Transparansi

Karena terbuka itu baik

Transparansi

Untuk mencapai sesuatu, pasti memiliki proses. Dan untuk proses ini, tidak jarang dilakukan oleh lebih dari satu orang. Karena lebih dari satu orang ini, perlu nya komunikasi yang baik berpengaruh dalam mencapai sesuatu tersebut.

Kita lihat kasus COVID-19 di Indonesia, ketika sebelumnya pemerintah kurang transparan terhadap data yang dibagikan. Lihat sekarang kondisi nya bagaimana?

Gue seorang programmer, setuju atau tidak setuju. Hampir semua kode yang gue tulis untuk kepentingan gue langsung gue buka sumber nya. Gue bagikan di sebuah platform bernama GitHub, dan semua orang bisa membaca kode nya. Termasuk apa yang dilakukan oleh kode tersebut, data yang diproses & disimpan, semua nya.

Untuk apa? Sederhana, transparansi membuahkan kepercayaan. Itulah mengapa kita sudah tidak terlalu percaya terhadap pemerintahan kita karena sebelumnya pemerintah kurang transparan.

Budaya Remote

Bekerja secara jarak jauh (atau secara ter-distribusi) bukan hanya tentang tools seperti Zoom, Slack, Google Docs ataupun Figma. Melainkan tentang kepercayaan, tentang salah satunya mempercayai tim dalam memberikan kebebasan bekerja dari mana saja.

Tentang mempercayai tim untuk bisa bekerja di kondisi yang mereka suka.

Lihat, kunci nya ada di percaya. Kepercayaan menjadi fondasi dalam organisasi yang menerapkan (budaya) kerja remote. Dan seperti yang kita tau, apa jadinya bila fondasi nya tidak dapat diandalkan?

Hancur.

Ya, berantakan.

Memelihara Kepercayaan

Mungkin kita sudah membangun kepercayaan. Dan seperti yang kita tau juga, hal yang paling sulit setelah membangun adalah memelihara.

Termasuk memelihara kepercayaan.

RedHat adalah sebuah perusahaan dengan nilai valuasi $34B, ketika diakuisisi oleh IBM. Red Hat bukanlah satu-satu nya sistem operasi yang ditawarkan untuk enterprise, ada Windows dari Microsoft saingan terberat nya dan ada Ubuntu nya Canonical untuk saingan yang masih dalam satu keluarga.

Apa yang membedakan Red Hat dengan Microsoft? Open Source. Red Hat adalah perusahaan (dan membuat) teknologi yang berprinsip Open Source. Red Hat memiliki hubungan yang baik dengan enterprise karena prinsipnya tersebut, yang pastinya juga karena keandalannya.

Kita lihat Microsoft, Microsoft mencoba untuk "membangun" kepercayaan terhadap pasar developer. Dimulai dari WSL, untuk mengambil hati para pengguna Linux.

Lalu akuisisi terhadap komunitas developer terbesar: GitHub, plus dengan berbagai pengumuman plan gratis nya. Dan juga, akuisisi npm, registry JavaScript (atau di semua bahasa program?) terbesar.

Tidak lupa dengan proyek-proyek lainnya seperti VSCode, TypeScript, dsb.

Dulu, Microsoft adalah musuh nya developer. Salah satu alasan sederhana nya adalah karena produk Microsoft ber-sumber tertutup, proprietary software. Terlebih, salah satu yang pernah menjadi CEO Microsoft pernah bilang kalau "Linux is a cancer".

Dan sekarang, Microsoft ingin membangun kembali kepercayaan tersebut, terhadap pasar developer. Ditambah dengan akuisisi-akuisisi yang dilakukan. Jika kamu mencintai/percaya dengan GitHub atau npm misalnya, secara tidak langsung kamu mencintai/percaya dengan Microsoft.

Dan 2 akuisisi tersebut, bisa dianggap sebagai upaya Microsoft dalam memelihara kepercayaan terhadap pasar developer.

2 platform yang menyimpan berbagai peranti lunak, yang mana sumber kode nya terbuka.

Dan sumber terbuka adalah tentang kepercayaan, antara pengembang dan pengguna.

Hubungan

Ingat kalau untuk mencapai sesuatu, pasti memiliki proses? Begitupula dengan hubungan.

Entah hubungan antar teman, keluarga, ataupun orang yang spesial.

Kepercayaan adalah fondasi utama dalam suatu hubungan, sama seperti bagian budaya remote yang mana sebuah budaya kerja yang dilakukan secara ter-distribusi, bukan ter-sentralisasi.

Bagaimana hubunganmu dengan orang tua, aman? Kita tidak tau apakah orang tua kita baik-baik saja dan begitupula mereka, tidak tau apakah kamu baik-baik saja. Daripada saling berasumsi, cara terbaik untuk tidak berasumsi adalah bertanya kabar, sehingga terjadilah hubungan yang sehat.

Terkadang kita/mereka kerap kali berbohong, untuk alasan apapun itu. Yang mana, menurut gue, sebenernya ini kurang baik alias tidak sehat. Bagaimanapun berbohong adalah hal yang kurang baik, meskipun untuk tujuan yang baik sekalipun.

Karena sekali berbohong, kita akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan kita.

Mari kita ambil contoh sederhana: Pertanyaan "fitur X udah kelar belum?".

Kita jawab "sedikit lagi kelar", yang nyatanya belum dikerjakan sama sekali. Jika penanya percaya, kita berhasil membangun kepercayaan namun dengan fondasi bohong.

Alasan berbohong? Mungkin agar dia tidak kecewa dengan kita, atau mungkin karena agar kita dimahari. Terserah.

Lalu ternyata dia tiba-tiba bertanya: "kirim aja bro yang masih dikerjain tadi, si klien maksa pengen liat sekarang buat ngasih liat ke tim marketing mereka". Apa yang bisa lo lakuin?

Berbohong lagi dengan jawaban "Oke tar gue kirim"?

Atau, langsung mengakui kesalahan kalau sebenernya lo baru mulai ngerjain?

Dampaknya?

Fondasi goyah.

Semoga orang tersebut memaafkan kamu. Semoga orang tersebut masih percaya dengan kamu.

Apa yang terjadi bila sekiranya kita jujur dari awal? Misal seperti "wah belum gue kerjain, masih ngerjain Y soalnya"? Mungkin bisa saja kondisi berbeda.

Mungkin dia akan memaklumi dan melempar ke orang lain?

Mungkin dia akan kabarin tim marketing mereka buat ambil tugas yang lain dulu?

Gak ada yang tau, kan?

Tapi setidaknya, lo udah jujur dan hubungan lo dengan dia setidaknya sehat. Gue yakin dia bakal memaklumi kalau lo jujur dari awal, kecuali kalau dia nya brengsek atau emang lo nya pemalas haha.

Katakan sejujurnya, meskipun itu pahit

Ada pepatah dalam bahasa Arab yang kurang lebih berbunyi "Qulli-l haqqa wa-lau kaana murran" yang artinya kurang lebih di subheading dari bagian ini.

Gue bahas seputar "kejujuran", karena ini fondasi dari transparansi. Kepercayaan akan sulit dibangun bila tidak transparan, dan transparan tidak terjadi bila tidak jujur.

Bagaimanapun, ketidak-jujur-an pasti akan selalu terungkap. Lihat saja berapa banyak kasus korupsi yang sudah diproses sampai hari ini.

Beruntungnya (atau celakanya?), gue udah terbiasa mengatakan sesuatu meskipun itu pahit. Kita flashback waktu masa sekolah gue, gue pernah ketauan merokok di loteng sekolah, lalu hukuman nya adalah dipanggil orang tua karena bila hanya di botak, udah tidak mempan untuk gue.

Mau gak mau gue bilang ke orang tua gue, meskipun itu pahit untuk mereka dan gue. Sekarang coba kita pikirkan, gimana kalau gue enggak bilang ke mereka? Kabur dari sekolah? Kabur dari rumah? Berbohong pun tidak ada guna nya disini (misal gue bilang ke orang tua kalau dipanggil bukan karena merokok, tapi karena kabur), mereka pasti akan tau kalau gue bohong. Dan mungkin akan tidak percaya lagi sama gue, selain hanya membuat mereka kecewa.

Tapi lihat sekarang, beruntungnya hubungan gue dengan orang tua gue baik-baik aja. Kejadian 6 tahun yang lalu seperti angin yang berlalu begitu saja, bahkan sekarang gue santai-santai aja ngerokok di rumah.

Kalau nginget-nginget zaman dulu, gak tau gue hari ini dimana dan ngapain kalau seandainya gue memilih untuk pergi dari rumah hanya karena gue gak mau orang tua gue tau kalau gue merokok & diancam di usir dari sekolah.

Dalam bekerja bersama tim

Di yang onsite aja, komunikasi harus transparan. Gak bermaksud apa-apa, coba baca tulisannya Dan Abramov yang berjudul Goodbye, Clean Code. Bagian yang paling menarik adalah disini:

I see now that my “refactoring” was a disaster in two ways:

- Firstly, I didn’t talk to the person who wrote it. I rewrote the code and checked it in without their input. Even if it was an improvement (which I don’t believe anymore), this is a terrible way to go about it. A healthy engineering team is constantly building trust. Rewriting your teammate’s code without a discussion is a huge blow to your ability to effectively collaborate on a codebase together.

Lihat ke bagian yang gue bold, tanpa penjelasan panjang lebar pun sepertinya sudah jelas, kan?

Meskipun tujuan Dan baik, bukan disitu poin nya. Tapi gak apa-apa, pengalaman adalah guru yang terbaik, katanya juga. Kita tidak mendapatkan pengalaman yang berharga pada diri kita sendiri bila kita tidak melakukan sesuatu oleh kita sendiri.

Ya, tim yang sehat (terlepas engineering ataupun departemen lain) adalah yang terus memelihara kepercayaan. Dan kepercayaan, bisa didapat dengan transparansi. Dan untuk bisa transparan, harus jujur.

Bayangkan kalau si Dan sebelumnya bilang ke coworker nya kalau dia mau "refactoring" code dia? Mungkin kondisi nya tidak menjadi seperti ini (dan juga tidak menulis tulisan tersebut)

Dan juga coba bayangkan kalau si Dan sebelumnya bilang, tapi berbohong misalnya ngakunya cuma "fix bug" padahal "refactoring" kode nya?

Dalam mencapai hubungan yang sehat

Baik itu untuk kepentingan organisasi, tim, hubungan antar teman; keluarga, dan orang spesial, hal pertama yang harus dilakukan adalah: Transparan, sebagaimana judul dari tulisan ini.

Yang kedua, adalah jujur. Sebagaimana yang sering gue sebut disetiap paragraf.

Transparan ini bukan hanya sekedar "terbuka", tapi benar-benar terbuka. Misal, pertanyaan sesederhana "apakah ada blocker?" bisa membuat tim menjadi lebih produktif, karena masalah (blocker) tersebut bisa diselesaikan bersama-sama.

Atau, pertanyaan sesederhana "apakah semuanya baik-baik saja?" bisa menjaga mental tim tetap sehat, dapat mengurangi kemungkinan terjadi burnout karena masalah yang dimiliki oleh salah satu anggota tim, baik itu masalah pribadi ataupun pekerjaan.

Menjadi terbuka untuk beberapa orang mungkin terasa sulit, tapi sekali lagi, prinsip menjadi bisa adalah terbiasa. Kamu sekarang bisa menulis kode salah satunya adalah karena kamu sudah terbiasa menulis kode.

Ingat kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang kamu sebelumnya tidak tau cara membuat program?

Tim adalah tentang membangun hubungan yang sehat, untuk bisa mencapai sesuatu. Bagaimana bisa mencapai sesuatu bila hubungan yang ada saja tidak sehat? Penuh dengan politik busuk, tipu daya, dan berbagai hal lain yang hanya mementingkan beberapa pihak?

Penutup

Gue termotivasi untuk berbagi tentang ini mengingat sekarang banyak yang bekerja dari rumah. Dan salah satu poin utama dalam WFH/remotely/distributely adalah membangun hubungan yang sehat.

Tujuan Zoom ataupun Slack (not affiliated) digunakan adalah untuk membantu kamu tetap berhubungan dengan baik bersama tim.

Tujuan WhatsApp ataupun Telegram (not affiliated juga!) digunakan adalah untuk membantu kamu tetap berhubungan dengan baik bersama orang terdekat mu.

Dan masih banyak contoh lain.

Tapi ingat, Zoom; Slack, WhatsApp, Telegram, dsb hanyalah tools, pembantu. Yang paling inti, fundamental, ataupun utama adalah komunikasi nya itu sendiri.

Cara kamu dalam berkomunikasi, bukan sebatas cara kamu berkomunikasi via Slack.

Jika kamu ingin mencapai sesuatu dengan sehat, buatlah hubungan yang sehat. Yang transparan. Yang jujur. Team work adalah kunci keberhasilan dari kisah-kisah sukses kebanyakan, selain karena faktor keberuntungan; Product market fit, dan berbagai istilah-istilah anak starap lainnya.

Jadi, bila ingin mencapai sesuatu dengan sehat, kunci nya adalah transparan.

Berperilaku jujur-lah, dan terbuka.

Gue yakin dengan transparan, kita bisa mencapai sesuatu dengan sehat, dan tercapai.

Kecuali, apakah kita memang tidak menginginkan itu?