Tentang Parkinson's law

tentang uang dan rahasia

Tentang Parkinson's law

Manusia adalah entitas yang unik. Beruntungnya, sudah banyak orang-orang yang mempelajari tentang manusia, dan membuat teori tentang itu.

Karena 2020 akan datang—naik gaji, anyone?—ada hal yang gue ingin bagikan seputar Parkinson's Law dalam konteks ke (manajemen) keuangan.

Sebagai sanggahan, gue bukan seorang ahli keuangan; ekonomi, ataupun psikologi. Melainkan hanya tertarik dengan bidang tersebut, khususnya yang berkaitan dengan hidup gue.

Tentang hukum

Bunyi dari hukum Parkinson tersebut adalah "Work expands so as to fill the time available for its completion" yang menurut hasil terjemahan gaya bebas fariz berarti "Pekerjaan berkembang agar waktu yang tersedia untuk menyelesaikannya terpenuhi".

Sederhananya, bila kita ambil contoh terhadap "cara kita makan", semakin banyak makanan yang ada, maka semakin banyak waktu untuk menghabiskannya.

Sangat jelas, sederhana, dan mudah dimengerti tentang hukum ini, bukan?

Tentang gaji

Gue bukan financial advisor™ macem akun-akun twitter yang sering berbagi skrinsut tentang keuangan, tapi karena gue punya gaji—dan tulisan ini pastinya adalah untuk diri gue sendiri—mari kita bahas tentang ini.

Semakin besar gaji kita, semakin besar pula pengeluaran kita. Setuju?

Maksudnya, semakin besar gaji yang kita miliki maka akan semakin banyak pula cara untuk menghabiskannya. Bagaimanapun, uang akan selalu dan dihabiskan, entah dengan cara/untuk apapun itu.

Mari kita contohkan kalau gaji gue adalah 50jt, per-lima tahun.

Hahaha oke misal 1jt/bulan atau 12jt/tahun. Angka tersebut lumayan kecil/sedikit, bukan?

Karena kecil/sedikit itu, cara gue menghabiskan gaji tersebut gak susah-susah banget:

  • Bayar kos 800rb/bulan
  • Bayar internet 300rb/bulan
  • Makan 600rb/bulan
  • ...

Loh kok malah jadi kurang? Oke gue coba pakai kondisi yang dibuat-buat aja:

  • Bayar kos 500rb/bulan
  • Bayar internet 100rb/bulan
  • Makan 300rb/bulan

Kondisi diatas kurang make sense sih terlebih tinggal merantau di Bandung, but its okay demi konten.

Ada 3 kebutuhan yang harus gue penuhi dari daftar diatas, dengan hasil gue ada uang 100rb sisa per-bulan yang bebas pengen gue apain. Kalau gak mau cuma 100rb, kita bisa rombak daftar tersebut menjadi seperti ini misalnya:

  • Bayar kos 500rb/bulan
  • Makan 300rb/bulan

Dengan hasil gue ada sisa 200rb per-bulan dengan kondisi gak bayar internet alias selalu numpang hotspot temen/kantor dan nge-press biaya makan.

Nah, itu untuk 1jt. Jika gajimu 10jt/bulan, pasti daftar tersebut akan semakin banyak.

Atau, angka yang ada pada daftar tersebut akan naik.

Tentang biaya & gaya hidup

Jika kita lihat daftar diatas, semuanya adalah tentang biaya & gaya hidup.

Makan & Bayar kos adalah biaya hidup sedangkan menggunakan internet adalah gaya hidup (DOES ANYONE HERE TREATING INTERNET'S SUBSCRIPTION AS A LIVING COST LIKE SERIOUSLY???).

Untungnya—berdasarkan kasus diatas—kita rela mengurangi biaya gaya hidup kita. Dan sisa 200rb tersebut bisa kita gunakan entah untuk gaya hidup/hidup.

Biaya hidup adalah sesuatu yang pasti. Kita tidak gratis untuk bisa hidup di dunia ini (THANK GOD NOBODY IS SELL THE AIR). Dan untuk gaya hidup, ini adalah sesuatu yang opsional.

Sayangnya (should I mad here?) gaya hidup mencerminkan "kualitas", "status", dan "kasta" seseorang.

Dan sudah menjadi stereotipe.

Kamu—seakan-akan—terlihat berbohong jika pemasukan kamu "tidak mencerminkan" status hidupmu. Sederhananya, kamu akan "dianggap" berbohong kalau gajimu misalnya 20jt/bulan sedangkan hidupmu sederhana dan tinggal ditempat biasa saja.

Karena, come on, kamu harusnya tinggal di apartemen di mall yang di lantai dasarnya ada sbux dan mekdi, setiap hari makan di solaria, dan harus punya mobil; iphone xxx, drone, data center, saham frisian flag, dsb bila punya gaji segitu.

Such a bullshit. Fuck to people. Fuck to lifestyle.

Konteks

Semoga sudah dapet poin nya, ya.

Selagi kamu belum sampai ke angka, status, dan skala yang lebih besar, semoga si Parkinson's Law ini bisa kita terapkan di berbagai kasus yang (akan) kita miliki/hadapi. Seperti (sebagai contoh):

  • Semakin besar codebase, semakin besar pula usaha untuk maintenance nya
  • Semakin banyak tim, semakin banyak pula usaha untuk mengatur nya

Sehingga kita tau (secara sadar) apa yang harus kita lakukan.

Selagi kamu masih kecil/sedikit, apa salahnya untuk tetap kecil/sedikit yang penting input/output nya maksimal?

Jika sudah besar/banyak, mungkin hal-hal yang berkaitan dengan efektifitas & efisiensi berguna untukmu?

Atau, bisa pertimbangkan untuk berfikir ulang ataupun mendefinisikan ulang lagi :))

Penutup

Hal-hal yang berkaitan dengan "aturan"—mengatur, diatur, teratur, peraturan—adalah hal yang membosankan (atau menjengkelkan?)

And yes, fuck to rules.

Tapi, ada 1 yang gue pelajari selama ini tentang itu: Kita (or only me?) bukan benci dengan aturan, kita cuma benci dengan caranya.

Kita bukan benci dengan pengatur (hello manager!), kita cuma benci cara dia mengatur.

Kita bukan benci dengan peraturan, kita cuma benci apa yang diwajibkan & dilarang.

Kita bukan benci mengatur, kita cuma salah cara kita mengatur.

Dan kita bukan membenci teratur, kita cuma gak tau/gak menerima/gak cocok dengan alasan terhadap mengapa kita harus teratur tersebut.

Kembali ke konteks, mengatur uang; Diatur uang, teratur dengan uang, dan peraturan terhadap uang adalah hal yang menjengkelkan. Maksudnya, persetan dengan aturan terhadap uang, bukankah uang ada untuk dihabiskan?

Pertanyaannya, Bagaimana cara uang tersebut dihabiskan?

Dan kemana?

Untuk apa?

Untuk siapa?

Kapan?

Mengapa?

Mungkin membuat post-mortem terhadap uang yang kita habiskan perbulan terlihat stupid, but why not?

Tapi kalau lo setuju (like me) kalau paragraf diatas terlihat stupid, tertarik dengan zero-based budgeting?

Yang intinya, semakin besar pemasukan seseorang maka semakin besar pula pengeluaran untuk biaya & gaya hidup nya.

Dan sekali lagi, persetan dengan masyakarat & gaya hidup.

Terima kasih telah hadir ke kelas perkuliahan hari ini.