Fuck stats.

Statistik dimana-mana. Jumlah pengikut di Instagram, Twitter, jumlah likes, dsb. Statistik mungkin cocok untuk bisnis, namun tidak untuk individu. Banyak yang menganggap angka sebagai sesuatu yang padahal angka hanyalah angka.

Dampaknya? Kesehatan mental. Untuk individu.

Untuk bisnis? Ya sederhana: Kesehatan bisnis.

Gara-gara angka ini, banyak yang terbutakan olehnya. Hanya karena angka, manusia bisa senang ataupun sedih secara signifikan. Karena angka, banyak deh pokoknya yang pasti lu pada tau mungkin merasakan.

Blog ini–alias semua situs yang gue punya–menggunakan analitik, yang mana gue pasang sebenarnya hanya untuk melihat referer. Dari mana sih pengunjung situs gue dateng? Twitter? Facebook? Blog orang lain? Dsb.

Blog evilfactory masih pakai Google Analytics, tapi kalau udah gak males bakal gue ubah ke Fathom (yang mana analitik yang gue pakai untuk semua blog gue). Banyak data yang bisa dilihat di Google Analytics, padahal yang sering gue liat cuma referer.

Di Sprint ke-2 (W4 M10), gue fokus ke penambahan angka seputar statistik website. Terus gue mikir: Buat apa sih? Oke, mungkin gue bisa tau ada berapa orang yang mengunjungi situs gue, ngunjungi apa aja, dsb. So, what?

Terus apa?

Dulu pas main Instagram, kadang liat analitik. Ngeliat followers gue dari daerah mana, seberapa banyak interaksi yang didapat, dsb. Balik lagi ke pertanyaan yang gue punya: Terus apa?

Ada 197 pengunjung unik yang mengakses blog gue dalam 1 bulan, dengan total penayangan 743.

So, what?

Pemikiran ini gue dapet ketika menjadikan angka sebagai Sprint goals, yang mana–yang gue pelajari–angka yaa hanyalah angka. Gue merasa salah menjadikan angka sebagai goals.

Percuma followers 10k kalau gak ada dampaknya toh selain fame?

Ribetnya jadi diri gue, gue selalu mikir tentang dampak dampak dampak.

Daripada mikir angka, mending mikirin dampak. Mikirin feedback. Mikirin keunikan. Mikirin apapun itu selain angka, kecuali duit.

Oke, misal ada 197 pengunjung dengan total page view 743 plus dengan rata-rata bounce rate sekitar 48%. Terus berdasarkan "data" tersebut, gue bisa berdalih: Wah gue harus blablabla nih biar nambah pengunjung, biar nambah page views, biar bounce rate nurun, dsb.

Driven by data, they said.

Mungkin enggak salah, tapi gue gak setuju. Gue yakin kalau orang yang bener-bener senang dengan apa yang kita perbuat, dia akan datang kembali; mengajak, mendukung, meskipun tanpa diminta. Bagaimana dengan orang-orang yang "biasa aja" dengan kita? Tergantung. Entah mau dijadikan PR (misal biar bikin dia bener-bener seneng dengan kita) atau fokus ke yang sudah aja.

Gue masih berusaha untuk menerapkan 1000 true fans yang ditulis oleh Kevin Kelly (thanks for writing that!), dan gue percaya dengan itu.

Dan fokus dengan itu.

Lalu bagaimana gue mengukur sesuatu dalam konteks ini? Persetan, just do it.

Kualitas, cara, dan teknik menulis kita berkembang, bukan karena angka-angka itu. Tapi karena kita sendiri. Kita tidak bisa meningkatkan kualitas menulis kita contohnya, hanya karena melihat; Mengukur, meningkatkan, membandingkan, dsb terhadap angka-angka yang kita miliki.

Berapa nilai IPK? Misal, 3.8? Oke, terus apa? Mungkin gue bisa bangga & bersyukur, but sorry kalau gak ada dampaknya untuk hidup gue, yaa gue anggep biasa aja, meskipun gue pasti mengapresiasi pencapaian gue tersebut.

Dulu-dulu seringnya selalu menghargai output, tapi seringkali melupakan input & prosesnya. Yang mana, rentan kencewa ketika output tidak sesuai dengan harapan meskipun sudah berusaha sekeras mungkin.

Here we go, fuck stats. Dalam bisnis, mungkin statistik & metrik penting. Namun sebagai individu, hell no. Persetan followers 666, likes 31337, following 0, dsb jika angka hanyalah angka.

Hei, apakah seniman peduli dengan total views & likes? Tapi, bagaimana dengan harga untuk seni yang dibuat tersebut?