Meninggalkan Telegram

Bukan, bukan karena pembaruan terbaru dari Telegram

Sudah lumayan lama gue menggunakan Telegram, untuk berkomunitas; berkomunikasi dengan teman, atau untuk memesan Open BO.

Hahaha yang terakhir cuma bercanda.

Banyak perjalanan dari Telegram itu sendiri yang sudah gue lalui. Dari yang hanya sekadar aplikasi perpesanan antar pengguna biasa, sampai ada fitur super group; e2ee chat, instant view, video call, dan yang terakhir yang paling baru: Voice chat.

Kabar terbaru dari pembuat Telegram adalah Telegram pada tahun depan (2021) akan mulai mencari keuntungan (profit) yang singkatnya dari iklan. Telegram harus memiliki pendapatan untuk dapat terus beroperasi; ber-inovasi, dan selalu meningkatkan kualitas layanannya agar dapat memberikan pengalaman terbaik untuk penggunanya.

Terlebih pesaing Telegram adalah aplikasi perpesanan serupa yang dimiliki oleh perusahaan raksasa bernama Face***book. Telegram bagaimanapun harus terus beroperasi, terus bersaing dengan layanan perpesanan yang sudah ada, dan terus melakukan peningkatan khususnya di ranah privasi, karena perpesanan adalah domain yang sangat sensitif.

Berdasarkan narasi diatas, bisa diasumsikan bahwa alasan gue untuk meninggalkan Telegram adalah bukan karena alasan Telegram akan menampilkan iklan. Atau setidaknya karena Telegram akan mulai mencari cara untuk mendapatkan keuntungan.

Ada satu hal, alasan yang sangat personal, mengapa gue ingin meninggalkan Telegram. Let me tell you my dear fellow readers.


Jika kamu pernah melihat isi dari galeri hp saya, mungkin kamu akan sedikit heran karena saya hanya menyimpan 2 foto di hp saya: Tangkapan layar nomor Indihome dan tangkapan layar nomor rekening BCA pemilik kosan.

Dan itu sudah terjadi sejak lama.

Bukan berarti saya tidak suka melakukan aktivitas pemotretan. Saya sering membagikan sampah dalam bentuk foto ke Instagram via fitur Stories nya, dan juga terkadang ke Twitter, ataupun ke grup Telegram/WhatsApp.

Melainkan saya hanya benci kenangan.

Saya tidak suka mengenang.

Ya, saya ada pengalaman buruk dari aktivitas bernama mengenang ini. Dan percaya atau tidak, kenangan yang saya dapatkan selalu berakhir tidak menyenangkan, sekalipun diawali dengan hal yang indah.

Kejadian itu berawal pada tahun 2018, tahun dimana terakhir saya selalu menyimpan kenangan yang mana dalam bentuk foto di hp. Untuk apa? Tentu saja untuk mengenang, bukankah menyenangkan mengingat hal-hal yang indah?

Lalu sesuatu terjadi.

Hal indah tersebut sudah tidak menjadi menyenangkan.

Meskipun, bagaimanapun, saya akui itu masih menjadi hal indah sampai sekarang.

Namun aktivitas mengenang tersebut sudah tidak menjadi hal yang menyenangkan lagi, hanya memberikan rasa sakit; sedih, menyesal, marah, dan hal-hal negatif lainnya yang menurut saya kurang bagus khususnya untuk kesehatan mental.

Setelah memikirkan pertimbangan yang ada, saya memutuskan untuk menghapus beberapa foto yang tidak perlu disimpan dan memindahkan semua foto-foto yang ada ke sebuah direktori dalam keadaan ter-enkripsi (encrypted at rest).

Mungkin terlihat sederhana dan drama, namun sebagai seseorang yang merasakan langsung bahwa kenangan-kenangan tersebut sangat berarti dan berperan dalam kehidupan, pemindahan itu sangat sulit dan meresahkan. Namun karena sudah mantap, saya putuskan untuk melakukannya sehingga tidak ada satu foto pun yang tersisa di hp saya.

Saya memilih memindahkannya ke direktori yang ter-enkripsi daripada langsung dihapus karena saya rasa saya tidak ingin benar-benar menghapus kenangan tersebut.

Yang saya inginkan hanyalah tidak mengenang, bukan melupakannya.

Dan peristiwa mengenang seringkali terjadi ketika saya melihat sebuah foto.

Saya rasa, dengan melakukan encryption at rest sudah membatasi diri saya untuk tidak mengenang hal-hal yang ada disana, selain karena harus memasukkan passphrase, juga karena memakan waktu yang tidak sebentar karena berukuran lumayan besar.

Jadi, ketika diri ini memaksa untuk melakukannya, setidaknya itu bisa membantu untuk mencegah kecuali memang saya sedang/sudah benar-benar siap untuk melakukannya.

Lanjut, direktori tersebut saya beri nama 2018. Dan ternyata, tidak berhenti sampai 2018 saja. Ada direktori lain bernama 2019 juga, dan tentunya, bernama 2020 juga.

Yang berarti, saya memiliki kenangan indah pada tahun tersebut, yang saya paksa untuk tidak saya kenang kembali karena hanya memberikan rasa sakit; sedih, menyesal, marah, dan hal-hal negatif lainnya yang menurut saya kurang bagus khususnya untuk kesehatan mental.

Itu alasan mengapa saya benci mengenang dan kenangan, karena mungkin saya belum pernah mendapatkan kenangan yang benar-benar indah, yang tidak bersifat sementara.

Kembali ke pembahasan, di Telegram, ada banyak kenangan yang tersimpan disana. Kenangan sesederhana awal terbentuknya ormas evilfactorylabs, grup kantor tempat pertama kali bekerja sebagai profesional, orang random yang saya kenal dari internet (termasuk yang pertama, halo Nusendra!) sampai menjadi teman di dunia nyata, berikut hal-hal lain yang tidak mungkin saya sebutkan semuanya disini.

Semuanya tersimpan di Telegram.

Sebagai catatan, bukan berarti saya menyesal atas apa yang terjadi di Telegram, bukan. Saya hanya tidak ingin mengenang apa yang sudah terjadi disana, dan saya tidak bisa menghapusnya.

Jadi, saya serahkan ke Telegram dengan fitur auto delete account nya jika selama 3 bulan saya tidak pernah membuka Telegram lagi.

Telegram membuat saya menjadi lebih mudah berkomunikasi dengan orang random di internet. Saya pernah mendapatkan pekerjaan paruh waktu sebagai pengembang Laravel; Ruby On Rails, dan Codeigniter yang mana berawal dari komunikasi melalui Telegram.

Dan juga komunikasi-komunikasi lain seperti seseorang bertanya tentang pemrograman, meminta saran dalam menentukan jenjang karir, sampai ke yang paling random minta tolong mengambilkan buku (dan mengirimkannya ke Bekasi) di Upnormal Dipatiukur cuma karena gue pernah bikin twit kalo sering kesana, terus dia dapet kontak gue dari link di profile twitter gue yang mengarah ke faultable.dev/dm.

Anjing random banget. Tentu saja permintaan tolongnya gue tolak dengan jawaban yang tidak menyinggung, karena, random banget goblok.

Oke oke peristiwa itu juga males gue kenang karena buang-buang waktu walau tidak membuat sedih, dan tentu chatnya sudah gue hapus meskipun kenangannya masih ada setiap gue membayangkan Telegram.

Lanjut, yang berarti, saya sudah tidak menggunakan handler faultable di t.me/faultable lagi di Telegram. Cek halaman Contact untuk konteks.

Lalu, untuk teman-teman yang hanya berteman dengan saya di Telegram, jika kamu merasa kenal dengan saya (serta sebaliknya) dan masih ingin berkomunikasi dengan saya melalui aplikasi perpesanan instan, bisa kirim saya email ke hi@faultable.dev, nanti akan saya kirimkan nomor WhatsApp saya dan kita lanjut disana.

Untuk teman-teman yang sudah menyimpan nomor saya, tidak ada yang harus dilakukan lagi! Saya ada di WhatsApp, meskipun tidak menampilkan bagian about karena tidak penting, tidak memasang foto profil karena tidak menarik, dan gak bikin WhatsApp Stories™  karena ga ada alasan aja.

Untuk orang random, kamu bisa mengirim saya email ke hi@faultable.dev! Saya lebih senang mendapatkan email (khususnya dari manusia) daripada mendapatkan pesan instan, jadi, jangan sungkan untuk mengirimi saya email!

Fwiw, sudah lumayan banyak yang berkomunikasi dengan saya melalui email, dan saya sangat senang karena dapat berkomunkasi dengan orang lain yang tidak menjadikan email hanya sebatas tempat untuk hal-hal terkait transaksi seperti untuk mendapatkan pranala mengatur ulang kata sandi; struk pembayaran, dsb.

Ada satu hal lagi yang ingin saya bagikan, dan sebenarnya tidak penting.

Saya memikirkan ulang konsep 'pertemanan' yang mungkin bila kamu membaca blog saya ketika masih menggunakan alamat 108kb.io, kamu ingat tulisan saya tentang mempersempit pertemanan.

Dan saya memikirkan ulang konsep tersebut, yang mana menjadi lebih mempersempit lagi pertemanan. Entahlah, terkadang saya khawatir akan timbulnya trust issue dalam diri saya, termasuk kepada diri saya atas hal-hal yang terjadi pada diri saya.

Pendekatan lebih mempersempit lagi pertemanan saya dimaksudkan untuk menghindari timbulnya trust issue pada diri saya, yang semoga membantu. Bukan berarti saya membenci kenal dengan orang baru, ataupun menutup rapat diri saya kepada orang lain.

Tidak.

Dalam menjalani hubungan—pertemanan, persahabatan, percintaan, pekerjaan—satu hal yang selalu saya junjung tinggi adalah Trust.

Mungkin saya terlalu ber-ekspektasi tinggi dalam trust ini, atau mungkin saya terlalu egois karena mengharapkan hal yang sama dari orang lain sebesar saya melakukannya kepada mereka, karena setiap orang berhak atas pilihan nya, bukan?

Entah apapun jawabannya, saya sepertinya ingin membatasi cara saya berhubungan dengan orang lain.

Saya selalu gagal dalam hal pertemanan, terlihat dari beberapa teman yang sudah menganggap saya hanya sebatas sebagai kenalan, bukan teman.

Saya selalu gagal dalam hal persahabatan, terlihat dari beberapa sahabat saya yang kondisinya hampir serupa dengan kondisi diatas, for fucking real.

Saya selalu gagal dalam hal percintaan, hubungan profesional, mungkin juga hubungan dengan keluarga, dan yang lebih parah adalah dengan tuhan.

Entahlah, mungkin itu balasan menjadi orang yang egois seperti saya.

Tapi itu tidak semua, hanya beberapa. Dan lebih mempersempit pertemanan ini semoga dapat membantu mengobati sakit yang saya rasa, sampai waktunya menjadi pulih kembali dan siap untuk lebih membuka diri lagi.

Langkah utama yang dilakukan adalah dengan tidak menggunakan Telegram, karena gerbang utamanya saya rasa adalah itu.

Jika kamu mungkin merasa sedih ketika membaca ini, gak usah lah. Itu bagian saya. Urusan saya. Tanggung jawab saya. Tugas kamu disini hanyalah membaca dan mentraktir agar saya kaya raya dan dapat membelikan semua orang sweater lucu.

Sebagai penutup, selamat natal untuk teman-teman yang merayakan! Bagaimana kamu menikmati hari natal kali ini? Berkumpul bersama keluarga? Berlibur dengan kerabat? Atau, menikmati sendiri ditemani oleh wiski? Apapun yang kamu lakukan, selamat menikmati!

Namun saya tidak bisa mengikuti.

Bukan karena saya tidak menghormati ataupun merayakan, melainkan saya sedang tinggal jauh dengan keluarga; dan para kerabat sedang pulang kampung ataupun liburan dengan pasangan/kerabatnya, dan saya hanya menikmati minuman ber-alkohol ketika sedang bersenang-senang, bukan ketika sedang menyedihkan.

Terima kasih atas pengertiannya dan juga sudah mendengarkan cerita saya.