Menemukan pola

published at Karena apapun yang terjadi pasti memiliki pola

Hidup adalah selalu tentang pola. Jika lapar, makan. Jika ngantuk, tidur. Jika haus, minum. Jika ngoding TypeScript, yaa resign.

Hahaha untuk yang terakhir cuma bercanda, kalau dibawa serius juga boleh.

Akhir-akhir ini ada 3 masalah yang gue hadapi yang sekarang udah gue temukan pola nya dan ingin gue bagikan, masalah-masalah tersebut antara lain:

Gue sudah melakukan percobaan tersebut ke diri gue sendiri, dan itulah mengapa gue mencoba untuk membagikannya melalui tulisan ini yang semoga bermanfaat.

Meskipun setiap orang pasti memiliki masalah yang berbeda-beda, satu hal yang gue yakin sama adalah satu: Pola.

Masalah yang kita hadapi pasti memiliki pola, akan kedatangannya.

Tentang Kesepian

Sebagai seorang perantau—terlepas jarak yang dirantau—kesepian adalah masalah umum karena salah satu alasannya adalah jauh dari keluarga.

Meskipun perantauan gue hanya terpisah dengan 1 provinsi, namun tetap, ketika bangun tidur yang gue lihat adalah tembok kosan sialan yang sudah sedikit luntur, bukan tatapan sinis nyokap yang tahu kalau anaknya kelewatan sholat shubuh lagi.

Anyway, gue tinggal di kosan 3x3 yang berlampu kamar redup dan berada di Bandung. Satu hal yang baru gue sadari ketika rasa sepi itu muncul adalah ketika gue menggenggam ponsel *pintar *gue.

Dan akan menjadi lebih parah ketika gue membuka sosial media.

Minggu ini gue mengaktifkan kembali Instagram gue untuk mengunduh semua data-data gue yang disimpan di server Instagram/Facebook, dan karena harus menunggu 1 minggu untuk bisa kembali deactive, gue pakai "kesempatan" tersebut untuk bisa terus terhubung ke jaringan media sosial bernama Instagram ini.

Pola gue menggunakan ponsel adalah beranjak dari kursi kerja gue, pergi ke kasur, dan mulai membuka aplikasi-aplikasi dari Bibit; Pintu, WhatsApp, Telegram, lalu ke Instagram.

Gue hanya memasang sedikit aplikasi di ponsel gue demi alasan untuk mengurangi penggunaan ponsel, dan itu gue rasa berhasil. Di WhatsApp gue hanya berkomunikasi dengan orang yang terdekat + grup kantor, di Telegram dengan teman-teman yang gue kenal dari internet, dan di Instagram basically gabungan dari WhatsApp dan Telegram itu.

Mari kita fokus ke Instagram, karena itu satu-satunya sosial media yang gue pakai setidaknya sekarang.

Apa yang gue cari dari Instagram?

Tentu saja fungsi utama dari sosial media itu sendiri: kabar.

Melihat kabar teman yang baru saja menikah, melihat saudara yang sedang liburan, teman-teman kampus yang baru saja kerja, dan masih banyak lagi termasuk pengguna yang memaksimalkan fitur Instagram Stories sekalipun hanya untuk membagikan musik yang didengar di Spotify atau film yang sedang ditonton di Netflix.

Pastinya, kita tidak hanya butuh mendapatkan kabar dari orang yang kita inginkan, hal lain yang ingin kita dapatkan adalah perhatian dari orang lain akan kabar yang kita bagikan.

Kita tidak bisa merekam Instagram Stories, unggah, dan lupakan. Tidak begitu cara kerja berbagi ke sosial media, karena jika kita tidak peduli dengan interaksi dari orang lain, kita tidak akan mempublikasikannya ke sosial media.

Dan dalam 24 jam, ada pemberitahuan yang kita nantikan dari seseorang yang mungkin peduli dengan kita. Sekalipun hanya balasan emoji tepuk tangan ataupun hati, setidaknya mereka sadar akan kehadiran kita; memberikan perhatian mereka ke kita, dan itu sudah mengisi sedikit rasa kebutuh-perhatian kita khususnya untuk orang yang membutuhkan perhatian seperti gue.

Sekarang kita buat kondisi kebalikannya: Bagaimana bila tidak ada yang peduli dengan pembaruan kita?

Mungkin kita akan bodo amat, setidaknya itu respon yang gue coba berikan. Tapi kenyataannya tidak begitu, ada alasan mengapa kita membagikan sesuatu khususnya ke sosial media.

Ada umpan balik yang kita butuhkan.

Sosial media adalah sebuah platform, sebuah panggung, bayangkan kamu sedang naik ke atas panggung, menunjukkan sesuatu yang ingin kamu tunjukkan, lalu tidak ada yang peduli dengan kehadiran kamu disitu.

Bodo amat? Mungkin itu yang kita pikirkan, setidaknya untuk menutupi perasaan yang sebenarnya dirasakan.

Namun di hati yang paling terdalam, ada sesuatu yang kita harapkan.

Tepuk tangan ataupun sekadar tatapan mata saja sudah cukup, apalagi bila mendapatkan yang lebih.

Dan dari situ gue merasakan kesepian, pola nya:

Mungkin gue bisa saja menggunakan sistem "read-only" dalam bermain sosial media, tapi sosial media yang gue gunakan seperti Instagram tidak dirancang untuk itu.

Mereka merancang Instagram sebisa mungkin agar penggunanya melakukan read-and-write. Ingat dulu ke Instagram hanya murni untuk membagikan foto dan ada kolom komentar serta tombol like? Sekarang ada Instagram Story, dengan fitur komentar. Sadar karena untuk memberikan komentar ada *effort *yang harus dikerahkan, Instagram memberikan "quick-response" dalam bentuk emoji yang hanya *one-tap away *untuk dilakukan.

Tapi poinnya bukan disitu.

Poinnya adalah sosial media disamping dapat membuat kita merasa tidak kesepian, dilain sisi dapat membuat kita merasa kesepian juga, ya, pisau bermata dua.

Cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalah yang gue alami ini adalah dengan tidak menggunakan Instagram, sebagaimana yang biasa gue lakukan. Tapi langkah yang gue ambil bukanlah itu, melainkan gue sedang membuat sosial media sendiri yang cocok untuk diri gue.

Stay tune ;)

P.S: Yes, I have so many personal project that never been finished, just like everybody, right?

Tentang Lupa Waktu

Pasti kita pernah merasakan lupa waktu seperti sedang melakukan sesuatu dan tanpa sadar kita sudah banyak memberikan waktu kita kepada itu sehingga kita mengorbankan hal lain yang seharusnya dilakukan.

Ini jadi masalah banget untuk gue, kasus yang sering gue hadapi adalah gue jadi lupa makan hanya karena gue terlalu asik berada di depan layar melakukan sesuatu yang mungkin gue sangat suka.

Mungkin itu adalah hal yang bagus—melakukan sesuatu yang gue sangat suka—namun sekali lagi, pisau bermata dua, ada banyak hal yang gue korbankan termasuk lupa nya jatah makan yang seharusnya gue lakukan.

Menemukan pola nya sendiri lumayan susah, namun satu hal yang gue sadar adalah ketika gue sudah duduk terlalu lama. Kadang kalau lagi pakai jam lumayan membantu, karena setiap 60 menit jam gue akan bergetar dan mengingatkan gue bahwa gue sudah duduk selama 60 menit.

...yang seringnya juga gue hiraukan hahaha.

Anyway, gue sudah berusaha dikit-dikit untuk menyelesaikan masalah ini. Hal pertama yang gue lakukan adalah mengatur waktu di kalender, karena kalender gue selalu memberikan notifikasi.

Misal, setelah bangun tidur. Gue mungkin akan terlena dengan browsing hal-hal gak penting yang menurut gue menarik, namun ketika waktu sudah menunjukkan jam 10 waktu Singapore, gue akan mendapatkan notif bernama 'Working Hours' dan dengan senang hati akan gue close tab-tab yang belum gue baca dan beranjak ke peramban lain khusus untuk bekerja.

Selain itu, gue juga mulai (kembali) membuat Todo list yang sebenarnya gak terlalu gue suka karena anaknya memang susah diatur.

Dan gue rasa itu menjadi masalah untuk gue, maka dari itu gue harus berusaha untuk mulai mencintai bagaimana rasanya diatur.

30 menit sebelum notifikasi working hours, gue akan mendapatkan notifikasi lain untuk mengatur apa aja yang ingin gue lakukan termasuk kirim laundry, makan siang, mandi, cek BCA mobile, dsb.

Gue rasa hidup gue sekarang menjadi boring, tidak seperti dulu yang tidak sangat teratur, yang setiap jam nya selalu menjadi misteri, dan setiap hari nya tidak berpola.

Kalau sekarang-sekarang, setidaknya yang tidak berpola hanyalah setelah jam 18 WIB ketika Senin-Jumat dan 24 jam ketika Sabtu dan Minggu.

Satu hal yang gue coba lakukan juga—setelah mendapatkan masukan dari bos gue—adalah dengan melakukan meditasi, dan setelah gue pelajari sepertinya itu bisa membantu gue untuk menjadi pribadi yang lebih mudah teratur lagi.

Tentang Fap

Gue rasa ini adalah sesuatu yang sensitif dan terkesan menjadi aib, but, whatever bro.

Setiap manusia pasti memiliki kebutuhan biologis, dan karena gue single plus belum menikah, apalagi yang bisa dilakukan selain bercinta dengan tangan yang biadab ini?

Mungkin alternatif lain yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan jasa open bo berpuasa dan selalu mendekati kepada yang maha kuasa, tapi gue tidak se-religius itu.

Pola gue melakukan aktivitas biadab ini terjadi bukanlah ketika setelah melihat lawan jenis berpenampilan seksi, melainkan setelah push kode gue ke GitHub.

Hahaha bercanda, gue enggak se-freak itu.

Oke oke aktivitas tersebut terjadi ketika malam dan gue sedang susah tidur yang biasanya karena gue kurang capek.

Ini sudah gue buktikan kemarin-kemarin malam ketika gue sedang ngantuk dan gue coba paksakan diri gue menonton bokep. Meskipun sudah gue tonton beberapa video yang menurut gue oke, ternyata gue lebih memilih tidur dan tidak ada rasa ingin melakukan fap karena gue udah lumayan ngantuk.

Yang meskipun gue udah merasa lumayan horny, what the fuck.

Biasanya kalau udah gak kuat menahan horny, gue akan mimpi basah, but, anyway.

Gue merasa itu menjadi masalah karena khawatir dengan kesehatan titit gue berikut terhadap aktivitas seks benerannya nanti.

Setelah mendapatkan pola nya, gue setiap hari berusaha untuk menjadi capek, jika tidak ada aktivitas lain selain ngoding, biasanya gue melakukan sesuatu yang sebenarnya gak urgent-urgent banget seperti nyapu kamar; membersihkan kipas angin dan dispenser, merapihkan meja kerja dan buku-buku, apapun itu yang bisa bikin gue capek.

Penutup

Menemukan pola untuk setiap masalah ini berguna untuk menentukan apakah gue merasa "oke" dengan aktivitas tersebut atau tidak, karena nantinya akan menjadi sebuah kebiasaan bila terus (di/ter)lakukan terus-terusan.

Misal contoh lain adalah meminum minuman ber-alkohol, gue tau polanya kapan aktivitas tersebut terjadi. No, bukan ketika sedih. Gue minum-minuman ber-alkohol ketika sedang bersenang-senang, bukan ketika sedang bersedih-sedih.

Setelah mendapatkan pola tersebut (yang terkait bersenang-senang), dan gue rasa itu tidak menjadi masalah, gue anggap aktivitas tersebut hal yang bisa gue maafkan for the sake of rewarding myself for all the hard work I put in.

Menemukan pola ini—di dunia nyata—relatif tidak terlalu sulit, yang perlu kita lakukan adalah menyadari apa yang kita lakukan. Setelah sadar, lalu mempertimbangkan apakah aktivitas tersebut harus dihentikan/dikurangi, jika iya, dilanjutkan dengan usaha yang harus dilakukan untuk memerangi itu.

Ya, sebatas berbicara tidak sesulit kenyataan sebenarnya, but trust me, in reality it is not that hard.

Justru yang paling sulit nya bukan disitu, melainkan di konsistensi.

Maka dari itu, cobalah melakukan dari hal yang paling kecil dan mudah, termasuk membuat agenda di kalender dan atau todo list. Tapi lakukan dengan konsisten, beri hadiah diri sendiri ketika merasa menang melawan yang ingin dilawan.

Yes, I speak for myself, not you.

Di tahun 2020, bukan produktivitas lah yang menjadi fokus utama gue. Melainkan bagaimana untuk bisa menjadi pribadi yang lebih santai dalam menghadapi apapun.

Sebagai catatan tambahan, gue pun sedang menganalisa pola bagaimana orang-orang memberikan traktir ke evilfactorylabs. Di mulai dari melacak event, karena gue gak punya kontrol terhadap diri mereka, kan?

Untuk insight, berikut data yang ada terkait bagaimana orang memberikan traktir ke evilfactorylabs: Bisa diakses disini Dari situ gue bisa berasumsi bahwa lebih banyak yang 'sudah mantap' untuk mentraktir daripada yang masih bingung (mengapa harus mentraktir). CTA tersebut adalah ini yang ada di setiap akhir tulisan: Please fix that Oops, gagal memuat data pendukung damn it. Untuk dukung-via-cta adalah yang pranala Dukung, dan yang mengapa-dukung-via-cta adalah yang sampingnya.

Jika melihat data dukung-via-trakteer, bisa diasumsikan bahwa 64 orang yang mengakses pranala Dukung  dan Mengapa saya harus mendukung, hanya 55 yang menekan tombol dukung-via-trakteer yang akan mengarahkan mereka ke halaman trakteer nya evilfactorylabs.

Alias, kemungkinan hanya 9 pembaca yang tidak tertarik untuk mendukung, dan gue rasa itu angka yang relatif kecil yang pastinya harus gue tingkatkan lagi agar lebih kecil.

Btw gue lacak dengan cara yang ramah privasi, terlebih gue tidak melacak pengguna yang mengaktifkan header DNT termasuk gue. Yang gue butuhkan hanyalah pola, pola bagaimana orang bisa pergi ke halaman trakteer.id/evilfactorylabs dan seberapa banyak.

Yang ingin gue tingkatkan adalah dari tulisan mana mereka mentraktir blog evilfactorylabs, yang gue rasa ini gak bisa dilakukan jika gue terus menggunakan *platform *trakteer. Gambarannya bayangkan seperti flattr, jadi setidaknya gue nanti bisa menentukan topik apa yang paling potensial (dan mungkin paling berguna) untuk disajikan ke pembaca.

In short, ya, semuanya adalah tentang pola. Kehidupan pun tentang pola, pengetahuan juga, apalagi pengalaman. Konversi pun tentang pola.

Dengan membuat tulisan ini semoga bisa membantu kamu untuk dapat menemukan pola, serta alasan dibalik mengapa harus menemukan/mencari pola tersebut.

Terima kasih, have a great day!