Reading Experience as a feature

Tentang penulis independen, situs berita, iklan, dan sedikit bahasan seputar bisnis konten.

Reading Experience as a feature

Mungkin judulnya sedikit gak relevan, yaudahlah ya.

Sebagai informasi, gue lebih senang menyebut diri gue sebagai "pencerita" daripada seorang programmer, karena aktivitas gue lebih banyak dihabiskan menulis kata (untuk sekarang), bukan kode.

Sebelum kita masuk ke pembahasan, izinkan gue untuk menceritakan ulang obrolan bersama teman-teman gue yang bukan dari background IT.

Obrolan

Bermula dari pertanyaan yang iseng gue ajukan, kurang lebih pertanyaannya adalah: "Apa perbedaan situs 'media' dengan blog?".

Ada yang bisa menjawab?

Situs media bisa dianggap seperti Detik; Tirto, Kompas, dkk. Situs blog, yaa, seperti yang kamu kunjungi ini.

Jawaban dari teman-teman gue kurang lebih pembedanya antara lain adalah di:

  • Brand
  • Redaksi
  • Topik pembahasan

Dan bila dipikir-pikir, benar juga. Situs media, merepresentasikan sebuah brand, bukan personal; Memiliki susunan redaksi, dan memiliki topik pembahasan yang konsisten: Berita, kabar terkini.

Beda dengan blog yang biasanya merepresentasikan seseorang (remember that 'views are my own not my blablabla'?), tidak memiliki susunan redaksi (persetan redaktur, penulis, periset, dll), dan kadang pembahsannya campur.

Ada satu hal yang bikin gue—sebagai seorang 'penulis' yang ehm independen—sedikit sedih: Situs blog tidak layak untuk dijadikan rujukan, at least di kondisi sekarang.

Karena, sederhana: Tidak ada legal & tidak ada 'penanggung jawab'.

Yang padahal, penanggung jawab nya adalah penulis itu sendiri. Sama seperti berita yang ditulis diterbitkan oleh situs 'media', bukan?

Mungkin juga karena terkadang tulisan-tulisan yang diterbitkan di blog hanya berdasarkan pendapat pribadi seutuhnya, namun ada juga yang pendapat tersebut didapatkan berdasarkan riset, ya kan?

Dan hey, bukankah situs berita pun sama? 'Menceritakan ulang' sebuah kronologi berdasarkan fakta yang ada namun dari sudut pandang yang berbeda?

Penulis independen

Gue selalu merasa gak pantes bila menyebut diri gue seorang 'Jurnalis', meskipun literally mungkin hampir sama artinya.

Kamu tau perbedaan mencolok antara independen dan non-independen?

Tidak ada politik omong kosong.

Seperti, jika kamu membaca tulisan-tulisan teknis di blog Facebook Engineering, bagaimanapun topik yang dibahas akan selalu 'mengelu-elu kan' teknologi yang dibuat/digunakan oleh Facebook.

Jika independen, ya independen. Tidak masalah membahas seputar React sucks, GraphQL sucks, Vue sucks karena tidak terikat dengan entitas apapun. Dan ya, berdasarkan penilaian dari penulis itu sendiri.

Dan seperti yang kita tau, sesuatu yang bisa dinilai pasti relatif.

Kita mungkin tidak bisa selalu setuju dengan pendapat orang lain, namun setidaknya, pendapat yang tidak disetujui tersebut tidak memihak.

Reading Experience

Berkomunikasi adalah tentang men-transfer informasi dari pihak penulis ke pembaca. Dan pengalaman yang baik disini sangat berperan agar informasi yang dikirim dapat ditangkap dengan baik.

Dan dalam konteks disini, informasi tersebut berbentuk tulisan.

Di buku yang berjudul The Subtle Art not giving a Fuck, disana dibahas bahwa orang dewasa mudah terganggu. Karena sederhana, semakin dewasa, semakin banyak hal yang harus diperhatikan.

Maksudnya, bayangkan kamu sedang membaca tulisan tentang "Perang Dunia ke-3" lalu di sidebar kamu melihat berita yang sebenernya gak penting-penting amat, tapi membuat kamu merasa terganggu dan ingin sekali membacanya.

Oke, setidaknya meng-kliknya. Ini contohnya:

Gak usah fokus ke iklan dulu, itu akan kita bahas nanti :))

Diatas, gue sedang membaca tulisan yang berjudul "Kapal Perang RI Penjaga Natuna Pernah Bikin Jengkel Singapura" (link, not affiliated) dan lihat sidebar gue! Ada tulisan yang berjudul "Polisi Keluar Masuk DPP PDIP, Kantor Tertutup Rapat".

Yang meskipun gak penting-penting amat (dan beda konteks dari yang sedang gue baca), tapi link tersebut mengganggu. Dan, ya, bikin penasaran. Plus, posisinya sticky.

Yang intinya, itu membuat gue gak fokus.

Lalu, siapa yang disalahkan? Pembaca?

"Suruh siapa lo gak fokus..."

I hate to say this but kalimat diatas—In my fucking honest opinion—sama seperti menyalahkan korban pemerkosaan karena "Suruh siapa pakai baju ketat?"

Tentang Iklan

Iklan adalah pemasukan terbesar (dan yang paling mudah didapat) untuk sebuah konten yang ada di Internet.

Facebook, Twitter, Instagram, Situs berita, dll pemasukan utamanya adalah dari iklan.

Konten yang mereka tawarkan adalah 'pembaruan kabar' dari kamu untuk sosial media, dan untuk situs berita, yaa sudah jelas.

Iklan adalah sesuatu yang sangat menganggu, baik di internet maupun di dunia nyata. Lihat, bahkan keindahan & keasrian kota terganggu karena adanya iklan (billboard, iklan low-tier di tiang listrik, dll).

Sayangnya, ini menjadi oksigen untuk bisnis konten.

Jika tidak menampilkan iklan, seakan-akan bisnis tersebut akan mati.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menampilkan iklan antara lain:

  • Probabilitas keterlihatan
  • Probabilitas di-klik
  • Probabilitas tindakan yang diambil

Banyak trafik = probabilitas dilihatnya iklan semakin tinggi = probabilitas iklan di klik semakin besar = probabilitas tindakan yang  diambil semakin tinggi pula.

Sebagai tambahan, bila kamu meng-klik iklan Go-jek misalnya, itu akan mendapat $$ untuk penyedia iklan. Dan bila kamu melakukan apa yang iklan tersebut inginkan (download aplikasi Go-jek misalnya), maka $$ yang masuk akan semakin besar.

Beda dengan iklan dunia nyata, tidak ada metriks yang bisa diukur. Semua bergantung dengan 'keberuntungan' tanpa melupakan faktor tambahan pastinya.

Gue lagi males bahas tentang iklan panjang-panjang, kalau penasaran silahkan cari sendiri tentang iklan di internet. Intinya, Ads sucks.

Tentang trackers

Kita sudah membahas tentang iklan diatas, dan bagian ini berkaitan dengan pembahasan tersebut.

Untuk bisa menyajikan iklan yang relevan, kita perlu tau persona dari pengguna. Mengapa menampilkan iklan yang relevan? Karena probabilitas untuk meng-klik iklan akan semakin bertambah, yang berarti more $$$.

Trackers intinya ingin mengetahui siapa kamu, dengan cara yaa mengikuti kamu.

Terlihat utopis, tapi memang begitulah adanya.

Mereka mengikuti kemanapun pergi. Sebagai contoh, CNN Indonesia menggunakan Doubleclick (Google) untuk bisa menampilkan iklan disitus nya, dan seperti yang kita tau, Google adalah "gerbang utama" untuk bisa menjelejah internet.

Personamu akan dibuat berdasarkan situs yang kamu kunjungi dari Google, query yang kamu ketik di kolom pencarian, dan bahkan meskipun kamu tidak menggunakan Google dan mengakses situs yang menggunakan layanan Google, kemungkinan Google akan tau kamu itu siapa.

Silahkan ganti kata Google menjadi perusahaan iklan besar lain seperti Facebook, Twitter, dsb.

Dan sekali lagi, gue lagi males bahas tentang ini panjang-panjang. Silahkan cari sendiri di internet, yang intinya: Tracker(s) sucks.

Hubungan antar keduanya

Seperti judul tulisan ini: Pengalaman membaca.

Dan pastinya, pengalaman pengguna.

Lihat, berapa MB yang dihabiskan hanya untuk memuat iklan?

Silahkan buka gambar di tab baru

Dan kamu kira, 'tracker' cuma 'nguntit'? Enggak.

Biasanya, mereka akan melakukan proses untuk mendapatkan "device fingerprint" mu, dengan cara, aduh males bahas. Baca disini aja. Yang mana itu berguna untuk membantu mengetahui kamu lebih mudah/efektif.

Yang intinya, udah mah situs berat banget buat diakses ditambah dihantui iklan yang mengganggu.

Oh iya, pernah baca situs Tribun family?

Itu pengalaman membacanya parah banget sih, lo baca tulisan yang harusnya 1 halaman tapi dibagi menjadi beberapa halaman.

Tujuannya? Ya trafik, lah.

Siapa lagi tuhan di internet jika bukan jaringan iklan?

There is no free lunch

Ya, tidak ada makan siang gratis.

Situs-situs seperti Facebook, Twitter, Google, Tribun, CNN, dsb memakan biaya operasional yang tidak sedikit, dan juga bertanggung jawab terhadap karyawan nya untuk bisa hidup dengan memberi mereka gaji.

Ini dapat dimengerti.

Meskipun gue sedikit benci, tapi gue meng-apresiasi situs-situs seperti The Guardian, New York Times, dll yang memiliki membership. Alias, lo harus jadi member mereka untuk bisa menikmati tulisan yang diterbitkan disana.

Di Indonesia, yang gue tau adalah Tech In Asia. Meskipun belum jelas harga subscription nya berapa, tapi mereka mencoba dengan meng-gratis-kan proses registrasi membership untuk bisa membaca tulisan penuh yang ada di TIA.

Tidak ada iklan (khususnya yang menganggu) di Tech In Asia, pengalaman membacanya lumayan nyaman. Meskipun yang terakhir gue liat (09 Jan 2020) masih ada iklan di tulisan nya, dan juga beberapa tracker.

Tapi setidaknya tidak terlalu menganggu.

Kesimpulan

Gue meng-apresiasi yang menjadikan pengalaman membaca sebagai fitur.

Dulu sempet subscribe Medium membership nya, cuma $5/bulan. Dengan keuntungan: Gue gak melihat iklan; Mendukung penulis, menilai sesuatu dengan kualitas daripada kuantitas (claps/like daripada view metrics), dsb.

Tapi semenjak Medium 'seperti' kehilangan arah—lihat, bahkan sekarang tidak ada daftar tulisan di homepage nya jika kamu belum login—gue putuskan untuk unsubscribe.

Dan delete account :))

Penutup

Mungkin pembahasannya sedikit hilang arah, intinya yang ingin gue bahas adalah:

  • Perbedaan antara blog vs situs 'media'
  • Ads sucks
  • Tracker(s) sucks
  • Sustainability

Tentang poin pertama, adalah tentang independensi.

Atau secara selfish nya adalah tentang apa yang gue lakukan.

Baik itu blog ataupun situs media, sama-sama tentang menyalurkan informasi. Tentang bagaimana 'seseorang' menyalurkan informasi menggunakan sudut pandang & gaya bercerita dia dan tentang bagaimana seseorang tersebut bertanggung jawab dalam apa yang dia sampaikan.

Dan tentang Sustainability, untuk level korporasi mungkin bisa mempertimbangkan untuk menggunakan sistem membership. Sesederhana: Nikmati semua iklan dan trackers ini, atau bayar 50rb/bulan kalau gak mau.

Untuk level independen/personal, mungkin bisa mempertimbangkan untuk menggunakan sistem patronage (not affiliated).

Bisnis per-konten-an—khususnya di menulis—masih sangat sulit untuk bisa sustain.

Orang-orang—including me—masih belum tau 'apa yang harus dihargai' sehingga harus memberikan mereka (creator) 'harga'.

Tidak aneh mengapa para penulis blog banyak yang bergantung dengan iklan (WordAds nya Automattic, Adsense nya Google, dkk) atau menyisipkan link affiliasi yang sayangnya masih kurang efektif di Indonesia.

Secara pribadi, gue gak menganggap menulis sebagai sumber mata pencaharian utama. Ini cuma sebagai bentuk 'rileksasi' ataupun 'dokumentasi' bila tulisan tersebut seputar hal teknis.

Tapi gue tertarik dengan bisnis ini, tentang bagaimana seseorang 'mempercayai' orang random. Logika gue, kalau banyak orang yang mau ngeluarin duit buat subscribe Netflix, Spotify, Medium, dkk—yang mana adalah 'orang' random (apakah kalian kenal dengan mereka?)—harusnya kepada pribadi pun (bukan perusahaan) bisa dilakukan.

Asalkan, yang mereka konsumsi tersebut worth menurut mereka.

Sama seperti Netflix, orang-orang ingin subscribe ke Netflix karena kualitas film nya yang gak sampah kayak yang ada di TV (sorry not sorry).

Pasti ini susah banget. Logikanya, Netflix; Medium, The Guardian, dkk adalah perusahaan sedangkan gue personal.

Tapi gue suka dengan tantangan.

Kualitas adalah sesuatu yang relatif.

Dan seperti yang gue yakinkan, setiap pertunjukkan pasti akan memiliki penonton nya sendiri.

Dan dalam bisnis ini, fitur utama yang gue berikan adalah Reading Experience.

Membuat uBlock origin mu tidak berguna ketika mengakses situs-situs gue, dan mendapatkan pengalaman membaca yang unik.

Ya, gue akan coba main ke bisnis konten ini.

Gak tau akan berhasil atau tidak, jika tidak, setidaknya gue sudah mencoba (don't blame my grammar mistake, illi).

Petualangan ini dimulai pada dekade ini. Dan sekali lagi, gue suka tantangan.

Waktunya serius sebagai seorang pencerita!

P.S: Kalau nganggep evilfactorylabs adalah perusahaan, gue gak bisa janji untuk bisa menahan ketawa.

P.P.S: Kalau mau tau gimana chaos nya situs berita, coba turn off uBlock origin/Adblocker kamu :))