Titik jenuh

Sudah 22 tahun saya hidup di dunia ini, sudah lumayan banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan, meski 22 tahun masih relatif singkat.

Sampai hari ini saya masih hidup, masih bernafas. Masih menjalankan aktivitas yang relatif sama setiap harinya: Bangun tidur, pergi bekerja, melakukan aktivitas pribadi, pergi tidur.

Begitupula dengan orang tua saya yang mungkin sudah 50 tahun lebih tinggal di bumi ini: Bangun tidur, pergi bekerja, melakukan aktivitas pribadi, pergi tidur.

50 tahun terus-terusan melakukan aktivitas itu.

Saya akan mengambil contoh terhadap diri saya sendiri.

Bangun tidur, mematikan alarm, minum air mineral, menyalakan laptop, cek email, mandi, bekerja, mandi, keluar kamar, pulang, pergi ke kasur, mengobrol dengan orang tersayang, pergi tidur.

Keluar kamar lewat jalan Dago, yang terlintas dalam pikiran adalah ah shit this street again.

Pergi ke Upnormal atau Starbucks, yang terlintas dalam pikiran adalah ah shit this place again.

Sampai kosan melihat kasur, yang terlintas dalam pikiran adalah ah shit this bed again.

Ketika bangun tidur, secara tersirat berucap ah shit here we go again.

Saya tidak tau pastinya kapan aktivitas tersebut akan terus berulang, kebanyakan orang bilang bahwa syukuri saja karena kita masih diberi kesempatan untuk hidup.

Lalu saya melihat orang lain.

Melihat teman kantor lama saya yang masih bekerja di tempat yang sama dari tahun 2011, melihat orang tua saya yang masih tinggal bersama selama 21 tahun, melihat Starbucks yang sudah 49 tahun masih berjualan kopi, melihat Ratu Elizabeth II di Wikipedia yang sudah 68 tahun menjabat sebagai kepala negara.

Satu pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya adalah: "Apa tidak jenuh?"

Tentu bila saya tanya salah satu dari mereka pasti jawabannya adalah "jenuh". Saya yakin mereka bohong bila menjawab "tidak".

Namun satu hal yang belum saya tahu pastinya adalah alasan mengapa masih bertahan. Apa alasan teman kantor lama saya masih bekerja di perusahaan teknologi edukasi sampai hari ini? Apa alasan Starbucks masih berjualan kopi sampai hari ini?

Apa yang mereka pertahankan?

Apa alasan yang mereka miliki?

Dan mengapa?

Jika saya diberi kesempatan untuk dapat menanyakan itu, akan saya ingat seumur hidup saya sebisa mungkin akan jawaban mereka.

Tentang pekerjaan

Sudah 23 tahun Jeff Bezos menjadi CEO Amazon, sampai hari ini.

Aktivitas yang dia lakukan setelah bangun tidur adalah menjadi seorang pejabat tertinggi eksklusif di sebuah perusahaan teknologi yang utamanya adalah sebuah mall daring.

23 tahun bekerja di tempat yang sama, dengan posisi yang sama.

Jabatan CEO terlebih di perusahaan multinasional tentu adalah sebuah mimpi indah untuk kebanyakan orang. Hidup serba cukup, status sosial kelas atas, tunjangan tinggi, siapa juga yang tidak ingin?

Jika yang dikejar Jeff adalah Harta; Tahta, Pevita, Alexa, Jeff sudah memiliki itu semua.

Sekarang kita coba lihat orang lain: Bill dan Mark, misalnya. Mereka sudah move on dari jabatan mereka sebelumnya yang bertitel sama.

Yang jadi pertanyaan saya, mengapa Jeff tidak seperti Bill dan Mark yang sudah move on dari pekerjaan sebelumnya yang sudah susah payah mereka bangun?

Oke, mereka terlalu jauh. Mari ke yang lebih mendekati realita kita, misal, seseorang yang bekerja sebagai Software Engineer di perusahaan teknologi di Indonesia.

Dia memiliki gaji yang cukup untuk ukuran hidup sendiri di kota yang tidak terlalu bergaya hidup tinggi. Salah satu alasan dia bekerja di tempat itu bukan hanya tentang uang—karena uang bisa habis dan bisa dicari lagi—melainkan pengalaman dan pengetahuan, yang mana tidak bisa habis.

Sudah genap 4 bulan dia bekerja di tempat tersebut, namun dia sedang merasa jenuh. Bukan, bukan karena tunjangan yang kurang apalagi benefit yang ditawarkan.

Melainkan... Karena jenuh saja.

Lalu dia teringat dengan pelajaran Kimia pada masa SMA tentang Larutan Jenuh yang sederhananya adalah kondisi dimana zat terlarut lebih besar daripada zat pelarut.

Apa hubungannya?

Mungkin ada di kesetimbangan.

Entah hidup dia lebih besar daripada pekerjaan ataupun sebaliknya, satu hal yang saya yakin adalah ketidak-setimbangan antara dua hal tersebut. Bukan tanpa alasan mengapa perusahaan-perusahaan terbaik selalu mengutamakan work-life balance, karena salah satunya adalah untuk meminimalisir kemungkinan tercapainya ke titik jenuh.

Titik jenuh tersebut mungkin beragam, namun yang paling banyak dan nyata adalah merasa burnout.

Mengambil contoh larutan jenuh, saya teringat sebuah contoh yang menggambarkan 'kondisi jenuh' dengan gambaran kopi yang terlalu banyak porsi kopinya daripada airnya.

Kondisi diatas disebut jenuh, terlalu kental, terlalu pahit, apapun.

Dan cara untuk menghilangkan kondisi jenuh tersebut adalah dengan menambah zat pelarutnya (air), bukan membuang zat terlarutnya (kopi), karena bila membuang kopi (yang sudah terlarut dengan air), kita hanya mengurangi volumenya, bukan kejenuhan larutannya.

Apa yang bisa diambil dari itu?

Saya yakin alasan Bill dan Mark move on bukan karena mereka sudah capek/bosan menjadi CEO, melainkan karena misi mereka sudah tercapai, lalu pindah untuk menyelesaikan misi lain.

Kembali ke contoh si Software Engineer itu, mungkin satu-satunya cara dia untuk tidak jenuh adalah resign, alias pindah ke kantor lain. Pertanyaannya, bagaimana bila di kantor tersebut dia sampai ke titik jenuh seperti di kantor yang sebelumnya itu?

Resign lagi?

Terus saja sampai menjadi lingkaran setan yang tidak ada ujungnya.

Dan bila mengambil contoh si kopi dan air itu, mungkin si Software Engineer bisa melakukan hal lain untuk 'menambah air' daripada 'membuang kopi' seperti... pindah divisi? Mengambil cuti? Mengerjakan proyek sampingan yang lebih menantang?

Ada satu kutipan yang selalu saya ingat sampai sekarang yang saya dapat ketika bekerja di sebuah perusahaan teknologi di Bandung: "If you get tired, learn to rest, not to quit".

Kutipan diatas adalah dari seorang artis jalanan di Inggris bernama Banksy, yang bila saya artikan adalah untuk jangan mudah menyerah. Menyerah karena kamu merasa tidak bakat menjadi seorang Programmer padahal baru belajar selama 3 bulan? Menyerah karena kamu terus gagal padahal baru 2x?

Berhenti bukanlah jawaban untuk lelah, melainkan istirahat.

Lalu, kapan waktu yang tepat untuk berhenti?

Saya rasa adalah ketika misinya sudah tercapai, merasa butuh yang lebih dan yang tidak bisa didapat dari situ, atau adalah karena sudah waktunya untuk berhenti untuk alasan yang pasti.

Hedonisme

Mungkin kamu menganggap bahwa hedonisme sebatas sebuah pandangan hidup yang suka berfoya-foya, namun ternyata lebih menyeramkan, adalah sebuah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.

Definisi itu saya dapat dari Wikipedia, dan ya, saya menjadi Wikipedia sebagai referensi.

Mengapa saya anggap menyeramkan? Karena menurut saya itu terlalu utopis.

Serta terkesan egosentris.

Dan menurut saya juga berkaitan dengan sebuah titik jenuh.

Titik jenuh adalah tentang keseimbangan, tidak terlalu berat di kiri ataupun di kanan. Dan bila ketika terjadi berat sebelah, maka dilakukan cara agar bisa ke posisi yang seimbang.

Misal bila kita terus senang, kita akan lupa makna dari senang itu sendiri karena kita tidak mengenal apa itu sedih. Begitupula sebaliknya.

Kamu tidak akan merasakan lapar, jika perutmu selalu terisi. Dan kamu tidak akan merasakan kenyang, bila perutmu selalu merasa lapar.

Sekarang kita kembali ke hedonisme, bagaimana bisa merasakan kebahagiaan bila terus mencari kebahagian dan menghindari kesengsaraan? Titik atau standar kebahagiaanmu akan terus naik dan naik, dan tidak ingin turun, karena menghindari kesengsaraan.

Bukankah kondisi diatas terlalu bersifat khayal?

Oke, anggap itu nyata. Sekarang kamu sudah berada di titik yang paling atas, kamu sudah tidak mengenal kebahagiaan lagi karena kebahagiaan itu sendiri adalah kamu.

Bagaimana bila kamu ingin merasa bahagia kembali?

Tentunya dengan menurunkan standar, menurunkan kurva, dengan merasakan lawan dari arti bahagia itu. Perusahaan yang di Q1 yang pendapatannya 1jt bila di Q2 pendapatannya adalah 2jt, sederhananya meraih keuntungan dengan catatan pengeluarannya adalah 1jt.

Dan bila di Q3 pendapatannya hanya 1jt dengan pengeluaran 2jt, maka disebut kerugian, kan? Dan bila di Q4 mendapatkan 1.5jt dengan modal 1jt, maka disebut keuntungan juga.

Yang maksudnya, untuk bisa naik harus merasakan turun dulu dan sebaliknya.

Bila pengeluaran 2jt dan pemasukan 2jt, berarti stagnan (anggap 2jt sudah bersih, termasuk biaya waktu). Tidak bergerak. Tidak naik dan tidak turun.

Dampaknya?

Tidak mendapatkan apa-apa. Tidak untung dan tidak rugi.

Apa coba yang bisa didapat dari kondisi tersebut?

Kebahagiaan pasti dibarengi dengan kesedihan, bagaimana bisa kamu menertawakan sulitnya menulis kode JavaScript bila kamu sendiri belum pernah merasakannya, kan?

Maksud saya menulis bagian hedonisme menggunakan stereotip yang ada ini adalah untuk mengingatkan kembali bahwa hidup tak hanya senang dan indah, indah dan senang.

Tentang mengingat kembali bahwa keseimbangan itu penting.

Bukan berat sebelah, apalagi terus menghindari.

Penutup

Bagian yang belum dibahas adalah 'kapan harus berhenti?'.

Mari kita mengambil contoh berikut, untuk kasus mengambil keputusan:

  • Bekerja di perusahaan A
  • Menjalin hubungan dengan B
  • Memulai bisnis di industri C

Satu hal yang sama dari 3 poin diatas adalah: Alasan memulai.

Apa alasan kamu bekerja di perusahaan A? Alasan kamu menjalin hubungan dengan B? Atau memulai bisnis di industri C?

Jika sudah mengetahui alasannya, apakah itu sudah tercapai?

Jika alasanmu bekerja di perusahaan A hanya untuk membeli PS5, misal ketika sudah mendapatkannya dan tidak ada lagi yang ingin dicapai, yaa untuk apa dilanjutkan?

Jika alasanmu menjalin hubungan dengan B adalah untuk membangun keluarga yang harmonis dan samawa, misal jika kamu tidak mendapatkannya karena pasanganmu agresif, yaa untuk apa dilanjutkan?

Ya, ini tentang alasan memulai. Tentang tujuan jangka pendek & panjang. Tentang perjalanan menuju ke tujuan.

Jika tujuanmu untuk membeli PS5 belum tercapai sedangkan kondisi di kantor kamu tidak sehat, ya mengapa harus dilanjutkan toh kesehatanmu lebih berharga daripada sebuah PS5, kan?

Jika tujuanmu untuk membangun keluarga yang harmonis dan samawa belum tercapai sedangkan kondisi keluargamu tidak harmonis dan mustahil bisa diubah, ya mengapa harus dilanjutkan toh pasanganmu lebih mementingkan egonya daripada ego bersama?

Kembali lagi, ke tentang keseimbangan. Tentang menyelesaikan titik jenuh.

Tentang berdamai dengan dua hal yang berat sebelah, dan mengembalikannya ke posisi masing-masing.

Sejujurnya orang tersebut—si 'dia' di paragraf awal—adalah gue sendiri, gue sedang merasa jenuh dan ingin resign dari kantor gue yang sekarang. Berkat hasil 'obrolan dengan diri sendiri' dengan cara menulis tulisan ini, gue mengurungkan diri untuk cabut.

Gue cuma butuh istirahat, bukan cabut.

Gue yakin karena alasan pekerjaan lebih dominan daripada kehidupan pribadi gue. Dan gue harus menyeimbangkannya, bukan membiarkannya terus berat sebelah.

Dan gue yakin ini bisa diperbaiki, terlebih karena kantor gue sangat menekankan work-life balance untuk karyawannya. Dan jika misalnya suatu saat tidak, gue akan memperjuangkannya, terbuka kepada tim manajemen, sampai ke titik sudah tidak ada yang bisa diperjuangkan lagi, dengan alasan 'pilihan terbaik' versi mereka.

Pada akhirnya, jawabannya kembali lagi ke diri gue, apakah gue ingin merubahnya?

Dan dengan mantap, dengan menyebut nama Tuhan yang maha pengasih dan pemurah, gue jawab "Iya".

Ada tujuan jangka panjang yang belum gue raih di tempat kerja gue sekarang, dan sekarang gue inget apa alasan gue bekerja di perusahaan tersebut.

Dan keluar, bukanlah solusi untuk mengorbankan tujuan jangka panjang tersebut hanya untuk menghilangkan rasa jenuh gue yang padahal bisa diperbaiki.

Terima kasih.