan orang, karena orang tersebut akan datang sendiri bila memang tertarik.

Kedua, gue gak perlu menghabiskan banyak waktu (kalau bahasa cOmPuTeR sCiEnCe nya O(1) bukan O(N)).

Ketiga, terkadang orang hanya ingin mendengarkan, bukan untuk diminta masukan. Karena dokumen biasanya sifatnya monolog, sepertinya relevan untuk menggambarkan poin ketiga.

Bahkan gue menyebut sosial media itu sebagai "monolog yang ingin didengarkan", karena, ya.

Anway.

Sekarang kita berbicara ke port 25 dan 110: SMTP & POP3.

Jika port 80 umumnya berbentuk monolog (satu arah), dengan port 25 & 110 bisa berbentuk 2 arah alias menjadi dialog. Orang-orang bisa memberikan masukan, atau kritik, atau apapun itu ke kita sebagai si pemilik pemikiran sebelumnya, dengan cara mengirim informasi via port 25 kita ke port 110 orang lain.

Milis alias Mailing List

Dalam ekosistem, pasti ada sebuah komunitas. Di kehidupan sosial nyata, komunitas tersebut bisa berbentuk Keluarga, Rukun Warga, Tetangga, Kecamatan, dan sebagainya.

Komunitas membuat, mengembangkan, dan memelihara lingkungan. Lingkungan sederhananya adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita yang mana mempengaruhi perkembangkan kehidupan kita.

Pengguna internet bisa disebut sebagai komunitas internet, atau lebih jelasnya komunitas pengguna internet. Setiap komunitas, pasti memiliki 'sesuatu'—seperti maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, kegemaran dan sebagainya—yang serupa.

Misal salah satu komunitas tersebut adalah komunitas 53, yang terdiri dari amatir; praktisi, pengamat, dan peneliti yang mana 'sesuatu' yang mereka minati adalah sebuah sistem agar kita (pengguna internet) tidak perlu mengingat alamat IP.

Setiap komunitas pasti memiliki pemimpin, lalu si pemimpin memberitahukan tentang apa yang dia minati tersebut, dan mengumpulkan orang yang memiliki minat yang sama.

Si pemimpin sudah mengumpulkan daftar nama, waktunya mengirimkan dokumen yang sudah dia buat, dan meminta masukan dari mereka.

Dan peminat pun semakin banyak, si pemimpin lelah memasukkan alamat-alamat baru. Singkatnya, seseorang membuat 'sesuatu' yang disebut dengan mailing list. Sistem tersebut memudahkan si pemimpin komunitas untuk menggandeng anggota baru: Daripada si pemimpin yang harus bertindak, melainkan si anggota ini.

Alias, tinggal mendaftarkan alamat dia ke sistem tersebut, dan dia akan mendapatkan kabar terkait aktivitas yang terjadi padi komunitas tersebut.

Win to win!

Forum

Komunitas tersebut semakin berkembang, dari yang hanya sekedar ide sudah menjadi purwa-rupa. Milis semakin ramai dan tidak terkendali: Terlalu banyak topik yang ada dan tidak terstruktur.

Singkatnya, seseorang membuat 'sesuatu' lagi yang disebut dengan forum. Forum bukanlah sesuatu yang baru, namun ini untuk pengguna internet. Di forum, komunitas tersebut bisa membicarakan apa yang mereka minati tersebut namun berdasarkan topik yang dimaksud.

Sehingga, arah perkembangan menjadi lebih terarah; kontekstual, dan tidak membuat kalang kabut.

Dan ya, di sistem tersebut, setiap topik memiliki moderator sebagaimana forum di dunia nyata. Sehingga sekarang, komunitas tidak hanya tentang pemimpin & anggota. Namun terdiri dari pemimpin, penengah, dan anggota.

Yang mana, fungsi dari penengah salah satunya adalah untuk membantu pekerjaan si pemimpin, dan juga agar sesuatu yang diminati oleh si komunitas tersebut menjadi tetap 'sehat' dan berhasil.

Introducing: DNS

Dan waktunya sudah tiba!

Komunitas 53 yang dipimpin oleh 0x53 membuat sebuah sistem yang bernama DNS, Domain Name Systur. DNS ini singkatnya bertugas untuk menerjemahkan sebuah nama yang mudah diingat oleh manusia menjadi alamat IP sebagaimana internet bekerja.

Tujuan utama dari komunitas tersebut sudah tercapai!

Anggota komunitas & anggota lain sangat puas dengan hasil kerja mereka, terlebih sampai hari ini 'sesuatu' yang mereka minati tersebut masih digunakan oleh khalayak publik.

Dan tentu saja cerita diatas hanyalah fiksi belaka.

Cerita diatas menggambarkan (sedikit) tentang bagaimana sebuah ekosistem; komunitas, lingkungan di internet.

Sebuah ekosistem, komunitas, dan lingkungan yang tidak ada interaksi secara langsung di dunia nyata. Yang tidak mengenal batas geografi. Yang tidak terikat dengan hukum yang sama. Yang tidak peduli kepercayaan terkait agama, warna terkait kulit, dan budaya terkait suku.

The New Kingmakers

Jika dulu yang mengubah dunia adalah ilmuwan & filsuf, di zaman sekarang bertambah lagi daftar tersebut: Programmer.

Tidak perlu disebutkan satu-satu, daftar tersebut sudah banyak dijelaskan di halaman internet lainnya.

Sekarang, orang-orang mulai berlomba untuk menjadi pemimpin dari sebuah komunitas.

Namun ada sayangnya, pemimpin tersebut bukanlah perorangan lagi.

Melainkan sebuah badan.

Badan usaha, lebih tepatnya.

Perseroan.

Perusahaan.

Jika sesuatu yang dituju oleh komunitas salah satunya adalah apa yang mereka minati—yang biasanya di pionir oleh si pemimpin—jika pemimpin tersebut adalah perusahaan (khususnya perusahaan for profit) tujuan utama dari perusahaan tersebut adalah profit.

Sudah jelas.

Maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, kegemaran dan sebagainya hanyalah bahan bakar untuk menjalankan mesin pencetak uang mereka.

Untuk mendapatkan profit.

Mendapatkan uang.

Bagaimana mesin pencetak tersebut bisa berjalan?

Dengan menggunakan bahan bakar.

And probably, it's you.

Free service, big corp edition

Pasti kita sudah bosan dengan kutipan "there ain't no such thing as free lunch", sebuah kutipan yang singkatnya menggambarkan "tidak mungkin mendapatkan sesuatu dengan gratis".

Ada 350rb/bulan untuk bisa mengakses internet dengan kecepatan 5mbps bila menggunakan indihouse, misalnya.

Ada $5/bulan yang dibayar untuk menjalankan blog sederhana ini.

Berapakah biaya yang harus dikeluarkan oleh Facebook; Twitter, Youtube, dan sebagainya untuk menjalankan layanan mereka? Pastinya milyaran setiap tahun nya.

Berapakah biaya yang harus dikeluarkan kita untuk menggunakan layanan mereka? 0 dolar setiap tahun.

Mengapa bisa? Karena mata uang yang kita gunakan untuk menggunakan layanan mereka bukanlah dollar, ataupun rupiah.

Melainkan waktu.

Ya, time is money. Dan waktumu, adalah bahan bakar untuk mesin pencetak uang mereka: Iklan. Mengapa gue seakan meng-genalisir (di free service ini) bahwasannya big corp = perusahaan iklan?

Karena, sebutkan perusahaan (for profit) industri mana yang memberikan layanan nya secara gratis selain perusahaan iklan?

Sosial media?

Lalu itu iklan yang kamu lihat, apa? Sebuah penghias biar keliatan rame aja?

Ya, iklan adalah mesin pencetak uang mereka. Dan kamu—yang melihat iklan—adalah bahan bakar nya.

Gue enggak akan banyak cerita tentang iklan disini, jadi, mari kita lanjut.

Free service, startup edition

Tidak hanya perusahaan besar iklan yang menawarkan layanan gratis, melainkan startup juga.

Lalu, untuk apa?

Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mendatangkan pengguna, karena kebanyakan dari kita terbiasa (dan sangat senang) dengan sesuatu yang bersifat gratis 0 rupiah.

Misal, mari kita bayangkan Twitter ketika belum menjadi perusahaan publik. Jika setiap pengguna Twitter membayar $3/bulan untuk bisa menggunakan layanan mereka, tentu akan sulit oleh Twitter untuk menjaring banyak pengguna.

Dan hey, apa itu Twitter? Apa itu sosial media? Apa itu microblogging?

Harus ada cara untuk bisa mendapatkan pengguna disamping harus menutupi biaya operasional layanan mereka juga.

Lalu, dari mana agar layanan Twitter bisa berjalan disamping harus berjalan dengan cepat juga? Dari uang, pastinya.

Uang investor, lebih tepatnya.

Uang investor adalah bahan bakar Twitter, Inc untuk saat itu agar mesin pencetak uang tersebut bisa tetap berjalan disamping sambil merangkul pengguna baru tanpa harus membebankan biaya kepada pengguna.

Bagaimana bila bahan bakar nya habis? Mesin tidak berjalan.

Layanan Twitter mati.

Dan kamu—pengguna Twitter—akan mendapatkan surat yang berjudul Our Incredible Journey.

Beruntungnya (untuk Twitter), bahan bakar tersebut tidak habis. Pada 2013, perusahaan Twitter go public, yang mana IPO adalah salah satu exit yang paling diimpikan oleh kebanyakan startup (for profit) yang ada.

Dan sekarang (2020), bahan bakar Twitter tidak hanya bergantung dengan uang investor.

Melainkan dari iklan, dari waktu mu.

Pengguna (aktif) Twitter adalah bahan bakar utama agar Twitter masih tetap berjalan. Dan mereka akan berusaha keras untuk tetap menjaga & menaikkan angka nya tersebut, agar iklan yang masuk semakin banyak bertambah.

The ideology

Masih ingat kalau programmer adalah The New Kingmakers? Ada beberapa orang yang percaya bahwa kondisi internet sekarang itu tidak seperti yang dibayangkan.

Bahkan Tim (inventor WWW) setuju.

Orang-orang tersebut membuat layanan yang mana maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, kegemaran dan sebagainya menjadi tujuan utama, bukanlah uang.

Mari kita lihat Mastodon, sebuah platform untuk microblogging (seperti Twitter).

Beda dengan Twitter, di Mastodon, tidak ada iklan (dan tracker) sama sekali.

Karena iklan bukanlah bahan bakar utama mereka untuk bisa menjalankan layanan Mastodon tersebut. Lalu apa yang membuat layanan Mastodon tetap bisa berjalan sedangkan Mastodon tidak menampilkan iklan sama sekali sedangkan mereka harus membayar biaya operasional seperti server dan alamat domain?

Uang, sudah jelas.

Biasanya, dalam bentuk donasi.

Di Mastodon, kamu bisa berinteraksi dengan pengguna internet lainnya yang menggunakan protokol yang sama (ActivityPub) tanpa harus terjerat dengan layanan yang digunakan.

Kamu tidak bisa berinteraksi dengan pengguna Facebook via Twitter, contohnya.

Jika menggunakan Mastodon atau Pleroma misalnya, kamu bisa saling berinteraksi meskipun beda layanan dan beda platform.

Kamu bisa membuat layanan Mastodon kamu sendiri, atau menggunakan layanan orang lain. Jika kamu tidak ingin membayar $5/bulan misalnya lalu mengkonfigurasi (dan memelihara) web server, penyimpanan, layanan SMTP, security update, dan sebagainya, kamu bisa menggunakan layanan yang ada dan mendonasikan uangmu untuk mereka yang mau melakukan itu semua dan agar tetap menjaga layanan tersebut beroperasi.

Kamu bisa menghemat banyak waktu & uang dengan menggunakan layanan yang ada, dan hal utama yang kamu gadaikan kepada pemilik/pemelihara layanan adalah kepercayaan.

Uang bukanlah tujuan utama mereka. Ada orang yang melakukan sesuatu bukan karena uang, jika mengutip dari tweet nya Hilman Ramadhan.

Sumber

Dan gue salah satu orang yang setuju.

Jika melihat salah satu Mastodon instance yang ada:

Sumber

Hal menarik yang bisa di-garis-bawah-i adalah:

Without an incentive to sell you things, Mastodon allows you to consume content you enjoy uninterrupted. Your feed is chronological, ad-free and non-algorithmic—you decide who you want to see!

Jika hal diatas bukanlah sesuatu yang kamu tertarikkan, mungkin Mastodon (salah satunya) bukanlah belum menjadi tempat yang pas untukmu.

Looking back (Mastodon edition)

Ingat cerita yang awal sampai ke bagian "Introducing: DNS" yang sudah kita lalui tadi?

Masih ingat definisi sederhana tentang Lingkungan yang mana adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita yang mana mempengaruhi perkembangkan kehidupan kita?

Lingkungan berperan dalam membentuk pemikiran & perilaku seseorang, ini sudah jelas.

Ketika kita sekolah dulu, jika kita bergaul di lingkungan yang suka merokok, suka bolos, dan sebagainya, besar kemungkinan kita akan menjadi seperti itu juga, bukan?

Bagaimana bila tidak ingin seperti itu? Sederhana, jangan bergaul dengan lingkungan yang seperti itu.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana bila kita tidak memiliki kontrol penuh terhadap pilihan kita tersebut? Misal, faktor dari orang tua yang memaksa untuk tetap sekolah disitu—meskipun lingkungan nya seperti itu—dikarenakan alasan tertentu?

Apa yang bisa kita lakukan selain pasrah?

Berbicara tentang Mastodon, gue sudah lama bener-bener muak dengan sosial media yang ada, termasuk Facebook; Twitter, Instagram, LinkedIn, LINE, dsb.

Sosial media yang paling gue sukai adalah Path, namun, ya, bahan bakar mereka sudah habis, mesin tidak bisa melanjutkan perjalanan, dan semua yang sudah gue lakukan disitu tinggal sebatas kenangan.

Di Twitter, pada dasarnya gue gak ada kontrol penuh untuk menentukan. Pertama, sekarang, semua nya adalah Retweet (entah itu Like, Quote Reply, Reply pasti ada di beranda gue sekalipun gue gak follow orang yang berinteraksi tersebut).

Kedua, selamat tinggal timeline. Yang paling banyak mendatangkan uang adalah popularitas, bukan kronologis. Menurut siapa? Menurut riset dan (data internal) mereka pastinya.

Gak peduli apakah jam 13.37 WIB anak lo lahir dan lo tweet tentang itu. Kalau gak populer, yaa kabar tersebut akan berada di prioritas rendah di beranda orang yang follow lo.

Ketiga, fuck trending topic. Sekalipun gue udah block link kesitu (via uBlock Origin gue), entah kenapa gue seakan gak bisa terlepas dari situ. Oke, ini murni kesalahan dari gue sendiri. Sayangnya gue gak bisa kontrol trending topic apa yang ingin gue lihat.

Dan menyetel trending topic ke somewhere else (misal ke Israel) enggak membantu menurut gue.

Terakhir, sekarang Twitter kayak pasar. Bukan karena ramai nya, karena jualannya. Alasan 'namanya juga nyari duit' gak bisa gue terima, gue kesel sendiri ngeliat tweet yang diselipkan dengan numpang lapak lah. Jual sebuah layanan dengan paket premium lah (alias jadi 3rd party calo) yang pasti nya tidak legal. Jual diri lah. Apa lah.

Gue (untuk saat ini) gak bisa lepas dari Twitter karena orang-orang hebat yang gue ikuti di Twitter.

Orang-orang yang mendatangkan inspirasi, motivasi, dan pemikiran hebat untuk diri gue.

Orang-orang yang memberikan gue pekerjaan.

Orang-orang yang mendengarkan apa yang gue bicarakan.

Orang-orang yang memberikan umpan balik ke gue.

Kalau gue bisa mendapatkan di tempat lain apa yang bisa gue dapatkan dari Twitter, gue yakin gak akan pernah punya akun Twitter lagi, sebagaimana yang gue lakukan terhadap Facebook, LinkedIn, LINE, dsb.

Dan harapan gue, Mastodon adalah tempat platform yang tepat.

Masyarakat Internet

Gue termasuk orang yang berharap bahwa pengguna internet adalah masyarakat internet, bukan masyarakat Facebook; masyarakat Twitter, masyarakat Instagram, dsb yang seringkali dibanggakan oleh beberapa orang.

Ya, platform (yang ter-sentralisasi) seakan-akan menjadi sebuah negara, yang mana raja nya adalah perusahaan itu sendiri.

Dan masyarakat nya, harus menaati peraturan; kebijakan, wewenang, dan hukum yang dimiliki oleh "negara" tersebut.

Dan pastinya jangan lupa akan tujuan utama dari "negara" tersebut ingin capai :))

Untuk sekarang (menurut gue) platform yang paling sesuai dengan kebutuhan (dan pemikiran) gue yang ada di internet adalah blog. Pemilik blog nya lah yang memiliki aturan nya sendiri (atau bahkan tidak memiliki aturan sekalipun!).

Tidak ada algoritma, semua pemikiran & tindakan murni dilakukan oleh manusia.

Tidak ada kekangan, kamu memiliki hak penuh atas apa yang ingin kamu lihat (dan tidak).

Dan tentunya, menjalankan blog membutuhkan waktu, uang, dan tenaga yang harus dibayar (sebagaimana yang sudah kita bahas sebelumnya tentang ini).

Beberapa ada yang menampilkan iklan ataupun melakukan sponsorship, untuk tetap menjaga mesin berbentuk blog tersebut tetap berjalan. Dan ada beberapa yang tidak menggunakan 2 jalur tersebut (dengan alasan mereka masing-masing) termasuk blog yang sedang kamu kunjungi sekarang ini.

Dengan blogging dan menggunakan protokol bernama ActivityPub tersebut, tidak ada peng-kategori-an masyarakat ketika menggunakan internet. Yang ada hanya sebagai masyarakat internet, yang kebetulan menggunakan ActivityPub sebagai tata cara nya.

Internet sendiri tidak memiliki aturan. Semua orang bebas menggunakan internet untuk kepentingan & tujuan apapun. Menggunakan klien apapun. Berasal dari negara manapun itu.

Apapun.

Prinsip dalam menggunakan internet adalah tentang man behind the gun. Dan bila berbicara tentang 'orang jahat', mereka tidak hanya menggunakan internet, mereka menggunakan apapun yang ada untuk melancarkan aksinya.

Penutup

Semoga maksud dari yang ingin gue sampaikan sampai. Ketika membaca tulisan ini, ini seperti gue ngajak lo ngobrol tentang apa yang gue pikirkan, kalau gak tertarik ya monggo kalau tertarik ya ayo.

Kalau gak setuju (ataupun ada kata yang ingin disampaikan) bisa diutarakan ke gue langsung juga kan.

Ini sebenernya gue cuma udah bener-bener lelah aja sama sesuatu yang ada di internet, dan kebetulan gue pakai juga.

Gue mencoba menjelaskan sedikit mengapa jaringan Twitter rame & terlihat asik sedangkan Mastodon terkesan sepi & gak asik.

Gue mencoba menjelaskan sedikit tentang sulitnya menarik pengguna baru.

Gue mencoba menjelaskan sedikit tentang bagimana sebuah komunitas; pemimpin komunitas, anggota nya, pemelihara nya, saling bersatu-padu untuk membentuk lingkungan yang sehat dan mencapai tujuan yang ingin dicapai bersama.

Tulisan ini adalah lanjutan dari sini.

Mungkin gue bukan benci dengan sebuah layanan, tapi orang-orang yang ada di layanan tersebut. Tapi satu hal yang gue inget, gak usah nanggepin secara emosional tentang apa yang ada di internet.

Sayangnya, beda cerita kalau hal tersebut menyerang sisi emosional kita. Tidak sedikit yang mendapatkan hal positif dari internet khususnya sosial media, dan pastinya tidak sedikit pula yang mendapatkan hal negatif dari itu.

Disini, gue menawarkan sebuah pintu. Yang pastinya berbeda jauh dengan pengalaman yang sudah ada sebelumnya, namun menawarkan pengalaman yang dijanjikan lebih baik.

Salah satu pintu tersebut adalah sosial media, yakni Mastodon.

Yang sudah dibahas sedikit sebelumnya diatas.

Ada banyak cara dalam membantu sesuatu, bukan hanya sekedar memberikan dukungan finansial. Dan ini cara yang gue pilih, demi mewujudkan tujuan utama dari si pemelihara Mastodon instance, dan juga tujuan utama dari pembuat & para pengembang dari Mastodon itu sendiri.

Yang gue tau, ini adalah tentang memperjuangkan sebuah ideologi, bukan memperjuangkan demi profit. Ada banyak cara lain bila hanya untuk membuat mesin pencetak uang di internet :))

Gue adalah salah satu yang sepemikiran dengan mereka, di komunitas & lingkungan ini.

Jika kamu juga sepemikiran ataupun se-minat, silahkan bergabung.

Jika bukan, it's okay. Memilih adalah salah satu hak dasar manusia, bukan?

Tapi satu hal yang harus kita sadar, tidak ada yang namanya makan siang gratis.

Mereka akan berusaha keras dengan berbagai cara dan kapasitas yang mereka punya untuk tetap membuat sebuah mesin berjalan.

Dan kamu akan merasakannya, ketika kamu menjadi subjek nya ataupun sebagai objek nya.