Tentang berkeluh kesah

Terkadang kita hanya membutuhkan tempat untuk bercerita, dan terkadang kita membutuhkan tempat untuk menerima saran.

Tentang berkeluh kesah

Setiap orang memiliki masalah. Entah sepele atau serius, masalah tetaplah masalah. Sebagai seseorang yang tinggal jauh dengan keluarga, teman adalah satu-satunya tempat untuk berkeluh kesah.

Karena keluarga tidak mengetahui apa yang sedang kita rasakan secara langsung, dan biasanya, kita tidak ingin membuat mereka khawatir jauh disana.

Teman menjadi penghibur dikala senang maupun susah. Terkadang kita menertawakan masing-masing masalah-masalah kita dan mencaci-maki tentang betapa tidak adilnya dunia.

Terkadang kita hanya membutuhkan tempat untuk bercerita.

Dan terkadang, kita membutuhkan juga tempat untuk mendapatkan umpan balik, sebuah solusi.

Kita tidak bisa memaksa teman kita untuk mengetahui & memahami masalah yang kita miliki. Misal, bila kamu memiliki masalah diseputar per-BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)-an sedangkan teman kamu belum ada (ataupun gak ada) pengalaman di BEM, apa yang bisa mereka berikan selain mendengar dan memberikan saran secara umum?

Bukan berarti teman kita tidak bisa diandalkan, melainkan hanyalah bukan orang yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut dan bisa memberikan saran secara spesifik.

Blogging

Untuk masalah yang sifatnya tidak terlalu pribadi, seringkali gue bagikan di blog. Jadi seperti, gue ingin bercerita, dan gue butuh pendengar, kurang pas klo gue ceritain tentang ini ke temen-temen gue karena temen gue gak ada interest (dan background) tentang masalah ini. Maka dari itu blablbablblbalbalbalbalab.

Get it?

Masalah-masalah seputar eksklusivitas, reusable password, perubahan kecil membantu, dsb bukanlah topik yang diminati oleh teman-teman gue didunia nyata, dan gue & teman-teman gue ngerti itu. Kita gak ada yang sejurusan, dan gak mungkin teman gue bercerita seputar masalah per-tataan-kotaan misalnya ke kita-kita yang anak teknik informatika, teknik mesin, desain komunikasi visual, teknik arsitektur, dsb.

Maka dari itu untuk ini, gue tuangkan ke blog. Karena rata-rata pembaca blog gue juga mungkin memiliki ketertarikan yang sama dengan gue: Teknologi Informasi.

Untuk masalah feedback "secara langsung" di blog, gue enggak terlalu mengharapkannya. Misal, klo gue pernah membahas seputar no reusable password, dan misalnya lo (yang baca) udah enggak pernah lagi pakai reusable password setelah membaca tulisan gue, itu udah menjadi feedback secara tidak langsung untuk gue.

Blog menjadi "tempat" virtual gue untuk tempat menumpahkan cerita. Dan dikondisi sekarang, gue rindu dengan "tempat" yang sebenarnya. To be honest.

Tempat

Di umur yang sekarang, rata-rata kita sudah asik dengan dunia kita sendiri. Begitupula dengan gue, asik dengan karir; menyusun kehidupan di masa depan, merencanakan kebebasan finansial, dan sebagainya.

Udah jarang (atau udah muak?) dengan cerita-cerita sepele seputar percintaan, mencoba hal baru, dan sebagainya yang biasa dilakukan ketika masih remaja. Sekarang masalah-masalah kita sudah naik level, tidak sesepele gue suka sama si X euy, wah anjir tadi gue abis nyoba chivas enak bgt lurd, dan sebagainya yang tidak "memiliki dampak berarti".

Mungkin masalah-masalah kita sekarang seperti bagaimana lelahnya menyelesaikan tugas kuliah, bagaimana kesalnya dengan manager yang sok tau, bagaimana sulitnya melamar pekerjaan, dan sebagainya.

Masalah-masalah yang memiliki dampak sangat berarti: Capek nugas, enggak kuliah, enggak lulus-lulus. Capek dengan manager, resign, harus cari kerja lagi. Capek melamar pekerjaan kesana-sini, nganggur, enggak ada pemasukan.

Dan sebagainya.

Dari masalah tersebut, kita butuh seseorang yang memang "mengerti" dengan masalah kita. Entah mahasiswa/i senior atau yang sudah lulus, entah pernah/sedang menjadi seorang manager, entah seseorang yang dulunya pernah susah mencari kerja juga dan sekarang sudah memiliki tangga karir yang bagus.

Dan sebagainya.

Ya, kita butuh umpan balik, dari seseorang yang kita percaya. Orang tua adalah tempat yang sempurna untuk itu, mengingat mereka pasti memiliki pengalaman yang jauh dari kita. Orang tua juga pasti memiliki masalah mereka sendiri, dan sayangnya, terkadang kita "berfikiran" untuk tidak ingin menambah masalah mereka dengan masalah kita.

Berkeluh-kesah kepada tuhan adalah tempat yang terbaik.

Namun tingkat keimanan seseorang berbeda-beda.

Seseorang

Siapa tempat yang pas untuk berkeluh-kesah selain tuhan, orang tua, dan teman?

Teman hidup. Entah dia suami/istri ataupun hanya pacar.

Teman hidup adalah tempat yang pas (salah satunya) untuk berkeluh kesah, mengingat kita akan hidup bersama dengan dia.

Kamu akan melihat dia setiap hari, bertemu dengan dia setiap hari, dan apapun itu.

Karena sudah komitmen untuk bersama, maka menyelesaikan bersama pun sudah menjadi sebuah keharusan.

Mungkin, meskipun teman hidup kita sama seperti teman yang lain (tidak bisa memberikan saran khusus), setidaknya saran dia bisa menjadi sebuah ke-khususan.

Sama seperti bila kita bercerita kepada orang tua bahwa kita lelah nugas/lelah kerja, meskipun saran yang diberikan dari orang tua hanyalah "Jangan males a, semangat atuh. Mamah terus ngedoain aa dari sini", saran tersebut adalah  sesuatu yang khusus karena datang dari seseorang yang kita sayang, dari seseorang yang ingin kita banggakan, dari seseorang yang memberikan kita energi, dan dari seseorang yang menganggap kita spesial.

Dan itu adalah sebuah kekhususan, orang lain tidak akan mendapatkan hal yang serupa dari orang tua kita, hanya ke anak-anaknya.

Dan sekarang gue rindu dengan sosok itu, seseorang yang khusus selain orang tua.

Seseorang yang rela meluangkan waktunya (salah satunya) untuk mendengarkan keluh kesah, seseorang yang membeli saran umum/khusus, namun terasa spesial.

Entah karena pemilih, kondisi keuangan, rupa atau bagaimana, di umur segini jadi makin susah untuk mencari seseorang itu. Kayaknya gue enggak terlalu pemilih deh, dan kondisi keuangan juga enggak hancur-hancur amat. Muka gue juga enggak jelek-jelek amat dah.

Tapi gak tau kenapa kok kayak sulit banget, ya? Gue sering heran sama temen-temen yang sering ganti-ganti pacar, yang udah punya pacar, dan sebagainya. Gimana caranya sih mereka bisa gitu?

Terakhir pacaran 2015, itupun pacaran ala-ala anak SMA. Plus, anak pesantren. Yang you know lah, enggak terlalu ada artinya.

Dari 2015 sampai tahun ini, bener-bener fokus sama dunia sendiri. Ngembangin diri, mulai berkarir, dsb. Enggak kepikiran untuk mencari pasangan lagi kecuali sampai akhir-akhir ini.

Sampai lupa cara "PDKT" itu gimana, cara kenalan sama orang itu gimana, dsb. Pernah sekali sangat nekat (because to be honest she gave me energy!) untuk berkenalan dengan seseorang yang belum pernah gue temuin sebelumnya, waktu di Jogja. Dan sayangnya, dia sudah memiliki "orang spesial" dihidupnya. Perkenalan waktu itu hanya sebatas pertemanan, meskipun dia memberikan gue energi. Dan keberanian.

This is problem

At least for me.

Gue lumayan pandai dalam menyelesaikan masalah sendiri. Semakin dewasa, semakin banyak masalah yang datang. Dan juga, semakin berat.

Terus-terusan menyelesaikan masalah tersebut (apalagi kalau sampai memendam) gue rasa buruk terhadap kesehatan mental gue. Sekuat apapun gue, pasti gue memiliki ambang batas dari kuat tersebut. Begitupula dengan lo.

Klo lo seorang programmer, se-"reliable" apapun aplikasi kamu, pasti memiliki ambang batas juga. Mungkin waktunya saja yang belum datang. Aplikasi-aplikasi seperti Google, Twitter, Instagram pun pasti memiliki down-time yang merusak "reliable" terhadap aplikasi tersebut.

Dan gue sedang mencari seseorang tersebut. Enggak, bukan berarti gue hanya mencari seseorang yang hanya untuk menampung keluh-kesah gue, namun lebih dari itu. Yang ingin hidup bareng dengan gue.

Kita pasti tua, enggak bisa selamanya kita hidup sebagai seorang anak muda yang memiliki masalah seputar level anak muda. Dewasa bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Sebuah kenyataan yang harus kita terima.

Gue bingung gimana mengakhiri tulisan ini, intinya, gue butuh seseorang itu.

Gue rindu seseorang itu, seseorang yang hadir & ikut andil dalam diri gue.

Seseorang yang disebut dengan teman hidup, yang menemani kita dalam setiap kehidupan kita.

Untuk kamu yang membaca ini dan sudah memiliki pasangan, jaga & seriuslah dengan dia. Karena mencari pasangan yang "pas", "serasi", dan "perfect for me" itu sulit.

Untuk kamu yang belum memiliki, jangan menyerah. Mungkin tuhan sedang melatih kamu agar kamu lebih bisa hidup mandiri, sampai kamu menjadi cukup mandiri dan diberikan seseorang yang berarti sebagai hadiah karena kamu sudah cukup mandiri.

Terakhir, kalo punya kenalan cewek, kabar-kabar sama gue ya haha. Gue gak bisa mendeskripsikan diri gue seperti apa, biarkan lo sendiri yang menilai gue kayak gimana.

Intinya, terima kasih telah mendengarkan ceritaku ini.