Persetan latar belakangmu

Persetan latar belakangmu

Ini sedikit menyakitkan, bernuansa kebencian; kesombongan, ke-iri-an, dan ke-munafik-an tapi mencoba untuk berbicara seputar budaya yang sudah mendarah-daging di internet tercinta kita ini dari sudut pandang seorang independen.

Sebelum kita masuk ke pembahasan inti, mari kita bahas tentang latar belakang dari pembahasan ini.

Latar Belakang

Ingat kasus beberapa bulan lalu seputar freshgrad dari universitas ternama yang tidak terima mendapatkan gaji sekian juta?

Ya, itu semua karena latar belakang dia.

Persetan latar belakang.

Gini gini, gue gak peduli lo lulusan ITB, UI, UNIKOM, ITENICE, KAMPUS-RANDOM-DIMANAPUN-ITU, coding bootcamp kek Hacktiv8; Refactory, dsb.

Serius, gue gak peduli.

Tapi gue peduli dengan orang-orang yang menjual nama tersebut entah untuk tujuan apapun. Seperti: "Bro, lo harus blablabla karena gue ex di blablabla".

Respon gue kurang lebih seperti: "Oke, lo ex blablabla. Terus kenapa?"

Silahkan jawab.

Seakan-akan, latar belakang menjadi hak istimewa untuk mendapatkan sesuatu.

Semua ukuran relatif yang bisa diukur seperti pengalaman & skill seakan-akan bisa terbutakan oleh latar belakang.

Jika memang itu sudah menjadi budaya disini, akan gue lawan.

Maju lo semua para pemuja latar belakang!

The good, the bad, and the ugly.

Mari kita bahas hal baiknya dulu.

Manusia cenderung belajar dari pengalaman, setuju?

Ini bagus, terlebih bila kita mempelajari dari seseorang yang berpengalaman dan memiliki kecerdasan diatas rata-rata.

Di level pendidikan, high-tier campus menjadi kiblat. Karena apa? Sederhana, mereka dominan hanya menerima orang-orang yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (hello Terman!).

Di level industri, perusahaan-perusahaan yang menjadi standar-industri-thought leader lah yang menjadi kiblat. Karena apa? Sederhana juga, mereka berurusan dengan masalah yang berada di skala lebih besar dengan sumber daya yang lebih luas.

Kurang baiknya, ini dijadikan sebagai "gap" kelas manusia.

Dan buruknya, tentang sebagian orang yang "menjual" latar belakang tersebut untuk kepentingan apapun itu.

Tentang kompetensi

Mari kita ambil contoh kasus yang sudah menjadi stereotipe.

Orang-orang cenderung percaya dengan seseorang yang memiliki kompetensi, yang mana dinilai dari latar belakangnya: Lulusan UNIKOM UI, Ex-Software Engineer Facebook, dsb.

Terlebih, bila dibandingkan dengan seseorang random di internet—like yours truly—alias: lo sokap bro?

Ini dapat dimengerti, pertama karena percaya kepada orang lain itu sulit; Kedua, time is money; Ketiga, we love money.

Daripada buang-buang waktu untuk "mencari", "mem-validasi", dsb terhadap orang random, mending percaya aja deh sama latar belakang yang dia jual karena masuk UI itu gak gampang dan gak semua orang punya kesempatan bisa kerja di Facebook.

Tentang Kapabilitas

Kompetensi adalah tentang kemampuan, dan kapabilitas pun sama namun lebih mendetail.

Begini, tidak semua orang memiliki kompetensi yang sama dengan kita. Itulah alasan—selain faktor keberuntungan—kenapa lo gak keterima kuliah di ITB ataupun gak keterima kerja di Microsoft.

Karena, ya, setiap orang memiliki titik lemah tersendiri.

Yang singkatnya, kita tidak bisa serta-merta mengajarkan semua burung untuk bisa terbang, sebagaimana kita terbang.

Cara belajar-mengajar anak ITB mungkin tidak sesuai dengan kita atau permasalahan yang dimiliki Facebook mungkin tidak dimiliki oleh kita.

Pertanyaannya: Lalu, untuk apa membawa latar belakang bila akhirnya latar belakang tersebut tidak ber-peran?

Mungkin its okay kalau kamu membawa latar belakang "lulusan ITB" mu kepada orang-orang yang ingin kuliah di ITB, atau membawa latar belakang "Ex-Software Engineer di Microsoft" kepada orang-orang yang ingin bekerja di Microsoft.

Namun, untuk ke orang yang lebih umum, untuk apa?

Untuk ngasih tau kalau lo orang yang memiliki kapabilitas?

Anyway you can sell it to anyone but not to me.

HoW tO trUsT sOmeOnE?

Begini, tidak ada jalan pintas untuk bisa mempercayai seseorang.

Kecuali kamu orang yang mudah percaya kepada seseorang, seperti gue.

Tapi tenang, ini internet bukan dunia nyata.

Banyak cara untuk "express yourself" di Internet, including via this medium.

Yang artinya, orang bisa menilai (dan mempercayaimu) dari apa yang mereka lakukan khususnya di internet.

Kamu bisa percaya bahwa si X bisa menggambar dengan melihat portfolio nya di dribbbbbbbbbbble tanpa perlu melihat kalo dia lulusan DKV dari ISI.

Kamu bisa percaya bahwa si Y jago ehm JavaScript dengan melihat repository-repository nya di GitHub tanpa perlu melihat kalo dia mantan Software Engineer di Bing.

Template nya: Kamu bisa percaya bahwa si {insert people name here} dengan melihat {insert some "publicly available works" here} tanpa perlu melihat {insert their background here}.

Intinya, buktikan (pamerkan?) jika kamu bisa; Ahli, ataupun berpengalaman terhadap sesuatu.

About this cult

Sorry not sorry for writing this post.

Lo boleh bilang kalau gue cuma sirik; iri, benci dan lain sebagainya.

Terserah.

Dan gue gak peduli sebagaimana gue gak peduli dengan latar belakang yang lo jual hahaha.

Gini gini, gue cuma males meng-kelas-kelas-kan "developer" khususnya di Indonesia ya, dari latar belakang yang mereka punya.

Terlebih kalau menjadikan sesuatu tersebut untuk bahan marketing.

Lo engineer di Bukalapak/Tokopedia? Awesome! Thanks for helping SME.

Lo engineer di Traveloka/Tiket? Great! Thanks for helping million of people.

Lo engineer di Gojek/Grab? Cool! You saved my life life and the others too for sure.

Nah, terus kalau lo buat sesuatu dan lo ex-engineer di Gojek/Grab/Bukalapak/Tokopedia/Traveloka/Tiket memangnya kenapa??????

Oke, itu sebuah pencapaian. Dan, serius, gue apresiasi pencapaian tersebut. Lo udah berusaha keras, dan hasil dari usaha lo tersebut, patut untuk di apresiasi. You are cool!

Tapi, ada tapi nya nih, kalau konteks nya sebagai bahan marketing, you are not cool.

Sebagian orang merasa "minder" (sorry, gue gak termasuk) dengan cara yang lo pakai tersebut. Karena mereka berfikir "dia mantan orang X, lah klo gue siapa?".

Sebagian orang masih percaya kalau "latar belakang merefleksikan yang dia jual". Entah yang lo jual itu adalah SaaS, buku, video tutorial, tulisan blog, dan sebagainya.

Dan sebagian orang, khususnya sebagian para junior, memiliki rasa percaya diri yang sedikit. Karena, ya, mereka hanya junior. Persetan career path.

Ini bisa jadi pertimbangan kita, dan kita bebas untuk memilih.

Dan, ya, being nice is nice.

Penutup

Gimana kalau kita lihat seluruh manusia—spesifiknya developer, di Indonesia—secara netral, tanpa melihat latar belakang mereka?

Seperti, jangan menilai sebuah buku hanya dari covernya saja (sorry, designer).

Its okay kamu berbagi hal-hal dasar seputar JavaScript, ataupun hal-hal menengah seperti k8s meskipun kamu hanya seorang engineer di perusahaan/startup random yang ada di Indonesia.

Gak perlu merasa "karya" mu tidak layak untuk dibagikan, setiap pertunjukan memiliki pemirsanya sendiri.

Sebagai penutup, gue menulis ini tidak bermaksud menyinggung siapapun.

Tapi kalau lo merasa tersinggung, hahaha rasakan itu.

Aku Fariz Rizaldy, terima kasih!