Selamat tinggal, 2020.

Selamat datang, 2021.

Banyak kenangan pada tahun ini. Dari yang paling indah, sampai ke yang paling menyakitkan.

Mari kita mulai dari pekerjaan.

Pada tahun ini gue mendapatkan kesempatan untuk berkarya di industri data melalui menjadi bagian dari tim delman.io sebagai Software Engineer. Lumayan banyak pengetahuan & pengalaman yang gue dapat meskipun baru ~6 bulan bekerja disana, khususnya pengalaman mendapatkan mentor dari ex-silicon valley engineers yang menjadi salah satu benefit yang ditawarkan di halaman karir nya.

Gue masih tertarik dengan bagaimana data dapat mempengaruhi bisnis khususnya di perilaku konsumen dan lebih khususnya lagi terhadap konsumen di Indonesia. Di Delman, gue mendapatan bagian untuk ikut andil dalam mengembangkan produk SaaS mereka di bagian Front-end nya. Belum ada rencana untuk berpindah ke tempat ataupun industri lain untuk saat ini, anyway jika kamu tertarik ingin bergabung dengan tim delman.io khususnya di geng Front-end (we're React shop!), bisa klik pranala ini.

Kita lanjut ke pencapaian.

Seperti biasa, gue tidak membuat rencana pencapaian apapun setiap tahun, sebagaimana di tahun 2019 kemarin. Hidup gue dari tahun ke tahun selalu penuh misteri, tersesat, dan setiap hari seperti sebuah petualangan tanpa peta.

Mungkin di tahun 2021 ini gue akan mencoba membuat pencapaian, sebagaimana yang sudah gue jabarkan di tulisan Menemukan Pola. Gue sadar bahwa hidup gue pada saat ini—di umur segini—sudah tidak bisa lagi berpetulang dan tersesat seperti sebelum-sebelumnya. Sebagai dokumentasi, dibawah akan gue jabarkan apa yang ingin gue capai di tahun 2021!

Sekarang kita ke bagian retrospektif.

Retrospektif disini akan gue ambil berdasarkan halaman Now gue, karena hanya itu satu-satunya pengingat gue tentang apa yang sedang gue kerjakan (I'm really bad at remembering, anyway)

Domisili

Sudah hampir 6 tahun gue tinggal di Bandung, lebih tepatnya di daerah Coblong. Daerah ini relatif mengasyikkan karena selain relatif dekat dengan pusat kota, juga karena dekat dengan sebuah daerah yang hampir selalu menjadi destinasi wisata oleh orang luar Bandung: Dago.

Masyarakatnya pun lumayan ramah, sampai sudah kenal dengan gue entah karena gue sering belanja kesitu atau karena gue gak lulus-lulus (shout out to warung mang gito tempat gue beli (dan ngutang) rokok, ibu nya alif laundry mingguan langganan, dan masih banyak lagi).

Di tahun 2021 ini gue ada rencana untuk pindah ke Jakarta yang lebih tepatnya di daerah Selatan. Selain karena urusan pekerjaan, juga karena gue ingin merasakan suasan baru dan meninggalkan suasana lama yang memiliki sangat banyak kenangan disetiap sudut nya.

Karir

Menjadi seorang "profesional" Front-end Engineer terkadang diremehkan oleh beberapa orang. Bahkan CEO dari sebuah perusahaan SaaS dibidang E-Commerce pernah nge-tweet bahwa konteks Front-end Engineer hanyalah untuk "super junior" karena Developers/Engineers harus berpikir terhadap semua lapisan yang ada (generalist).

Meskipun gue tidak 100% menolak pernyataan tersebut, juga gue tidak 100% setuju dengan pernyataan tersebut. Posisi Front-end ada karena untuk spesialisasi. Ya, orang front-end harus mengetahui bagaimana peramban dan protokol TCP/IP/UDP bekerja, bagaimana interpreter khususnya di kode JavaScript bekerja, dsb.

Tapi tidak lebih dari itu. Seperti, untuk mengkonsumsi kopi, lo gak perlu mengetahui alat apa saja yang cocok untuk membuat kopi yang enak; merk susu dan sirup apa yang terbaik, dan masih banyak lagi. Yang perlu kita tahu, bahwa kopi itu rasanya pahit & asam, dan susu itu manis. Itu bare minimum. Berdasarkan pengetahuan dasar tersebut, baru kita cocokkan sesuai preferensi masing-masing.

Lo gak perlu jadi barista untuk bisa mengkonsumsi kopi. Tapi kemungkinan barista akan membuat seduhan kopi yang pas dan enak.

Dan disitu poinnya.

Spesialisasi.

Kembali ke topik, di tahun 2021 gue ada kepikiran untuk pindah jalur. Alias, ke jalur yang sebelumnya pernah gue ambil sebagai profesional™ namun kali ini lebih seksi: DevOps Engineer.

Sekalipun DevOps pada dasarnya adalah sebuah kultur.

Motivasi utama gue ketika berpindah karir menjadi front-end developer adalah karena gue benci situs yang lambat. Gue mendalami jalur tersebut untuk mempelajari bagaimana cara membuat situs yang lebih cepat; yang responsif, yang memiliki pengalaman yang memuaskan, dan juga nyaman dipandang & digunakan.

Dan pastinya hasil yang gue pelajari tersebut gue bagikan dengan harapan orang lain mendapatkan sesuatu yang semoga bisa menjadi pelajaran & pengetahuan juga.

Lalu hal yang gue benci sekarang adalah situs yang tidak bisa diandalkan. Lebih tepatnya, layanan yang tidak bisa diandalkan. Bayangin lo gak bisa mengakses salah satu situs E-Commerce di Indonesia hanya karena alamat IP lo dari Singapura dan menggunakan IPv6 dengan alasan "keamanan" (shout out to Buka****lapak)

Sampah.

Bayangin lo gak bisa menggunakan salah satu situs "pasar saham" karena peladen nya gak bisa diandalkan alias sering mati (shout out to Aja**ib).

Dan bayangin lo menggunakan salah satu layanan perbankan "modern" yang ketika login sering gagal karena peladen memberikan respon non 20x; udah berhasil masuk nunggu sms otp nya lama banget, udah dapet otp pas akses dashboard cuma bisa lihat layar skeleton, dan yang lebih parah: aplikasi tersebut tidak dapat digunakan bila lo menggunakan Android dengan custom OS (shout out to Jeni**us).

Dari 3 contoh diatas, gue yakin 100% masalahnya bukan pada developer ataupun operator, namun seorang "DevOps" disini dapat membantu (karena mereka menjembatani 2 orang tersebut):

  • BL menggunakan WAF dari klodpeler yang tidak make sense penggunaannya. Jika masalah yang dihadapi BL adalah DDoS, mereka bisa menggunakan DDoS protection yang ditawarkan oleh penyedia layanan yang digunakan. Namun jika masalah BL adalah censorship alias hanya pengguna dari alamat IP di Indonesia saja yang boleh mengakses, maka BL sudah memilih pilihan yang tepat. Dan bagaimanapun gue membenci censorship dan mungkin juga klodpeler.
  • Gue kurang tau detailnya masalah yang dihadapi Aja**ib dan Jeni**us, entah karena sistem mereka berat yang banyak mengonsumsi sumber daya, peladen yang mereka gunakan tidak terlalu hebat ataupun manajemen traffic yang kurang pintar, poinnya adalah sistem mereka tidak bisa diandalkan. Dan angkuhnya, mereka tidak memiliki halaman publik untuk status sistem sehingga publik tahu bila misalnya ada sesuatu yang sedang bermasalah pada sistem mereka.

Dan, ya, Kubernetes bukanlah jawaban dari setiap permasalahan.

Masalah mereka adalah sistem yang tidak bisa diandalkan. Self-monitoring, load-balancing, horizontal scaling, orchestration dkk bukanlah satu-satunya benefit yang ditawarkan oleh Kubernetes untuk membuat sistem bisa menjadi lebih dapat diandalkan, ia hanya meng-abstraksinya.

Dan terlepas dari biaya yang ada ketika menggunakan ataupun tidak menggunakan k8s, itu kembali ke organisasi masing-masing.

Membaca

Tahun ini sepertinya diri gue lebih banyak didepan layar daripada buku.

Ada beberapa buku baru yang gue beli di tahun ini, kebanyakan tentang pengembangan diri. Gue lupa pernah menulis dimana, tapi yang gue inget gue mengurangi pembelajaran teknologi baru terkait hal-hal teknis.

Diluar buku, gue mempelajari (lagi) lebih dalam—melalui membaca—tentang:

  • Jaringan (IPv6, TCP, UDP, DNS, QUIC, dkk)
  • Komputasi edge (bandwidth, latency, server resources, dkk)
  • Basis data (rdbms: postgres, cockroachdb, duckdb dan nosql/kv: redis)

Dan kemungkinan di tahun ini masih mendalami hal yang sama namun dengan domain yang lebih luas.

Ber-eksperimen

Pertama, membangun bisnis peranti lunak (dan yang ber-sumber terbuka). Ini masih dalam proses dan gue sudah yakin bahwa tidak mungkin dapat dilakukan selama 1 tahun terlebih gue sudah memiliki status karyawan penuh waktu di sebuah perusahaan swasta.

Berdasarkan dari yang gue pelajari, jangankan di Indonesia, di ranah internasional saja masih banyak orang-orang yang berjuang untuk dapat mencapai itu. Baik dari entitas independen ataupun perusahaan for-and-non profit.

Dan ditahun 2021 ini, gue masih ber-eksperimen dengan hal yang sama. Yang semoga membuahkan peningkatan berdasarkan apa yang telah gue pelajari di tahun 2020 ini.

Kedua, hidup dari blogging. Sebagai transparansi, dari blog ini (dan blog evilfactorylabs) total "donasi" yang terkumpul adalah Rp. 2,976,590 selama tahun 2020 yang bahkan tidak menyentuh gaji gue selama sebulan hahaha.

Alias, belum mungkin gue sudah bisa hidup dari blogging.

Tapi gue bersyukur karena ada orang-orang yang peduli dan mendukung apa yang dilakukan oleh gue (via blog ini, thankies!) dan oleh orang-orang yang ada di @evilfactorylabs yang masih terus semangat berbagi baik didalam maupun diluar evilfactorylabs itu sendiri.

Terima kasih banyak!

Dan ditahun 2021 ini, gue masih ber-eksperimen dengan hal yang sama. Yang semoga membuahkan peningkatan berdasarkan apa yang telah gue pelajari di tahun 2020 ini.

Ketiga, ber-eksplorasi dengan industri data. Dan puji tuhan, di tahun 2020 gue mendapatkan kesempatan untuk itu bahkan langsung secara profesional!

Gue memiliki love-hate relationship dengan data, khususnya terkait data pribadi.

Dengan masuk ke industri ini, gue mencoba untuk mempelajari & memahami bagaimana data digunakan dan dilindungi khususnya terkait bisnis. Gue masuk ke industri ini bukan sebagai trojan, namun mungkin lebih sebagai "gatekeeper" yang semoga bisa menentukan "do & don't" terkait apa yang dilakukan oleh penyedia layanan.

Sejauh ini, yang gue lihat di tempat gue bekerja belum (dan semoga tidak akan pernah!) melakukan sesuatu yang jahat. Sebagai gambaran, tempat gue bekerja mengembangkan produk untuk menghubungkan, mengolah, dan menyediakan hasilnya.

Bayangkan jika organisasi kamu memiliki 2 sumber data (di Postgres dan S3), dan kamu ingin mendapatkan data terkait rata-rata HIT Ratio dalam 1 tahun terakhir dengan catatan organisasi tersebut melakukan retensi—terhadap data yang "panas"—setiap 4 bulan yang disimpan di S3 (sebagai data yang "dingin" atau arsip).

Data tersebut—menurut gue—berguna untuk menganalisa Cache & Bandwidth Hit Rate yang berguna khususnya jika organisasi kamu berada di pasar CDN sehingga kamu dapat menemukan pola salah satunya adalah apa & kapan saja permintaan yang tidak masuk ke HIT ratio alias tidak di cache oleh edge server.

Oke oke kembali ke topik, itu hanyalah gambaran kecil dari apa yang dilakukan di tempat gue bekerja. Ada hal yang lebih menarik—dan mungkin lebih sensitif terkait infrastruktur data—yang akan dilakukan di tahun 2021 yang masih menjadi rahasia perusahaan. Let's see!

Terakhir, bagian lain-lain. Yang antara lain adalah:

  • Memberitahu orang untuk menggunakan platform nya sendiri
  • Memberitahu orang tentang privasi (di dunia digital) itu penting
  • Bekerja dengan developer lain dalam bentuk berbagi pengetahuan
  • Sedang dalam proses untuk menjadi developer yang independen

Dan gue rasa di tahun 2020 kemarin gue sudah melakukan itu, kan?

Dan tentu saja di tahun 2021 gue masih ingin melakukan itu, namun mungkin dengan pendekatan yang lebih agresif!

Sebagai kesimpulan: Kemungkinan bagian yang gue ubah dari halaman now gue hanyalah di bagian Domisili. Once again, let's see!

Selamat datang, 2021.

Pada tahun 2020, satu hal yang ingin gue pertahankan adalah setidaknya agar tetap waras dan tetap bernafas.

Dan gue rasa gue berhasil mempertahankan itu. Congrats, Fariz!

Di tahun 2021 ini, hal-hal yang ingin gue capai adalah:

  • Work-life balance. Benar-benar seimbang, tidak berat sebelah baik di life apalagi di work.
  • Menerapkan deep work. Ini gue rasa dapat membantu gue untuk mencapai poin pertama.
  • Menjadi pribadi yang lebih kalem. Gue gak tahu apa sebutannya untuk itu, intinya, yeah, sometimes shit happens. Gue ingin bisa menjadi pribadi yang lebih bisa menerima ketika itu terjadi, dan lebih bisa berdamai ketika itu telah terjadi.
  • Lebih ter-organisir. Dari mengatur waktu, uang dan pastinya kehidupan.
  • Tetap percaya kepada orang lain. Gue khawatir memiliki trust issue yang menyebabkan gue susah percaya kepada orang lain, dan gue tidak ingin itu terjadi. Satu hal yang perlu gue ingat adalah: Jangan terlalu percaya kepada orang lain. Masalahnya bukan di terlalu percaya nya, melainkan, di segala sesuatu yang berlebihan itu kurang baik. Sewajarnya saja, sekalipun relatif sulit menentukan 'batas kewajaran' itu sendiri.

Yes, that's it.

Jika dilihat-lihat, semua yang ingin dituju adalah selalu tentang gue. Namun akan gue buat untuk tidak selalu tentang gue pribadi yang mungkin dengan cara membagikan apa yang gue pelajari—terkait hal tersebut—ke publik, yang semoga bermanfaat dan membantu.

Banyak hal yang terjadi di tahun 2020 yang tidak bisa disebutkan satu-satu pastinya. Mendapatkan, kehilangan, datang, pergi, sakit, sehat, bahagia, sedih dan masih banyak lagi perasaan yang gue rasakan pada tahun tersebut. Yang pasti, gue mensyukuri atas semua yang telah terjadi.

So, here we go. Yang terjadi biarlah terjadi, dan yang berlalu biarlah berlalu dan biarkan tetap di masa lalu. Relakan apa-apa yang bukan untukmu, maafkan yang telah terjadi pada dan olehmu, sekarang waktunya kita kembali melangkah ke depan sambil mempersiapkan apa-apa yang akan terjadi.

Orang bijak berkata bahwa kemarin adalah sejarah, hari esok adalah misteri, dan hari ini adalah anugerah, maka bersyukurlah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Bagaimanapun hidup akan terus berjalan, rezeki takkan kemana dan jika ditakdirkan pasti akan diberikan jalannya. Untuk apapun yang akan terjadi, bagaimanapun harus kita hadapi.

Maka, persiapkanlah.

Terima kasih!