Investasi untuk Software Engineer

published at Karena uang tidak dapat berkembang biak, ...kecuali?

Sebelumnya gue ingin memberikan sangkalan terlebih dahulu. Don't get me wrong, gue memilih judul tulisan tersebut karena gue—setidaknya sekarang—adalah seorang Software Engineer.

Agar lebih lengkap dan lebih memberikan konteks, judul lengkap dari tulisan ini adalah Investasi untuk Software Engineer yang:

Informasi diatas dapat disesuaikan dengan kondisi kamu bila tertarik untuk melanjutkan membaca tulisan ini. Namun sebelum masuk ke pembahasan inti, mari kita mulai dari topik yang paling dasar: The why.

Mengapa?

Gue termasuk orang yang tidak terlalu memusingkan tentang uang. Dan mungkin gue tergolong orang yang YOLO untuk hal-hal terkait uang.

Kalau ada sesuatu yang benar-benar ingin gue beli, dan gue bisa beli itu, tanpa berpikir panjang ataupun solat istikharah, kemungkinan akan gue beli langsung.

Namun sekarang Fariz bukanlah seorang remaja yang ber-umur 21 lagi.

Mengingat ia adalah anak pertama, ia sadar bahwa ada tanggung jawab secara tidak langsung untuk memimpin sebuah keluarga yang terdiri dari 2 saudara langsung. Meskipun orang tua dia sepertinya bukanlah generasi sandwich, namun dia yakin bahwa *shit will happens *dan ehm, setiap pertemuan pasti ada perpisahan.

Oke oke sekarang kembali menggunakan sudut pandang orang pertama.

Gue dulu—dan sampai sekarang—yakin bahwa investasi tidak selalu tentang finansial. Sebelumnya gue investasi terhadap 'orang lain' dengan memberikan mentorship, memberikan project, dsb selain karena orang tersebut memintanya secara langsung juga demi perkembangan dia karena gue tahu sedikit rasanya bagaimana ketika sedang hilang arah & krisis identitas.

Dan sekarang, kondisi sudah sedikit berubah, yang semoga ke arah yang lebih baik.

Kita semua tahu bahwa uang hanyalah sebuah angka, dan tidak tercetak secara gratis. Ada sumber daya yang dikeluarkan & dihabiskan untuk mencetak uang, disamping itu, ada hal-hal dimana angka pada uang tersebut dapat naik ataupun turun.

Beberapa orang memilih untuk memendam uang. Karena sederhana, mungkin dia tidak ingin mengeluarkan uang tersebut agar bisa digunakan nanti ketika sangat butuh atau untuk mencegah nilai dari angka tersebut turun karena peredaran uang yang semakin banyak.

Sebelumnya (dan sampai sekarang), gue memilih untuk memendam uang tersebut dalam sebuah aktivitas bernama menabung. Menabung memiliki resiko kecil namun memiliki tingkat keamanan yang relatif besar: Uang-uang gue lebih tersimpan dengan aman di sebuah entitas bernama Bank daripada gue taruh di lemari karena uang tersimpan dalam bentuk angka bukan bentuk fisik kertas.

Dan bukankah proses modifikasi angka tersebut relatif lebih sulit dilakukan daripada dengan membobol lemari gue, kan?

Sebagai bentuk terima kasih kita ke Bank, kita dikenakan biaya administrasi bulanan yang relatif kecil. Dan sebagai bentuk terima kasih Bank ke kita karena sudah mempercayai mereka, kita mendapatkan 'bonus' berdasarkan jumlah uang yang kita simpan ke bank tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa uang yang kita simpan di Bank tentu saja akan diputar oleh pihak Bank. Contoh sederhana, mungkin orang random di Bali yang meminjam uang ke Bank sebesar 100jt menggunakan uang simpanan dari tabungan kita yang memiliki total 120jt.

Uang kita tidak berkurang, karena di basis data mereka saldo kita tetap 120jt. Tapi poinnya adalah tidak ada uang yang dicetak oleh pihak bank untuk memberikan pinjaman ke si peminjam tersebut, hanya sebuah transaksi yang menandakan pemindahan angka uang.

Dan uang yang kita simpan 120jt tersebut di bank, tentu saja tersimpan sebagai milik bank tersebut, sampai kita pindahkan ke benar-benar milik kita sendiri melalui sebuah aktivitas bernama tarik tunai.

Oke oke, intinya, dengan menabung, kita mendapatkan bonus karena sudah 'mempercayai' bank tersebut dalam menyimpan uang kita yang tentu saja tidak seberapa.

Sekarang kita pikirkan, satu-satunya cara untuk membuat uang secara resmi adalah dengan mencetaknya dan uang tidak bisa berkembang biak.

Dan kita menabung itu 'on purpose' yakni untuk menyimpan uang kita di tempat yang terlihat 'lebih aman' daripada lemari kita.

Lalu, bagaimana bila kita mengeluarkan uang 'on purpose' yakni untuk mendapatkan hasil namun sekaligus tersimpan di tempat yang terlihat 'lebih aman' juga daripada lemari kita?

Bagian 'on purpose' tersebut perlu digaris bawahi karena ini adalah tentang tujuan. Jika tujuan kamu adalah untuk pegangan di masa depan nanti, tentu menabung masih menjadi pilihan yang tepat, karena angka yang ada di tabungan kamu tidak akan pernah berkurang, melainkan hanya mengikuti nilai dari angka tersebut di masa tersebut.

Namun jika tujuan kamu untuk 'mendapatkan hasil', mungkin investasi adalah pilihan yang tepat. Meskipun ada banyak cara untuk 'mendapatkan hasil', biarkan gue bercerita terlebih dahulu mengapa memilih jalur investasi.

Mengapa investasi?

Kamu (atau orang tuamu) menghabiskan ratusan juta untuk mensekolahkanmu dari sekolah dasar sampai bangku perkuliahan. Untuk apa? Selain karena untuk ehm status sosial (halo gelar!) juga sebagai investasi untuk 'masa depan' kamu nanti.

Itu sudah menjadi stereotip bahwa orang yang memiliki gelar akan mendapatkan penghasilan yang lebih besar daripada yang tidak memiliki gelar. Namun beruntungnya di industri IT, mungkin stereotip tersebut sudah sedikit tidak berlaku.

Di industri IT relatif melihat pengalaman dan keterampilan, karena salah satunya tidak sedikit yang memiliki gelar sarjana komputer namun tidak/kurang bisa membuat program ataupun menulis kode, dan itu sudah menjadi rahasia umum.

Bukan tanpa alasan mengapa bisnis Coding Bootcamp marak.

Jika melihat ke seseorang yang tidak memiliki gelar namun memiliki pengalaman dan keterampilan, dari mana asalnya 2 hal tersebut? Tentu saja dari investasi dia.

Mungkin dia sudah mengeluarkan jutaan rupiah untuk membeli (** dan membaca** ) buku? Atau ratusan ribu untuk berlangganan Pluralsight? Tidak lupa waktu yang sudah dikeluarkan juga untuk belajar, membuat sesuatu, dan mungkin juga membeli hal-hal pembantu seperti kopi; server, domain, dsb.

Semua ini adalah tentang investasi. Tentang sesuatu yang dikeluarkan, proses yang dikerjakan dan hasil yang nantinya akan diterima. Dan tanpa perlu matematika ribet ataupun ilmu ekonomi lanjutan, jika hasil yang diterima lebih besar dari sesuatu yang dikeluarkan, tentu saja itu disebut sebuah keuntungan.

Sekarang, kita berbicara tentang menabung. Kamu menabung 3jt per-bulan ke bank, dan selama 6 bulan, total yang sudah kamu simpan adalah 18jt, belum termasuk biaya administrasi beserta bunga yang didapat.

Apakah itu sebuah keuntungan? Tentu saja. Tidak ada yang tahu bagaimana nantinya di bulan ke-4 bila misalnya kamu simpan uang kamu di lemari, mungkin kosan kamu kebakaran dan uang-uang tersebut ikut terbakar.

Who knows, right?

Nah, misal bila 3jt tersebut kamu alokasikan ke hal lain, misal berlangganan pluralsight. Kamu berkomitmen untuk mempelajari hal baru disana setiap bulan, misal mendalami Game Development.

Selama 5 bulan, kamu sudah bisa membuat game sederhana kamu sendiri. Dan selama 1 tahun, kamu sudah bisa menjual game hasil buatanmu sendiri, dengan harga $20 dengan total biaya 10jt. Jika game kamu dibeli oleh 100 orang, kamu mendapatkan $2000 (~28jt IDR per 01/01/21), yang sederhananya kamu untung 18jt dengan rentan waktu 1 tahun.

Jika mendapatakan 18jt dalam 1 tahun dalam membuat game beserta usaha & biaya yang sudah kamu keluarkan adalah sesuatu yang setimpal, maka kamu mendapatkan keuntungan.

Tentu saja semua ini tentang resiko. Bagiamana bila game kamu yang membeli hanya 10 orang? Tentu rugi, kan? Namun bagaimana bila game kamu ternyata yang membeli 1000 orang termasuk lakunya gaca-gaca yang kamu tawarkan?

Itulah mengapa disebut resiko karena kita tidak tahu bagaimana kondisi nantinya.

Setelah panjang lebar, bagian investasi yang akan gue bagikan disini adalah:

Yang akan gue jabarkan satu-satu alasan nya.

Reksadana

Ini cocok untuk yang pertama kali memulai investasi ke efek.

Tadi kita sudah tahu sedikit tentang investasi ke keterampilan & pengalaman, sekarang mari kita coba bahas sedikit investasi ke efek bernama reksadana ini.

Efek sederhananya adalah surat-surat berharga seperti saham, obligasi, deposito, dan lain-lain. Yang membedakan dari reksadana ini adalah, dalam melakukan investasi, tidak boleh terkonsentrasi pada 1 hal saja. Misal, ketika membeli reksadana saham, pembelian saham harus dilakukan ke berbagai perusahaan, bukan pada 1 perusahaan saja.

Nah, misal kita investasi ke reksadana saham. Anggap 3jt. Investasi tersebut akan diberikan ke Manajer Investasi dan dia yang akan menyalurkannya saham apa saja yang akan dibeli dengan dana 3jt tersebut.

Sesuatu yang kita miliki dari reksadana ini adalah Portfolio Efek, alias, kumpulan efek bisa itu saham; obligasi, surat berharga, deposito, dll.

Kita ambil ke contoh nyata, anggap gue mempercayakan Manajer Investasi bernama Principal Index IDX30 untuk mengelola portfolio efek gue untuk kategori saham. Principal Index IDX30 (per 01/01/21) akan menyalurkan investasi reksadana saham tersebut ke saham-saham perusahaan:

Yang tentu saja adalah perusahaan-perusahaan terbuka.

Dana 3jt yang sudah kita investasikan tersebut, berdasarkan performa yang dimiliki Principal Index IDX30, ter-prediksi akan menjadi 3,543,020 dalam 5 tahun kedepan.

Nilai tersebut singkatnya ditentukan berdasarkan saham-saham yang dimiliki oleh si RDIX30 tersebut. Keuntungan menggunakan reksadana adalah kamu tidak perlu memusingkan investasi ke perusahaan apa saja, karena itu sudah tugasnya manajer investasi.

Untuk yang pertama kali terjun ke investasi ini pasti bingung bagaimana untuk memulai. Gue pribadi menggunakan Bibit untuk membantu gue untuk memulai investasi tersebut. Bibit adalah robo advisor yang sederhananya adalah pembantu yang merancang portfolio investasi yang optimal berdasarkan umur, profil resiko dan tujuan hidup kamu secara otomatis.

Berdasarkan umur; penghasilan bulanan, jangka waktu yang diingkan, dan tujuan yang ditentukan, robo advisor akan menentukan kamu tipe investor yang bagaimana dan berdasarkan itu, akan ditentukan instrumen apa saja yang akan diinvestasikan dan seberapa banyak.

Tentu itu masih ribet juga.

Di bibit, ada sebuah fitur bernama 'Dana Pensiun' yang mana segala sesuatunya benar-benar diatur oleh robo advisor ini berdasarkan tipe investor yang kamu miliki.

Mengambil contoh pribadi, berdasarkan pertanyaan gue jawab untuk menentukan tipe investor, gue adalah tipe yang agresif level 8. Dari situ, portfolio efek gue dialokasikan ke:

Dan berdasarkan tipe gue, manajer investasi** tama*** ng dipilih adalah:

Bagian utama tersebut sengaja gue tebalkan karena bibit bisa saja mengalokasikannya ke manajer investasi lain berdasarkan kondisi pasar yang ada.

Strategi yang gue gunakan adalah Dollar Cost Averaging (DCA) dalam ber-investasi disini yang sederhananya adalah apapun yang terjadi, setiap bulan gue tetap mengalokasikan sekian. Sebagai contoh, setiap bulan (mulai 2021!) gue mengalokasikan dana 2jt untuk ber-investasi ke reksadana, apapun yang terjadi di pasar, gue akan tetap mengalokasikan segitu setiap tanggal 25.

Misal, total yang sudah gue investasikan adalah 7jt selama 3 bulan, dan bagian melihat imbal hasil (per 02/01/21), gue mendapatkan keuntungan 5.09% atau sebesar 356,300 IDR (bener kan segitu? kalo salah blame this guy) yang tentu saja angka tersebut sulit didapatkan melalui aktivitas bernama menabung selama 3 bulan dengan rata-rata 2,5jt per-bulan. Actually dana yang sudah gue investasikan ada di rata-rata segitu, dan imbal hasil yang ada kurang-lebih segitu (>350rb).

Khusus reksadana, gue membuat ini untuk jangka sedikit-panjang sekitar 3-5 tahun kedepan yang intinya tidak sampai ke umur 30. Bila aktivitas investasi rutin gue 2,5jt per-bulan, dan dana yang sudah ada sekarang adalah 7jt, nilai kotornya berarti menjadi 150jt dalam 5 tahun, belum termasuk "imbal hasil" ataupun kerugian yang didapat. Misal bila imbal hasilnya hanyalah 5.0%, berarti nilai bersihnya kurang lebih adalah 157,500,000 IDR yang gue rasa angka tersebut sulit didapat bila dilakukan melalui aktivitas bernama menabung.

Menggunakan dana pensiun benar-benar sangat membantu untuk yang baru terjun pertama kali dan tidak mau ribet. Dan gue belum (atau tidak) tertarik untuk membangun portfolio investasi sendiri dengan memilih manajer investasi sendiri, karena gak ada waktu dan gak ada niat :p

Pasar Uang (Cryptocurrency)

Ada love-hate relationship juga gue terkait uang crypto ini.

Gue menekuni teknologi ini dari sekitar 2013, 4 tahun setelah bitcoin diluncurkan ke dunia.

Gue percaya dengan cryptocurrency pada dasarnya gue percaya dengan cryptography itu sendiri. Gue menekuni kriptografi dari sekitar tahun 2010 (ketika gue SMP!) dan sampai hari ini gue sudah melihat bagaimana pentingnya sebuah teknologi bernama kriptografi ini.

Kita lihat ke situs, protokol HTTPS sudah menjadi oksigen dalam membuat situs yang mana protokol tersebut adalah gabungan antara protokol HTTP + TLS, lapisan tambahan diatas protokol HTTP untuk mengelola transkasi paket secara aman dengan bantuan (public/private key) kriptografi.

Belum lagi teknologi HTTP/3 yang menggunakan protokol QUIC yang mana menggunakan protokol UDP dan setara dengan TCP+TLS+HTTP/2 yang berarti menggunakan kriptografi juga under the hood.

Kembali ke topik, cryptocurrency pada dasarnya adalah untuk membuat "sistem per-bankan" yang ter-desentralisasi. Segala transkasi dicatat di sebuah "buku" yang dapat diakses oleh publik bernama blockchain dan kevalidannya tersebut dilakukan menggunakan proses yang berkaitan dengan kriptografi.

Yang berarti, tidak ada entitas yang bisa mengontrol mata uang tersebut, sebagaimana internet yang kita gunakan sekarang. Tentu saja entitas lain (seperti negara) dapat mengontrol "gerak" dari mata uang tersebut (sebagaimana internet yang di beberapa negara dibatasi), namun secara operasional, bitcoin berjalan secara independen yang dibantu oleh "jaringan" bernama miner.

Bingung?

Gue fokus ke bitcoin karena gue cuma percaya dengan bitcoin. Dan bitcoin dianalogikan sebagai "emas digital" bukan "uang digital" yang berarti mari kita bandingkan dengan "emas fisik" dan bagaimana bedanya dengan "uang fisik".

Pada zaman dahulu kala, transaksi dilakukan menggunakan sistem barter. Misal, bila tulisan ini sepadan dengan 2 botol bir, untuk dapat membaca tulisan ini, kamu harus memberikan gue 2 botol bir terlebih dahulu untuk dapat membaca tulisan ini.

Nilai didapat berdasarkan kesepakatan dua pihak (pembeli dan penjual), dan jika oke, silahkan kamu berikan 2 botol bir tersebut maka akan gue berikan akses ke tulisan ini.

Sederhana.

Lalu zaman mulai modern, ada sesuatu yang memiliki nilai dan dianggap berharga. Sesuatu tersebut bernama emas. Emas menggunakan satuan berat, yang sederhananya, mungkin 1gram emas setara dengan 10 botol bir.

Jika kamu ingin membeli 5 tulisan dari gue, kamu tidak perlu memiliki 10 botol bir terlebih dahulu, cukup berikan 1gram emas, karena itu setara dengan 10 botol bir.

Dapat dimengerti?

Yang menjadi pertanyaan, mengapa emas berharga?

Mengapa 1gram emas "setara" dengan 10 botol bir? Dan mengapa bukan 5 botol bir? Dan mengapa bukan 100 botol bir?

Pertama, emas adalah sesuatu yang langka. Sulit mendapatkan emas yang murni di dunia ini khususnya sekarang.

Kedua, emas berdaya tahan kuat. Beda dengan kertas yang mudah terbakar dan basah.

Ketiga, emas memiliki nilai. Silahkan kamu menggunakan kalung emas, kacamata berbahan emas, dan apapun yang dibalut dengan emas, maka 'status sosial' kamu dianggap 'tinggi' oleh beberapa masyarakat.

Selain itu, emas sulit dipalsukan. Dan itu yang menjadi sifat andalan emas sebagai sesuatu sangat bernilai. Celah dalam barter, mungkin, bisa saja 1 botol bir tersebut ternyata tidak 100% murni bir, kan? Dan memakan waktu yang tidak sebentar serta ribet—serta *nanaonan juga—*untuk memverifikasi bila itu adalah benar-benar 100% bir murni.

Jika emas, pertama, kamu tidak bisa mencetak emas kamu sendiri; kedua, proses paling sederhana dalam menentukan keaslian emas adalah dengan menggoreskan ke keramik, jika tidak meninggalkan emas, maka besar kemungkinan emas tersebut asli.

Emas pernah digunakan sebagai 'alat tukar' yang sah pada zamannya setelah digantikan menjadi sebuah 'kertas yang memiliki nilai' yang bisa sangat panjang bila diceritakan.

Kembali ke topik, bitcoin memiliki karakteristik yang hampir serupa dengan emas, antara lain:

Dan juga, kamu tidak bisa mencetak bitcoin kamu sendiri plus sangat sulit untuk memalsukan bitcoin.

Untuk mendapatkan bitcoin, kamu harus memiliki sumber daya yang kuat dan memakan waktu yang tidak sebentar. Sama seperti emas yang menggunakan hukum rimba: Yang kuat yang menang.

Untuk memverifikasi transaksi, bitcoin menggunakan "merkle-tree" yang sederhananya adalah transaksi yang ada selalu berdasarkan dari transaksi yang sebelumnya.

Bitcoin menggunakan hash untuk transaksinya, misal hash untuk transaksi sebelumnya adalah 11100111 dan hash yang ada adalah 10101100, kemungkinan hash yang akan terbuat adalah 01001011 karena 11100111 ^ 10101100 = 01001011.

Tentu tidak sesederhana itu, itu hanyalah contoh sederhana dari "reproducible" yang menggunakan operasi XOR. Yang mana:

Misal untuk memverifikasi nilai A, kita bisa menggunakan operasi 10101100 ^ 01001011 alias B^C, yang mana nilainya adalah 11100111, yang singkatnya, nilai A, B, C selalu berdasarkan dari operasi yang dilakukan dari A, B, C tersebut.

Dan bila ada yang berbeda, kemungkinan transaksi tersebut palsu/dipalsukan, dan tidak akan tercatat di *blockchain *karena secara kriptografi hash tersebut tidak valid.

Baiklah, selesai kuliah singkatnya tentang bitcoin dan kriptografi. Sekarang mari kita lihat grafik dari bitcoin: Google Per-hari ini 1 bitcoin bernilai 424,194,785 bila di rupiahkan dan bila melihat grafiknya, pergerakan tersebut bersifat sangat ekstrim.

Investasi terhadap bitcoin sangat beresiko tinggi dan perlu dicatat, di Indonesia, bitcoin dilarang menjadi 'alat transaksi' yang sah, yang hanya diperbolehkan sebagai aset.

Gue investasi ke bitcoin bukan karena gue percaya dengan bitcoin, melainkan gue percaya dengan manfaat dari kriptografi itu sendiri untuk kepentingan publik.

Mulai serius investasi di bitcoin ini baru sekitar 2 bulan yang lalu dengan menggunakan strategi yang sama (Dollar Cost Averaging (DCA)). Total dana yang sudah gue investasikan ke bitcoin ini 4jt dan guess what, dana tersebut sekarang bernilai 5,320,703 alias gue mendapatkan keuntungan 1,320,703 hanya dalam waktu 2 bulan.

Ini sangat beresiko dan gue yakin tidak berlangsung lama. Tapi mengingat jumlah bitcoin yang terbatas, gue rasa angka bitcoin akan terus naik, sampai ke titik ketika bitcoin sudah tidak bisa dicetak yang masih menjadi misteri berapa nilai setara dari 1 bitcoin dalam rupiah ataupun dollar.

Gue tidak tertarik mengalokasikannya ke cryptocurrency lain seperti Ethereum, Litecoin, dsb karena alasan pribadi yang tidak melihat nilai yang ditawarkan dari alternatif cryptocurrency tersebut.

Investasi di cryptocurrency ini sejujurnya hanya gue lakukan untuk jangka pendek, atau malah gue jadikan sebagai piggy bank aja. Oh iya, pada bulan lalu gue sudah mengambil 500rb dari dana bitcoin yang gue miliki, yang mana, 500rb tersebut termasuk keuntungan yang gue dapat pada saat itu ketika total bitcoin gue bernilai 3jt yang sudah termasuk keuntungan (alias cuma punya 2,5jt).

Jika hari ini gue jual semua bitcoin gue, keuntungan kotor yang gue dapat selama 2 bulan kurang lebih 1,9jt yang mana sebuah nilai yang lumayan besar untuk jangka waktu selama 2 bulan.

Sebagai penutup bagian ini, bitcoin sepertinya cocok untuk kamu yang ingin investasi jangka pendek. Gue kepikiran untuk membuat 2 dompet bitcoin di 2 pasar bitcoin berbeda, yang pertama untuk investasi jangka pendek dan yang kedua untuk jangka panjang. But let's see!

Hal lain

Tentu saja gue masih ber-investasi ke hal lain yang bersifat menguntungkan pribadi secara non-finansial seperti tetap membeli buku; berlangganan sesuatu yang memberikan ROI yang menjanjikan untuk gue, serta 'men-support' orang lain yang mengembangkan perangkat lunak yang sangat membantu dalam hidup gue seperti Wireguard, Unbound, dsb sehingga gue tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengembangkannya sendiri dan tidak perlu khawatir akan prospek keberlangsungan pengembangan peranti lunak tersebut.

...Serta sebagai bentuk terima kasih gue secara pribadi terhadap pengembang tersebut, secara finansial.

Investasi ini tidak menghasilkan uang apalagi dalam jangka waktu pendek.

Namun gue sudah merasakan benefitnya dan percaya bahwa investasi terhadap hal lain ini memiliki ROI yang tidak kalah menguntungkan dari investasi ke hal-hal yang menghasilkan uang secara langsung.

Mengapa tidak ada saham?

Secara teknis ada, yang tidak ada adalah membeli saham secara langsung terhadap perusahaan terbuka yang ada. Pertama, karena gue males ribet harus bikin bank kustodian karena gue sekarang sudah memiliki akun rekening di 6 bank.

Kedua, gue belum ada pengetahuan lebih lanjut terkait itu.

Ketiga, gue masih percaya bahwa investasi saham melalui reksadana sudah cukup meskipun terkadang tergiur dengan teman dekat yang memiliki ber-lot saham di beberapa perusahaan terbuka, beserta keuntungan (dan kerugian) yang didapat.

Entahlah, mungkin nanti ketika gue sudah tertarik.

Penutup

Perlu diingat bahwa investasi yang gue lakukan disini adalah 'on purpose' karena gue ingin memutar uang—ehm, mendapatkan keuntungan—dengan cara ber-investasi terhadap reksadana dan mata uang kripto.

Dan 2 hal tersebut bukanlah dua-duanya cara dalam memutar uang. Bisa saja kamu gunakan uang tersebut untuk berjualan es kopi susu atau membuat minuman lainnya yang berbahan bakar keju.

Tapi gue memilih 2 hal tersebut karena alasan waktu, pengetahuan, dan dana yang dimiliki. Gak tau kalau gue udah tajir melintir, mungkin nanti gue investasi properti di mars.

Dan juga, gue tidak tertarik dengan investasi di properti, mungkin belum. Gue masih yakin bahwa rumah adalah 'bangunan untuk pulang' bukan 'bangunan untuk dijual', yang berarti, alasan gue kalau suatu saat membeli rumah sudah dipastikan bukan untuk dijual kembali. Dan berarti juga, sudah dipastikan tidak akan berada di pusat kota yang menjadi pusat bisnis.

Yang berarti juga, bila suatu saat gue terpaksa harus investasi di properti, besar kemungkinan bangunan tersebut bukanlah untuk rumah. Mungkin untuk dijadikan sebagai Coworking Space? Atau Coliving? Atau malah another mainstream coffee shop? Who knows, money will speak.

Sebagai penutup, investasi bukanlah satu-satunya cara agar dianggap 'melek finansial' oleh orang-orang. Gue rasa dengan melakukan budgeting, pencatatan kemana uang kita pergi, dan tidak membeli hal-hal yang tidak terlalu berguna banget sudah tergolong melek finansial, kan?

Investasi gue rasa hanyalah cara lain untuk memutar uang, karena pada akhirnya sama-sama mengeluarkan uang dan sama-sama mendapatkan sesuatu dari yang telah dikeluarkan tersebut.

Sebagai seseorang yang tidak menomor-satu-kan uang dalam kehidupan, menghabiskan 66rb kopi di sebuah warkop berlogo putri duyung gue anggap investasi selagi yang gue lakukan disana menghasilkan sesuatu.

Sekalipun sesuatu tersebut berbentuk kebahagiaan/ketentraman, bukan uang.

Kalau menghasilkan sesuatu berbentuk uang juga, anggap saja sebagai bonus.

Ya, uang bukanlah segalanya. Dan ya, segalanya butuh uang. Namun ketika kamu tidak menomor-satu-kan uang dalam hidupmu, pada kondisi tertentu kamu akan sadar bahwa uang bukanlah segalanya dan ternyata tidak segalanya yang dibutuhkan adalah uang.

Meskipun uang katanya bisa membeli kebahagiaan dengan membeli sesuatu yang membuat kamu bahagia, tapi percayalah, ada kondisi dimana kamu akan bahagia karena tidak membeli sesuatu tersebut, bukan karena kamu tidak memiliki uangnya, tapi karena kamu sadar bahwa untuk bahagia, tidak hanya berasal dari sesuatu tersebut.

Dan yang lebih jauh lagi, ternyata, kebahagiaan itu bukan dicari, namun dibuat.

Jadi, ya, pintar-pintar dan bijaklah dalam mengatur uang.

Pada dasarnya dalam segala hal, tidak hanya dalam mengatur uang.

Terima kasih!