Fucking past
5 min read

Fucking past

but what if we also have a future

Jam menunjukkan 11.11 PM, hari ini adalah Kamis yang bertepatan pada tanggal 25 November 2021. Gue sedang berdiri menatap langit sambil menghabiskan sebatang rokok sialan yang selalu memaksa untuk ingin dibakar di setiap harinya.

Hari cepat berlalu meskipun 1 hari selalu setara dengan 24 jam sampai kapan pun itu.

Gue memikirkan apa yang terjadi pada hari ini.

Karena bila hari esok sudah tiba, hari ini sudah menjadi bagian dari masa lalu gue.

Pikiran gue bepergian dan berandai-andai ke 20 tahun kedepan alias ketika gue berumur 44 tahun. Gue berpikiran "bagaimana jika ketika gue tua nanti sakit-sakitan dan memiliki penyakit paru-paru?" besar kemungkinan yang gue salahkan adalah diri gue sendiri pada usia muda yang mana masih aktif merokok.

Selain itu, gue berpikiran seperti "bagaimana jika gue nanti sedang tinggal di tempat impian gue bersama seseorang yang gue impikan" besar kemungkinan gue akan berterima kasih kepada diri gue kala itu yang tidak lelah berjuang untuk hasil yang bisa gue rasakan pada saat ini.

Diri gue pada 20 tahun nanti ditentukan oleh diri gue pada hari ini — sebuah kalimat yang sebenarnya sudah muak gue dengar dan baca, namun gue rasa begitulah kenyataannya.

Gue membakar batang kedua sambil lanjut mengetik tulisan ini.

Setiap orang memiliki banyak masalah dihidupnya, dan beragam. 2 masalah yang paling laku gue rasa adalah karir dan hubungan asmara.

Brengseknya, 2 masalah tersebut selalu berkaitan dengan masa lalu.

Mantan narapidana? Good luck mendapatkan pekerjaan yang layak!

Memiliki track record yang kurang bagus di perusahaan sebelumnya? Berharaplah agar pihak HR tidak mengetahuinya!

Pernah menjadi korban doxing? Cancelled? Masuk blocklist?

Pernah merasakan cinta tak terbalas karena peran seseorang di masa lalu?

Pernah diputuskan hubungan percintaan karena masalah dengan masa lalu?

Pernah memiliki masalah kepercayaan karena pengalaman di masa lalu?

Masa lalu bukan berarti selalu mengikuti kita kemanapun kita melangkah, melainkan ia selalu berada disana.

Menjadi bagian dari diri kita.

Sampai kapanpun.

Lalu gue menatap ponsel gue. Ada sedikit goresan dilayarnya dan terdapat beberapa warna yang pudar di silicon case nya. Ponsel ini adalah ponsel yang sama dengan yang gue beli sekitar 8 bulan yang lalu. Meskipun terlihat berbeda dengan yang ketika pertama kali gue beli, nyatanya ini adalah ponsel yang sama.

Dan masih gue gunakan sampai hari ini.

Jam 00.57 kemarin gue mendapatkan pesan dari nomor yang tidak ada di kontak gue. Pesan tersebut cukup panjang dan dikirim oleh seseorang yang pernah dekat dengan gue sekitar 4 tahun lalu. Tidak banyak yang diceritakan, namun yang paling gue soroti adalah bagaimana penglihatan dia terhadap diri gue pada saat ini.

Diri gue pada umur 20 tidak sama dengan diri gue pada umur 24 seperti saat ini. Manusia selalu berubah—terlepas menjadi lebih baik atau sebaliknya—dan tidak jarang juga terus belajar. Apa yang dia lihat terhadap diri gue pada dasarnya tidak salah namun gue yakin sudah tidak relevan lagi karena pengetahuan dan atau pengalaman pada dasarnya bersifat empiris, dan suatu saat akan tiba masanya ketika sudah tidak relevan lagi karena kenyataannya yang sudah berbeda.

Tapi gue bisa mengerti.

Sangat mengerti.

Pada suatu waktu gue duduk berhadapan dengan seseorang yang sudah gue kenal, hanya berdua. Gue sangat hafal dengan wajahnya, suaranya dan ekspresinya ketika berbicara dari orang ini.

Singkat cerita, kami membahas masa lalu, alias, tentang apa yang sudah terjadi pada diri kami masing-masing yang spesifiknya ketika kami sedang tidak bersama.

Setelah bercerita, pemandangan kami berdua berubah.

Dua orang yang sedang duduk di tempat ini pada saat ini tidak terlihat seperti dua orang yang sama ketika sebelum saling bercerita. Pandangan gue terhadap dia terhalang akan kejadian yang baru saja dia ceritakan, begitupula sebaliknya.

Lalu gue membakar batang rokok ketiga, dan ini adalah aktivitas yang sama ketika gue selesai mendengarkan cerita dari orang tersebut pada waktu itu.

Gue menghisap rokok dalam-dalam, sangat dalam. Lalu menghembuskannya perlahan sambil berdalih menutupi tarikan nafas panjang yang biasanya menggambarkan akan beratnya realita yang dihadapi.

Pertanyaan besar yang berada dipikiran kami berdua gue yakin adalah "bagaimana bila kita tidak saling bercerita?" namun gue rasa masalah intinya bukan disitu. Melainkan "bagaimana bila seandainya kita masing-masing tidak melakukan hal itu?"

Namun jarum jam terus berjalan, langit semakin gelap, dan apa yang sudah terjadi, sudah terjadi.

Jangankan memutar ulang waktu, memberhentikannya saja adalah hal yang mustahil dilakukan.

Lalu lamunan kami terhenti.

Masih ada waktu tersisa yang bisa dimanfaatkan pada saat ini begitupula masih ada masa depan yang belum kita lalui, baik untuk masing-masing atau apapun itu.

Obrolan kembali berlanjut sambil menyembunyikan kebimbangan masing-masing sampai kondisi mengharuskan untuk beranjak pergi dari tempat ini.

Kami berdua gue rasa memutuskan untuk meninggalkan apa yang sudah diceritakan di tempat itu pada waktu itu, disana. Dan tidak akan membahasnya lagi di lain tempat dan di lain waktu.

Tentu apa yang sudah kami berdua ketahui tersebut sulit untuk dilupakan, apalagi hanya sekadar dihiraukan. Tidak jarang terlintas hal tersebut setiap kali melihat sosok dari diri kami masing-masing.

Gue membakar batang rokok keempat gue.

Lagi-lagi menghisapnya sangat dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

Gue pergi ke meja kerja gue di kamar dan membuka laptop sambil melanjutkan tulisan ini.

Waktu menunjukkan 01.44 AM, sudah 2 jam 33 menit terlewat dari aktivitas ketika gue menatap langit di balkon kamar sampai ke kursi tempat gue duduk sekarang.

Jika seandainya 2 jam 33 menit tersebut gue gunakan untuk melanjutkan pekerjaan, gue rasa gue bisa menyelesaikan 3 validasi terkait operasi UNION yang sedang gue kembangkan sekarang.

Tapi sekali lagi, kita tidak bisa memutar ulang waktu.

Apa yang sudah terjadi, sudah terjadi.

Dan alih-alih menyesali 2 jam 33 menit yang sudah berlalu tersebut, gue memilih untuk melanjutkan tulisan ini sampai menerbitkannya sehingga mungkin gue bisa kembali melanjutkan pekerjaan sambil menunggu diri gue mengantuk agar bisa merasa bahwa 2 jam 33 menit tersebut tidak terbuang sia-sia.

Plus, ada beban terkait pekerjaan yang berkurang.

Proses 'memilih' tersebut tingkat kesulitannya bersifat relatif, namun dibanyak kasus, tingkat kesulitannya mendekati sulit.

Dan jalan keluarnya gue rasa cuma satu: berdamai dengan hal itu, dan ini bagian paling beratnya.

Karena melupakan & menghiraukan bukanlah jalan keluar utama, melainkan jalan lain yang bisa dianggap jalan pintas yang mana tidak menyelesaikan masalah utama.

Gue membakar batang rokok kelima gue.

Dan lagi-lagi menghisapnya sangat dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

Berdamai—atau mengikhlaskan apa yang sudah terjadi—bukanlah hal yang mudah, dan juga tidak ada yang bilang bahwa itu adalah hal yang mudah.

Namun terkadang, waktu berperan besar dalam membantu kita untuk melakukan hal itu. Tidak jarang dibantu dengan kejadian-kejadian lain juga yang membuat diri kita terus belajar & berkembang.

Ada waktunya untuk bisa berdamai dengan hal itu, dan ini tinggal menunggu waktunya.

Sambil menunggunya, kita bisa melakukan hal-hal lain alih-alih terus terlarut akan hal itu yang berpotensi menjadi bottleneck dalam melanjutkan kehidupan.

Namun satu hal yang harus gue soroti adalah untuk bisa menghindari melakukan kesalahan besar di masa yang akan datang, khususnya untuk kesalahan yang sama.

Karena masa lalu seperti pisau bermata dua.

Ia bisa membantu diri kita di masa sekarang dan masa depan namun di lain sisi bisa juga menghancurkan diri kita di masa sekarang dan masa depan.

So, do your best for your past, I guess?

Gue membakar batang rokok keenam gue.

Jika dihitung dari bangun tidur kemarin, gue rasa ini adalah rokok keenam belas gue yang gue hisap sebelum gue beranjak tidur nanti.

Kali ini gue menghisapnya biasa aja dan menghembuskannya secara biasa aja. Hanya menikmati perasaan menenangkan berkat nikotin yang meskipun akan menjadi penyakit pada diri gue nanti jika gue tidak berhenti melakukan ini.

Gue melihat jam, waktu menunjukkan 02:22 AM kali ini.

Gue tidak tahu apa yang akan terjadi setelah gue bangun tidur nanti tapi gue memiliki rencana sekalipun mungkin rencana gue hanyalah bekerja. Lalu gue mematikkan lampu kamar, menutup jendela, dan menyalakan air purifier untuk membantu mengurangi bekas bau asap rokok.

Diatas kasur sambil menatap langit-langit kamar yang gelap gue memikirkan kembali kemungkinan-kemungkinan yang terjadi bila seandainya salah satu ataupun masing-masing bila tidak melakukan hal itu.

Kejadian saling bercerita tersebut terasa seperti baru 1 minggu terlewat, yang pada kenyataannya baru 7 jam yang lalu.

Gue rasa esok hari akan terasa lebih berat dari biasanya.

Tapi kabar baiknya gue rasa gue memiliki pilihan untuk melanjutkan hari dan merasa lebih berat dari biasanya ataupun menganggapnya seperti pada biasanya yang mungkin sebagaimana ketika percakapan tersebut tidak terjadi.

Dan gue bukan berarti mencoba untuk kabur dari masalah, melainkan hanya mengatur prioritas. Lalu menunggu waktu sambil melanjutkan kehidupan serta terus belajar dan berkembang.

Lalu gue menutup laptop.

Dan menutup hari dengan beranjak tidur.

We—as human beings—definitely have a past, a fucking past.

But we also have a future, right?

So, stop getting down and let's fuck up the future.

Masih ada masa depan yang menunggu untuk bisa kita rusak yang pada akhirnya akan menjadi masa lalu kita pada suatu saat nanti.

Just kidding, unless?