Goodbye Mac OS

published at kembali ke fitrah

Dalam memilih sistem operasi, gue hanya memiliki 2 pilihan: Jika bukan *BSD berarti GNU/Linux. Jika gue beli laptop baru dan OS bawaan nya adalah Windows, sekalipun sudah ber-lisensi kemungkinan akan gue install ulang adalah 90% karena gue ada alasan pribadi kenapa tidak menggunakan Windows.

Antara tahun 2017-2018 gue membeli Macbook Air 2015 dengan sistem operasi El-Capitan di harga sekitaran 15jt rupiah, barang paling mahal pertama yang pernah gue beli dari jerih payah gue sendiri. Alasan memilih Macbook Air karena baterai, dan juga gue tidak terlalu butuh spek yang lumayan karena ehm gue hanya seorang Web Developer.

Alasan dulu membeli mac adalah karena di mac banyak aplikasi-aplikasi eksklusif, dibuat diatas *BSD, dan gue ingin ber-eksplorasi ke ekosistem Apple dari segi pengembang.

Sebagai pengguna, pembaruan major yang ditawarkan Apple selalu terlihat menjanjikan: dari High Sierra yang setidaknya lebih yoi dari El-Capitan, Mojave yang menawarkan Dark Mode, Catalina yang mulai benar-benar "serius" terkait keamanan & privasi, sampai ke Big Sur yang benar-benar mengubah tampilan dan interaksi yang ada di Mac OS.

Dari segi tampilan, Big Sur sangat mirip dengan iPad OS dan iOS 14, dan juga di Big Sur Apple memberikan fitur "Sidecar" yang singkatnya bisa membuat iPad sebagai *secondary screen *entah untuk *mirror *ataupun extended screen.

Namun setelah perubahan *workflow *gue plus terdapat beberapa masalah yang ada di Big Sur, dari hari Kamis kemarin gue memutuskan untuk pindah kembali ke GNU/Linux.

My problem with Big Sur (and/or Apple in general)

Patut diakui bahwa Mac OS X sangat berperan dalam karir gue sampai gue bisa di kondisi seperti sekarang ini. Terlebih beberapa orang bilang bahwa menggunakan perangkat Apple meningkatkan "harga" terhadap *personal branding *dan gue setuju dengan itu.

Kembali ke Mac OS, sistem operasi ini bisa dikatakan hampir sempurna. Berita terkait 0day/virus/dsb sangat jarang bila dibandingkan dengan sistem operasi sebelah (Windows).

Tampilannya pun sangat cantik, dari segi gambar untuk Desktop; pemilihan font, bahkan sampai memiliki aturan yang bernama Human Interface yang artinya sangat peduli dan ketat terhadap rancangan antarmuka.

Dan hey, Apple adalah perusahaan perangkat keras. Yang dijual Apple adalah perangkat kerasnya (Macbook/iMac/Mac Mini/dsb) beda dengan Microsoft yang mana adalah perusahaan perangkat lunak yang menjual Windows, Microsoft Office, dsb. Yang maksudnya, sistem operasi yang dikembangkan oleh Apple eksklusif untuk perangkat keras yang mereka kembangkan juga yang mana menjadi kabar baik sekaligus kabar buruk untuk mereka yang peduli dan sadar.

Pada November 2020 Apple merilis M1, sebuah "chip" yang dibuat diatas ARM. Banyak yang membanggakan M1 khususnya disisi performa. Dan gue setuju, M1 lebih cepat dan lebih ringan, karena Raspberry Pi gue menggunakan ARM juga. Kemungkinan Apple sudah tidak akan merilis produk barunya menggunakan Intel CPU lagi, yang berarti bagus untuk pengguna dan juga untuk keuangan Apple.

Dan Big Sur menjadi batu loncatan pertama untuk "revolusi" ini, bisa dilihat karena Big Sur adalah Mac OS 11, yang mana bukan keluarga dari Mac OS X yang pernah berjaya pada masanya tersebut.

Banyak hal yang ingin gue bahas seputar Big Sur, namun orang-orang di internet sudah banyak membahasnya yang sayangnya males gue sisipkan disini. Silahkan klik pranala ini jika penasaran.

Masalah pertama yang gue miliki dengan Big Sur adalah ketika menggunakan aplikasi yang ditawarkan oleh Apple yang sering gue pakai: Music & Safari. Apple Music is hell and Safari is slow as fuck. Ada sekitar ~20 detik latensi** setiap gue membuka window baru** di Safari.

Masalahnya adalah karena gue memblokir paksa beberapa "koneksi" yang dibuat Apple ke server mereka. Tentu saja mungkin masalahnya bisa diatasi dengan membiarkan Apple mengirim permintaan ke server mereka, tapi poinnya bukan itu.

Masalah kedua, Big Sur banyak makan memori dan energi. Ini sebenarnya dapat dimengerti, tapi sayangnya tidak bisa dihindari.

Masalah ketiga, gue sudah tidak ada kebutuhan khusus untuk menggunakan Mac OS. Dan karena Mac OS gue rasa bermasalah, tentu aneh bila gue terus menggunakannya :))

Hello Elementary my old friend!

Dari dulu pilihan gue untuk sistem operasi (desktop) kalau bukan FreeBSD (keluarga BSD) berarti Elementary (keluarga GNU/Linux). Gue menggunakan Elementary dari versi Freya karena alasan tampilannya yang cantik namun anehnya sangat ringan walaupun menggunakan GNOME.

Terlebih Elementary dibangun diatas Ubuntu meskipun gue tidak terlalu suka dengan Ubuntu (dan Canonical), namun setidaknya Ubuntu dibangun diatas Debian yang mana sistem operasi yang paling familiar dan cocok dengan gue.

Kemarin gue memasang Elementary di Macbook Air gue karena gue cuma ada laptop itu aja sekarang. Prosesnya pemasangannya pun hampir sama seperti ke laptop selain Macbook.

Namun kali ini agak sedikit berbeda, gue menggunakan i3 daripada GNOME karena gue lagi penasaran dengan ini karena teman gue. Sekilas terkesan sia-sia memasang Elementary tapi i3 daripada menggunakan varian/distribusi lain seperti Arch misalnya ataupun Manjaro yang mana dibangun diatas Arch. Tapi sebenarnya tidak sia-sia, dari segi ukuran berkas ISO nya, versi Elementary terakhir lebih kecil daripada Manjaro :)) selalu ada htop disetiap skrinsut Dan untuk terminal emulator gue mencoba menggunakan st dan wow and it's literally less sucks. And fast. And lightweight.

Plus di komputer gue cuma butuh peramban+terminal+mosh, jadi, gue rasa gak ada salahnya dengan setup seperti sekarang.

The hard part in moving on

Pertama, fuck my muscle memory. Gue harus membiasakan untuk tidak menjadikan *command *sebagai pemeran utama dalam keyboard. Dan ini sangat menyiksa.

Kedua, goodbye my "premium" apps. Gue membeli beberapa aplikasi yang eksklusif di Mac OS, dan gue harus merelakan itu semua yang mungkin setara dengan ~2jt rupiah (shout out to fucking Sketch, fucking Pixelmator, fucking Transmit, fucking iA Writer dan berbagai aplikasi sialan lain yang pernah membantu gue dalam mencari nafkah).

Ketiga, tampilan. Sampai hari ini gue belum tau kenapa *font rendering *di Mac halus banget. Dan juga, gue akan merindukan betapa cantik & elegannya tampilan Mac OS khususnya Big Sur. Dan juga untuk font baru setiap Mac OS rilis!

Keempat, kemudahan. Dengan *handoff *gue bisa *copy *teks di iPad dan *paste *di Mac tanpa ribet, bisa berbagi berkas via Airdrop, masang aplikasi semudah mindahin something.app ke /Application, dsb.

Di GNU/Linux? Tau sendiri kan ganti konfigurasi di salah satu terminal emulator aja harus jalanin make.

Terakhir, multimedia. Sejujurnya gue hanya menggunakan 2 layanan yang ditawarkan oleh Apple: iCloud (untuk menyimpan konfigurasi level aplikasi) dan Music (karena alternatif dari Spotify yang paling bagus menurut gue cuma ini).

Tidal koleksinya tidak selengkap Spotify/Apple Music dan tentu saja gue tidak akan berlangganan Youtube Music. Beruntung gue tidak menyimpan data-data seperti Reminders; Calendar, Contact di iCloud karena nanti nya akan makin ribet, so thanks to Nextcloud.

There is always a cost to freedom

Di Mac OS, gue tidak bisa menghapus aplikasi-aplikasi bawaan Apple; tidak bisa membuat komputer tersebut "serasa" milik gue, dan tidak bisa melakukan apapun yang ingin gue lakukan.

Di GNU/Linux (atau *BSD), lo kalo ga suka dengan X, tinggal lakukan Y sekalipun harus melakukan kompilasi ulang kernel.

Komputer gue akan selalu dapat diakses oleh Apple (kecuali mati total), dan ini gue pernah ngalamin ketika ingin install ulang Mojave (Beta) dengan meminta bantuan ke Apple Support untuk melakukannya secara *remote *karena gue gak bisa akses sama sekali ke laptop gue.

Dan juga, gue udah muak dengan "notarization thing" yang meskipun *terkesan *langkah bagus dari Apple. Yang mana setiap program/aplikasi yang dibuat harus dilakukan notarisasi terlebih dahulu yang mungkin demi tujuan agar pengembang berlangganan ke Apple Developer Program yang seharga $99/yr (been there done that!) dan juga mendistribusikan aplikasinya dari App Store pengguna terlindungi dari sesuatu bernama virus.

Tentu saja gue bisa melakukan kompilasi sendiri, namun sayangnya tidak semua aplikasi gue CLI based, tidak semua aplikasi yang gue gunakan Open Source, dan tidak semua aplikasi yang tidak Open Source ini berlangganan ke ADP jadi harus ngasih tau pengguna kalau mau jalanin programnya harus klik kanan terus cancel terus klik kanan lagi lalu baru pilihan open muncul.

KONT—dilarang ngetik jorok rizzzz.

Am I regret it?

Tentu tidak karena literally tidak ada yang berubah dari *setup *sebelumnya.

Yang gue butuhkan dari komputer cuma terminal emulator, mosh, dan peramban untuk bisa mencari nafkah di jalan ninja ini, dan gue tidak kehilangan satupun dari 3 hal tersebut. Jadi gue rasa tidak ada alasan untuk menyesal dan tidak ada yang harus disesali, bukan?

Penutup

Bisa diasumsikan sekarang baterai laptop gue akan lebih hemat, performa laptop akan lebih yoi, dan usaha gue untuk membenci segala aktivitas yang ada di laptop akan semakin bertambah.

Namun pada akhirnya sistem operasi; penyunting kode, utilitas dan sebagainya hanyalah *tools. *Toolsmungkin dapat membantu membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, sayangnya setiap pilihan pasti memiliki *drawbacks *dan memilih GNU/Linux adalah pilihan gue yang setiap resiko nya sudah gue nikmati selama ~8 tahun sejak pertama kali menggunakan Debian.

Sudah lama gue menantikan momen untuk dapat berpindah dari dunia Mac OS ini dan beruntungnya kesempatan tersebut sudah datang dan gue rasa kesempatan itu harusnya diambil bukan di sia-siakan.

So, yeah, goodbye Mac OS, and fuck you.

And no, I will never buy that M1.

Or M1+.

Or M1 Pro.

Or M1 Pro Max.