Hubungan

published at random monologue because this thing is disturbs my sleep

Gue yakin hidup tidak hanya tentang Gold, Glory, dan Gospel sebagaimana tujuan hidup yang dimiliki oleh bangsa Eropa yang entah apakah masih relevan. Namun setidaknya itu yang gue inget ketika mempelajari Sejarah di bab Kolonialisme & Imperialisme.

Manusia adalah makhluk sosial, jika mengutip dari laman Wikipedia, berarti makhluk yang berhubungan secara timbal-balik dengan manusia lain. Dalam kehidupan, kita—sebagai manusia—selalu berurusan dengan hal-hal terkait hubungan ini.

Dari sebelum lahir yakni hubungan kita dengan tuhan, dalam kandungan yakni dengan seseorang bernama ibu, setelah lahir yakni dengan sesuatu bernama keluarga, dan seterusnya dan seterusnya. Semakin dewasa, maka semakin banyak pula hubungan yang dibuat.

Namun ada satu hubungan yang paling menarik sekaligus menjadi yang paling kompleks: hubungan percintaan.

Berbicara tentang cinta, ini adalah sesuatu yang sangat abstrak. Segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan, pasti itu tentang cinta. Tidak ada yang tahu bentuk cinta seperti apa, tidak ada yang tahu dasar dari cinta itu apa, dan gue yakin sesuatu bernama cinta ini tidak memiliki arti secara harfiah yang absolut.

Karena yang gue tahu, arti dari cinta ini tergantung dari siapa yang ingin mengartikannya. Jika lo bertanya arti cinta menurut gue, mungkin adalah sebuah kondisi dimana gue melakukan sesuatu yang bodoh namun terasa sangat menyenangkan dan ingin terus melakukannya?

Love is still the answer

Orang tua gue menikah pada tahun 1998, yang berarti sudah sekitar 25 tahun bersama. Ketika bangun tidur mereka melihat wajah yang sama, mengawali hari dengan orang yang sama, dilanjutkan dengan menutup hari dengan orang yang sama.

Selama 25 tahun.

Sayangnya gue tidak tahu alasan pastinya kenapa orang tua gue masih bersama sampai hari ini, mungkin kalau gue tanya jawabannya adalah karena... cinta?

Gue yang baru 6 tahun tinggal ngekos sendiri di Bandung aja kadang bosen ketika bangun tidur pasti si dispenser brengsek yang pertama gue lihat.

Selama 6 tahun.

Atau apakah ini waktu yang tepat untuk mencintai dispenser? Anyway.

Yang padahal dispenser tidak menyakiti, tidak membuat kecewa, dan tidak membuat sedih. Tapi kenapa gue bisa bosen?

Oke oke berhenti ngegosipin dispenser, tadi galon gue membuat gelembung mungkin ngerasa kalau lagi diomongin.

Sekarang mari kita coba ganti konteks cinta terlebih dahulu, misal ke pekerjaan.

Apakah gue cinta dengan pekerjaan gue? Oh, tentu saja. Hanya duduk dan mengetik sesuatu di komputer, memiliki bayaran yang relatif besar, sedang banyak dibutuhkan pada abad 21, apalagi alasan lain untuk membenci pekerjaan gue?

Lalu, apakah gue merasa atau setidaknya pernah merasa bosan? Tentu saja.

Dan ketika bosan, apakah gue pindah ke pekerjaan lain? Tidak.

Apakah alasannya karena cinta?

Mungkin karena tuntutan?

Atau apakah alasan orang tua gue masih bersama selama 25 tahun karena tuntutan?

Sebentar, harusnya gue bisa saja bosan lalu pindah ke tempat lain dengan pekerjaan yang lebih menantang dan bayaran yang lebih tinggi. Dan orang tua gue pun bisa saja bosan lalu nikah lagi dengan orang yang lebih dari sebelumnya, kan?

Lalu apakah cinta masih menjadi alasan untuk 2 pertanyaan diatas?

Hmm I think so?

Do we all need love?

Sudah lebih dari 6 tahun gue berada di industri ini, dan sudah lebih dari 1 tahun gue bekerja di tempat gue sekarang.

Jam 9 gue selalu diawali dengan membuka email; membuka terminal, membuka vim, mengakses localhost, menekan :w lalu melihat ke peramban apa yang terjadi. Melakukan git diff sebelum git commit, melakukan git fetch sebelum git push, menjalankan test di lokal sebelum di server CI.

Selama 6 tahun.

Apakah gue menikmati pekerjaan gue? Menulis kode JavaScript dan PHP itu sangat menyebalkan, membuat peramban dapat me-render ~60 *frame *per-detik adalah pekerjaan dukun, dan melakukan *code review *setiap ada perubahan yang dilakukan oleh orang lain adalah sesuatu yang bikin pusing dan membosankan.

Jika itu tidak menyenangkan, mengapa gue masih berada di industri ini yang bahkan sudah 6 tahun masih di domain yang sama?

Dan jika alasannya adalah karena cinta, mengapa gue harus butuh cinta untuk melakukan sesuatu tersebut yang terlihat.. kinda painful?

Ini lucu, sebenci apapun gue dengan pekerjaan gue, in the end yang gue lakukan adalah memaafkan kekurangannya dan mensyukuri kelebihannya. Seperti, gue tahu kalau *browser(s) is hell (and Safari is jahannam) *tapi gue tetap berada di domain web karena gue tahu kalau web itu mendominasi industri perangkat lunak dan cross-platform development diluar platform web itu lebih jahannam dari Safari.

Menjadi seseorang yang membuat program itu membosankan, dan terkesan kagak keren. Tapi lihat, siapa (dan apa) yang membantu para siswa tetap belajar dan para pekerja tetap bisa pekerja ketika pandemi? Siapa yang dapat membuat penjual menjual apapun yang ingin dijual terlepas letak geografis dia berada?

Siapa yang dapat menyangka perusahaan yang tidak memiliki satupun hotel namun sahamnya dapat diperjual-belikan oleh publik? Lalu mata uang yang bahkan nilainya melebihi mata uang mananpun yang ada di dunia?

Itu gara-gara pemrogram dan program yang dikembangkannya. Gue bukan bermaksud superior ataupun something like that, gue cuma menggunakan perspektif pemrogram kepada pembaca yang mungkin seorang pemrogram juga.

Yang intinya, ya, menurut gue kita semua butuh cinta.

Tanpa cinta, mungkin gue hanya bisa membenci JavaScript, berusaha keras untuk mencari 'pengganti' JavaScript, dan sampai akhirnya sadar jika segala sesuatu adalah tentang tradeoff tidak ada yang sempurna dan manusia tidak pernah merasa cukup.

Tanpa cinta, mungkin gue akan mencari pekerjaan lain di industri dan domain yang sangat berbeda, lalu berusaha untuk mencintai pekerjaan baru yang sebenarnya pada akhirnya sama-sama melakukan pekerjaan dan mencoba mencintai apa yang dikerjakan.

Gue jadi semakin yakin kalau arti cinta adalah sebuah kondisi dimana gue melakukan sesuatu yang bodoh namun terasa sangat menyenangkan dan ingin terus melakukannya. Namun sekarang gue sudah memiliki alasan dibalik kenapa gue terus melakukannya, yakni karena sadar bahwa tidak ada yang sempurna, dan manusia by default tidak pernah merasa puas.

Dan cinta berperan untuk memaafkan & mensyukuri kekurangan dan kelebihan yang ada, serta membuat boundary akan 'kepuasan' yang diharapkan.

Hubungan percintaan

Karena tulisan sudah terlihat lumayan panjang, mari kita ke topik utama.

Hubungan percintaan pada dasarnya adalah sebuah hubungan yang dimiliki oleh 2 pihak yang saling mencintai. Tujuan memiliki hubungan? I don't know.

Ada yang untuk bersenang-senang, ada yang menjadikannya sebagai aksesoris semata, ada yang untuk menjadikannya sebagai partner, ada yang tidak ingin merasa sendiri alias kesepian, beragam.

Sebagai ehm orang dewasa khususnya yang masih tinggal sendiri, untuk bersenang-senang kita tinggal tunjuk apa yang diinginkan; bayar apa yang ingin dibeli, dan melakukan apa yang ingin dilakukan. Kita memiliki waktu, uang, dan tenaga. Tidak ada yang menghalangi kita untuk melakukan sesuatu yang tujuannya untuk bersenang-senang, bukan?

Memiliki hubungan sebatas untuk bersenang-senang sepintas tidak masuk akal untuk gue. Lo akan dilarang ini itu, lo harus memikirkan 'pasangan', harus berkomunikasi secara iteratif, bertengkar, blablabla blablabla yang mana bukankah itu sesuatu yang tidak menyenangkan?

Apalagi kalau hanya sebatas aksesoris like.. whaaat? Seolah-olah kelas sosial akan turun bila tidak memiliki pasangan.

Terlebih, siklus dalam menjalani 'hubungan percintaan' itu gitu-gitu aja dan sudah tertebak:

  1. Kenalan (dan PDKT)
  2. Jadian (dan senang)
  3. Putus (dan sedih)
  4. Move on (dan drama)
  5. Balik lagi ke nomor satu

Terkadang gue merasa lelah, dan berpikir kalau ini cuma buang-buang waktu, serta menguras banyak tenaga dan pikiran.

Dan kadang gue berpikir kenapa harus punya pasangan? Gue bisa senang-senang walau tanpa pasangan, karena bukankah kebahagiaan itu diciptakan dan bukan dicari?

Gue tidak merasa kalau hidup gue ada yang kurang kalau tidak punya pasangan, jika tujuan memiliki pasangan hanyalah sebagai aksesoris.

Sebagai partner? Partner dalam apa? Ngobrol? Ada ribuan cara untuk bisa ngobrol sekalipun dengan yang random and hey have u tried going to therapy?

Atau bagaimana bila partner dalam melakukan hal lain seperti.. sex like we don't have hands and Bumble?

Atau mungkin partner dalam melakukan yang tidak boleh dilakukan sendirian like... nothing I guess?

Mungkin hidup gue terlalu individualistik, egois, dan merasa tidak bergantung dengan orang lain.

Dan ada banyak kemungkinan disini, tapi yang pasti kalau gue misalnya nanti punya 'hubungan percintaan', alasannya bukan hanya karena hal-hal yang sudah disebutkan diatas.

Konteks

Gue masih muda, sekitar 24 tahun.

Hidup gue relatif bebas, cukup sejahtera, dan tidak memiliki tuntutan ataupun cicilan yang mengikat. Dari sisi karir, gue berada di tangga yang cukup untuk usia & kondisi gue sekarang meskipun belum berada di puncak. Begitupula dari sisi pertemanan; relasi bisnis, dan mungkin hubungan antara tuhan dan hambanya.

Tidak lebih dan tidak kurang. Cukup.

Gue merasa sudah memiliki yang gue inginkan, mencapai yang ingin gue capai, dan dapat melakukan apapun yang ingin gue lakukan.

Sayangnya manusia selalu merasa tidak puas—termasuk gue—dan terkadang gue memikirkan "ok now what's next?" untuk setiap tujuan yang berhasil (ataupun gagal) diraih. Namun sekarang gue sudah merasa cukup setidaknya di umur yang sekarang.

Tapi ada satu hal yang menganggu, sangat menganggu.

Gue merasa baik-baik saja ketika bangun tidur sendiri (sekalipun melihat dispenser tolol itu lagi), menjalani hidup sendiri, makan sendiri, jalan-jalan sendiri, belanja sendiri, tidur sendiri, mengemban masalah sendiri, dan sebagainya.

Namun di lain sisi gue merasa membohongi diri sendiri, seperti, apakah benar gue baik-baik saja?

Gue tahu (dan sadar) bahwa gue tidak mau mati sendiri, tidak mau tidak memiliki keturunan, dan sebagainya dan bahkan gue memiliki mimpi untuk membangun kerajaan keluarga menggunakan nama akhir gue sebagai marga buat seru-seruan.

Tapi setiap gue memikirkan indahnya memiliki pasangan, terkadang satu hal yang menggangu gue adalah si siklus tolol yang gitu-gitu aja dan yang sudah tertebak itu.

Gue pernah membahas tentang 'hukum atraksi' yang intinya... ada deh—silahkan baca disini (shameless promotion) atau googling sendiri bila penasaran—dan gue percaya akan adanya hukum itu.

Namun gue tidak bisa terus-terusan hidup di utopia yang gue ciptakan sendiri, karena itu terlalu optimis dan indah. Dan gue rasa dunia tidak berjalan seperti itu.

Gue tau apa yang bisa dilakukan untuk terhindar dari siklus tersebut: komitmen, the marriage thing. Meskipun tidak ada jaminan akan terjadinya perceraian, yang gue tahu gue bukan tipe orang yang mudah menyerah.

Dan juga, dalam pernikahan berurusan dengan hal-hal terkait hukum negara & agama, yang gue rasa perceraian tidak akan semudah mengucapkan 'putus' sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang berpacaran.

Apakah sudah waktunya memikirkan untuk berkeluarga meskipun salary gue masih 8 digit?

Hmm mengapa dunia ini selalu tentang uang???

Penutup

Ketika gue melakukan sesuatu yang bodoh namun terasa sangat menyenangkan dan ingin terus melakukannya, gue akan mengkambing hitamkan cinta.

Ketika gue melakukan sesuatu yang bodoh dan terasa tidak menyenangkan namun ternyata gue terus melakukannya, gue akan mengkambing hitamkan cinta juga.

Atau apakah itu adalah nafsu alias 'passion' yang seringkali disandingkan dengan cinta? Sial, rencana nulis tulisan ini untuk membuat gue tenang malah jadi nambah pikiran.

Gak gak, gue yakin itu bukan nafsu. Nafsu gue rasa bukan perasaan senang ketika melihat mata & senyum seseorang, merasa tenang ketika memeluk seseorang, dan lain sebagainya termasuk sebuah aktivitas yang disebut 'salim'.

Karena aktivitas-aktivitas itu terlihat bodoh, bukan? Tapi itu terasa sangat menyenangkan, dan gue ingin terus melakukannya.

Bukankah itu cintaaaaa?

Sebagai perbandingan, gue coba meluk bantal dan gak merasakan ketenangan yang datang. Berarti gue gak cinta (apalagi nafsu) sama bantal, poor pillow.

Membahas seputar cinta dan hubungan sebenarnya sesuatu yang sangat menantang, gue dengan sombongnya selalu yakin kalau gue bisa menaklukan apapun, namun tidak dengan hal terkait cinta & hubungan ini.

Karena gue sadar kalau yang gue hadapi bukanlah sebatas cinta & hubungan, melainkan seseorang, secara keseluruhan, tidak hanya 'ide akan seseorang'.

I'm going to avoid that stupid cycle, so it's time to commit and plan savings for family thing instead of buying more tertiary shit?

Ok let's get rich.

Will 4 years from now be enough?

I don't know, will you help me answer it?

Hey, who is 'you' here?