Mati/Bunuh diri

Dan semoga tidak reinkarnasi

Mati/Bunuh diri

Ketika berbicara tentang kehidupan, kita harus menerangkan terlebih dahulu dunia yang mana yang sedang dibicarakan.

Meskipun definisi dari dunia itu sendiri lumayan kompleks baik menggunakan pendekatan teologi ataupun filosofi.

Dunia singkatnya adalah sebuah tempat dimana sebuah entitas beraktivitas, setuju?

Aktivitas ini banyak, menghirup udara; berbicara, mendengarkan, melihat, dan sebagainya.

Yang melakukannya pun beragam, ada manusia; hewan, tumbuhan, dan mungkin robot?

Setiap yang bernyawa, pasti akan mati.

Dan kematian adalah akhir dari kehidupan: ketiadaan nyawa dalam organisme biologis bila mengutip dari situs Wikipedia.

Tidak ada yang mengetahui persisnya kapan kematian itu akan datang, namun yang pasti adalah ia pasti datang.

Entah itu menjemput ataupun dijemput.

Disini yang akan saya bahas adalah dunia yang bernama sosial media, dan dalam dunia, ada sebuah konsep bernama masyarakat. Jika di dunia satu masyarakat terbagi berdasarkan teritori benua, kewarganegaraan, dan terkadang warna kulit, di dunia sosial media, yang membedakannya adalah: platform yang digunakan.

Masyarakat Twitter, masyarakat Instagram, masyarakat Quora, masyarakat LinkedIn, masyarakat Facebook, masyarakat Tiktok dan sebagainya.

Dan tahukah kamu bahwa salah satu arti dari platform itu sendiri adalah panggung?

Berbicara tentang kematian

Sekarang kamu sedang menatap layar, mungkin terlihat sedikit refleksi dari wajahmu di layar perangkatmu.

Sentuh mukamu, rasakan bagaimana rasanya.

Cubit sedikit lenganmu, dan rasakan bagaimana sakitnya.

Terkadang 2 aktivitas sederhana diatas berguna untuk memastikan kesadaran seseorang. Dan juga berguna untuk memastikan apakah dia sedang bermimpi (hidup di dunia ketika sedang tidur) atau sadar (hidup di dunia yang sedang dijalani ini).

Karena di dunia ketika kita sedang tidur, kita tidak mengenal konsep perasaan.

Kita tidak memiliki indra perasa.

Kita tidak bisa merasakan bagaimana mulusnya kulit kita, atau bahkan mencium wangi parfum dari orang yang kamu cinta.

Mati rasa.

Tapi di dunia ketika kita sedang tidur, kita mengenal konsep baik dan buruk.

Bukankah ada sebutan mimpi baik dan mimpi buruk, benar?

Dikatakan baik cenderung ketika mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, dan buruk berarti sebaliknya.

Dan kapan dunia ketika kita sedang tidur tersebut berakhir? Ketika bangun.

Baru kita sadar bahwa itu hanyalah mimpi, walaupun beberapa ada yang bisa sadar bahwa dia sedang bermimpi.

Bahwa pengalaman menyenangkan tersebut sebenarnya sementara & tidak nyata, begitupula ketika mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan, itu hanya sementara dan tidak nyata.

Dan hei, bahkah apa sih arti dari 'nyata' itu sendiri?

Oke oke, sekarang kita sedang berada di dunia yang kebanyakan orang menyebutnya dengan 'dunia nyata'.

Ketika seseorang mati (atau bahasa halus™ nya adalah meninggal) berarti nyawa orang tersebut sudah tidak ada pada jasad nya lagi. Nyawa sederhananya adalah gabungan antara jiwa dan ruh.

Ini ada ilustrasi menarik terkait perbedaan jasad, ruh, jiwa, dan nyawa:

Sumber

Peristiwa meninggal ini beragam: Ada yang karena kecelakaan, karena suatu penyakit, karena umur, atau bahkan karena sesuatu yang susah diterima oleh 'akal sehat' sekalipun.

Yang intinya, sebuah kondisi dimana sebuah jasad sudah tidak memiliki nyawa, jiwa dan ruh, tenaga, pikiran.

Mati.

Dia pasti akan datang menjemput setiap sesuatu yang bernyawa.

Bagaimana bila kematian tersebut dijemput?

Ketika makhluk yang bernyawa tersebut menjemput sendiri kematian yang mungkin belum waktunya untuk mati?

Kondisi diatas biasa disebut dengan Bunuh Diri.

Pelaku itu sendirilah yang menghilangkan nyawanya sendiri.

Tidak perlu takut dan cemas, selain karena kematian adalah sesuatu yang pasti, tapi tulisan ini bukan membahas tentang kematian yang ada di 'dunia nyata' ini.

Melainkan ke salah satu dunia yang ada di sebuah dunia bernama 'dunia maya', yakni 'dunia sosial media'.

Dan gue mencoba untuk bunuh diri dari dunia sosial media tersebut, mungkin gue sekarang sedang dalam kondisi sekarat: Antara hidup dan mati. Dan karena kebanyakan kasus bunuh diri mengharapkan mendapatkan pilihan mati, begitupula dengan pilihan gue.

Sebelum bertanya mengapa, izinkan gue untuk bercerita sedikit.

Berbicara tentang dunia sosial media

Pada sekitar tahun 2010, ada sebuah sosial media bernama Path.

Sebuah sosial media yang menawarkan fitur unik: Hanya boleh 'berteman' dengan 50 kontak yang kita ingin.

Alias, sebuah lingkaran/lingkungan yang hanya ber-anggota-kan maksimal 50 orang.

Banyak aktivitas yang dapat dilakukan di lingkungan tersebut: Berbagi apa yang sedang dipikirkan/dialami, lagu yang sedang didengarkan, film yang sedang di tonton, dan tempat yang sedang dikunjungi.

Dan ya, juga bisa membagikan foto, sebagai pelengkap dari aktivitas berbagi diatas.

Path relatif menjadi tempat yang lebih aman daripada sosial media lain yang sudah ada. Selain karena batasan dalam berteman yang lumayan sempit, juga karena profil yang ada di Path private by default.

Kita tidak perlu khawatir orang yang tidak kita kenal akan mengunjungi profil kita dan mencari tau aktivitas apa yang sedang/telah kita lakukan, karena secara teknis tindakan tersebut tidak bisa dilakukan.

Pada sekitar tahun 2018, Path memutuskan untuk mengakhiri layanannya.

Apalagi bila bukan karena alasan bisnis?

Banyak kenangan yang gue dapatkan dan simpan di sosial media tersebut, dari pengalaman kabur ketika masih belajar di pesantren; mendekati teman SMP yang memutuskan untuk sekolah di SMA non-pesantren, foto pertama kali ketika ke Jogja menggunakan motor, dan masih banyak lagi yang tidak bisa gue sebut satu-satunya.

Meskipun kenangan tersebut hanya hilang di Path, namun tidak diingatan gue.

Path menjadi sosial media terbaik menurut gue pada masa hidupnya.

Jika masyarakat internet sudah seperti sekarang—rela mengeluarkan $5/bulan demi menggunakan suatu layanan—gue pasti akan mengeluarkan uang tersebut agar Path bisa berkelanjutan dan untung, sekalipun tanpa menampilkan iklan.

Jika hilangnya nyawa seseorang disebut kematian, lalu apa sebutan untuk hilangnya sebuah dunia?

Mungkin beragam, namun yang gue tau disebut dengan kiamat.

Dan mungkin seperti kematian pada makhluk yang bernyawa, kematian pada dunia ini pun faktornya bisa sama. Mungkin karena kecelakaan (tertabrak planet lain?), penyakit (bumi sudah tidak sehat?), umur (bumi sudah tua dan renta?), atau karena sesuatu yang susah diterima oleh 'akal sehat' sekalipun (matahari terbit dari barat?).

Berbicara spesifik untuk Path, Path mati karena kondisi finansial yang tidak bisa menutup biaya operasional layanan dan pastinya juga karena tidak mendatangkan keuntungan terhadap pemilik layanan.

Tapi dunia nyata lebih kompleks dari sekadar dunia sosial media yang hanya tentang program, basis data, dan peladen.

Ketika kondisi finansial terus berwarna merah, dan sudah tidak ada harapan untuk bisa membuatnya kembali hijau, maka disitu kiamat terhadap dunia sosial media terjadi, umumnya terhadap setiap layanan yang dibuat di dunia maya.

Tapi itu bukanlah satu-satu nya alasan akan kiamat yang (akan) diciptakannya.

Sosial media terakhir (dan semoga) yang digunakan oleh gue adalah Twitter, bahkan Twitter lahir lebih awal daripada Path.

Ada beberapa hal yang membuat Twitter ini menarik khususnya terhadap diri gue pribadi, dan akan gue bahas sedikit tentang tersebut di bagian setelah ini.

Namun sebelum membahas Twitter, mari kita bahas sosial media lain selain Twitter terlebih dahulu.

Facebook

Sosial media yang sering gue gunakan dari awal adalah Facebook, meskipun gue pernah menggunakan Friendster dan MySpace juga.

Facebok ini datang pada waktu yang tepat, banyak aktivitas yang biasa gue lakukan di dunia nyata ini dapat dilakukan di dunia Facebook, namun yang paling kontras adalah bersosial, sebagaimana sebutan dari Facebook itu sendiri yakni sebuah tempat untuk bersosial.

Selain bersosial, gue dapat melakukan hal lain pula misal seperti melakukan permainan untuk mendapatkan hiburan.

Dan juga—karena gue belajar di pesantren—Facebook menjadi tempat untuk berkomunikasi dengan teman-teman yang tinggal di asrama putri yang jaraknya 5km dari asrama putra.

Facebook, pada saat itu, menjadi tempat idaman untuk pergi sejenak dari kehidupan pesantren yang sangat membosankan.

Facebook menjadi dunia mimpi gue, dan karena berbagai alasan—termasuk terkait prinsip—pada tahun sekitar 2018 gue memutuskan untuk mengakhiri kehidupan gue di Facebook.

Dan meninggalkan semua kenangan disana.

Instagram

Selain Path, sosial media yang sering gue gunakan lagi adalah Instagram, bahkan sebelum menjadi anak dari perusahaan induk Facebook.

Instagram relatif unik, dunia ini fokus dalam berbagi sesuatu berbentuk visual daripada tekstual. Di Facebook, kita fokus berbagi apapun itu dalam bentuk teks dan di Instagram, yang difokuskan adalah berbagi apapun itu dalam bentuk gambar/vidio.

Lalu mimpi baik (sekaligus mimpi buruk) datang ketika Instagram memiliki fitur yang disalin dari Snapchat: Instagram Story. Alih-alih berbagi foto/vidio yang masa hidupnya semi-permanen, Instagram Story menawarkan masa hidup tersebut maksimal 1 hari.

Ini cocok untuk berbagi apa yang sedang terjadi dalam bentuk gambar/vidio pada saat itu, entah ketika ada kebakaran; barang baru yang habis dibeli, kematian makhluk hidup lain, lagu yang sedang didengarkan, apapun.

Jika sesuatu tersebut layak (bagimu) untuk dibagikan melalui Instagram Story, maka sesuatu tersebut dibagikan melalui Instagram Story.

Instagram dulu juga sangat berguna untuk stalking seseorang, mengikuti kabar terbaru dari orang yang gue cintai, mendapatkan pembaruan tentang apa yang sedang terjadi pada hidup dia, sekalipun gue tidak melakukan interaksi secara langsung dengan dia.

Dan pada sekitar tahun 2019, gue memutuskan untuk mengakhiri kehidupan gue dia Instagram. Lagi-lagi dengan melakukan bunuh diri, meninggalkan semua kenangan yang ada pada dunia tersebut, disana.

Alasannya hampir sama—terlebih berasal dari satu perusahaan yang sama—namun ada alasan lain yang akan gue bahas di bagian Twitter.

Twitter

Pada sekitar tahun 2009 awal, gue memutuskan untuk menggunakan Twitter.

Sosial media ini fokus terhadap satu kondisi: Membagikan apa yang sedang terjadi.

Beda dengan Facebook yang menawarkan Facebook Group, Game, Marketplace, dan berbagai tetek bengek lain yang membuat pengguna terperangkap dalam dunia taman ber-dinding nya Facebook.

Tidak ada kenangan unik di Twitter, namun gue banyak mendapatkan sesuatu karena sebuah sosial media bernama Twitter ini. Dimulai dari mendapatkan teman baru, diundang ke sebuah acara ekslusif, mendapatkan pasangan, pekerjaan, dan masih banyak lagi.

Gue tidak peduli dengan angka Following, Followers, Retweet, Like, dsb. Yang gue peduli adalah apapun yang sudah gue sebut di paragraf sebelum ini, karena berdampak langsung terhadap kehidupan gue di dunia nyata ini.

Juga, lingkaran di Twitter gue selain orang-orang yang gue kenal secara in-person adalah orang-orang yang memiliki minat sama dengan gue juga. Seorang pengembang, penulis, pemilik bisnis, dsb.

Dan yang paling penting, Twitter adalah tempat yang pas untuk membagikan/mendapatkan apa yang sedang terjadi pada saat itu. Jika kamu sedang kecewa dengan layanan internet yang sedang kamu rasakan, kamu tau kemana harus mengeluhnya, dan kemungkinan kekecewaan kamu pada hari itu akan berubah.

Jika kamu ingin mengetahui apakah sedang terjadi gempa di Jawa Barat, kamu tau kemana harus mendapatkan informasinya selain (mungkin) ke situs resmi pihak yang bersangkutan.

Twitter menjadi tempat yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Dan pada hari ini, gue memutuskan untuk membunuh diri gue di Twitter.

Gue pertaruhkan nama gue demi konsistensi akan pertimbangan yang gue pilih.

Udah lama sebenarnya ingin keluar dari dunia tersebut, namun semoga hari ini menjadi ultimatum nya dan (semoga juga) tidak akan pernah kembali lagi.

Alasannya?

Akan kita bahas di pembahasan selanjutnya!

Tentang sosial media

Atau media sosial, you name it.

Akhir-akhir ini di lini masa gue ramai sedang membicarakan film terbaru yang terbit di Netflix berjudul The Social Dilemma dan sampai hari ini belum gue tonton karena gue sudah tidak berlangganan Netflix dari tahun-tahun lalu.

Tapi poinnya bukan disitu, poin nya adalah di Fear Of Missing Out atau yang biasa disebut dengan FOMO.

Tujuan sosial media adalah untuk membagikan apa yang sedang terjadi (termasuk apa yang sedang menjadi tren) dan efek sampingnya adalah menimbulkan perasaan takut ketinggalan.

Memangnya siapa sih yang mau ketinggalan kereta, bis, penerbangan, jaman, termasuk apa yang sedang menjadi tren?

Dalam pekerjaan sehari-hari gue sebagai seorang pengembang, tentu gue tidak ingin ketinggalan informasi terkait apa yang sehari-hari gue lakukan untuk hidup misal seperti rilis baru dari kerangka kerja yang gue gunakan, teknologi baru yang diharapkan bisa membuat pekerjaan gue menjadi lebih mudah dan cepat, dll.

Dengan Twitter, untuk mendapatkan informasi termasuk menjadi lebih mudah.

Karena pertama, lingkaran gue adalah orang-orang yang relatif memiliki minat yang sama juga. Dan kedua, sumber informasi tersebut kebanyakan akan dibagikan ke Twitter.

Sayangnya, gue akhir-akhir ini lebih banyak mendapatkan 'mimpi buruk' daripada 'mimpi indah' di dunia Twitter.

Terlebih ketika masa pandemik, orang-orang berlomba untuk menunjukkan apa yang benar dan salah, siapa yang benar dan salah baik berdasarkan keyakinan masing-masing ataupun berdasarkan sesuatu yang disebut penelitan dan data.

Dan ini tidak bisa dihindari, sudah banyak usaha gue untuk menghindari apa yang tidak gue inginkan, yang sayangnya tidak membantu. Dari menggunakan bantuan uBlock Origin untuk menghilangkan beberapa elemen yang berpotensi memunculkan mimpi buruk terhadap gue, sampai melakukan Mute Words; Mute Account, dan hanya mengikuti sedikit orang saja agar potensi muncul nya menjadi lebih kecil.

Tetap tidak membantu, yang sepertinya jalan keluarnya hanyalah keluar dari platform tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan

Gue masih memiliki pertanyaan-pertanyaan yang belum tau pasti jawabannya seperti apa.

Seperti, jika sebelumnya gue menggunakan Twitter untuk mendistribusikan apa yang gue kerjakan, sekarang pakai apa?

Jika sebelumnya gue menggunakan Twitter untuk mendapatkan pekerjaan, sekarang pakai apa?

Jika sebelumnya gue melakukan Shitpost™ di Twitter, sekarang pakai apa?

Jawaban pertama, gue punya RSS Feed. Mungkin orang-orang yang ingin mendapatkan pemberitahuan akan tulisan terbaru dari blog gue akan berlangganan ke RSS feed gue.

Jawaban kedua, sampai hari ini gue masih senang bekerja di tempat gue sekarang bekerja. Dan kemungkinan karir gue akan aman setidaknya sampai satu tahun kedepan.

Jawaban ketiga, gue pernah membuat microblog menggunakan Telegram Channel.

Sayangnya ini tidak cocok untuk gue, tapi bukan secara teknis. Tapi secara sebagaimana gue kurang cocok dengan Static Site Generator untuk menulis di blog. Dan mungkin gue akan menggunakan media lain tapi bukan Telegram Channel, mungkin di updates.faultable.dev?

Tantangan

Sangat sulit untuk meninggalkan sebuah kebiasaan.

Ya, ber-sosial media sudah menjadi kebiasaan untuk gue. Seringnya gue akan mengetik twitter setiap kali gue membuka tab baru di peramban, thanks to my muscle memory.

Dan juga, dalam proses meninggalkannya.

Ini sama seperti gue mencoba untuk meninggalkan LINE dan Instagram.

Dan alasan yang gue coba tanam untuk Twitter, sama seperti untuk LINE dan Instagram: Semuanya akan baik-baik saja, dan tidak akan ada yang berubah apalagi mencari; dan jika memang ada yang mencari, mereka akan tahu harus pergi kemana.

So, yes, sayonara!

Dan jika suatu saat nanti datang masa kiamat untuk Twitter sekalipun sudah IPO a.k.a too big too fail, gue sudah terbiasa untuk tidak bergantung dengan Twitter, dalam menjalani hidup.

Penutup

Apa tujuannya?

Mencari ketenangan.

Menciptakan kebahagiaan.

Mengurangi kebergantungan.

Data sudah bukan menjadi hal yang menjadi alasan utama lagi dalam meninggalkan sebuah layanan khususnya sosial media, melainkan tentang kesehatan mental akan kehidupan gue di dunia yang katanya nyata ini.

Harapannya, gue bisa menjadi lebih tenang dan bahagia, karena sudah tidak perlu khawatir akan ketinggalan kabar/tren baru, dan tidak perlu mengetahui (secara paksa) akan informasi yang sebenarnya tidak ingin gue dapatkan.

Dan juga, bisa mengalokasikan waktu ke sesuatu yang layak untuk diberi perhatian lebih, daripada hanya scrolling timeline atau membuka tab Explore untuk mengetahui tren yang sedang terjadi.

Mungkin hidup gue akan menjadi lebih boring. Tapi, ketika berbicara tentang kehidupan, kita harus menerangkan terlebih dahulu dunia yang mana yang sedang dibicarakan 😉

Terima kasih sudah membaca!


Sebagai catatan tambahan, saya tidak mati di dunia internet! Jika kamu ingin mengetahui kabar terbaru dari saya, silahkan berlangganan ke RSS feed saya, kunjungi halaman Now saya, atau bisa langsung kontak saya disini.

Dan juga saya masih aktif di blog evilfactorylabs, forum evilfactorylabs, discord evilfactorylabs, dan berbagai platform perpesanan lain seperti Whatsapp, Telegram, dan Signal.