Komitmen

Nobody Said it was easy™

Tujuan dalam melakukan komitmen menurut gue salah satunya adalah untuk bertahan.

Komitmen tidak lepas dari perjanjian; prinsip, dan pastinya kewajiban. Ketika sedang merasa tersesat; hilang arah ataupun ingin menyerah, komitmen menjadi pegangan untuk terus bertahan.

Gue tetap percaya bahwa Islam adalah agama yang pantas untuk gue, berdasarkan pengetahuan & pengalaman yang gue miliki, serta perjanjian awal bernama syahadat yang berbunyi aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad (SAW) adalah utusan Allah.

Namun tidak hanya sampai perjanjian, dilanjutkan pula dengan prinsip yang harus di pegang serta diyakini yaitu rukun Iman yang berarti percaya kepada Allah; Malaikat, Kitab, Hari Akhir, dan takdir serta rukun Islam yakni Syahadat; Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji (bagi yang mampu) yang harus diamalkan/dilakukan.

Itu adalah komitmen seorang muslim terhadap agama yang dipeluk dan tuhan yang disembah. Tidak boleh ada keraguan apalagi rasa keterpaksaan, karena itu sudah menjadi kewajiban bagi pemeluk agama Islam yang meyakini bahwa tujuan hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada tuhan yang maha esa.

Bagaimana jika merasa mendapat keraguan?

Bagaimana jika merasa mendapat keterpaksaan?

Beberapa ada yang memilih untuk berpindah kepercayaan, atau bahkan sudah tidak mempercayai lagi akan kehadiran tuhan. Ya, setiap orang memiliki hak nya masing-masing dalam memilih. Dan ada beberapa yang mempertimbangkan bahwa mereka tidak bisa memilih agama mereka sendiri ketika mereka lahir, alias, agama disini menjadi warisan, bukan sebagai pilihan absolut yang akan menjadi komitmen sampai mati nanti.

Sayangnya, dunia tidak berjalan seperti itu.

Kita tidak bisa menentukan apakah ingin dilahirkan sebagai manusia atau seekor sapi; tidak bisa menentukan apakah lahir dari ras Asia atau Amerika, tidak bisa menentukan apakah dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan.

Apakah berarti dunia berjalan secara tidak adil?

Jika semua dilahirkan sebagai manusia, siapa yang akan menjadi seekor sapi? Ketika semua dilahirkan sebagai laki-laki, siapa yang menjadi perempuan? Konsep adil menurut gue adalah keseimbangan, bukan tok sama-rata. Yang maksudnya, siapa kita yang bisa menentukan seimbang atau tidaknya sesuatu yang kompleks sehingga berani menentukan bahwa dunia berjalan secara tidak adil?

Lalu, apakah kita harus terima apa adanya saja?

Dalam rukun iman, yang terakhir adalah percaya kepada Qadha dan Qadhar. Ini adalah sesuatu yang sangat kompleks, namun makna sederhana yang dapat disepakati untuk arti dari 2 kata tersebut adalah "ketetapan tuhan".

Kita terlahir sebagai orang miskin. Itu adalah ketetapan tuhan.

Apakah kondisi tersebut bisa diubah? Bisa, dengan usaha.

Kita terlahir sebagai seorang lelaki. Apakah kondisi tersebut bisa diubah? Bisa, dengan usaha.

Pertanyaannya, apakah ada larangan di agama mengubah nasib dari miskin menjadi tidak miskin? Sejauh yang gue tahu, tidak ada. Berarti boleh dilakukan.

Dan apakah ada larangannya di agama untuk mengubah jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan? Sejauh yang gue tahu, ada. Berarti tidak boleh dilakukan.

Itu adalah contoh sederhana dari Qadha dan Qadhar atau ketetapan tuhan yang mana dapat diubah dan tidak dapat diubah menurut keterbatasan pengetahuan gue. Selagi baik apalagi tidak dilarang oleh agama, yaa mengapa tidak dilakukan?

Maksudnya, sekarang gue terlahir sebagai seorang muslim dengan jenis kelamin laki-laki. Gue tidak boleh meragukan akan ciptaan tuhan terhadap gue, karena itu sudah menjadi komitmen gue sampai mati nanti. Sebagai umat muslim, gue harus yakin dengan apa yang ada di rukun iman, dan gue harus mengamalkan apa yang ada di rukun islam.

Tidak boleh ada keraguan, tidak boleh ada keterpaksaan.

Karena itu sudah menjadi kewajiban.

Itulah komitmen.

Tentang komitmen

Komitmen selalu diawali dengan perjanjian yang akan menjadi kewajiban.

Mari kita bicarakan hal yang menjadi umum terkait komitmen: Pernikahan.

Ada 5 dasar/rukun dalam nikah: Mempelai lelaki, perempuan, wali, (dua) saksi, dan shighat alias ijab qabul. 5 rukun tersebut harus terpenuhi, yang menjadi poin disini adalah rukun terakhir: Ijab qabul.

Ijab qabul singkatnya adalah tentang kesepakatan. Apa yang disepakati? Tanggung jawab seorang suami dan istri. Hal-hal yang berurusan dengan komitmen pasti sesuatu yang berat, termasuk ketika membangun rumah tangga bersama.

Ketika menyepakati kesepakatan, tidak boleh ada keraguan ataupun keterpaksaan karena itu akan berpengaruh ke tahap selanjutnya.

Gue berbicara tentang komitmen & kesepakatan secara umum ya, dan pernikahan disini hanya menjadi contoh yang gue pilih.

Ada kewajiban yang harus diamalkan dari sebuah komitmen.

Yang berarti, ada do and don't.

Apa yang harus dilakukan oleh seorang suami/istri, dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang suami/istri.

Dan itu sudah menjadi perjanjian tersirat yang sudah disepakati ketika ijab qabul.

Kembali ke topik inti, ketika berkomitmen menjadi seorang muslim yang diawali dengan pengucapan syahadat, ada do and don't juga yang sudah disepakati.

Paling sederhana adalah tentang Halal dan Haram. Pahala & Dosa.

Beruntung kita sudah diajari sedikit dari kecil apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam agama islam.

Sayangnya, manusia adalah tempat salah dan lupa. Terkadang kita melakukan apa yang dilarang. Kabar sedikit baiknya, pasti ada threshold dari setiap do and don't.

Alias, sesuatu yang mungkin masih bisa dimaafkan.

Misal, seorang istri yang marah kepada suami selama setengah hari karena dia melupakan sesuatu.

Atau, seorang muslim yang ehm meminum alkohol 5% yang tidak sampai mabuk.

Menurut gue itu adalah hal yang belum melebihi batas ambang.

Gue masih tetap menjadi seorang muslim meskipun gue meminum alkohol 5%.

Dan si suami masih menjadi seorang suami meskipun dia membuat istrinya marah selama setengah hari.

Yang menjadi poin utama adalah ketika melakukan sesuatu yang sudah keluar dari batas ambang.

Tentu lain cerita bila seorang muslim sudah tidak percaya dengan ketetapan tuhan.

Atau seorang suami yang berhubungan intim dengan orang lain yang bukan istrinya.

Itu menurut gue sudah keluar batas, karena komitmen menjadi seorang muslim salah satunya adalah percaya akan ketetapan tuhan dan komitmen menjadi seorang suami salah satunya adalah setia kepada istrinya.

Dan sebagaimana yang sudah disebutkan, komitmen salah satunya adalah tentang prinsip.

Tiang.

Dan tahukan apa yang terjadi ketika tiangnya rusak apalagi sampai roboh?

Menjalani komitmen

Sebagaimana yang sudah dibahas, setiap orang berhak memilih akan pilihannya masing-masing. Dan setiap orang berhak untuk membuat komitmen ataupun tidak sama sekali.

Kita berhak untuk memilih tidak menikah seumur hidupmu, kita berhak untuk memilih menjadi seorang vegetarian, dan yang menjadi perbedaan sederhana, dalam pilihan tidak ada "sesuatu" yang dapat dijadikan pijakan.

Beda cerita ketika kita sudah berkomitmen untuk tidak menikah seumur hidupmu misalnya. Itu sudah menjadi kewajiban kita, karena mungkin sudah membuat perjanjian dengan dirimu sendiri untuk tidak menikah dan mungkin lebih memilih untuk mengabdikan seluruh hidupmu kepada tuhan.

Mungkin. Who knows, right?

Berbicara tentang pernikahan—dalam agama islam—meskipun tidak bersifat wajib by default, namun menjadi wajib ketika kita sudah memenuhi salah satu syaratnya, yakni ketika mampu.

Yang maksud gue, oke mungkin gue berhak untuk memilih, namun jangan lupa dengan kewajiban-kewajiban yang harus gue lakukan sebagai umat muslim, yang salah satunya adalah menikah ketika gue sudah mampu.

Yang berarti, singkatnya, gue harus siap menjalani komitmen yang ada di seputar dunia pernikahan.

This komitmen thing sounds scary, right? Not really.

Dalam setiap lika-liku kehidupan, kita selalu berurusan dengan komitmen.

Dari pertama kali lahir, menjalani berkomitmen untuk membuat orang tua bahagia karena ridha Allah tergantung ridha orang tuanya dan murka Allah tergantung murka keduanya (HR. Thabrani).

Ketika memasuki dunia kerja, menjalani berkomitmen dengan perusahaan yang prinsip yang perjanjiannya tertulis diatas kertas dan kesepakatannya ditandai dengan tanda tangan dari pihak yang terlibat.

Ketika memasuki dunia pernikahan, menjalani komitmen dengan pihak yang terlibat yang diawali dengan ijab qabul dan kesepakatannya ditandai dengan ucapan sah.

Apakah ada 'akhirnya' dalam sebuah komitmen?

Tentu ada.

Yang mana itu mungkin bisa kita sebut dengan 'masa kadaluarsa'.

Kapan 'masa kadaluarsa' komitmen kita dengan perusahaan tempat kita bekerja?

Ketika masa kontraknya sudah habis.

Yakni ketika perjanjian masa kerja tidak bisa/tidak ingin diperpanjang lagi.

Kapan 'masa kadaluarsa' komiten kita dengan suami/istri? Atau dengan orang tua? Atau dengan tuhan?

Ketika masa kontraknya sudah habis.

Yakni ketika kematian.

Dan itu pasti terjadi.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan ketika 'masa kadaluarsa' tersebut belum datang?

Apalagi jika bukan bertahan dan menjalankan kewajiban serta menghindari larangan yang ada?

Nobody Said it was easy™

Pasti ada 'balasan' dalam sebuah komitmen.

Ketika seorang muslim meminum minuman beralkohol, balasannya mungkin adalah sesuatu bernama dosa yang sering dikaitkan dengan sebuah tempat bernama neraka.

Ketika seorang karyawan tidak menjalani kewajibannya di kantor, balasannya mungkin mendapatkan surat peringatan yang sering dikatikan dengan sebuah momen bernama pemecatan.

Ketika seorang suami tidak menjalani kewajibannya di rumah tangga, balasannya mungkin mendapatkan sesuatu bernama talak yang sering dikaitkan dengan sebuah momen bernama penceraian.

Bukankah sesuatu bernama komitmen ini adalah hal yang menakutkan, bukan?

Tidak juga.

Bagaimana bila seorang muslim tidak meminum alkohol dan melakukan hal baik lain yang balasannya adalah sesuatu bernama pahala yang sering dikaitkan dengan sebuah tempat bernama surga?

Bagaimana bila seorang karyawan menjalani kewajibannya di kantor dan melakukan hal baik lain yang balasannya adalah promosi dan kenaikan tunjangan?

Bagiamana jika seorang suami menjalankan kewajibannya di rumah tangga dan melakukan hal baik lain yang balasannya adalah terbentuknya keharmonisan di rumah tangga dan mendapatkan sesuatu bernama pahala yang sering dikaitkan dengan sebuah tempat bernama surga?

Komitmen ada bukan untuk dilanggar, namun untuk ditaati.

Serta, dapat membantu kita ketika sedang berada pada titik jenuh.

Ketika kita sedang hilang arah, komitmen akan membantu kita memberikan jalan yang harus dipilih.

Tidak ada yang bilang bahwa menjalani komitmen itu mudah. Sederhananya, jika sebelum memulai komitmennya saja sudah terasa sulit, bagaimana bisa menjalaninya tidak terasa sulit?

Gue bukan pribadi yang baik, dalam menjalani komitmen yang ada, gue masih melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan dalam kesepatakan akan komitmen tersebut.

Namun setidaknya gue tidak keluar dari batas ambang.

Komitmen gue sebagai seorang muslim masih bisa gue jalani, meskipun sudah banyak larangan-Nya yang masih gue lakukan.

Komitmen gue sebagai seorang anak masih bisa gue jalani, meskipun sudah banyak hal-hal yang membuat orang tua gue sedih dan marah.

Komitmen gue sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan konsultan data masih bisa gue jalani, meskipun masih banyak hak-hak yang belum gue penuhi kewajibannya.

Semakin berat komitmen yang kita jalani, maka semakin kuat juga diri kita dalam menjalani kehidupan yang selalu berhubungan dengan komitmen ini.

Yang penting adalah untuk tetap menjaga komitmen tersebut kokoh, karena komitmen pada dasarnya adalah tiang, akan sesuatu yang kita bangun diatasnya.

Apapun itu.

Agama, rumah tangga, pekerjaan, you name it.

Penutup

Relatif pembaca tulisan gue tau kalau tulisan-tulisan yang ada di blog ini kebanyakan untuk diri gue sendiri.

Ya, gue sedang hilang arah dalam menjalani komitmen.

Atau lebih tepatnya lelah.

Ada satu hal yang baru gue sadari: Tidak ada yang bilang bahwa menjalani komitmen itu berat apalagi melelahkan.

Kabar baiknya, tidak ada yang bilang juga bahwa menjalani komitmen itu tidak berat apalagi tidak melelahkan.

Dalam kehidupan kita pasti selalu mendapatkan masalah, salah satunya adalah ini: ketika sedang hilang arah dalam menjalani komitmen.

Namun yang gue yakini, semakin lama kita hidup di dunia ini, maka semakin besar pula masalah yang akan kita hadapi.

Mungkin masalah ini terlihat besar ketika di 18 Desember 2020, namun mungkin masalah ini akan terlihat kecil ketika nanti di 18 Desember 2029 ketika gue mendapatkan masalah lain dan itupun kalau masih diberi kesempatan untuk hidup.

Apapun yang terjadi, harus kita hadapi.

Menyerah bukanlah jawaban, dan kabur dari masalah tidak akan menyelesaikan.

Akan ada masalah-masalah lain yang menghampiri, terlepas dari kehidupan mana yang dijalani.

Selama 'masa kadaluarsa' belum berakhir, yang bisa gue lakukan adalah bertahan.

Terkadang gue heran dengan frasa 'mencintai diri sendiri', apakah artinya selama ini kita menyiksa diri sendiri bila tidak 'mencintai diri sendiri'?

Apakah dengan menahan diri untuk tidak meminum alkohol adalah bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri karena diri ini ingin sekali minum alkohol?

Apakah dengan melakukan apa yang perusahaan wajib lakukan adalah bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri karena diri ini merasa lelah?

Apakah dengan setia terhadap istri adalah bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri karena diri ini ingin sekali berhubungan dengan wanita lain?

Menurut gue bukan.

Jika sekiranya gue melakukan, yang berarti gue 'tidak menyiksa diri sendiri', ada pihak lain yang akan terugikan atau mungkin sampai tersiksa?

Ya, kenyataan pahit yang harus ditelan adalah sejatinya hidup kita bukanlah untuk diri kita sendiri sekalipun mungkin kita tidak pernah menginginkan untuk dilahirkan ke dunia ini.

Tujuan kita terlahir di dunia ini bukanlah untuk menyembah diri kita sendiri.

Dan sayangnya, kita tidak akan mendapatkan gaji ketika kita bekerja untuk diri kita sendiri. Bahkan perusahaan pun bekerja untuk pelanggan.

Dan pastinya, kita tidak mungkin menikahi diri kita sendiri, karena di agama dan negara Indonesia, syarat sah nikah adalah ada nya mempelai laki-laki dan wanita.

Yang berarti, pada dasarnya, hidup bukan selalu untuk diri sendiri.

Bukan berarti gue enggak setuju dengan konsep 'mencintai diri sendiri', gue cuma memikirkan ulang, seperti, apakah ketika gue melakukan sesuatu dengan dalih mencintai diri sendiri, apakah menjadi kondisi 'menyiksa orang lain'?

Jika tidak, yaa mengapa tidak dilakukan? Man, mentraktir diri sendiri caffe mocha dengan extra single shot tanpa whipped cream yang jadi favorit gue dari uang gaji yang gue dapet setelah sekian hari bekerja sebagai self-reward gue rasa gak bikin orang lain merasa tersiksa dengan aktivitas tersebut, kan? Iya kan?

Sebagai penutup, pada akhirnya, kita tidak akan bisa menghindari dari sesuatu bernama komitmen ini seumur hidup kita di dunia.

Gak tau kalau di akhirat, belum riset juga.

Dan selama berada di sebuah komitmen, tidak ada lagi yang harus dilakukan selain menjalankan kewajiban; bertahan, dan tidak melakukan larangan yang sudah diluar batas ambang.

Bosan itu pasti, apalagi lelah, ataupun rasa ingin menyerah.

Namun ingatlah, apa yang membuat kita menyepakati ketika hendak membuat dan menjalankan komitmen.

Apa tujuan yang ingin dicapai.

Dan apa 'balasan' yang ingin di dapatkan.

Yang pasti, bukan hanya selalu tentang diri kita, apalagi hanya tentang pihak lain.

Melainkan bersama.

Dan gue rasa, itu tujuan dari sesuatu bernama komitmen ini.