Why I hate exclusivity

Ketika kita dibeda-bedakan oleh "Hak Khusus".

Why I hate exclusivity

Jika kamu mengikuti saya di Twitter, saya seringkali berbagi (baca: ngebacot) tentang ekslusivitas. Khususnya di pendidikan dan teknologi. Kamu sadar-enggak-sadar, sebenarnya ekslusivitas ada dimana-mana. Dan beruntungnya, sekarang Indonesia sudah aware tentang ini.

Kamu ingat bahwa sekarang pendidikan Sekolah menggunakan sistem zonasi? Singkatnya saya setuju, agar suatu sekolah tidak hanya diisi oleh orang-orang yang memiliki hak khusus. Setiap orang–pintar, bodoh, tajir melintir, miskin–berhak untuk sekolah, dan tidak dibeda-bedakan oleh kelas karena pada dasarnya kita sama-sama manusia.

Awal mula: Pesantren

Klo kamu sedikit mengetahui tentang saya, saya adalah alumni pesantren yang pernah nyantri selama 6 tahun (SMP-SMA) di suatu kampung di tanah kelahiran saya: Banten. Di Pesantren, kamu tidak akan pernah memandang orang berdasarkan status, mau kamu pintar/bodoh, kaya atau biasa saja, anak pejabat atau anak pedagang, kita semua sama: Santri. Seseorang yang ingin menimba ilmu.

Di Pesantren, banyak nilai-nilai yang ditanamkan ke santri-santrinya. Sebagai disclaimer, pemikiran saya disini murni dari saya sebagai manusia yang pernah nyantri, dan jangan anggap semua 'alumni' pesantren sama.

Lanjut, salah satu nilai yang paling sering diingatkan adalah Kesederhanaan. Setiap pesantren memiliki panca jiwa (5 jiwa), dan panca jiwa di pesantrenku adalah:

  • Keikhlasan
  • Kesederhanaan
  • Berdikari (Berdiri Diatas Kaki Sendiri)
  • Ukhuwah Islamiyah
  • Kebebasan

Saat nyantri, 5 poin tersebut tidak pernah terasa 'maksudnya'. Toh kita semua sama? Dan ternyata, nilai tersebut sangat terasa ketika kita sudah menjadi alumni. Ketika kita keluar dari pesantren dan melihat dunia yang "sebenarnya".

Meskipun alumni, pihak pesantren sering mengingatkan bahwa di jidat kita ada kata santri, dan ini yang paling berat. Maka dari itu saya sering menutupi latar belakang sekolah saya mengingat kehidupan saya yang... You know lah.

Berlanjut ke: Dunia

Sekarang saya seorang mahasiswa semester sekian di salahsatu perguruan tinggi di kota Bandung. Meskipun tinggal di Kota, saya tidak mengikuti gaya hidup yang biasa orang kota gaul lakukan. Tinggal diperkotaan besar seperti ini (apalagi kalo di Jakarta), banyak hal-hal yang asing bagi saya, dari yang sebelumnya tinggal disebuah penjara yang hanya diisi oleh orang-orang yang ingin menuntut ilmu.

Ekslusivitas baru terasa ketika saya keluar dari pesantren. Untuk masuk perguruan tinggi bergengsi, kamu harus pintar. Untuk kerja diperusahaan, kamu harus memiliki skill yang mantap. Untuk bisa belajar, kamu harus memiliki uang. Dan sebagainya.

Memang ini bukanlah hal yang salah, karena bukankah dunia berjalan seperti itu?

Sampai kamu bertemu dan melihat orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kamu. Tidak semua orang pintar, tidak semua memiliki skill yang mantap, tidak semua memiliki harta yang berkecukupan.

Banyak orang yang berjuang untuk bisa pintar, banyak orang yang berjuang untuk bisa memiliki skill yang mantap, dan banyak orang yang berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup.

Tapi, tidak semua seberuntung kita. Kita mungkin orang yang pantang menyerah, memiliki keluarga dan kerabat yang mendukung kita, memiliki cukup harta dari orang tua, dan sebagainya.

Kamu bayangkan orang-orang yang tidak "sekeras" kita, tidak memiliki keluarga & kerabat yang seperti yang kita punya, dan sebagainya.

Apakah itu salah mereka?

Mungkin saja, namun selagi mereka memiliki usaha untuk bisa berubah, mengapa tidak kita bantu?

Kisah teman

Saya ada teman, dia memiliki semangat untuk hidup; Memiliki semangat untuk mempelajari sesuatu, dan memiliki kebutuhan yang bercukupan. Tapi apa yang dia tidak miliki?

Kemampuan untuk mempelajari sesuatu secara cepat & kurangnya kemandirian.

Alias–no offense–telmi dan manja.

Lalu, apakah saya harus menyalahkan dia karena ke-telmi-an dan ke-manja-an nya? Sebagai manusia, jelas tidak. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Dan saya harus mengertikan keadaan yang dia miliki sekarang.

Jadi ceritanya, dia teman seangkatan saya, walau beda kelas. Harusnya lulus tahun ini, tapi banyak bekal yang belum dia miliki. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, dia seharusnya (setidaknya) bisa menulis kode.

Karena sadar dengan kemampuannya, dia berencana untuk mengikuti sebuah Coding Bootcamp, dari brand terkenal yang dimiliki oleh orang terkenal. Sayangnya, meskipun masalah dana dia bisa mengatasi, dia tidak lulus karena "prerequisites" nya.

Sekali lagi, hanya orang-orang yang memiliki memenuhi syarat (dan prasyarat) lah yang bisa mengikuti coding bootcamp. Apakah salah? Jelas tidak.

Coding bootcamp tersebut memiliki biaya yang tidak murah karena lulusannya dijamin akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan (dan ditempatkan diperusahaan yang sudah terkenal), win-to-win antara pemilik bootcamp & perusahaan adalah: Pemilik bootcamp dapat sekian persen dari perusahaan bila murid tersebut kerja diperusahaan nya, dan perusahaan tidak perlu membuang banyak waktu & uang untuk training manusia agar setidaknya setara dengan standar mereka.

Alasan coding bootcamp memiliki prasyarat sangat masuk akal: Agar tidak mengecewakkan perusahaan & agar tetap menjaga nama baik bootcamp tersebut. Karena coding bootcamp tersebut pada dasarnya adalah perusahaan juga, dan ya, setiap perusahaan pasti membutuhkan profit, kan?

Sebuah cerita

Kamu bayangkan tinggal disuatu tempat yang tidak melihat status seseorang. Setiap manusia memandang sesama manusia lain sebagai manusia, bukan si pintar & si bodoh ataupun si tajir dan si misqueen.

Saya bukan seorang SJW apalagi pengikut paham kiri, saya hanya seorang manusia biasa yang kebetulan nilai-nilai yang diajarkan ke saya masih saya pegang sampai saat ini.

Saya sudah bercerita banyak masalah ini baik di blog, instagram stories (waktu masih punya akun IG), dan mungkin di Twitter. Masalah seorang mahasiswa; seorang sarjana, seorang fresh-graduate yang akan terjun ke dunia kerja.

Yang mana masalah tersebut tentang lingkaran setan: Calon pekerja butuh pekerjaan, sedangkan perusahaan butuh pekerja. Calon pekerja susah dapat pekerjaan, dan perusahaan susah mencari kandidat.

Yang sebenarnya sedikit sederhana: Bila perusahaan ingin mengeluarkan waktu & uangnya untuk training kandidat, pasti masalah ini bisa sedikit teratasi. Kandidat pun pastinya harus memiliki sedikit bekal, meskipun misalnya si kandidat enggak bisa ngoding, setidaknya dia pernah ngoding. Tau apa itu VSCode/Sublime, tau apa itu looping, logical statement, dsb.

Sama waktu ketika di pesantren.

Jika pesantren hanya menerima santri-santri yang pintar, sholeh, bisa berbahasa arab, dsb, mungkin pesantren tersebut akan menjadi unggulan. Dan dipenuhi oleh santri-santri yang baik.

Sayangnya, pesantren saya tidak. Saya yang orang biasa, enggak sholeh, enggak bisa bahasa Arab, tapi keterima. Intinya: Ingin mencari ilmu (tujuan sekolah, toh?), pernah/setidaknya enggak jarang meninggalkan sembahyang, dan bisa membaca Al-Qur'an.

Hasilnya? Oke, mungkin masalah ke-sholeh-an urusan saya dengan tuhan. Tapi untuk masalah "pintar" dan bisa berbahasa Arab, Alhamdulillah saya mendapatkan sedikit ilmu tersebut. Btw "pintar" disini bukan selalu dimasalah akademis ya.

Selama 6 tahun pesantren menggembleng saya, agar bisa mandiri; hidup sederhana, belajar bahasa arab, belajar agama, dsb. Yang sebelumnya hidup selalu bergantung dengan orang tua, hidup "sebagaimana" kondisi keuangan orang tua, enggak bisa bahasa Arab, dan enggak pernah mempelajari hal-hal seputar agam lebih dalam, saya dipaksa untuk melakukan itu.

Motto nya simple, dan sering disebutkan di pesantren saya: Dipaksa, terpaksa, terbiasa, bisa, luar biasa.

Oke mungkin untuk didunia kerja kita memiliki fikiran "ini kan kerja lur bukan sekolah", memang perbedaan antara kerja dan belajar apa sih selain digaji? Toh bukankah sama-sama berfikir, mencari solusi, dll? Bedanya yang satu cuma dapet nilai yang satu dapet gaji.

Dan ya, pengalaman. Masa iya orang baru langsung dijadiin manager juga kan enggak mungkin?

Kembali ke topik, coba bayangkan perusahaan menerima kandidat yang biasa saja, tapi ada potensi untuk berkembang? Lihat orang-orang ini, mereka adalah orang-orang (sekarang) hebat yang memiliki potensi.

Andai Yahoo menerima menerima Chris Wanstrath sebagai engineer, mungkin dia tidak membuat GitHub. Andai Sebastian McKenzie tidak ditolak (meskipun posisi junior) di Atlassian, mungkin Babel tidak pernah ada.

Yang maksudnya, lihat, dan bedakan mereka yang sebelumnya dengan mereka yang sekarang. Orang-orang ini memiliki potensi, tapi ditolak oleh perusahaan. Andai mereka menerimanya, pasti lain cerita. Apakah ini salah perusahaan? Who knows.

Karena kita tidak tau kita "yang sekarang" nantinya akan menjadi seperti apa di "yang akan datang".

Inklusivitas

Saya dan teman-teman sedang berjuang untuk membuat "sesuatu" yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Dimulai dari membagikan informasi & pengalaman via blog, meskipun kecil, namun pergerakan tetaplah pergerakan.

Dan ya, langkah keseribu dimulai dari langkah ke-1.

Konten-konten yang ada bisa diakses secara gratis, oleh siapa saja, dan dari berbagai kalangan. Dimulai dari sesepele Cara menulis pesan di commit di git, state di React, sampai ke se-kompleks membuat staging server menggunakan Docker + Traefik + GitLab CI yang notabene nya kurang cocok untuk pemula.

Saya sadar bahwa post-post tersebut tidak rapih, tidak terarah, tidak se-berkualitas yang dibayangkan, dan bukan dibuat oleh orang yang memiliki nama. Tapi untuk sekarang yang penting kita memulai dulu, kita beritahu dunia bahwa kita memberikan sesuatu secara gratis, kita beritahu dunia bahwa kita ada.

Nantinya, lambat-laun kita akan berjalan lebih jauh: Membuat silabus, membuat latihan, dan mengikuti "standar" yang sudah ada.

Bedanya, setiap orang bisa mengakses ini, bisa mempelajari ini, entah kamu tinggal di Pandeglang ataupun di Bali, selagi memiliki akses internet, kamu bisa belajar.

Pergerakan yang dilakukan sekarang bertujuan untuk "agar kamu mengetahui" kapabilitas kita, pengalaman kita, sehingga kamu tidak memiliki ekspektasi diluar kapabilitas kita.

Bukan berarti kita ingin "menyaingi" mereka yang menawarkannya secara tidak gratis, kita sudah jelas-jelas beda: Mereka punya nama, mereka punya jaminan, mereka punya orang-orang hebat & terkenal.

Sedangkan kita tidak punya nama, tidak punya jaminan (untuk bisa bekerja langsung diperusahaan), dan distir oleh orang-orang yang antusias dengan sesuatu dan ingin berbagi.

Mereka untuk profit, sedangkan kita hanya untuk memperjuangkan misi.

Kamu enggak perlu bertanya cara gabung dengan kita, yang kamu butuhkan hanyalah menikmati tulisan-tulisan yang kita buat, maka kamu sudah membantu dalam memperjuangkan misi kita.

Entah kamu pernah ngoding, baru belajar coding, dsb, semua welcome. Tidak eksklusif hanya untuk mereka yang memenuhi syarat. Karena syarat kita hanyalah satu: Memiliki akses internet, karena kita tinggal di Internet.

Kita tidak memaksa kamu harus bisa A, bisa B, bisa C, harus ngambil D, dsb. Kamu sendiri yang menentukan, toh gak ada rugi-ruginya juga buat kita?

Kesimpulan

Ekslusivitas menyebabkan penghambatan, penguburan potensi, anti melawan status-quo, dan relatif kuno. Kita hidup di zaman yang tidak terbatas oleh bingkai, di zaman manusia memiliki hak, di era kolaborasi.

Sebagai penutup, begini, mengapa saya percaya bahwa eksklusifitas itu baik.

Pernah dengar tentang surga? Siapakah orang yang masuk surga? Orang Islam? Kristen? Hindu? atau Buddha?

Apakah surga adalah "tempat khusus" untuk orang-orang dari agama tertentu saja?

Jika iya, berarti pemilik surga tersebut diskriminatif. Hanya menerima golongan tertentu, dan menolak golongan tertentu. Tidak mungkin tuhan yang kita tau sebagai Maha Pengasih lagi Maha Penyayang memiliki sifat se-tega itu.

Lalu untuk siapakah surga tersebut? Untuk orang-orang baik, secara umumnya. Setiap orang memiliki pilihan untuk menjadi baik & tidak baik, dan kita, pada fitrahnya adalah orang baik.

Jika surga hanya untuk orang kristen yang baik, bagaimana nasib orang-orang baik yang beragama selain kristen? Jika perguruan tinggi bergengsi hanya diisi oleh orang-orang pintar, bagaimana nasib orang-orang yang tidak terlalu pintar? Jika perusahaan gede hanya diisi oleh orang-orang hebat, bagaimana nasib orang-orang yang tidak terlalu hebat?

Tinggal di tempat selain surga? Kuliah di perguruan tinggi biasa saja? Kerja ditempat biasa saja? Yang masuk surga dia lagi, yang pintar dia lagi, yang kerja diperusahaan gede dia lagi.

Dan jika pengetahuan hanya untuk orang-orang yang memiliki hak khusus, bagaimana nasib orang-orang yang tidak memiliki hak khusus tersebut?

"Mangkanya masuk agama X biar masuk surga!", "Mangkanya yang pinter klo mau masuk universitas Y!", "Mangkanya jagoin skill biar bisa kerja di perusahaan Z!".

Jika kamu punya pemikiran diatas, pantas enggak kalau kamu disebut diskriminatif?

Disini, saya tidak menentang sebuah "standar", hanya saja menentang "hak khusus".

Iklan

Saya dan teman-teman menjalankan evilfactorylabs, sebuah organisasi yang bergerak dibidang teknologi web. Disini kita belajar bareng, dan siapapun bisa bergabung. Dari umur 15 sampai 25 ada, dari Jakarta sampai Bali ada, dari profesional sampai yang baru ingin terjunpun ada, siapa saja.

Modelnya, seperti kita kasih kunci, yang buka pintunya ya kamu. Kamu bebas bertanya "bagaimana cara membuka pintu ini?", tapi tetap, yang harus jalan & membuka pintunya sendiri adalah kamu.

Kita tidak memaksa "kamu harus bisa A", yang kita paksa adalah "kamu harus ngerti kenapa harus bisa A". Kita bangun mindset, bukan taqlidul a'ma. Dan kamu harus memaksa diri kamu, agar menjadi bisa dan terbiasa.

Sejujurnya kita tidak tau apa yang kita lakukan, tapi kita yakin bahwa kita harus melakukan ini.

Kita tidak memiliki apa-apa yang bisa menjadi jaminan, tapi kita memiliki prinsip.

Setiap orang memiliki potensi, begitupula kamu. Kamu yang menentukan ingin menjadi seperti apa kamu nantinya, dan izinkan kami untuk bisa membantu proses pembentukan tersebut.

Menerima siapapun dari latar belakang apapun merupakan hal yang sangat sulit, namun kami suka tantangan.

Terima kasih.

Lu pada enggak merasa apa gitu gaul sama itu-itu aja? Come on, dunia sangat luas & beragam. Dan seragam itu membosankan. Banyak pandangan, pengetahuan & pengalaman baru yang bisa lu dapet dari keberagaman.