Yang dipelajari dari WebUnconf ID seputar konten

Yang dipelajari dari WebUnconf ID seputar konten

Hari Sabtu-Minggu kemarin diberi kesempatan (lagi) untuk mengikuti WebUnconf ID (2019), yang asiknya tahun ini salah satu fokus pembahasannya adalah seputar "konten".

80% isi dari suatu website adalah konten alias informasi. Tanpa konten, website hanyalah... sebuah halaman kosong yang memiliki domain?

Baik, pembahasan seputar konten disini mostly tentang membuat konten, content creation. Ada pembahasan menarik yang perlu aku catat mengingat orangnya pelupa banget gak ada obat, daripada pembahasan-pembahasan kemarin hanya disimpan di otak yang entah tersimpan semua atau tidak, jadi, mari kita tuangkan disini.

Garis besarnya, yang dibahas adalah seputar:

  • Sustainability
  • Quality
  • Discoverability

Terhadap konten yang dibuat. So, here we go.

Sustainability

Ada yang menjadikan membuat konten sebagai mata pencaharian utamanya, dan ada pula yang sekedar just for fun ataupun sekedar hobi. Dalam hal apapun, sustainability adalah poin penting dalam membuat sesuatu, agar apa yang dibuat tersebut terus tumbuh & berkembang.

Belum ada "business model" yang paling menjanjikan dalam dunia per-konten-an. Ada beberapa yang menggunakan konsep Patronage[1], ada yang menggunakan Membership[2][3][4], atau ada yang bergantung dengan sponsorship[5][6].

Ada juga yang menggunakan penyediaan space iklan—basically sponsorhip—tapi tidak aku bahas karena... (redacted).

However, bisnis di dunia per-konten-an ini lumayan unik. Khususnya, untuk para pembuat konten yang indipenden, yang tidak terikat dengan kampeni manapun like yours truly :)

Pasarnya sangat niche, khususnya di negara kita ini. Pasar sudah sedikit terbentuk berkat company-company besar yang masuk ke pasar Indonesia. Seperti, orang-orang kita sudah mau mengeluarkan sekian rupiah untuk berlangganan Spotify, Netflix, ataupun layanan dari Gojek.

Yang artinya, masyarakat sudah mulai percaya untuk mengeluarkan uang mereka untuk "menikmati" dan "mengapresiasi" sebuah konten. Sayangnya, dominan dari mereka baru percaya kepada company. Untuk para content creator yang membuat konten secara independent, masih lumayan sulit.

Yaa karena, lu sokap?

Ada sedikit trik yang bisa dilakukan agar "orang awam" percaya dengan "kita" sebagai individu, salah satunya yang dibahas di tulisan yang berjudul 1,000 true fans[7] ini.

Pentingnya usaha untuk "memberitahu" dan "meyakinkan" penikmat konten yang dibuat oleh content creator berperan dalam sustainability. Jadi, IMFHO, kita perlu memberitahu ke audiens kita seputar "kenapa si lu harus dukung gue", "buat apa si dukungan lu untuk gue", dsb.

Biar saling win-to-win: penikmat kontenmu bisa menikmati konten yang lebih banyak; berkualitas, dan sesuai dengan minat & gaya mereka, dan kamu–sebagai content creator–bisa terus membuat konten yang berkualitas, yang lebih banyak, dan "berbeda" untuk mereka.

Quality

Ini relate dengan pembahasan sebelumnya. Tapi menurutku, "kualitas" itu sesuatu yang relatif. Kita tidak bisa men-judge suatu kualitas. Seperti, kalau menurut kamu bebek itu enak parah, menurutku, yaa intinya aku gak suka bebek.

Jadi, gak bisa bahas banyak seputar kualitas disini. Tapi intinya, kamu akan selalu memiliki audiens sendiri yang menyukai gaya kamu. Mungkin audiens si A bukan audiens kamu karena mereka menyukai konten-konten yang panjang & mendetail, namun mungkin si B adalah audiens kamu (dan bukan audiens si A) karena mereka menyukai konten yang singkat & to the point.

Intinya, setiap pertunjukan akan memiliki penontonnya masing-masing. Kamu mungkin gak akan menemukan penikmat musik klasik di klub-klub kawasan senoparty, gak akan menemukan penikmat film action di bioskop khusus film anime, dan sebagainya. Poinnya, jadilah dirimu sendiri.

Karena unik lebih menarik daripada berseragam, bukan?

Satu lagi, aku mau membahas seputar "privileges". Mari kita lihat Dan Abramov, Kent C Dodds, Addy Osmani, dan orang-orang Indonesia keren yang gak bisa disebut namanya disini, apakah karena mereka "terkenal" otomatis mencerminkan suatu kualitas?

Ya dan Tidak.

Pertama, siapa yang kenal Dan; Kent, dan Addy ditahun 2015? Kedua, secara personal aku kurang suka dengan apa yang dibuat oleh Kent. Ketiga, mereka terkenal karena bekerja di industri leaders™.

Yang poin nya:

  1. Dan, Kent, dan Addy pada tahun 2015 mungkin belum "menjadi siapa-siapa". Alias, ni orang siapa sih sok-sok blablabla?
  2. Aku bukanlah audiens nya Kent, tapi banyak orang disana yang audiens Kent. Sederhana.
  3. Ya, dan tanpa alasan mereka bisa bekerja disananya.

Yang intinya, semua butuh proses. Biarkan terus mengalir, sampai kamu & audiens kamu memiliki bentuknya sendiri dan saling menemukan.

Terlepas "kamu itu siapa?", yaa kamu adalah kamu. Banyak cara (dan waktu) agar kamu & audiens kamu terbentuk & saling menemukan, tinggal tunggu waktunya saja.

Tapi, bisa kita persingkat waktunya. Dengan apa? Kita lanjut ke poin selanjutnya!

Discoverability

Kamu orang random yang ada di internet, membuat konten tentang Membuat aplikasi menggunakan React, lalu menerbitkannya di blog. Pertanyaan nya:

  1. Kamu siapa menulis React?
  2. Siapa yang akan baca tulisanmu?
  3. Bagaimana cara orang-orang bisa membaca tulisanmu?

Tenang, akan kita bahas jawabannya satu-satu.

Pertama, kamu adalah seseorang yang menulis tentang membuat aplikasi menggunakan React. Yang sering aku nasehati™ ke teman-teman di internal evilfactorylabs adalah jangan membuat sesuatu untuk orang lain, melainkan untuk dirimu sendiri.

Kenapa? Karena setidaknya bilang memang tidak ada satupun yang membaca tulisan tersebut, tulisan tersebut akan dibaca oleh dirimu sendiri. Yourself in future will thanks to you for your writing karena manusia seringkali lupa, bukan?

Lihat gambar dibawah dan guess what :)

Ya, sampai hari ini gue masih googling (buat konten aja, aslinya pakai DDG kok hahaha) memahami seputar .reduce di JavaScript. Dan lihat tulisan siapa itu yang ada dibarisan kedua :))

Yang intinya, buat sesuatu untuk dirimu sendiri, bukan orang lain. Maka, "secara otomatis" kamu akan menggunakan gaya mu sendiri untuk menjelaskan sesuatu yang bisa kamu mengerti. Kalau orang lain membaca juga (dan ternyata cocok dengan gaya mu), itu jadikan bonus. Tapi beda cerita kalau kamu "dibayar" untuk menulis untuk orang lain, ya.

Kedua, Siapa yang baca tulisanmu. Sudah kita bahas sedikit diatas, sekarang kita akan coba menjaring orang-orang. Cara pertama, cara klasik: SEO. Aku gak terlalu peduli dengan SEO–dan gak expert juga–tapi intinya SEO hanyalah tentang meta title dan description. Selebihnya, tanyakan ke Google Web Master :))

Cara kedua, masih klasik juga: Share ke sosmed. Ada alasan kenapa orang-orang mengikuti kamu di sosmed, dan kamu perlu membagikannya ke sosmed jika memang "kamu menganggap" orang-orang harus baca apa yang kamu bagikan.

Cara ketiga, biarkan mengalir. Akan ada Network effect[8] yang terjadi terhadap yang kamu bagikan & buat. Sama seperti bagian cara kedua bedanya itu dilakukan oleh orang lain, kamu mungkin bisa meng-engage mereka untuk meminta feedback atau apapun itu agar terbangun koneksi.

Kita lanjut ke pertanyaan nomor tiga, Bagaimana cara orang-orang bisa membaca tulisanmu. Ya, ini saling bergantungan satu-sama lain dengan poin-poin sebelumnya, namun disini, kita akan bahas yang gak dibahas di poin-poin sebelumnya.

Salah satu yang aku propose terkait ini adalah "sindikasi". Kita perlu "tempat" untuk mengumpulkan; Menunjukkan, dan berkoneksi seputar per-konten-an. Misal, bagaimana si X bisa tau kalau si Y yang gak kenal si X membuat video tutorial tentang Codeig... Ehm, Django?

Bagaimana kita bisa melihat ada konten apa saja seputar Node.js yang ada di Indonesia? Google mungkin tempat yang tempat, namun sayangnya untuk mencari bukan untuk menemukan. Kita perlu "Spotify for content in Indonesia" yang independen dan community-oriented.

Diluar ada situs seperti HackerNews, Lobsters, Slashdot, dkk. Bukan sebagai promosi, aku pernah membuat juga hal serupa yakni concat.id yang sumber kodenya ada disini. Sayangnya, ini gak netral dan gak ada tujuan untuk promosikan ke publik meskipun open for public.

Melihat antusiasme seputar sindikasi kemarin seperti menjadi "jalan terang" bahwa content creator memang membutuhkan "tempat" tersebut. Dan aku, sebagai salah satu orang yang sangat butuh juga, akan sangat mendukungnya dengan cara & jalan apapun.

Bonus

Ini pengalaman pribadi yang didapat dari pak Sandhika Galih (Web Programming UNPAS) dan mas Amirul (Kawan Koding) seputar keresahan yang aku rasakan dalam membuat konten. Jika ingin tau keresahan apa saja, here we go.

Pak Sandhika: Know your audience

Aku bertanya seputar "penonton video pak sandhika lebih suka yang singkat & to the point atau yang men-detail sampai ke akar-akarnya?", seperti, kalau membahas git commit, kita perlu kasih tau sampai ke parameter-parameter apa saja yang ada atau hanya yang penting aja?

Jawabannya, tergantung.

Klasik, tapi sangat ter-prediksi. Dan benar.

Ketika kita membuat sesuatu, kita harus tau topik tersebut audiensnya siapa. Pembahasan seputar git commit mungkin untuk orang-orang yang baru mengenal git (dan VCS–Version Control System–not that VCS), jadi, kita perlu ngasih tau dari apa itu git commit, parameter yang digunakan, dsb.

Beda ketika misal membahas seputar Nginx vs Traefik, mungkin kita tidak perlu membahas apa itu Reverse Proxy karena harusnya mereka sudah mengetahuinya. Yang intinya, seputar Git commit kita harap (dan pastinya) audiens nya adalah beginner dan seputar Nginx vs Traefik adalah advance.

Intinya, seperti, bahaslah tentang tabungan ke orang-orang yang belum tau saham dan bahaslah tentang saham ke orang-orang yang sudah mengetahui investasi, get it?

Mas Amirul: Let it flow

Mungkin pertengahan 2016 belum banyak yang mengetahui apa itu Kawan Koding, sekarang channel (di Youtube) tersebut sudah memiliki 6,200 subscribers (per 02 Desember 2019 12:08 WIB) yang tentunya bukan angka yang kecil.

Yang intinya, biarkan mengalir dan terus ber-improvisasi.

Mungkin hari ini kamu hanyalah orang random di Internet yang menulis kode Visual Basic, namun siapa yang menyangka 2 tahun yang akan datang kamu adalah salah satu orang yang dikagumi di Internet seputar React dengan total pengikut 221,316 (kalau lo peduli dengan angka) di Twitter yang setiap pendapatmu mempengarhui orang lain?

Kesimpulan

Membuat konten adalah hal yang gampang-gampang-susah, seperti memasak. Kamu akan mendapatkan "feel" memasak, "enjoy" dalam memasak, dan "ahli" dalam memasak, ketika kamu memulai & terbiasa untuk memasak. Benar?

Sebagai kesimpulan, gak usah musingin siapa dirimu sekarang. Gak usah musingin kualitas konten yang kamu buat. Gak usah musingin siapa yang akan menikmati kontenmu. Karena waktu akan membentuk & mempertemukannya, trust me.

Ada banyak orang—including me—yang menanti konten-konten segar, unik, yang dibuat bukan dari orang-orang-itu-itu-aja, yaitu kamu bila memang kamu belum memulai untuk membagikan apa yang kamu fikirkan.

Cara memulai yang lumayan gampang adalah dengan menulis blog, karena memakan sedikit usaha & sumber daya. Banyak "cara gratis" untuk menulis & mempublikasikan tulisan blog mu ke internet, silahkan cari caranya di internet, atau bisa tanya-tanya kepadaku secara personal.

Ditolong orang lain & diri sendiri adalah hal menyenangkan, tapi pernahkah merasakan bagaimana senangnya ketika kita menolong orang lain juga?

Banyak cara untuk menolong orang lain, salah satunya adalah dengan menulis blog. SO YES YOU SHOULD HAVE AND WRITE A BLOG.

Thanks for coming to my TED talk, see you at Bandung!

Catatan Kaki

Biar enggak gampang ilang fokus, link-link yang sekiranya "berpotensi menghilangkan fokus" sengaja aku buat menjadi catatan kaki (footnote).

[1]: https://en.wikipedia.org/wiki/Patronage
[2]: https://coil.com
[3]: https://lwn.net/op/FAQ.lwn#subs
[4]: https://stratechery.com/membership
[5]: https://daringfireball.net/feeds/sponsors
[6]: https://softwareengineeringdaily.com/sponsor
[7]: https://kk.org/thetechnium/1000-true-fans
[8]: https://en.wikipedia.org/wiki/Network_effect