Tentang Digital Minimalism

Tentang Digital Minimalism

Sebelumnya sudah tertarik dengan gaya hidup minimalis ini, dilanjutkan dengan membaca bukunya Fumio Sasaki yang berjudul Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism yang isinya oke banget pada tahun 2019 kemarin.

Istilah "Digital Minimalism" ini literally adalah hal yang baru untuk gue, setelah ngobrol sama @wahudamon di Telegram.

Jika melihat dari yang sudah gue "lakuin" di dunia digital, secara teknis sudah menerapkan tentang ini. Ini cuplikan Launchpad (bahasa umumnya apa ya?) dari laptop gue:

Browser punya 4 karena ehm seorang Frontend Developer. Aplikasi yang ada di direktori Apple berisi aplikasi-aplikasi bawaan yang gak bisa dihapus, dan di Other adalah aplikasi yang kadang gue gunain, tapi gak sering-sering amat (Screenflow, OBS, Sketch, Docker, dll).

Untuk di mobile sendiri, lebih parah. Ini daftar aplikasi yang gue pasang:

Kembali memasang peramban di handphone semenjak laptop kurang stabil. Tangkapan layar diatas sebagai rujukan bahwa secara teknis gue sudah mencoba untuk bergaya hidup minimalis dalam dunia digital, sekarang mari kita bahas lebih lanjut tentang ini.

Minimalism at the glance

Pada dasarnya gaya hidup minimalis adalah memiliki/menggunakan sesuatu yang ada semaksimal mungkin. Sederhananya, hanya membutuhkan apa yang... Dibutuhkan?

Terlalu sederhana, beri aku contoh!

Mungkin gini, gue ambil contoh berdasarkan kasus gue aja. Gue dulu punya perangkat lumayan banyak, dari kindle; 1 tablet, 2 laptop, 2 handphone, 1 mobile Wi-Fi, dsb — what the fuck, apa yang gue pikirkan kala itu?

Oke lanjut, pertanyaan nya, untuk apa gue punya barang itu semua?

Maksudnya, apakah gue bener-bener membutuhkan barang itu?

Pakai 2 HP asumsinya yang satu untuk kebutuhan pribadi yang satu untuk bisnis, klo untuk laptop karena gue emang pengen beli yang baru (dan gue terlalu males untuk jual yang lama). Hidup dengan itu sekilas seperti biasa saja tanpa ada masalah, sampai hal tersebut menjadi masalah.

Pertama, gue harus charge 2 handphone. Kedua, gue butuh space untuk menyimpan gadget-gadget itu. Ketiga, yang paling inti: ada biaya pemeliharaan untuk itu semua. Ya, laptop rusak; Hp rusak dsb adalah kemungkinan yang tidak bisa dihindari.

Hey, biaya pulsa juga dong?

Gue merasa ada yang gak beres dalam hidup gue. Lalu tertariklah dengan gaya hidup minimalis ini, terlebih setelah debut Marie Kondo tentang Does it Spark Joy nya.

Hidup menjadi lebih worry-less karena lebih sedikit memiliki sesuatu. Parkinsons Law, anyone?

Digital Minimalism?

Oke, Software is eating the world. Hampir kehidupan kita bergantung dengan peranti lunak. Dari ketika ingin & sedang tidur via Bedtime nya iOS, bangun tidur via built-in alarm, sampai ke "upacara" setelah bangun tidur yang sudah menjadi kebiasaan: Scroll sosial media, cek pesan & email, dan melihat tasks apa saja yang ingin dikerjakan.

Belum lagi ketika berangkat kerja ditemani dengan aplikasi Go-jek/Grab dan Spotify, di kantor dengan Slack, akhir pekan dengan Netflix, dan liburan dengan Traveloka & Tiket.

Ya, hidup kita (sekarang) sangat sangat bergantung dengan peranti lunak, sadar atau tidak sadar setuju atau tidak setuju.

Dan itu, sudah "dirancang" untuk menjadi seperti itu. Silahkan tanya teman mu yang seorang UX Designer.

Tidak dipungkiri, aplikasi-aplikasi seperti Twitter; Instagram, Reddit, dsb seperti memiliki zat adiktif. Teknologi pun ber-transformasi dari yang intentional menjadi habitual. Dan ya, mereka (juga) mengatur psikologimu.

Menjadi "minimalis" bukanlah jawaban untuk masalah ini, namun setidaknya menjadi jawaban sementara untuk kasus ini.

Does it spark joy?

Pertanyaan itu adalah bagian fundamental dari gaya hidup minimalis yang dipopulerkan oleh Marie Kondo. Jika jawabannya No, silahkan berterima kasih dan buang.

Seperti, apakah ketika menggunakan Instagram memberikan kebahagiaan atau malah sebaliknya? Jangan mau dibohongi oleh ilusi "kebutuhan", karena ia hanyalah sebatas "keinginan", in my opinion.

Layanan-layanan lain pun sama, entah dari konsumsi berita; Berlangganan layanan streaming, dll. Relatif pasti jawabannya "Yes, it spark joy". Tapi silahkan tanya kembali, apakah kamu benar-benar membutuhkan itu? Alias, menjadikan itu sebagai kebutuhan bukan hanya sebatas keinginan.

30-day game

Salah satu hal yang dilakukan dalam "menjalani" gaya hidup minimalis adalah dengan membuang yang tidak perlu dan memaksimalkan yang ada. Terkadang kita tidak tau apakah kita benar-benar butuh atau hanya sekedar ingin, dan 30-day game ini bisa menjawab kegelisahan tersebut.

Lihat aplikasi-aplikasi mu sekarang, apakah ada yang selama 30 hari tidak kamu gunakan? Lalu apa yang kamu rasakan, apakah kamu bisa hidup meskipun selama 30 hari itu kamu tidak menggunakan aplikasi tersebut?

Juga, ketika mempertimbangkan untuk menggunakan suatu aplikasi/layanan baru, "permainan" ini juga bisa berguna. Misal, kamu ingin mengunduh "aplikasi untuk memonitor gempa bumi". Kamu rasa kamu butuh aplikasi tersebut, tapi coba silahkan dalam 30 hari kamu tidak memasang aplikasi tersebut, apakah kamu masih bisa hidup?

Atau malah gelisah dan harus memasang aplikasi tersebut?

Biaya dalam memasang suatu aplikasi bukan hanya sekedar disk space, bandwidth, dan data pengguna. Melainkan lebih dari itu, seperti, kamu harus menerima kenyataan bahwa aplikasi tersebut akan berada di kehidupanmu, dimanapun kamu membawa gadget.

Minimalism & Digital Minimalism is the same, fundamentally

Maka dari itu gak banyak bahas banyak seputar ini karena selain bukan ahlinya juga karena sudah banyak tulisan/video yang bagus yang fokus membahas tentang itu.

Penutup

Tujuan inti dari gaya hidup minimalis pada dasarnya adalah agar hidup menjadi worry less, sebagaimana hukum Parkinson yang pernah dibahas sebelumnya. Semakin sedikit menggunakan aplikasi, semakin sedikit pula yang perlu kita khawatiri terkait aplikasi ataupun layanan yang kita gunakan.

Ya, semakin sedikit yang harus kita perhatikan terkait aktivitas digital kita.

Tidak ada masalah dengan hidup kita meskipun kita tidak hidup dengan gaya minimalis sekalipun. Pertanyaannya:

  • Mengapa kita tetap mempertahankan sesuatu yang tidak kita butuhkan?
  • Mengapa kita tetap melakukan sesuatu yang bisa membuat kita tidak senang?
  • Mengapa kita terus memiliki sesuatu yang baru padahal yang ada saja sudah cukup?

Ya, manusia tidak pernah merasa puas.

Dan ya, time is money. Semakin dewasa, mata uang yang paling berharga adalah waktu setuju tidak setuju.

Dan juga, semakin dewasa, semakin banyak yang menjadi perhatian untuk kita, penting tidak penting.

Memiliki dan menggunakan sesuatu tidak sesederhana membeli dan menerima, tapi ada biaya lain yang harus dibayar, perawatan salah satunya.

Menggunakan sosial media (salah satunya) tidak hanya sebatas registrasi akun, verifikasi, lalu gunakan. Ada biaya lain seperti biaya perawatan (do you all use the same password across all your accounts?), biaya penggunaan (both at "time cost" and "service cost"), dll yang mungkin banyak yang tidak kita sadar.

Prinsip gue, jika tidak memberikan ROI yang oke untuk hidup gue, thank it and throw/close it. Bagaimanapun, hidup selalu tentang menanam & menuai, untuk apa menuai sesuatu yang tidak memberikan hal positif untuk kita?

Time is money, and attention is the new currency in the digital world. Invest wisely.