Kenyamanan ini membuat... Nyaman?

Tentang ilusi mencapai garis finish yang sebenarnya baru memulai.

Kenyamanan ini membuat... Nyaman?

Tidak ada yang salah dengan nyaman, siapa yang tidak ingin hidup dengan kondisi nyaman? Setelah lelah berbulan-bulan bekerja, seringkali kita "menghadiahi" diri kita biasanya dengan liburan: Pergi ke suatu tempat, tinggal disuatu tempat, dan menikmati suasana.

Nyaman sekali.

Tidak ada fikiran seputar pekerjaan, membuang masalah-masalah yang ada, dan sebagainya yang membuat kita nyaman.

Kembali ke 3 tahun sebelum sekarang, hidup gue enggak senyaman sekarang. Fikiran-fikiran seperti "besok makan apa ya?", "duh udah mau akhir bulan, udah nipis lagi" dan sebagainya seringkali gue fikirkan sebelum tidur.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, gue banting tulang. Cari kerjaan sana-sini biar akhir bulan dan bulan depan ada pegangan, hidup hemat biar sampai bulan depan sejahtera, dan masih banyak lagi.

Kondisi pun masih haus banget dengan ilmu, hampir 80% yang gue lakukan di kamar adalah belajar; Belajar, belajar. Karena yang paling nyaman dikamar gue selain tidur adalah belajar, waktu itu.

Dan sekarang, berbeda rasanya. Mungkin sekarang gue sedang sedikit menikmati hasil kerja keras gue sebelum-sebelumnya, pencapaian-pencapaian pun sedikit-demi-sedikit tercapai, keinginan-keinginan yang ingin gue penuhi dengan hasil keringat sendiri perlahan sudah banyak gue capai.

Lalu gue terlena dengan pencapaian-pencapaian tersebut.

Gue seperti lupa dengan diri gue yang dulu yang sangat ambisius, sangat bekerja keras, dan enggak terlalu banyak berleha-leha.

Dulu semangat banget dalam mempelajari sesuatu, semangat banget berbagi sesuatu, semangat banget cari kerjaan, dsb. Di kondisi sekarang yang "merasa" sok udah banyak tau, sok sudah banyak berbagi, dan sok sudah memenuhi kebutuhan, gue malah menjadi berleha-leha.

Seakan-akan gue sudah mencapai garis finish, yang padahal perjalanan ini masih sangat panjang.

Bahkan, gue baru saja memulainya.

Untuk bisa terhindar dari ilusi kenyamanan ini, gue akan coba kembali ke diri gue sebelumnya lagi. Gue mulai dari kamar, gue tanggalkan (aslinya cuma gue "arsip" sih) hal-hal yang sifatnya "bikin nyaman", dan back to the basic.

Gue buat kamar gue se-enggak nyaman mungkin, yang mana sesuatu yang buat nyaman tersebut hanyalah membaca buku, main laptop, dan tidur. Gue bukan tipe orang yang gampang tidur, jadi untuk bisa tidur setidaknya gue harus "nganggur" dulu atau gak gue harus capek dulu.

Nganggur disini biasanya melakukan hal-hal yang sifatnya hiburan, dan sekarang hal-hal tersebut sudah gue simpan dibawah ranjang dan gudang.

Gue ingin kembali ke Fariz yang dulu, yang sangat haus dengan ilmu, haus dengan pengalaman, haus dengan berbagi, dan haus dengan mencari rezeki.

Kenyamanan ini membuat ilusi sempurna untuk gue seakan-akan gue sudah mau mencapai garis finish, yang padahal gue baru saja memulai perjalanan.

Sudah ~2 bulan hidup dari sisa gaji sebelumnya, lumayan juga sisanya mau dipakai investasi/nabung males juga belum nemu titiknya, dipakai foya-foya tiap hari lumayan lama juga abisnya. Mungkin gue pakai buat beli sesuatu yang gak penting-penting amat, terus sisanya buat gue hidup selama 1 bulan.

Lalu semoga semangat gue bisa semakin terbakar untuk terus berjuang lebih giat dan keras.

Goodbye comfort zone, I love you but I need to leave you. Kita adalah rasa yang tepat, diwaktu yang salah. Semoga kita berjumpa lagi diwaktu yang tepat!