Sober

published at because drink responsibly® is fucking hard

Semakin dewasa, semakin sulit kita memiliki pilihan. Karena pada dasarnya kita sendiri yang membuat pilihan tersebut.

Gue meminum alkohol, namun bukan seorang pecandu. Beberapa pembaca disini mungkin sudah tahu bahwa gue hanya meminum alkohol ketika seneng aja. Ada beberapa alasan kenapa gue minum alkohol, namun alasan yang paling logis adalah karena ingin. Hahaha.

Terlebih cuaca di Bandung yang lumayan dingin dan juga harga minumannya yang relatif terjangkau membuat gue tidak memiliki alasan untuk tidak meminum alkohol. Dan hey, gue sudah termasuk ke golongan legal age dan juga menafkahi diri sendiri pakai uang yang gue hasilkan sendiri, yang berarti gue tidak memiliki alasan untuk melarang diri gue untuk tidak melakukan itu.

Pertama kali konsumsi alkohol sekitar tahun 2013, ketika masa-masa SMA. Minuman haram ini yang pertama kali gue teguk adalah Guinness yang rasanya kayaknya neraka dilanjutkan dengan Mixmax dan Smirnoff. Mencari minuman haram di Serang relatif sulit apalagi untuk golongan non A, dan sejauh yang gue tahu, di tempat langganan gue beli dulu sekarang sudah tidak menjual minuman haram lagi.

Hampir di setiap botol minuman ini ada tulisan 'Drink Responsibly' yang tidak perlu diterjemahkan apa arti & tujuan dari tulisan tersebut. Untuk minuman yang berkadar alkohol ~5% (golongan A) tentu saja tulisan tersebut tidak memiliki makna, namun beda cerita untuk golongan B dan C yang berkadar alkohol lebih dari 5%.

Gue tahu efek negatif dari alkohol baik dari sisi jasmani ataupun rohani. Tapi sebagai orang dewasa, ya, kembali lagi, kita sendiri yang harus membuat pilihan untuk ya/tidak khususnya ketika ingin melakukan sesuatu.

YOLO

Minum ketika senang itu sensasinya sangat seru. Berasa dunia sedang berada di pihak kita, berasa seperti habis memenangkan undian, dan yang tidak kalah penting: berasa sangat bebas.

Dunia seperti milik gue sendiri.

Gue hampir tidak pernah merasa hilang akal ketika minum dalam keadaan senang, itu salah satu alasan kenapa gue cuma ingin minum ketika senang.

Lalu ketika Sabtu malam kemarin, gue melanggar aturan yang gue buat sendiri.

Sabtu malam kemarin sebenarnya sedang merasa kurang senang, tapi tidak merasa *kebalikan-dari-senang-tersebut *juga, teman gue membeli 1 botol AO gold malam itu yang menjadi langganan untuk minuman golongan B. Dan randomly, gue membeli 1 botol lagi ketika pulang kerumah hanya karena Indomaret tutup dan gue tidak memiliki stok kopi untuk malam itu.

Suasana hati sedang tidak karuan, but I got drunk anyway. Ritme minum pada saat itu gue yang ngatur dan gue pilih untuk berputar cepat, karena, well, we gonna fly tonight, right?

flying fucking high

1 gelas, 2 gelas, 3 gelas, 4 gelas, n gelas berputar sudah. Akal masih ada tapi gue sudah tidak memiliki kontrol. Hal-hal tolol mulai terjadi, dari mukulin monitor karena raspberry pi gue gak nyala (yang padahal karena kabel HDMI nya tidak terlepas), melepas tuts keyboard dengan alasan mau nyuci keyboard???, randomly memesan gofood, sampai melakukan hal-hal lain yang tergolong rese.

Perlahan akal gue seperti hilang, dan gue sudah tidak bisa berpikir jernih. Gue mulai melakukan hal-hal yang** sepertinya** ingin gue lakukan yang padahal gak harus. Gue WD aset crypto gue dengan alasan duit gue habis dan ingin beli minum lagi???, gue nelfon temen gue yang sober untuk minta tolong ambil duit di kartu kredit gue karena gue udah ga punya duit???, ngasih tau pin akun bank & kartu kredit gue ke dia, ngasih dompet gue ke dia, dan gobloknya mungkin karena baru pertama kali dia berurusan dengan orang hilang sadar, keturutan gue dipenuhi.

Hahaha anjing lu zak sumpaaah untung cuma beli satu botol aja, anyway.

Puncaknya, selain hilang akal, gue hilang kekuatan. Gue merangkak ke kamar mandi karena kaki gue sudah tidak kuat menahan badan gue, dan setelah itu, gue cuma bisa tepar di jalan depan kamar gue, merasa akan meninggal, dan satu hal yang harus gue lakukan pada saat itu adalah menelfon seseorang, meminta maaf dan memberitahunya kalau gue cinta dia, in case kalau hari itu adalah kesempatan terakhir gue untuk bisa bernafas, setidaknya perasaan gue tidak menjadi misteri seumur hidup untuk dia.

Cuma itu hal terakhir yang gue lakukan, kalau gue sampai nelfon orang tua gue akan makin berbelit urusannya. Thanks to myself yang memisahkan aplikasi di tiap perangkat untuk tiap kepentingan.

Lalu gue tepar di jalan, entah sampai jam berapa. Suara teman gue yang sober menyuruh gue pindah ke kamar sudah terdengar samar. Gue sudah tidak ingat apa yang terjadi setelah itu, yang gue tahu gue sudah bangun diatas kasur, dengan kondisi kamar yang sangat parah.

fucking alcohol

Beruntung gue mabok di kamar dan dengan teman-teman yang sudah berteman selama ~10 tahun (kecuali si Zaki). Meskipun situasi tidak terkendali, setidaknya tidak merugikan orang lain secara langsung (kecuali ke si Zaki).

Satu hal yang paling gue males setelah minum adalah selalu ke hal yang terjadi setelahnya. Tidak sedikit kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika kita berada dalam pengaruh alkohol; teman gue sampai kehilangan laptop, handphone, dompet; temannya teman gue ada yang sampai diperkosa, dan gue pada malam itu bisa saja kehilangan kartu debit; kredit, dompet, laptop, tablet, handphone, apapun yang bisa diambil.

Drink responsibly sangat sulit dilakukan ketika sedang merasa-tidak-senang karena menurut gue alkohol membantu mendorong emosi negatif untuk menguasai akal. Dan ketika emosi lebih dominan digunakan daripada akal, mungkin kita semua sudah tahu akan seperti apa jadinya.

good bye i guess?

Sabtu malam kemarin mungkin pertama kalinya gue minum di kondisi yang kurang senang, dan juga pertama kalinya gue sampai kehilangan akal. Beruntung tidak ada kejadian buruk yang terjadi (AFAICT) karena hal itu, dan gue berjanji (sudah bukan membuat aturan) tidak akan melakukannya lagi.

Dan, gue hanya akan akan mengkonsumsi golongan A aja meskipun di kulkas gue masih ada 1 botol AO yang dibeli sama si Zaki.

Mengkonsumsi alkohol khususnya sebagai minuman sekali lagi memberikan efek negatif baik jasmani ataupun rohani. Jantung berdebar lebih kencang (tidak jauh beda ketika konsumsi kafein & nikotin), badan terasa panas, dan yang paling penting menjadi lebih sulit untuk dapat berpikir jernih.

Tentu saja gue ingin benar-benar bersih dari alkohol. Dan kafein. Dan nikotin. Hidup gue sangat tidak sehat sekalipun ada asuransi yang melindungi. Entah kapan gue bisa berhenti dari ini semua, biarkan waktu yang menjawabnya.

Dan semoga bukan ketika di nafas terakhir gue nanti.