Menulis adalah keterampilan

Dan seperti yang kita tau, keterampilan harus (selalu) diasah

Menulis adalah keterampilan

Menulis, berbicara, merasakan dan mendengarkan adalah 4 keterampilan yang harus (selalu) diasah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam kehidupan, kita tidak bisa menghindari 4 aktivitas tersebut baik di dunia nyata ataupun maya (not meant to offending disability).

Di keseharian, kita selalu berurusan dengan tulis-menulis. Menulis email untuk client, menulis pesan singkat di Telegram, membuat status di Twitter, dan ya, menulis kode juga pastinya.

Sebagai seorang developer, kita peduli dengan kode yang rapih; Kode yang jelas, kode yang mudah dibaca, kode yang konsisten, dsb. Agar maksud kita dalam menulis kode bisa dipahami juga oleh developer lain dan tidak menyebabkan terjadinya kalang-kabut karena ke-tidak-konsisten-an terhadap kode yang sudah ditulis.

Sehingga, 'informasi' yang kita maksud dapat tersampaikan dengan baik entah itu kepada mesin ataupun manusia.

Disini, kita akan membahas tentang menulis. Ini bukan guideline, ataupun best practice. Jika kamu berharap tulisan ini tentang 2 hal tersebut, silahkan bisa tutup tab ini. Jika tidak, mari kita mulai membahas dari 'Mengapa' nya.

Mengapa menulis? Bagian 1

Sebagai manusia (well, sapiens) kita selalu berhadapan dengan yang namanya komunikasi. Baik itu secara verbal, tekstual, ataupun visual. Komunikasi pada dasarnya adalah tentang menyalurkan informasi dari sumber ke tujuan. Namun tidak sesederhana itu, karena 'sumber' dan 'tujuan' memiliki cara yang berbeda-beda tentang bagaimana mereka mengirim & menerima informasi.

Menulis adalah salah satu cara untuk mengirim informasi dalam bentuk tulisan. Kita sudah bertahun-tahun terbiasa menyerap informasi dari tulisan, selain karena dari kecil kita sudah diajari tentang tulisan, juga (berdasarkan opini saya) tulisan menjadi media yang paling ramah aksesibilitas.

Seseorang yang kurang beruntung untuk bisa melihat, bisa menyerap informasi dari tulisan menggunakan bantuan teknologi yang disebut text-to-speech, dan seseorang yang kurang beruntung untuk bisa mendengar, bisa menyerap informasi dari tulisan dengan cara... Membaca?

Saya kira hampir semua orang yang menggunakan teknologi bisa membaca, bukan?

Menulis ada seni nya, katanya. Saya bukanlah seorang seniman, hanya seseorang yang terbiasa menulis melalui media bernama blog. Jadi tidak bisa membenarkan argumen tersebut.

Selain karena saya tipe orang yang sangat senang berbagi, juga aktivitas menulis ini menimbulkan hal-hal positif kepada saya. Perasaan seperti tenang, lega, dan senang muncul baik itu ketika menulis ataupun setelah menerbitkannya.

Karena saya bisa mengutarakan apa yang saya rasakan; Yang saya pikirkan, dan yang saya pendam. Mungkin menulis (termasuk menulis blog) bukanlah satu-satunya cara, namun cara ini lumayan efektif untuk saya. Terlebih, pada zaman ini kita memiliki sosial media & mesin pencari yang handal, maksudnya adalah agar apa yang ingin kita sampaikan jadi lebih mudah ditemukan oleh orang lain, jika memang itu tujuan kita.

Sebagai seorang developer yang menulis kode di kesehariannya, aktivitas ini adalah sesuatu yang lumayan menantang. Akan ada cara baru, teknologi baru, masalah baru yang terjadi di keseharian kita. Sayangnya, manusia adalah tempat salah & lupa. Bagaimanapun, bug ini tidak akan pernah ada patch nya.

Beruntungnya, kita bisa membuat masalah ini dari yang sebelumnya no fun menjadi sedikit fun.

Adalah dengan mendokumentasinya, sebagaimana apa yang kita lakukan terhadap kode kita. Namun disini kita bukan mendokumentasikan sebuah API, melainkan segala sesuatu tentang apa yang kita pikirkan.

Ya, segala sesuatu.

Termasuk sesuatu yang baru saja dipelajari, bug yang baru saja di solve, solusi yang baru saja ditemukan, peristiwa lucu yang baru saja dialami, ide yang baru saja didapat, sampai perasaan yang terpendam.

Mengapa menuils? Bagian 2

Tidak bisa dipungkiri bahwa otak manusia tidak dirancang untuk mengingat dan sayangnya lagi, otak (kita) selalu aktif untuk melupakan sesuatu. Tidak heran mengapa Google lebih bisa mengingat apa yang kita cari & kunjungi dalam 1 tahun daripada kita, karena Google bisa menyimpan miliaran informasi lebih dari (otak) kita di sebuah media bernama basis data.

Hey, apakah kamu ingat pada tanggal 18 Januari 2020 kamu kemana saja? Google (salah satunya) mungkin ingat, bahkan bisa tepat tanpa imbuhan 'kayaknya' sebagaimana apa yang biasa kita lakukan dalam mengingat sesuatu.

Yang maksudnya, kita harus menerima bahwa kita tidak bisa mengingat sesuatu yang sangat banyak untuk beberapa kurun waktu. Yang artinya, bila suatu saat kita ingin mengingat kembali sesuatu tersebut, kita harus melakukan sesuatu, seperti... Mendokumentasikannya?

Itulah mengapa di dinding rumah/kamar mu terdapat foto-foto yang sudah dilihat, di mejamu ada buku-buku yang sudah dibaca, dan di handphone mu ada rekaman suara yang sudah didengar. Karena kita ingin mengingat lagi 'sesuatu' itu, entah untuk alasan apapun.

Dokumentasi (/do·ku·men·ta·si/ /dokuméntasi/) n pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dalam bidang pengetahuan.

Dokumentasi dibuat untuk diabadikan, dan dikenang.

Mengapa menulis? Bagian 3

Bagaimana kamu bisa tau bahwa kamu memahami sesuatu dengan benar?

Hari ini mungkin kamu mempelajari bagaimana mengatur state dengan Business Logic Component (BLoC), cara membuat REST API di lingkungan Node.js, atau cara membuat Animasi Sederhana dengan CSS Keyframes. Bagaimana kamu tau bahwa apa yang kamu pelajari tersebut benar-benar kamu pahami?

Dan apakah kamu yakin suatu saat nanti kamu masih ingat apa saja API yang dimiliki oleh Mongoose—sebuah ODM untuk MongoDB di Node.js—yang harus kamu gunakan?

Kamu bisa menyelesaikan masalah ini dengan dokumentasi, mungkin kita ingat bahwa cara membuka berkas di Node.js bisa menggunakan readFileSync, namun mungkin kita lupa parameter apa yang ada di function tersebut beserta tipe datanya. Seperti di teknologi database, kita familiar dengan indexing.

Indexing adalah seperti 'mengingat' banyak jumlah data, namun hanya 'yang penting' saja yang harus diingat sehingga proses pencarian data menjadi lebih efektif. Seperti kasus diatas tadi, bukan? Bayangkan effort antara googling "how to read file in Node.js" dengan "readfilesync node". Kita hanya butuh API nya, bukan konsep ataupun tutorial.

Keuntungan menulis

Bukankah kita sudah membahasnya diatas?

Tapi ada satu yang belum saya bahas diatas, tentang Learning by sharing. Tidak tau mengapa saya kurang suka dengan kalimat teaching dibanding sharing yang padahal tujuannya sama.

Beberapa ada yang bisa memahami sesuatu hanya dengan membaca konsep, dan beberapa ada yang dengan cara praktik alias learning by doing. Disini, kita melakukannya by sharing. Yang mana mencakup 2 hal diatas (juga): Konsep & Praktik. Menulis adalah tentang menyalurkan informasi, dan di konteks ini pertukaran tersebut terjadi antara otak kita dengan tangan kita.

Menjelaskan konsep (dengan cara kita sendiri) lewat tulisan membuat kita 'meyakinkan diri' apakah kita benar-benar mengerti konsepnya atau tidak, dan menulis bagian-bagian terapannya (dengan cara kita sendiri) membuat kita tau apakah yang kita pahami tersebut terkait konsep benar juga secara praktik.

Penulis dituntut untuk menjelaskannya sejelas mungkin karena 'tujuan' dari penyaluran informasi tersebut adalah penulisnya itu sendiri. Jadi, ketika suatu saat penulis ingin mengingat ulang tentang apa yang sudah pernah dia pelajari, dia bisa membaca ulang dengan efektif menggunakan gaya penyampaian yang dia gunakan.

Asiknya, selain belajar, kita sekaligus melakukan dokumentasi juga dalam waktu yang sama. Plus, "mengajari" (what's the better name for this?) kepada orang lain juga tentang apa yang kita pelajari/ketahui tersebut. Orang lain (dan yourself in future) akan berterima kasih kepadamu karena telah menulis itu, percayalah.

Bagaimana cara menulis?

Tinggal tulis apa yang ingin ditulis. Klasik, tapi beneran. Serius.

Kamu menemukan bug baru? Tulis tentang bug baru tersebut, dari baris kode mana yang menyebabkan bug tersebut muncul; apa pesan errornya, dan tulis solusinya jika kamu sudah menemukannya.

Tidak menulis hal teknis? Tulis saja. Merasa sedih? Tulis kenapa kamu sedih, bagaimana awalnya, sesedih apa yang kamu rasakan, nagaimana kira-kira caranya agar kamu tidak merasakan itu lagi, dll.

Bahkan jika kamu belum menemukan jawabannya pun, tulis saja bahwa kamu belum menemukannya. Mungkin kamu akan mendapatkan jawabannya nanti, atau mungkin ada orang lain yang mengetahui jawabannya. Who knows.

Menulis adalah tentang berkomunikasi. Antara pikiran dan perasaan. Antara otak dan tangan. Menurut saya tidak ada salah/benar dalam menulis di konteks ini. Kamu bukan sedang menulis skripsi, atau kode, atau atau surat resign ataupun lamaran.

Tulis apa yang ingin kamu sampaikan, sejelas sebagaimana kamu bisa membacanya dengan jelas; Se-asik sebagaimana kamu bisa membacanya dengan asik, sebanyak apa yang ingin kamu sampaikan. Mungkin gaya menulis kamu masih acak-acakan (like me), pungtuasi tidak berpola, bahasa terlalu bebas, dll.

Tapi kamu tidak akan mengetahuinya bila kamu belum memulai.

Dan kamu bisa mengembangkan gaya menulismu tersebut ketika sudah terbiasa dengan menulis. Ya, seperti subjudul dari tulisan ini: Keterampilan harus (selalu) diasah. Dan pengasahan bersifat kesinambungan. You got the point.

Yang saya pelajari dari menulis

Banyak, sangat banyak. Tapi ini hanya berdasarkan yang saya rasakan.

Pertama, saya merasa lebih baik dalam menyampaikan informasi kepada orang lain. Karena saya sering dituntut untuk bisa menyampaikan informasi sejelas mungkin (dan harus mudah dipahami) kepada tujuan (baca: saya) ketika menulis sesuatu.

Kedua, saya merasa lebih baik dalam berkomunikasi dengan orang lain. Karena saya sering dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan tujuan (baca: saya) se-asik mungkin. Ya, saya kurang suka dengan sesuatu yang membosankan. Dan saya harus bisa menyalurkan informasi dengan cara tidak membosankan atau saya (sebagai pembaca) merasa malas untuk membacanya karena membosankan.

Bukankah kita semua setuju bahwa kita suka dengan orang yang asik diajak berkomunikasi?

Ketiga, saya merasa lebih baik dalam mengingat sesuatu. Oke mungkin ini bohong, secara teknis bukan saya yang mengingat, tapi catatan-catatan saya.

Saya mungkin cuma hafal index nya, tapi catatan saya lah yang mengetahui selengkapnya. Seperti, mungkin saya lupa bahwa pada tanggal 30 Januari 2020 saya menulis tentang "Menulis adalah keterampilan", tapi setidaknya saya ingat bahwa saya pernah menulis tentang itu, dan saya tau harus kemana untuk bisa mengingat kembali.

Terakhir, saya merasa lebih lega. Bagaimanapun setiap orang pasti memiliki kesibukan & urusan masing-masing, dan terkadang kita membutuhkan 'seseorang' untuk mendengar cerita kita, salah satunya agar kita bisa merasa lebih tenang karena telah meng-ekspresikan yang dipendam.

Sebelumnya saya melakukannya dengan menulis, yang mendengarkan ceritanya adalah teks editor (dan blog) kita. Jika sekiranya apa yang saya tulis tersebut tidak terlalu pribadi, pasti akan saya bagikan ke publik/internet.

Bagaimana jika terlalu pribadi? Mungkin cukup tulis dan jangan dibagikan. Bisa tulis di buku fisik, ataupun media lain yang sifatnya pribadi. Bagaimana jika merasa lega nya ketika apa yang kita pendam benar-benar didengarkan oleh orang lain?

Dulu saya belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut, dan lebih memilih menyimpan nya agar tetap pribadi daripada menjadi gelisah karena sudah menerbitkannya ke publik. Sekarang saya sudah mendapatkan jawaban nya, thank you illi. I Love you to the /root and back.

Bonus: Cara menulis versi Fariz

Ini mungkin gak penting, tapi saya suka berbagi hal yang penting & tidak penting.

Pertama, tulislah sesuatu untukmu sendiri, alias pembacanya adalah kamu. Gak usah pusingin (apa yang dipikirkan) orang lain, anggap orang lain hanyalah bonus. Fokuslah kepada dirimu sendiri, gaya penyampaian yang mudah kamu pahami; gaya bahasa yang kamu gunakan, pungtuasi yang kamu rasa membuat nyaman.

Layak disebutkan bahwa kamu bukan sedang menulis skripsi, jangan khawatir akan adanya revisi karena kesalahan pungtuasi ataupun bahasa.

Kedua, gunakan bahasa yang kamu senangi. Ya, yang sering kamu gunakan di keseharianmu. Sehari-hari menggunakan gue-lo? Lakukan. Sehari-hari menggunakan buzzword yang gak banyak orang ngerti? Mengapa tidak. Anggap kamu sedang berbicara kepada dirimu sendiri, maka gunakanlah bahasa yang mudah kamu mengerti.

Ketiga, cukup tulis. Serius, seperti kamu bernafas tanpa perlu mempusingkan gimana cara bernafas. Dimana ada kemauan, pasti ada jalan. Tapi kalau kamu pada dasarnya memang tidak ada niat untuk menulis, ya mau gimana lagi to?

Keempat, nikmati prosesnya. Saya (pastinya semua orang, ya?) tidak senang melakukan hal yang tidak disenangi. Untuk apa capek-capek melakukan hal yang tidak kita senangi, bukan?

Nikmati prosesnya ketika menulis. Ketika menyampaikan informasi. Ketika berbicara kepada dirimu sendiri.

Terakhir, terus asah. Perjalanan 300 km dimulai dari 1m, dan pelukis kecil kemungkinan membuat lukisan yang sangat indah ketika baru pertama kali melukis. Dan ingatkah kamu sebuah cerita bahwa Thomas Alva Edision berhasil menemukan bola lampu pijar setelah melakukan percobaan sampai 999 kali?

Juga, pisau akan lebih tajam bila sering diasah. Begitupula dengan keterampilan. Dan menulis adalah sebuah keterampilan, teruslah belajar & berkembang.

Penutup

Menulis bukanlah satu-satunya keterampilan dalam berkomunikasi. Selain itu ada berbicara, merasakan dan mendengarkan yang sudah kita bahas diawal.

Namun karena saya tidak merasa cukup layak untuk membahas 3 hal tersebut, disini saya fokuskan hanya ke bagian menulis saja.

Terakhir, hampir semua orang menyukai komunikasi yang asik, dan menjadi membosankan adalah sesuatu yang membosankan. Biasakan untuk tidak menjadi orang yang membosankan, karena kamu hanya hidup sekali.

Dan seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, saya menulis ini untuk diri saya sendiri. Kamu hanyalah bonus, tapi semoga apa yang saya bagikan ini bermanfaat untukmu.

Membiasakan sesuatu adalah hal yang sulit, tapi perlu diingat bahwa kebiasaan dimulai dari keterpaksaan. Selagi hal yang dipaksa tersebut menyenangkan dan dapat dinikmati, mengapa tidak?

Selamat menulis, enjoy your (new) adventure!