Walled Garden

Bisakah keberlanjutan tercapai tanpa harus membuat dinding pembatas utama?

Walled Garden

"Bunga.. Di bulan sepi.. Jatuh terdampar.. tersasar... Alasan masih bersama.. Bukan.. karena terlanjur lama... tapi rasanya... Yang masih sama... [skip]"

Lirik di atas adalah potongan dari lagu Monolog nya Pamungkas yang dinyanyikan oleh pengamen ketika saya sedang makan nasi goreng langganan di daerah Unpad Dipatiukur kemarin malam.

Walau singkat dan suaranya biasa saja, saya memberikan 2rb sebagai tip/apresiasi terlebih lagu tersebut salah satu lagu favorit saya.

Lalu saya teringat akan draft dari tulisan saya yang berjudul Walled Garden, sebuah konsep yang menggambarkan taman/kebun yang ditutupi/dikelilingi oleh dinding/pagar yang tinggi.

Sebagai sangkalan, saya tidak membahas tentang sejarah konsep walled garden, ataupun istilahnya yang populer di industri Advertising. Sebelum kita menyelam lebih dalam tentang pembahasan ini, mari kita bahas sedikit tentang Walled Garden yang sudah umum diketahui.

Closed Platform

Walled Garden seringkali digunakan untuk menggambarkan sebuah sistem untuk 'Closed Platform' yang mana si 'penyedia' memiliki kontrol terhadap konten yang ada.

Sebagai contoh singkat, di ekosistem iOS, satu-satunya cara untuk bisa menjalankan aplikasi di iOS adalah dengan cara mengunduhnya dari App Store nya Apple, dan sedangkan, untuk bisa mendistribusikan aplikasi ke App Store, si 'pengembang' harus membayar $99/bulan beserta harus mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ditentukan oleh Apple.

Dari contoh diatas, yang menjadi masalah bukanlah membayar $99/bulan nya, melainkan, di keterbatasan & peraturan (ingat drama Hey & Epic vs Apple?) yang ada.

Oke itu sedikit pembahasan singkat tentang Walled Garden/Closed Platform, sekarang mari kita membahas tentang Open Platform.

Open Platform

Internet adalah platform terbuka, dibuat & dijalankan di atas standar terbuka, dan yang disusun bukan oleh hanya satu entitas.

Konten yang ada di internet utamanya adalah sebuah website, sebuah dokumen web.

Tidak perlu membayar $99/bulan untuk bisa mendistribusikan website yang sudah dibuat untuk bisa dikonsumsi oleh konsumen.

Tidak ada aturan khusus dalam membuat website agar bisa dikonsumsi oleh konsumen (ada yang tau AMP & Lighthouse? 😉)

Tidak ada satupun entitas yang dapat mengkontrol peredaran website (ada yang tau tentang algoritma crawling?)

Internet adalah platform terbuka. Dan terbuka itu indah, bukan?

Sampai beberapa menjadikannya tertutup.

Untuk bisa melihat profil & konten Instagram, pengguna internet harus memiliki akun Instagram terlebih dahulu.

Untuk bisa melihat keseluruhan gambar untuk kata kunci tertentu yang ada di Pinterest, pengguna internet harus memiliki akun Pinterest terlebih dahulu.

Untuk bisa melihat lebih-dari-satu-konten (pertanyaan & jawaban) yang ada di Quora, pengguna internet harus memiliki akun Quora terlebih dahulu.

Dan masih banyak contoh lain yang tidak bisa ditulis semua disini, mungkin kamu saja yang tidak sadar karena kamu sudah memiliki akun di platform-platform tersebut.

Mengapa 3 kasus diatas dapat terjadi? Karena itu 'kebun' mereka.

Mereka memiliki kontrol yang salah satunya adalah tentang bagaimana 'tumbuhan' yang ada di kebun mereka dapat dilihat oleh publik.

Apakah kamu—si pemiliki tumbuhan tersebut—dapat memiliki kontrol? Tentu tidak. Kamu harus tunduk dengan "kebijakan" yang dibuat oleh si penyedia.

Hasil jepretanmu yang bagus (ataupun shitpost mu yang lucu), hanya bisa dikonsumsi oleh 'masyarakat' Instagram.

Kumpulan gambar-gamber yang sudah kamu organisir, hanya bisa dikonsumsi oleh 'masyarakat' Pinterest.

Dan jawaban-jawaban yang berwawasan kamu akan pertanyaan yang sudah kamu jawab, hanya bisa dikonsumsi oleh 'masyarakat' Quora.

Platform seakan menjadi negara, bedanya, kamu harus memiliki kewarganegaraan dari negara tersebut terlebih dahulu untuk bisa mengunjunginya.

Bayangkan bila ada sebuah negara yang memiliki pulau yang indah, namun untuk bisa mengunjunginya, kamu harus memiliki kewarganegaraan dari negara tersebut terlebih dahulu. Bayar $150 untuk visa mungkin tidak seberapa, dan memimiliki kewarganegaraan negara tersebut sepintas tidak ada masalah.

Tapi ingat, setiap warga negara harus mengikuti aturan yang berlaku di negara tersebut. Dan yang paling penting adalah harus membayar pajak, dan di platform yang menggunakan sistem walled garden, pajak tersebut berbentuk data :)

Paywall system

Masih ingat kan kalau konten utama di internet adalah dokumen web?

Beberapa layanan dan atau platform, mencari alternatif untuk tidak bergantung dengan iklan. Entah karena kesadaran akan pertimbangan dari menjalankan bisnis per-iklanan di internet ataupun kesadaran bahwa pengguna internet sudah banyak menggunakan pemblokir iklan, yang pastinya mereka (pengguna) menggunakannya bukan tanpa alasan.

Sekitar tahun 2017, salah satu platform blogging bernama Medium merilis fitur Membership, sebuah solusi all-in-one untuk mendukung penulis yang menulis di/untuk Medium.

Pengguna hanya dibebankan $5/bulan untuk bisa mengakses semua (literally semua) tulisan yang ada di Medium, yang mana, dari angka tersebut akan didistribusikan ke penulis berdasarkan lamanya pembaca membaca (atensi) sebuah tulisan yang berlabel "membership only".

Tidak jauh beda dengan sistem iklan yang menggunakan atensi sebagai mata uang, bedanya dengan iklan, tidak ada data pribadi yang diproses untuk membuat iklan yang ada menjadi lebih relevan lagi untuk kamu.

Medium menggunakan sistem Paywall, jadi, untuk bisa melihat kebun yang ada kamu harus membayar $5/bulan terlebih dahulu.

Ini mirip konsep konvensional seperti membayar tagihan internet tiap bulan untuk tetap bisa mengakses internet, karena dinding pemisah antara online dan offline adalah ISP.

$5/bulan bukanlah sesuatu yang besar, mungkin setara dengan satu kali kamu beli mocha dengan ukuran venti dan extra shot espresso.

Dari sisi pengguna, saya tidak mempermasalahkan pendekatan yang diambil oleh Medium mengingat pada tahun tersebut saya berlangganan Medium Membership juga ketika masih memiliki akun Medium.

Dan selain Medium, ada platform lain yang menggunakan pendekatan serupa (untuk situs berita) seperti Wired, NYTimes, termasuk TechInAsia (dan versi Indonesia nya), bedanya, Medium bukanlah platform berita, melainkan platform blogging, yang artinya, uang tersebut diberikan langsung kepada penulis setelah berbagai potongan terkait biaya layanan.

Jika kamu membaca tulisan dari 3 sumber yang sudah disebutkan tersebut, kamu harus membayar sekian dolar perbulan/pertahun.

Silahkan bayangkan bila ada 10 sumber yang kamu baca.

Dan juga, kamu harus mengikuti aturan yang dimiliki oleh Medium, sehingga pemikiran tulisan kamu tidak di takedown oleh mereka.

Passion Economy

Sekarang sedang naik-naiknya tentang Passion Economy, di Indonesia sendiri infrastrukturnya sudah lumayan memadai, ada KaryaKarsa; Saweria, dan Trakteer yang mendukung pengguna internet dalam ehm berkarya.

Tiga platform yang saya sebut diatas, memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda:

  • KaryaKarsa yang fokus dengan konsep patron
  • Saweria yang fokus dengan konsep tipping tapi khusus untuk streamer
  • Trakteer yang fokus dengan konsep tipping juga tapi tidak terbatas untuk streamer

Saya sebagai salah satu orang yang membuat konten untuk internet merasa terbantu dengan adanya platform-platform tersebut. Terlebih "pendukung" tidak perlu membuat akun untuk bisa mendukung saya (kecuali KaryaKarsa), karena menurut saya, platform tersebut menyelesaikan masalah yang tepat: Dinding penghalang antara kreator & pendukung untuk mendapatkan dukungan finansial.

Bayangkan bila ada musisi yang menyanyi di jalanan karena dia suka menyanyi di jalanan, lalu kita tidak tau cara untuk memberikan uang tip sebagai apresiasi kepada musisi tersebut, karena memang tidak ada wadah untuk itu.

...atau bayangkan bila untuk memberikan uang tip, saya harus memberikan alamat email saya terlebih dahulu lalu membuat kata sandi untuk akun yang berkaitan dengan alamat email saya tersebut.

Itulah kondisi kurang-lebih ketika 3 platform tersebut belum ada, khususnya di Indonesia.

Melakukan sesuatu yang kita senangi adalah hal yang menyenangkan, terlebih bila mendapatkan bantuan yang tidak selalu tentang uang.

Adanya Ghost/Wordpress untuk yang suka menulis, OBS untuk yang suka streaming, Garage Band/Audacity untuk yang suka menyanyi dan lain sebagainya menjadi hadiah untuk yang memiliki hobi tersebut.

Termasuk hadirnya Vim/Emacs/VSCode untuk mereka yang hobi menulis kode.

Sengaja sampai baris ini saya belum membahas topik inti, agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya saya pikirkan.

Kembali ke pembahasan ini, beberapa mulai mencari cara untuk hidup menggunakan pendekatan ini, namun untuk dirinya sendiri. Penulis, komikus, pengembang peranti lunak dan lain sebagainya membuat karya mereka untuk mereka sendiri, yang dapat dikonsumsi oleh khalayak banyak.

Mereka melakukannya karena mereka sendiri, bukan karena tuntutan pekerjaan.

Dan bila sekiranya kamu menyukai apa yang mereka lakukan, dukung mereka secara finansial. Karena mereka melakukan itu untuk tetap bisa hidup (baik kehidupan mereka ataupun kehidupan konten), mereka bekerja untuk diri mereka sendiri.

Gatekeeping time!

Saya benci iklan, secara teknis maupun fundamental. Itulah alasan mengapa saya menggunakan VPN, uBlock Origin, uMatrix, dan Pi-hole dalam mengakses internet.

Dan saya benci sistem paywall ataupun sistem walled-garden, itulah alasan mengapa saya menggunakan uBlacklist untuk mem-filter hasil pencarian dari Google dan DuckDuckGo saya untuk link-link dari Pinterest, Medium, Instagram, Quora, dsb.

Saya benci sistem paywall karena saya rasa, yang saya dapatkan hanyalah iklan.

Keterbukaan informasi yang dijanjikan internet tidak saya dapatkan, karena terhalang oleh dinding yang disebut Paywall.

Tidak terbayang bila situs seperti Wikipedia, Internet Archive, dsb dihalangi oleh Paywall.

Sebelum bilang saya egois, tolong dengarkan cerita saya sampai akhir.

Internet secara fundamental dibangun untuk mendistribusikan/menghubungkan informasi, bukan malah untuk memutuskannya.

Kamu bisa tahu kalau saya sedang ngopi di salah satu tempat ngopi di Bandung sedangkan kamu sedang di Kalimantan, karena bantuan internet ini.

Kamu bisa tahu untuk ke Dipatiukur dari Kopo tanpa harus membaca rambu-rambu jalan, karena bantuan internet.

Sekarang mari kita bayangkan, untuk bisa mengakses OpenStreetMap, kita harus masuk terlebih dahulu? Atau bahkan, harus membayar terlebih dahulu?

Untuk hanya tau kalau saya sedang ngopi, harus masuk terlebih dahulu ke sistem tertentu.

Sekarang mari kita ke topik tentang keegoisan, layanan membutuhkan biaya untuk operasional, benar?

Ada biaya yang harus saya bayar dalam menulis ini: Waktu. Dan mungkin biaya tambahan seperti kopi dan udud.

Dan tagihan internet.

Apakah ada yang menuntut saya untuk menulis ini?

Apakah ada yang menuntut untuk menggunakan Internet (dengan kapital I)?

Jawaban yang sebenarnya adalah tidak ada, toh nenek saya di kampung masih bisa hidup tanpa internet.

Melainkan karena kebutuhan.

Hobi saya menulis, dan saya senang mendistribusikan tulisan saya, khususnya di internet. Itulah mengapa saya butuh internet.

Saya (or the rest of us?) bekerja secara jarak jauh, kita butuh internet untuk bisa tetap saling terhubung.

Jika kamu setuju dengan konsep walled garden, kamu harusnya setuju dengan konsep censorship, karena kebijakan diatur oleh si penyedia.

Termasuk ketika Netflix masih diblokir, Reddit diblokir, Vimeo, atau mungkin ketika pengguna Internet di Indonesia dilarang menggunakan produk Google.

Peredaran informasi terbatasi, dan bila walled garden ditutup oleh dinding bernama peraturan, paywall ditutup oleh dinding bernama keanggotaan.

Membership. Only fans. Premium. You name it.

Tapi pembuat konten harus tetap hidup, dan hobi harus tetap tersalurkan.

Bagaimana bisa pembuat konten mencapai itu bila konten ditawarkan secara gratis?

Hipotesis

Berbicara tentang paywall dalam konteks penerbitan tulisan, tujuan utama yang ingin dicapai adalah: Mendapat bantuan finansial, dari pembaca.

Alias, donasi.

Bedanya, donasi tersebut dilakukan secara memaksa.

Mari kita sebut dengan memalak saja berarti.

Yang singkatnya, bila kita bisa menyetir pembaca untuk melakukan donasi secara memaksa, harusnya kita bisa juga melakukannya dengan tanpa paksaan.

Seperti pengamen yang meminta paksa (susah cabut kalau belum dapet duit) dan yang tidak memaksa.

Banyak alasan yang beragam mengapa kita memberikan uang tip untuk pengamen, namun yang paling umum adalah entah karena suaranya bagus atau lagu yang dinyanyikan adalah lagu favorit kita.

Seharusnya kamu sudah mendapatkan poinnya, benar?

Misal saya jarang sekali membaca Wired, anggap karena saya memang kurang familiar dengan Wired.

Lalu teman membagikan tulisan yang kebetulan membahas tentang apa yang saya minati, misalnya tentang Edge Computing. Ketika saya membuka tautan tersebut, misalnya tulisan tersebut tidak dapat dibaca kecuali saya harus membayar $10/tahun terlebih dahulu, sekalipun bisa saya urungkan kapan saja.

Yang teman saya bagikan tersebut dapat disebut iklan, bukan informasi, benar?

Karena saya tidak dapat informasi apa-apa kecuali hanya judul dan gambar yang tidak terlalu menggambarkan akan isi tulisan, yang mana saya dapatkan tautannya dari linimasa media sosial.

Dan bila seandainya saya berlangganan, yang saya dapatkan adalah sebuah informasi dalam bentuk digital, yang hanya bisa saya akses bila terhubung dengan jaringan internet dengan kondisi akun saya harus terotentikasi.

Sekarang, mari kita lihat contoh lain.

LWN, sebuah situs berita yang membahas tentang komunitas Linux dan pengembangan Free Software. LWN menyebut dirinya reader-supported news site, meskipun menampilkan iklan yang hanya memakan 10% ruang yang tidak menganggu.

Karena reader-supported nya, LWN menerbitkan publikasi khusus untuk para pembaca (yang mendukungnya) bernama Weekly Edition.

Yang paling menarik, Weekly Edition tersebut dapat diakses setelah seminggu tulisan tersebut dibagikan, atau tulisan yang termasuk ke Weekly Edition dapat dibagikan oleh pembaca yang mendukungnya sebagai tulisan gratis, mungkin dapat anggap sebagai "Free beer".

Saya anggap menarik, karena informasi bukan diputus, melainkan hanya dihambat (throttled). Model tersebut cocok untuk yang sudah suka dengan LWN (dan lalu ingin selalu mendapatkan kabar terbaru) dan juga cocok untuk yang belum tau/belum suka dengan LWN. Walau seperti paywall, namun lebih baik (terlebih dapat membagikan tautan secara "gratis" nya dari pelanggan).

Atau contoh lain yang lebih personal, adalah Derek Sivers, salah satu orang yang menjadi inspirasi saya.

Dia menulis 3 buku yang menurut saya sangat bagus: Anything You Want, Your Music and People, dan Hell Yeah or No.

Kamu bisa membaca isi dari bukunya di blog nya, namun bila kamu ingin mendapatkan salinan dalam bentuk buku, kamu bisa membeli bukunya di Amazon atau dimanapun itu yang dia berikan.

Nah, disitu poinnya.

Membayar untuk memiliki.

Membeli koran, walau bisa saja membacanya di warung kopi.

Membeli buku, walau bisa saja membacanya di toko buku.

Contoh lain selain Sivers adalah Increment, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Stripe. Konsep nya kurang-lebih sama, bila ingin mendapatkan salinannya (dalam bentuk fisik), kamu bisa membelinya di tautan yang sudah mereka buat.

Pelanggan membayar karena nilai tambahan yang diberikan, bukan nilai utama.

Starbucks dan kopi mang gito sama-sama jualan kopi, tapi kopi mang gito tidak berlogo putri duyung warna ijo; Gelasnya plastik bukan kertas, tidak memiliki CSR, dan tidak ada tempat duduk nyaman buat internetan kenceng.

Dan kopi nya mang gito ya kopi saset Kapal API yang sedang saya seruput ini.

Perbandingan

Mungkin beberapa ada yang bertanya dengan membandingkan dengan sesuatu yang sudah ada seperti bioskop, konser, dan klub malam yang termasuk konten eksklusif, sekarang mari kita coba bahas satu-satu.

Tiga aktivitas diatas, yang dijual adalah nilainya, yang berbentuk pengalaman.

Kita bisa menonton film di rumah, entah streaming di Netflix atau Apple TV, ataupun dari membeli langsung di iTunes dan atau Disk Tarra.

Kita bisa mendengarkan lagu di rumah, entah streaming di Spotify atau Apple Music (Apple mulu?) ataupun membeli langsung di iTunes dan atau langsung membeli kaset nya, atau sebatas hadiah dari kfc.

Kita bisa loncat & joget di rumah sambil megang radler ataupun ot diiringi lagu berharap tak terpisah, entah pakai sound system ataupun menggunakan sound bawaan laptop asus.

Yang bedanya, hanya 1: Nilai.

Berbentuk pengalaman.

Yang menjadi sebuah kenangan.

Jika kamu—atau employer kamu—sedang berjuang untuk sustain dan tidak bergantung dengan iklan, mungkin kamu bisa mempertimbangkan pilihan berikut:

  • Gunakan pendekatan si LWN
  • Berikan fitur tambahan untuk si pendukung, e.g: Customizable font, free bundle pdf/epub version, annotation, bookmark, etc
  • Tawarkan versi cetak
  • Tawarkan program donasi untuk sekian % dari dukungan yang dikumpulkan
  • Berikan perks/swag, e.g: Kaos, stiker, Yubikey, Flashdrive, etc
  • Berikan credits/hall of fame/leaderboard, e.g: Be like Vim.

Yang berarti, gap nya hanyalah di nilai tambah, bukan konsumsi utamanya.

Saya yakin setiap orang berhak mendapatkan informasi, dan saya yakin tujuan internet adalah untuk itu. Dan saya—sebagai salah satu orang yang menyebarkan informasi di internet juga (terlepas informasi tersebut bermanfaat atau tidak)—tidak ingin berpartisipasi untuk menghambatnya sirkulasi informasi.

Saya tidak bermaksud untuk gatekeeping apalagi membuat keadaan yang ada menjadi lebih sulit, ini hanyalah tentang preferensi dan prinsip.

Penutup

Desember tahun lalu (2019), saya berkesempatan menghadiri WebUnconfID nya WWWID yang mana membahas juga tentang dunia per-konten-an. Pandangan saya tahun lalu mungkin bisa berbeda dengan sekarang, mengingat manusia akan terus belajar & berkembang.

Tapi yang selalu saya perjuangkan adalah tentang keberlanjutan, tentang sustainability yang tidak merugikan beberapa pihak.

Membuat beberapa khalayak sadar akan "free beer vs free speech" saja masih relatif sulit, apalagi membuat sadar tentang "nilai" pada suatu "konten".

Beberapa masih tidak sadar, bahwa mengkonsumsi konten secara gratis sebenarnya tidak gratis, karena proses pembuatannya pun tidak gratis.

Yang harus terus kita lakukan adalah penerangan tentang itu, terlepas kamu seorang kreator ataupun konsumer.

Sustainability bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi singkat. Butuh proses yang sangat panjang dan harus sabar.

Kecuali jika kamu berpikir so disruptive, yang yakin kesuksesan memiliki jalan pintas dari hasil membaca Zero to One ataupun Outliers.

While we are at it, jangan terlena dengan cerita indah passion economy ataupun dari mulut manis para internet hustler.

Maaf bila "walled garden" disini tidak seperti yang kamu harapkan akan apa yang kamu ketahui tentang itu.

Dan terakhir, terima kasih sudah membaca!

PESAN SPONSOR

Jika kamu menyukai tulisan-tulisan Fariz yang tidak bermanfaat ini atau iseng aja setuju dengan pendapat Fariz yang tidak masuk akal disini, kamu bisa bantu saya dengan trakteer Fariz untuk menambah tagihan internet indiehouse nya yang deadline nya litereli besok.

...karena duit nya abis buat lunasin cicilan