Makers

It's time to make something?

Makers

Berdasarkan hasil observasi pribadi terhadap ekosistem developer di Indonesia, sejujurnya kita lebih banyak pengembang daripada pembuat, meskipun tidak 100% benar. Jangan dipusingkan dengan pengertian developer, programmer, engineer atau apapun itu, tapi mari kita telaah sedikit esensi dari maksud tersebut.

Kamu seorang programmer, selamat! Programmer bisa mengubah dunia, dari contoh klasik menghubungkan manusia dengan mudah tanpa mengenal geografis via Facebook, memberitahukan dunia apa yang sedang terjadi via Twitter, sampai mengubah cara kita bekerja via Slack.

Ketika dulu masih sering mengikuti berita-berita seputar dunia per-starap-an, ada 3 fondasi inti dalam membuat sesuatu khususnya di dunia digital ini: Hacker, Hipster, dan Hustler.

Bermula dari ide, dibuat purwa-rupa yang merepresentasi ide tersebut oleh hacker dan hipster, lalu dijual oleh hustler. Mungkin ada saja yang bertindak sebagai solo fighter, karena apa sih yang tidak mungkin jika kita berusaha dan berdoa?

Oke, lanjut. Membahas tentang ini adalah membahas tentang industri digital, seringkali disebut dengan proses digitalisasi. Dari yang sebelumnya segala sesuatu terjadi di dunia fisik, perlahan-lahan berpindah ke dunia maya atau digital.

Ini adalah tentang membuat dunia baru, dan seperti yang kita tau, komponen-komponen yang ada di dunia antara lain ada Ekosistem, Komunitas, dan Infrastruktur.

Kita ambil contoh sederhana dari kampung kelahiran gue: Pandeglang.

Pandeglang adalah sebuah kabupaten, yang dipimpin oleh bupati. Sesuatu yang dijual di Pandeglang kebanyakan parawisata, mengingat Pandeglang mencakup juga daerah barat & utara nya pulau jawa.

Masyarakat disana kebanyakan bergantung hidup dari pariwisata tersebut, dari menjual sandang & pangan, sampai menyediakan papan. Selain itu, ada banyak juga yang mengabdi ke negara, ataupun membuat usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan tertentu.

Jika dibuat visualisasi sederhana nya, kira-kira begini:

Klik untuk memperbesar gambar

Bagaimanapun pemasukan suatu daerah kebanyakan dari pajak, bukan? Dan jika menggunakan sistem demokrasi, bukankah seharusnya dari rakyat; Oleh rakyat, dan untuk rakyat?

Karena rata-rata orang datang ke Pandeglang adalah karena untuk berwisata, mau tidak mau Pandeglang harus tetap menjaga, melestarikan, dan meningkatkan tempat wisata yang ada.

Dan juga, komponen-komponen pembantu untuk memenuhi kebutuhan pokok lain, umumnya untuk wisatawan dan khususnya untuk masyarakat nya itu sendiri.

Diagram diatas tidak sepenuhnya benar, namun kira-kira begitulah apa yang gue ketahui selama tinggal di Pandeglang sekitar ~18 tahun.

Kebutuhan

Diagram diatas menggambarkan kebutuhan pokok sebagai manusia, di dunia nyata ini yang meskipun sebenarnya fana. Oke, sekarang kita ke dunia digital.

Dunia digital tidak terbatas oleh bingkai daerah—meskipun harus mengikuti beberapa hukum yang ada pada daerah tersebut seputar itu—yang berarti kebutuhan yang dipenuhi sangat abstrak dan masalah yang coba diselesaikan sangat luas.

Jika mengambil kasus Pandeglang, jika sebelumnya masyarakat Menes kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari (khususnya yang tinggal di pelosok), mungkin dengan hadirnya minimarket menjadi solusi mengingat untuk ke pasar sebenarnya lumayan memakan waktu.

Ini di dunia digital, apa yang bisa di selesaikan dengan sesuatu dalam bentuk digital?

Sebenarnya banyak, tapi kembali lagi ke zaman. Apakah kita sudah siap untuk transisi tersebut, mengingat itu adalah hal yang baru? Dulu, "mall" di Serang seingat gue cuma 3: Roberta, Borobudur, dan Ramayana. Itupun relatif sepi karena masyarakat masih terbiasa belanja ke pasar (Trade center) untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Intermeso dikit, dulu di Pandeglang ada "mall" di sekitar tahun 2013. Karena keinginan masyarkat yang kala itu belum butuh dengan kehadiran mall, akhirnya mall tersebut berubah menjadi hotel.

Sekarang? Orang Pandeglang berbelanja ke Mall of Serang (MOS) ataupun ke Cilegon Center Mall karena di Pandeglang tidak memiliki mall.

Yang maksudnya, untuk membuat sesuatu yang baru, faktor waktu juga berperan disini.

Oke, anggap kamu ingin membuat sesuatu di dunia digital ini. Mata uang dalam dunia internet hanyalah "kuota", dan seperti uang 10rb; 100rb, dsb, nominal menentukan kualitas, yang dalam konteks disini berarti kecepatan & ketersediaan.

Sekali seseorang memiliki kuota tersebut, mereka bisa dengan bebas (well, tidak sepenuhnya) menjelajahi dunia internet sesuai kebutuhan masing-masing. Kita ambil contoh Pandeglang sebelumnya, anggap "wisatawan" internet ingin mencari hiburan. Di dunia ini, hiburan tersebut bisa berbentuk tontonan; permainan, ataupun tulisan & musik.

Anggap wisatawan ini adalah penikmat tontonan, dia berani mengeluarkan berapapun untuk memenuhi kebutuhan nontonnya tersebut. Dalam sisi pembuat, diagram sederhana untuk memenuhi kebutuhan wisatawan tersebut kurang lebih seperti ini:

Ambil contoh Netflix, orang-orang memilih Netflix daripada yang lain (selain faktor sosial) adalah karena:

  • Stok film Netflix lebih banyak
  • Netflix lebih cepat diakses & digunakan (walaupun yaa, kita sudah tau)
  • Dari sisi internal, Netflix memiliki nilai tambah yang tidak bisa dibandingkan dengan uang

Lapisan masyrakat di diagram tersebut—jika kita tidak ingin membuat the next netflix—antara lain ada:

  • Penyedia penyimpanan
  • "Penyalur" hubungan (CDN thing)
  • Pembuat film
  • Kru dalam membuat film
  • Pemelihara (most of "us" are here!)

Itu bila mengambil contoh Netflix, yang mencoba memenuhi kebutuhan pokok manusia terhadap kebutuhan tersier kita.

Dan seperti yang sudah dijelaskan diberbagai sumber seputar starap, semakin luas kebutuhan yang coba kita tawarkan, maka semakin luas pula tantangan yang harus dihadapi. Maka dari itu mereka menjual hal-hal yang bersifat ter-ceruk, seperti, alih-alih membuat rumah makan, kita memilih untuk menjadi penjual piring, petani wortel ataupun peternak ayam misalnya.

Target Pasar

Lihat setiap "entry point" dalam diagram diatas, semua adalah tentang target pasar. Yang mana—bila gue ambil contoh diatas—dia adalah seorang wisatawan.

Setiap panah yang ada, menunjukkan target nya masing-masing.

Dan jika dalam konteks target pasar, kita harus mengenal berbagai lapisan masyarakat, alias Stratifikasi Sosial.

Dan juga, kita harus melihat kapabilitas kita, ada dimana posisi kita tersebut secara vertikal. Seperti yang kita tau, penjual & pembeli adalah 2 hal yang saling membutuhkan. Bayangkan bila kebanyakan dari kita adalah pembeli, alias, siapa yang jualan? Silahkan balik sendiri pertanyaan tersebut.

Ya, supply & demand thing.

Tapi sekali lagi, berdasarkan observasi pribadi aja nih, ya "kita" kebanyakan berada di posisi sebagai konsumen, bukan produsen. Dalam arti lain, penyedia ya itu-itu lagi.

Para pemain besar, yang men-target-kan ke berbagai lapisan masyarakat, menggunakankan kapabilitas mereka.

Celahnya dari pemain besar adalah mereka tidak bisa melihat "secara dalam" apa yang ada di permukaan, bayangkan kamu melihat perkampungan dari atas gunung, pasti kamu tidak bisa melihat dengan jelas apa yang "terjadi" di kampung tersebut, bukan?

Nah, celah ini (khususnya para pemulai) bisa kita eksploitasi isi alih-alih melawan kompetitor yang lebih besar, pemain lama, dan lebih berdu....

Gue ambil contoh di daerah tempat gue tinggal, daerah Coblong. Ada sebuah penyedia internet yang mana target pasar nya adalah orang-orang yang tertarik membayar 50% lebih murah daripada menggunakan penyedia internet yang ada yang pastinya dengan keterbatasan yang ada.

Gue yakin kenapa indiehouse ngasih FUP karena salah satu faktor nya adalah orang-orang ini, hahaha.

Oke oke itu rada illegal, kita ambil contoh lain yang serupa. Gue pernah nongkong di salah satu sbux di jakarta, yang mana sampingnya adalah burger king. Seperti yang kita tau, de facto untuk layanan "wi-fi on-demand" kala itu hanyalah WIFI ID. Di kebanyakan sbux, rata-rata Wifi yang disediakan oleh mereka ditenagai oleh Wifi ID tersebut.

Waktu itu gue iseng menyambungkan ke Wifi gratis nya burger king di samping sbux tersebut, dan tidak ditenagai oleh wifi id tapi gue lupa apa gitu namanya. Yang mana gue membayar untuk menggunakan wifi tersebut dengan menjual informasi gue: Nomor telepon & alamat email yang pastinya palsu dong hahaha.

Yang maksudnya, hey, meskipun dia tau sebesar apa itu yang backing wifi id, tapi dia berani membuat layanan serupa, dan ya, mereka memiliki pembeli dari apa yang mereka jual tersebut.

Maksud tujuan

Sepertinya kita terjebak dalam mindset "untuk apa membuat sesuatu yang baru jika sudah banyak yang ada, terlebih blablabla". Jika ambil contoh sederhana, untuk apa misalnya ada kopi kenangan sedangkan sbux ataupun maxx coffee blablabla?

Sejak awal dibuatnya evilfactorylabs yakni untuk mencoba membantu para ataupun calon makers yang datang dari latar belakang individu, independen atau menengah kebawah untuk membuat sesuatu di dunia digital ini.

Jika kamu memiliki/bekerja di enterprise, tentu ada sumber yang lebih cocok untukmu, yakni Deep Tech Foundation yang digerakkan oleh para veteran teknologi yang sangat berpengalaman khususnya di organisasi ber-skala besar.

Kebanyakan dari kita—selain membuat marketplace—adalah membuat SaaS atau Software as a Service, yang mana itu menarik juga walau perlahan sedikit-sedikit telah diakuisisi oleh para raksasa.

Sejauh yang gue tau, beberapa SaaS yang ada di Indonesia antara lain kirim.email, yang sepertinya cocok untuk mengganti Mailchimp. Lalu ada feedloop, yang sepertinya cocok untuk mengganti Typeform.

Dan pastinya masih banyak produk lain yang tidak gue sebutkan diatas.

Ada satu target pasar yang sangat amat ingin gue rangkul: Independent Makers & UKM. Target pasar enterprise memang lumayan menjanjikan (B2B), tapi kalau berbicara tentang prinsip, uang menjadi nomor dua.

Makers disini tentu beragam, biasanya adalah content creator. Beberapa platform untuk content creator sendiri ada Trakteer yang sepertinya fokus ke illustrator & blogger, Saweria yang fokus ke streamer dan Karya Karsa yang mungkin lebih general.

Dan makers yang gue maksud adalah developers.

Gue ingin merangkul independent-independent developers seperti Odi misalnya yang membuat COVID-19 API as a Service, atau Sekolah (Hilman) & Kawan (Amirul) Koding yang membuat platform belajar pemrograman untuk developer lain. Dan berbagai makers lain pastinya yang target pasarnya bukan enterprise.

Untuk apa?

Untuk memberdayakan ekosistem developer di Indonesia.

Ingat, fokus gue disini bukan mencetak developer, tapi memberdayakan komunitas yang ada.

Jika kita terus-terusan berpangku dengan "yang sudah ada" khususnya dari daerah lain, kita mungkin mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Tapi ada 1 yang tidak kita dapat: Pembelajaran.

Jika mengambil contoh Trakteer, sudah ada platform lain (terlebih yang sudah besar) seperti Patreon dan Drip nya Kickstarter. Namun apa bedanya dengan mereka? Trakteer menjadikan creator di Indonesia sebagai target pasar utama mereka. Mereka mencoba untuk memenuhi kebutuhan creator tersebut, yang mungkin tidak terdapat pada platform yang sudah ada.

Itu cuma contoh, tapi disitu poinnya.

Tim Trakteer mungkin tidak mendapatkan pengalaman tentang membuat platform untuk creator tersebut (dan kebutuhan yang creator di Indonesia butuhkan), jika tidak membuat platform tersebut.

Kembali ke pembahasan, ini adalah tentang bagaimana menjadikan orang lokal sebagai penduduk utama. Diluar sana ada Udemy, Udacity dan Pluralsight, tapi kita punya Sekolah/Belajar Koding yang memang dibuat khusus untuk orang kita.

Jika kamu sedang atau sudah membuat sesuatu, kasih tau gue di Twitter. Gue dengan senang hati akan mempromosikan (dengan kapastias gue), memberikan feedback, dan mungkin menggunakannya juga.

Jika belum, make something. Terlepas profitable atau tidak, jika dipikiran lo cuma duit duit duit, itu kembali ke pribadi masing-masing. Tapi ada satu pelajaran yang bakal lo dapatkan: You build something.

Lo bakal tau gimana susahnya membuat sesuatu, memelihara nya (konsistensi), memasarkannya, dsb di dunia digital ini khususnya. Terlepas sukses/gagal, setidaknya ada pelajaran yang lo dapat.

Biasanya ada pikiran seperti membandingkan "buatan kita" dengan "buatan orang lain", yang lucunya, lo membandingkan sesuatu yang baru berjalan dalam waktu 1 tahun misalnya dengan sesuatu yang sudah dibuat selama 3 tahun.

Santai lah, nikmati prosesnya.

Pengen lo tetep menjadi pengembang atau pembuat, itu kembali ke diri masing-masing berdasarkan pertimbangan yang sudah dimiliki. Tidak ada masalah entah menjadi pengembang atau pembuat, wiraswasta atau pekerja negeri sipil, karyawan atau pemilik usaha.

Semua orang berhak memilih jalan hidupnya masing-masing, bukan?

Tapi gue berharap—setidaknya kepada yang membaca ini—memiliki ambisi untuk membuat sesuatu daripada terus bergantung dengan yang sudah ada. Gak masalah lo buat the next bukalapak, the next shopify atau apapun itu, selagi ada poin plus yang lo jual selain persaingan harga, jika memang "pengalaman" bukanlah poin utama dari tujuan lo.

Penutup

Kenapa gue ambisius dengan ini? Karena bila melihat kondisi sekarang, relatif mudah untuk dilakukan. Seperti, lo gak perlu keluar sumber daya banyak dulu untuk membuat sebuah landing page, ada ehm Bootstrap & UnDraw yang bisa membantu lo.

Mungkin organisasi lo (seorang game developer) tidak sebesar Ubisoft, atau Valve. Tapi ingat, sudah berapa tahun Valve & Ubisoft berdiri?

Mungkin produk yang lo buat tidak bermanfaat untuk orang banyak untuk saat ini, tapi setidaknya ada pelajaran yang bakal lo dapet dan kesalahan yang bisa lo pelajari.

Jadi, ya, go make something.

Menurut gue, enggak ada yang dirugikan misalnya kalau lo membuat the next tokopedia, the next shopify, ataupun the next github.

Kalau pertanyaan "gimana cara bikin orang pakai apa yang kita buat, bukan apa yang dibuat oleh X", itu pembahasan lain. Dan lo ga bakal dapet jawabannya, kalau lo belum membuat sesuatu tersebut.

Terima kasih.