Retrospektif

Tentang mengingat-ngingat & memikirkan ulang apa yang sudah dilakukan

Retrospektif

You Only Live Once, sebuah kalimat yang mungkin sudah tidak asing ditelinga kita: YOLO. Dan jika kamu sudah pernah menonton Dead Poets Society, pastinya tidak asing juga dengan kata carpe diem. Singkatnya, kamu hanya hidup sekali; kejar hari ini!

Tapi disini kita tidak sedang ingin membicarakan tentang itu, namun ingin membicarakan tentang Evaluasi. Muhasabah. Atau retrospektif kalau menggunakan bahasa anak agile.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan cara pandang YOLO, karena itu kembali ke pribadi masing-masing tentang bagaimana kita memaknai cara pandang tersebut. Kita sudah relatif dewasa—gue anggep mungkin sekitar 21-28 tahun—dan waktu kita semakin sempit.

Entah kamu sudah mengetahuinya atau belum, berikut tentang gambaran pembandingan antara waktu; uang, dan umur:

Setuju tidak setuju, gambaran diatas adalah kenyataan yang harus kita telan. Gue salah satu orang yang memiliki cara pandang YOLO juga namun dengan versi gue sendiri. Yang maksudnya, gue enggak terlalu peduli dengan waktu; uang, dan energi/kesehatan.

Masalah nanti, ya nanti. Nikmati aja hari ini!

Tapi, ketika gue merasa sesuatu tersebut mulai terlihat kurang beres, gue akan coba untuk fix nya. Misal, pertanyaan-pertanyaan seperti:

  • Kenapa waktu luang gue sekarang jadi sedikit banget?
  • Kenapa uang gue sekarang cepet habis?
  • Kenapa sekarang gue jadi gampang capek?

Dan lain sebagainya yang khususnya terkait dengan kondisi diatas. Dan pertanyaan-pertanyaan diatas, didapat ketika melakukan retrospektif. Tentang mengingat-ngingat apa yang sudah dilakukan sebelumnya, tentang memikirkan yang sudah dilakukan. Tentang hidup hanya sekali, jangan habiskan untuk sesuatu yang tak berarti.

Tentang waktu

Gue enggak percaya sama orang yang menganggap dirinya sibuk, meskipun terkadang gue pakai kata 'sibuk' karena sebutan 'gak mau diganggu' konotasinya lebih mengarah ke negatif.

Sekarang, mari gue ajak lo buat ber-retrospektif. Kita punya waktu 24 jam sehari, benar? Mari kita uraikan:

  • Tidur 8 jam (normal)
  • Makan 1 jam (total)
  • Kerja 8 jam (9to5)
  • Diperjalanan 1 jam (total)
  • Bersosial 2 jam (total)
  • Aktivitas pribadi (mandi, beres-beres, dsb) 1 jam (total)

Dari daftar diatas aja udah 21 jam, yang artinya kita punya waktu 3 jam waktu luang setiap hari. Beda cerita kalau angka diatas berbeda, dan lo memiliki daftar tambahan dari yang ada diatas.

Dan hey, bukankah biasanya kita habiskan hari dengan "ber-santai" setelah lelah menghadapi rutinitas, yang mana kita ambil 3 jam sisa tersebut sebelum benar-benar menuju fase tidur?

Biasanya, kita "mencoba" untuk memaksimalkannya di akhir pekan. Kita coba memaksimalkan 21 jam diatas untuk sesuatu yang ingin kita lakukan, tapi tidak bisa dilakukan di hari biasa.

Namun sayangnya, biasanya, kita habiskan akhir pekan tersebut untuk "me time". Untuk beristirahat, untuk lari dari rutinitas yang gak jarang bikin pikiran penat. Hobi yang ingin dilakukan, sesuatu yang ingin dipelajari, atau buku yang ingin dibaca terpinggirkan karena ingin fokus ber-istirahat. Ber-malas-malasan, setelah lelah menjalani rutinitas selama 5 hari.

Dan it's okay, sampai kamu merasa it's not.

Mungkin ada hal lain yang bisa dilakukan selain untuk bekerja (berangkat-kerja-pulang) meskipun tidak bisa dipungkiri kita akan bekerja sampai mati, mungkin seperti melakukan hobi? Membaca buku? Dan hal-hal lain yang sudah disebutkan di paragraf sebelumnya ataupun yang tidak?

Oh, jika kamu kurang setuju dengan statement "bekerja" sampai mati, silahkan lihat orang yang paling tajir melintir sedunia yang bahkan sekarang masih bekerja sampai hari ini. Dan ya, pemilik kutipan "If you don't find a way to make money while you sleep, you will work until you die" yang mana adalah Warren Buffett pun bahkan sampai hari ini masih bekerja, toh?

Kembali ke topik, kamu bukanlah mereka dan kita memiliki waktu masing-masing. Yang maksudnya, jika kita lihat ke daftar "waktu yang dihabiskan" diatas merasa tidak ada yang salah, it's okay. Jika tidak, mungkin waktunya untuk memperbaiki?

Seperti, mengurangi porsi bersosial? Mengurangi waktu tempuh di perjalanan? Mengurangi porsi tidur? Apapun, yang menurutmu terbaik. Dan kamu tau bagaimana caranya agar kamu bisa tau mana yang salah dan apa yang harus diperbaiki? Ya, dengan melakukan retrospektif.

Gue kalau udah merasa sibuk, berarti ada yang salah dalam mengatur waktu. Terlebih bukan yang tergolong memiliki rutinitas—tidak memiliki template tiap hari—jadinya kacau banget kalau sampai merasa sibuk.

Sibuk adalah ilusi, dan terkadang dijadikan kambing hitam untuk masalah kekurang-teraturan dalam mengatur sesuatu. Silahkan ingat-ingat apa yang sudah kamu lakukan sebelum-sebelumnya, dan kamu akan menyadarinya.

Tentang uang

Gue tipe orang yang tidak terlalu memperdulikan uang, apalagi berambisi untuk mengejar & terus mengumpulkannya. Tapi bukan berarti gue tajir melintir 666 keturunan ya, kadang gue suka mikirin "besok makan apa ya" juga kok.

Bagaimanapun, uang ada untuk dihabiskan. Dan semakin banyak uang yang dihabiskan, semakin banyak pula usaha untuk menghabiskannya. Bagaimana bisa gue berambisi mengejar sesuatu yang bahkan ujungnya saja tidak diketahui?

Yang maksudnya, itu adalah salah satu alasan mengapa gue enggak berambisi untuk mengejar sesuatu bernama uang tersebut. Silahkan bayangkan kamu terus berlari mengejar sesuatu, namun apa yang kamu kejar tersebut tidak memiliki garis finish. Mungkin seperti mencoba mengejar ujungnya dunia?

Sayangnya, manusia (khususnya gue) akan selalu butuh uang, untuk hidup & menghidupi. Dan ya, siapa yang tidak senang "status sosial" naik karena kenaikan yang terjadi pada gaji kita? Bukankah sudah menjadi stereotipe bahwa status sosial berbanding lurus dengan pendapatan?

Yang berarti, serupa dengan tentang cara kita dalam menghabiskan waktu. Meskipun hidup hanya sekali, bagaimanapun pengeluaran uang harus diatur.

Kita tidak tau apakah besok masih bernafas atau tidak, tapi setidaknya kita tau bahwa besok masih memiliki uang. Bagaimana caranya agar tau bahwa besok kita masih memiliki uang? Dengan mengaturnya.

Bagaimana kita bisa mengaturnya? Dengan melakukan retrospektif. Mengingat-ngingat pengeluaran sebelumnya, memikirkan pengeluaran yang sudah dikeluarkan, dan mempertimbangkan mana pengeluaran yang bernilai & mana yang berujung hanya sia-sia.

Bersenang-senang khususnya dalam menikmati apa yang sudah susah payah dikejar tentu terasa menyenangkan, sampai kamu merasa bosan; jenuh, dan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti "OK it's fun. Now what?".

Tentang energi

Tidak bisa dipungkiri 2 bagian diatas tidak bisa diraih jika kita tidak memiliki bagian ini: Energi. Tidak punya energi, tidak punya waktu "produktif". Tidak punya waktu produktif, tidak punya uang.

Hey, siapa yang berpikir kalau sakit itu hal yang produktif?

Beberapa ada yang menyarankan tentang bekerja lebih keras, lebih giat, lebih cerdas. Terlebih kalimat-kalimat yang gak serius-serius amat seperti "harga ketering mahal", "harga rumah mahal", "I don't need a love, all I need is money. A lot of money" yang kesannya bercanda tapi memang "diamini" juga oleh beberapa orang.

Seakan-akan hidup itu selalu tentang bekerja, selalu tentang uang, selalu tentang berlomba menjadi lebih asri. Iya, gak bekerja gak dapet uang. Gak punya uang gak bisa beli makan. Gak bisa makan mati.

Tapi lo gak bisa bekerja kalau gak punya energi, dan tempat lo bekerja pun peduli setan dengan kesehatan lo. Oke kalau memang tempat kerja lo menyediakan BPJS, asuransi, dsb tapi lucu gak sih misal gue bakal bayarin perawatan lo klo sakit, ya, jadi, silahkan bekerja yang giat.

Gue ngebayangin kalau misal perusahaan ada dana 100jt/tahun buat cover kesehatan karyawannya pas sakit, terus dana tersebut misalnya dialokasiin ke hal lain aja yang mensejahterakan karyawannya mungkin dengan cara ngasih kebijakan work-life balance, wfh, atau apapun itu.

Ya, penyakit tidak dapat diprediksi tapi kita bisa mencegahnya.

Kembali ke pembahasan, energi adalah fondasi utama untuk 2 bagian diatas. Gue kepikiran jika setiap hari punya 2 jam buat dialokasiin ke "pengembangan diri", terus karena gue rasa gak cukup, gue korbanin hal lain (misalnya jam tidur) sebanyak 2 jam sehingga gue bisa mendapatkan waktu 4 jam.

Terus misal sakit, 1 hari aja. Jika dalam seminggu kita mendapatkan total tambahan waktu sekitar 14 jam (Senin-Minggu), kita sakit sehari saja dalam 24 jam tidak bisa digunakan untuk waktu produktif. Kalau 2 hari, ya 28 jam. Kalau hitung-hitungan, kita rela kehilangan 24 jam demi tambahan waktu produktif sebanyak 14 jam dalam seminggu.

...belum ditambah makan yg kurang enak, berobat, merasakan pusing, dll.

Yang maksudnya, kita bisa memikirkan ulang tentang bagaimana kita menghabiskan energi kita terhadap sesuatu, dan salah satu caranya adalah dengan melakukan retrospektif.

Retrospektif

Kenapa gue dari tadi kayak terus nyebutin kata 'Retrospektif'?

...bahkan menjadi judul dari tulisan ini.

Gini, yang gue perhatikan, 'retrospektif' ini masih dianggap remeh oleh beberapa orang. Mungkin termasuk kamu?

Karena mungkin kita berpikiran seperti "Ya buat apa sih, yang udah terjadi biarlah terjadi" dan lain sebagainya. Padahal, orang bijak banyak bilang seperti "belajarlah dari kesalahan", "pengalaman adalah guru terbaik", "jangan jatuh dilubang yang sama", dll.

Dan bagaimana 3 "hal bijak" diatas bisa dilakukan bila kita tidak melihat mengingat-ngingat & memikirkan apa yang sudah kita lakukan? Dengan "belajar dari pengalaman/kesalahan orang lain"? Ya, silahkan pelajari 3 milyar lebih pengalaman & kesalahan orang lain yang ada di bumi ini.

Alias, gak usah jauh-jauh dulu lah pikirin aja dulu pengalaman & kesalahan diri sendiri. Padahal proses retrospektif ini relatif mudah, gak perlu mengingat-ngingat sudah melakukan apa minggu ini atau bulan ini terlebih dahulu, coba untuk hari ini aja dulu. Apa pengalaman yang kamu dapat, apa kesahalan yang kamu perbuat, dsb.

Kurang ahli dalam mengingat? Tenang, manusia memang tempatnya salah & lupa. Serta, otak kita tidak dirancang untuk mengingat. Yang maksudnya, kamu bisa melakukan "dokumentasi" entah itu membuat catatan suara, video, atau tulisan untuk membantu kamu dalam mengingat.

Tidak perlu untuk "menerbitkan" apa yang kamu dokumentasikan tersebut, karena itu milik & untukmu. Namun menerbitkannya pun tidak masalah selagi tidak menganggu privasi kamu dan kamu tidak merasa enggan untuk membagikannya.

Dengan melakukan retrospektif, kamu bisa menjadi "lebih pintar" dalam memahami dirimu sendiri, lebih dekat dengan dirimu, dan lebih mengerti tentang dirimu. Kamu akan lebih mudah memaafkan dirimu sendiri untuk sesuatu yang tidak berhasil kamu raih, dan akan lebih bijak & hati-hati dalam meraih sesuatu yang ingin kamu raih.

Melakukan retrospektif bukanlah hal yang sia-sia ataupun culun. Ini adalah tentang menjadi lebih bijak dalam menentukan pilihan, dan ya, semakin dewasa semakin banyak yang harus dipikirkan & dipilih. Adult life sucks, sayangnya ini kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

Penutup

3 hal yang diawal (tentang waktu, uang, dan energi) adalah sebagai pembuka untuk pembahasan seputar retrospektif ini. Jika kamu bingung perbedaan antara retrospektif dan jurnal, anggap retrospektif adalah tentang membaca-baca ulang jurnal yang pernah kamu tulis.

Melakukan retrospektif tidak hanya dengan membuat jurnal, tapi sejauh ini (menurut gue) menulis adalah cara yang paling efektif. Dan paling menyenangkan. Serta, cara yang paling mudah & murah.

Gue sebenarnya gak sering-sering amat melakukan retrospektif, paling cuma pas "merasa" ketika ada yang salah aja. Entah itu dalam manajemen waktu, uang, energi, dsb. Meskipun banyak aktivitas lain, namun pada dasarnya aktivitas tersebut adalah tentang & untuk 3 hal tersebut.

Ya, You Only Live Once. Dan sayang kalau dihabiskan untuk sesuatu yang kurang memiliki arti apalagi dampak. Sebagai penutup, gue lagi seneng sama lagu Pegang Tanganku nya Nosstress

Dan Evaluasi nya Hindia

Terima kasih.