Menjadi dewasa

Karena kedewasaan adalah tentang bagaimana menyikapi sesuatu.

Biasanya dewasa/tidak dewasanya seseorang diukur dari sebuah angka bernama umur, karena umur seringkali disandingkan dengan banyaknya pengalaman yang ia didapat.

Kedewasaan adalah tentang belajar, tentang bagaimana memberikan sikap ketika menghadapi sesuatu.

Kita lihat anak kecil, seringkali anak kecil dipenuhi oleh rasa takut.

Dimulai dari takut berdiri, takut berjalan, takut mengayuh sepeda, dan sebagainya.

Dari 3 contoh diatas saja, memiliki keluaran yang sama: Takut jatuh.

Lagipula, siapa juga yang tak takut jatuh baik itu anak kecil ataupun orang dewasa?

Ketika anak kecil tersebut sudah bisa & berani berdiri, meskipun kadang kala jatuh, ada satu hal yang ia pelajari: Rasanya jatuh.

Mungkin mereka berpikiran ternyata jatuh tidak seseram yang ia bayangkan?

Lalu ia pun belajar berjalan, dan jatuh. Belajar mengayuh sepeda, lalu jatuh.

Kedewasaan adalah sebuah proses yang bersifat terus-menerus, dan bukanlah sebuah hasil akhir.

Dan proses yang bersifat terus-menerus tersebut merupakan sebuah proses yang bernama belajar.

Akan berbeda rasanya ketika ia jatuh pertama kali ketika berjalan ataupun bersepeda, dan juga ketika ia jatuh mungkin untuk yang ke 13x nya?

Dari situ ia belajar tentang bagaimana menyikapi sesuatu, dimulai dari sesederhana ketika jatuh dari sepeda.

Lalu ia beranjak dewasa, banyak hal lain yang belum ia rasakan lagi.

Misal, ketika ia melamar sebuah pekerjaan.

Ketika pertama kali ditolak, tentu rasanya sangat sakit. Kecewa. Putus asa. Dan sebagainya.

Namun pasti beda cerita ketika ia pernah ditolak berkali-kali, ia sudah tahu bagaimana cara menyikapi sebuah penolakan.

Saya setuju dengan konsep bahwa kedewasaan berbanding lurus dengan pengalaman, terlepas dari angka usia orang tersebut.

Karena ia berpengalaman—pernah merasakan suatu kejadian—ada banyak hal yang bisa ia pelajari.

Seorang Software Engineer yang dianggap senior seringkali orang tersebut adalah yang sudah berpengalaman lama pada bidang tersebut, dan dia sudah mengalami banyak hal dari yang baik sampai ke yang buruk sekalipun.

Dan apa yang membedakan dia dengan Junior? Pembelajaran. Dari pengalaman tersebut, ada pelajaran yang sudah dia pelajari dan mungkin belum dialami oleh si Junior.

Ya, menjadi dewasa juga adalah tentang waktu.

Maka dari itu, carilah pengalaman sebanyak-banyaknya.

Sebagaimana yang kita tahu, hidup tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita inginkan. Dan pengalaman, menjadi obat dari rasa sakit ketika merasakan kegagalan.

Gagal cumlaude ketika S1, gagal masuk perusahaan impian, gagal nikah tahun depan karena ditinggal rabi, gagal pergi ke luar negeri karena pandemi, dan masih banyak kegagalan lagi yang mungkin belum dirasakan.

Semua orang pastinya tidak ingin gagal, dan orang bijak bilang belajarlah dari kegagalan orang lain. Sayangnya, pengalaman itu bersifat subjektif.

Akan berbeda rasanya ketika kamu belajar dari orang yang misalnya gagal cumlaude ketika S1 karena memang dia tidak sungguh-sungguh untuk mencapai itu, dan sedangkan kamu sebaliknya: bersungguh-sungguh untuk mendapatkan itu.

Mungkin polanya sama, tapi yang perlu di cetak tebal disini adalah rasanya.

Jatuh dari sepeda ke tanah saja sudah beda rasanya dengan orang lain yang jatuh dari sepeda ke lapangan golf, kan?

Poinnya, dari kesalahan/kegagalan kita akan belajar. Terlepas dari apakah kita mengulangi kesalahan/kegagalan yang sama lagi, yang perlu di garis bawahi adalah setidaknya kita sudah tahu bagaimana rasanya.

Dan karena sudah tahu bagaimana rasanya, maka cara kita menyikapinya pun pastinya akan berbeda.

Dan disitulah sifat kedewasaan kamu diuji.

Teman saya yang fresh graduate hampir frustasi dan ingin pulang ke kampung halaman karena lamarannya seringkali ditolak. Saya tahu bagaimana rasanya ketika lamaran ditolak, karena saya sudah pernah merasakannya.

Jika saya suatu saat melamar sebuah pekerjaan dan ditolak, cara saya menyikapinya pasti berbeda dengan ketika pertama kali saya ditolak.

Kalau sekarang mungkin lebih chill, dan semoga teman saya pun begitu.

Sebagai penutup, pola menjadi dewasa sebenarnya sederhana:

  1. Sadar bahwa segala sesuatu tidak akan selalu berjalan sebagaimana yang kita inginkan
  2. Ambil pelajaran dari kegagalan tersebut
  3. Chill

Meskipun saya mungkin masih belum dewasa, bagaimapaun menjadi dewasa adalah sebuah proses yang bersifat terus menerus.

Dan 3 hal diatas adalah yang saya pelajari untuk menjadi dewasa.

Silahkan ingat-ingat ketika kamu masih kecil dulu yang hanya bisa menangis ketika ingin memiliki mainan tapi tidak dituruti, dengan kamu sekarang yang mungkin sudah tahu harus melakukan apa untuk bisa memiliki mainan tersebut.

Rasa takut pasti ada, kekecewaan pasti terjadi, dan sakit sudah pasti yang dirasakan ketika mendapatkan kegagalan. Tapi lihat dirimu sekarang, mungkin kamu sudah lupa dengan sakitnya jatuh dari sepeda 17 tahun yang lalu?

Mungkin kamu sudah lupa kecewanya kamu ketika tidak dibelikan tamiya 10 tahun yang lalu?

Segala sesuatu pasti berlalu, serta kamu mendapatkan pelajaran dalam bentuk pengalaman.

Dan dirimu di 10 tahun kedepan akan berterima kasih kepada dirimu saat ini untuk segala pengalaman yang telah kamu rasakan, trust me.