Tentang Survivorship Bias

Tentang Kesuksesan, Survivorship Bias, Law Of Attraction, dan Semesta.

Tentang Survivorship Bias

Sudah lama ingin membahas tentang ini, terlebih ketika telah selesai membaca bukunya Malcolm Gladwell yang berjudul Outliers yang intinya tentang memandang "kesuksesan" dari sudut pandang yang berbeda. Spoiler: Privileges.

Banyak orang yang terobsesi untuk sukses, menjadi orang sukses, dsb dengan pengertian sukses masing-masing. Mengapa terobsesi? Karena pada dasarnya, berdasarkan yang sudah dinilai & disetujui oleh orang banyak, lawan kata dari sukses adalah gagal.

Dan bila kita berada di tengah-tengah itu, maka kita tergolong seorang mediocre.

Sukses pada dasarnya adalah ketika kita mencapai sesuatu. Disebut sukses berhenti merokok ketika seseorang sudah tidak menyentuh rokok samasekali.

Kebanyakan hidup kita dipengaruhi oleh kehidupan orang lain. Tidak heran mengapa ada orang-orang yang ingin menjadi seperti Bill Gates, Warren Buffett, dan beberapa nama lain yang ada di daftar Forbes, karena mereka orang sukses.

Yang mana arti sukses nya sesuai dengan hampir semua arti sukses yang disetujui oleh banyak orang.

Karena itulah orang-orang tertarik untuk mempelajari kehidupan orang-orang sukses ini. Buku-buku lower-tier seperti Cara menjadi orang sukses blablabla, Berfikir seperti orang sukses blablabla, dll sampai ke yang higher-tier seperti buku-buku biografi orang sukses yang memiliki ~666 halaman laku dijual di pasar.

Sampai ke dokumentasi dokumenter, yang salah satunya berjudul Inside Bill's Brain: Decoding Bill Gates untuk memenuhi rasa penasaran kebanyakan orang tentang bagaimana Gates berfikir sehingga bisa se-sukses sekarang.

Tentang Survivorship Bias

Kondisi diatas bisa kita sebut sebagai Survivorship Bias, sebuah bias/kesalahan logika karena memusatkan perhatian pada orang atau benda yang berhasil.

Sederhananya, pemikiran yang cenderung mengarah pada kesuksesan.

Seperti, dengan berfikir seperti Bill Gates; Berkebiasaan seperti Warrent Buffett, bertingkah seperti Mark Zuckeberg, dll berarti kita bisa menjadi seperti mereka juga.

Contoh lebih lanjut adalah seperti tren sekarang di Indonesia: Perusahaan rintisan.

Kebanyakan para pembuat perusahaan rintisan akan berkiblat ke Silicon Valley, melihat kesuksesan perusahaan-perusahaan seperti Netflix; Facebook, Twitter, dan berbagai perusahaan teknologi lain yang berhasil untuk IPO, ataupun diakuisisi bila perusahaan tersebut relatif baru.

Ada hal yang mungkin tidak menarik, tapi begitulah kenyataannya: Ada banyak juga perusahaan-perusahaan khususnya di SV yang gagal, karena kalah saing misalnya.

Namun kita cenderung melihat ke yang sukses saja.

Dan itulah Survivorship Bias.

Mungkin karena for the good vibes sake, kita cenderung lebih menyukai kisah sukses daripada kisah gagal. Kisah sukses seakan-akan menjadi sebuah panduan untuk kamu agar sukses, dan sebaliknya untuk yang gagal.

Sebagian orang mungkin sudah menganggap bahwa kisah gagal adalah agar kita bisa mempelajari & menghindari apa yang mereka lakukan sehingga bisa menjadi gagal.

Tapi mari kita realistis, ada berapa banyak kisah gagal yang sesukses penjualan kisah sukses?

Tentang Outliers

Intinya outliers adalah seseorang/sesuatu yang tidak biasa.

Alias, memiliki keistimewaan khusus.

Seperti, jika Bill Gates kuliah di ITENAS, apakah akan sesukses seperti sekarang? Jika Warren Buffett lahir pada tahun 1992, apakah akan masuk ke daftar di Forbes juga? Jika Apple didirkan di Jakarta Selatan, apakah akan sesukses seperti sekarang? Dsb.

Yang berarti, Bill Gates pernah kuliah di Harvard; Warrent Buffet lahir pada tahun 1930, dan Apple didirikan di California adalah keistimewaan yang dimiliki mereka, salah satunya.

Mungkin sedikit tidak masuk akal, namun begitulah adanya.

Tidak ada yang harus disalahkan, menganggap semesta & tuhan tidak adil, dsb. Yang perlu kita pahami adalah pelajari bagaimana cara semesta bekerja.

Tokopedia & Bukalapak, 2 E-commerce yang dinilai sukses di Indonesia bukanlah pionir kehadiran E-commerce di Indonesia. Ada Bhinneka yang sudah hadir sejak tahun 1996/1997, namun mengapa tidak sesukses 2 startup diatas?

Semoga kamu sudah mendapatkan poinnya.

The Law of Attraction

Pernah mendengar tentang hukum tarik menarik?

Ini menurut gue versi "lebih baiknya" dari bias kebertahanan. Bias kebertahanan cenderung melihat ke orang lain, sedangkan hal-hal terkait hukum ini, cenderung melihat ke diri sendiri.

Jika kamu pernah mendengar kata-kata mantra (ehm, anyone knows Mahfudzat?) seperti Man Jaddwa Wa Jada, atau Kun Fayakun (oke ini ayat kitab suci), intinya itu dapat disamakan dengan Law Of Attraction.

Singkatnya, kita pakai perumpaan yang gampang. Untuk bisa masuk ke ruangan, kita harus dekati pintu, pegang gagang pintu, lalu.. Menariknya?

Sederhana, bukan?

Sekarang, bagaimana bila seseorang tidak sampai untuk meraih gagang tersebut? Bagaimana bila pintu tersebut ternyata terlalu berat untuk ditarik? Bagaimana bila pintu tersebut ternyata di kunci—dan kita tidak memiliki wewenang untuk bisa masuk?

Yang intinya, ketahui dirimu & batasanmu.

Gue bisa aja percaya & yakin kalau gue bisa pergi ke bulan, selalu berharap/berdoa agar apa yang gue inginkan tercapai, sekaligus berusaha.

But you know what?

Gue gak tau apa-apa seputar astronomi, dan gak ada ketertarikan untuk mempelajari itu. Mungkin bisa aja gue memaksa untuk mempelajari astronomi, tapi bukan itu poinnya.

Dan itu cuma sebagai perumpamaan saja, semoga dapet poinnya ya.

Penutup

Setiap orang boleh bermimpi untuk menjadi apapun & siapapun.

Mengikuti kebiasaan orang-orang sukses yang bekerja 80 jam per-minggu, belajar terus tanpa henti, dsb tidak sepenuhnya salah, tapi ketahui dirimu dan batasanmu.

Dan yang paling penting, tujuan & usahamu.

Di hari ini, bukan hanya kamu saja di dunia ini yang berambisi untuk menjadi orang sukses. Ada ribuan, jutaan, miliaran diluar sana yang memiliki ambisi serupa. Mungkin mereka lebih bodoh dari kamu, atau lebih pintar dari kamu, lebih "ber-uang" dari kamu, lebih beruntung dari kamu, ataupun lebih sial dari kamu, dsb.

Kita sudah tau hukum rimba: Yang kuat yang bertahan. Doa & usahamu berperan dalam mencapai tujuanmu.

Ada satu yang mungkin seringkali tidak kita sadari perannya: Semesta.

Rencana bisa gagal meski penuh persiapan, tegaknya pohon bisa roboh oleh hembusan angin, dan kepercayaan bisa hilang ketika terpisah oleh jurang.

Ketahui cara kerja alam semesta.

Saya setuju bahwa tidak ada yang kebetulan untuk semua yang terjadi di dunia ini, tapi bukan itu poinnya.

Selamat berjuang.

Gambar cover diambil dari https://jamesclear.com

https://xkcd.com/1827/ - thank me later